
Kediaman Agung Jaya.
Beberapa Pelayan terlihat sangat kerepotan membagi tugas para pelayan lain. Karena Pelayan Senior yang biasa bekerja sejak kemaren mengundurkan diri. Kakek Agung tidak bisa menahan, dia terpaksa membiarkan salah satu Pelayan Senior mengundurkan diri.
Di Kediaman Orang tua Fablo.
Sejak putranya meninggal, kini Arano hanya ditemani oleh pelayan-pelayan yang bekerja di rumahnya. Namun malam ini Arano terlihat sangat tergesa-gesa. Dia mendengar kabar dari Kepala Kepolisian setempat, kalau Anggotanya akan menangkapnya, laporan kalau Pabrik yang dulu terbukti memproduksi racun berkedok Vitamin memang milik ED Group.
Kepala Polisi meminta Arano segera meninggalkan kota, bersembunyi di mana saja, karena Kepala Polisi tidak bisa lagi melindunginya. Arano juga dihimbau agar tidak pergi keluar Negri karena beberapa Negara juga mulai memburunya. Setelah Arano memutuskan sambungan teleponnya, dia bingung harus bersembunyi di mana.
Salah satu pelayan Senior mendekatinya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Arfan, kamu ada tempat yang jauh dari kota?"
"Tuan ingin pergi?" Pelayan balik bertanya.
"Aku tidak mampu hidup sendiri di tempat yang penuh kenangan ini, sejak lama aku ditinggal istriku, tapi ada Fablo yang menyemangatiku, kali ini Fablo juga pergi meninggalkanku, berada di rumah ini aku tersiksa, rasanya Fablo kecilku saat ini berlari di segala penjuru rumah ini."
Halah! Mau melarikan diri saja pakai drama tersiksa karena kenangan anaknya, dasar kang drama! Batin Arfan.
Arfan memasang wajah sedihnya, seakan ikut berduka. "10 tahun saya mengabdi pada Anda, bagi saya, Anda adalah keluarga kedua. Kalau Anda mau menerima bantuan saya, ikut saya ke desa saya, bagaimana?" Arfan menyebutkan nama desanya.
Mendengar usul pelayannya Arano sangat setuju. Dia terbiasa melarikan diri keluar Negri, kali ini dia harus bersembunyi di pelosok.
"Kapan kamu akan membawaku ke desamu? Kurasa suasana desa sangat tepat untukku menyendiri menikmati masa tuaku yang sendiri ini."
"Setelah sampai di desa itu, saya jamin Tuan akan hidup damai," ucap Arfan.
__ADS_1
"Aku sangat ingin ke sana Fan."
"Kapan Tuan mau, aku siap."
"Malam ini bagaimana?"
"Secepat ini Tuan? Kalau Anda mau sekarang, saya memeriksa keadaan mobil dulu, soalnya kita akan melakukan perjalanan jauh."
Arano sangat bahagia, dia bisa melarikan diri secepat yang dia mau. Sedang Arfan memeriksa keadaan mobil. Merasa situasi aman, Arfan langsung menelepon Kakaknya yang pernah bekerja Keluarga Agung Jaya.
Mulanya Kakak Arfan masuk pada Agung Jaya untuk mencaritahu apa memang mereka pencipta Virus itu, sedang Arfan bekerja di keluarga ED Group. 10 tahun Arfan dan Kakaknya bekerja untuk mencaritahu virus yang membuat dua adik mereka meninggal, orang tua mereka sangat miskin, tidak mampu membeli penawar. Penawar dari Agung Jaya juga terlambat, karena desa mereka sangat jauh dari Agung Jaya. Semua butuh proses.
"Halo, bagaimana Fan? Aku sudah berhenti bekerja di Agung Jaya, mereka bukan target kita."
"Target kita yang kita temukan sudah menggigit umpan kita Kak, Kakak bersiap untuk rencana selanjutnya."
Kedua Kakak Beradik itu bersiap untuk memberi hukuman pada mantan CEO ED Group, Arano.
*Universitas Bina Jaya.
Saat mendengar panggilan Interview untuk penilaian Anggota IMO, Hadhif segera meninggalkan Universitas Bina Jaya, dia segera menuju markas besar IMO. Sesampai di sana, Hadhif langsung di panggil jajaran IMO untuk Interview. 1 jam berlalu, Hadhif keluar dari ruangan itu dengan wajah lemas. Dia merasa kurang dengan jawaban yang dia berikan. Hadhif menuju lantai teratas, dia berdiri di sisi Gedung sambil menikmati pemandangan kota dari atas.
“Jangan bilang kamu mau bunuh diri karena kurang puas dengan apa yang kamu berikan.”
Hadhif merasa familiar dengan suara itu, dia segera menoleh, seperti tebakannya itu adalah suara Tony. Tony berdiri di samping Hadhif.
“Kenapa kamu ada di sini selarut ini?” tanya Hadhif.
__ADS_1
“Mempertanggungjawabkan apa yang telah aku lakukan. IMO tidak terima pengkhianatan, apapun alasannya. Menjadi bagian IMO dituntut menyelidiki sesuatu tanpa harus berpura-pura jadi pengkhianat.”
Hadhif memandangi wajah Tony, tidak ada kesedihan di sana, padahal Tony sudah di copot dari jabatannya, saat ini dia hanya Anggota biasa di IMO.
“Kamu tidak sedih?” tanya Hadhif.
“Sedih untuk apa?”
“Untuk mencapai pada posisi wakil ketua tidak mudah, saat ini kamu tidak berada di posisi itu,” ucap Hadhif.
“Ketua pernah hampir mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku, mengorbankan jabatanku untuk menyelamatkan ketua, ini belum seberapa.” Tony tersenyum sambil mendongakan wajahnya keatas langit.
Hadhif benar-benar tidak mengerti dengan maksut Tony. “Maksudnya?”
“Saat Latihan terjun bebas, paralayangku tidak mengembang sempurna. Saat itu aku berpikir akan mati, sekeras apapun usahaku tetap parasutku tidak terbuka. Saat itu Ketua tidak membuka parasutnya demi menyelamatkanku. Saat Ketua berhasil menggapaiku, demi aku, Ketua rela tidak membuka parasutnya, padahal itu membahayakan nyawanya sendiri. Penyelamatan itu tidak bisa aku lupakan, aku berjanji pada diriku sendiri akan mempertaruhkan apa saja demi menyelamatkan ketua. Hingga aku menemukan sesuatu yang mengincar Nyawa ketua, sejak itu sengaja memberi tanda kalau aku seorang pengkhianat, hingga aku dekat dengan ED Group yang sangat berambisi menghabisi Ketua.”
“Aku pikir kamu mengkhianati IMO karena kamu menyukai Ketua dan sakit hati karena Ketua telah bertunangan.”
Plak!
Tony memukul bahu Hadhif. “Aku bisa bercermin! Aku tidak pantas untuk Ketua. Sebab itu saat aku tahu Ketua bertunangan dengan Ivan, aku meminta tim untuk menyelidikinya, aku tidak rela wanita special seperti ketua jatuh pada genggaman yang salah.”
Tony teringat kalau Hadhif melakukan wawancara uji kelayakan dengan jajaran IMO. “Bagaimana hasil kuisioner tadi?”
“Belum diberitahu.” Hadhif kembali lemas membayangkan wawancaranya sebelumnya.
“Jasamu pada IMO sangat besar, keberhasilan T779 juga Sebagian kecil berkat bantuanmu, aku yakin perjalanmu menjadi Anggota tetap IMO segera terwujud.” Tony berusaha menyemangati Hadhif.
__ADS_1