
Setelah mendengar ucapan Diana, Tony merasa lega. Selama dia berkhianat, dia tidak pernah bisa tenang, dia terpaksa berbuat jahat untuk menarik perhatian musuh yang sebenarnya. Usahanya pun membuahkan hasil, walau harus dia tebus dengan kehilangan posisi sebagai wakil ketua.
“Ketua, izinkan saya pergi, saya ingin menyerahkan diri ke markas IMO, tadi sebelum ke sini, saya menyakiti hadhif.”
Diana menganggukan kepalanya. Tony pergi dari sana, keadaan seketika hening.
“Hei, kamu tidak mau mengucapkan terima kasih padaku?”
Diana menoleh kearah Nizam, dia tersenyum dan menepuk pundak seniornya itu. “Terima kasih banyak, berkat pengorbananmu akhirnya T779 sampai di Cina,” ucap Diana.
“Hanya itu? Kamu tahu kalau penjagamu itu salah kirim pesan, dia mengirim pesan pada Ivan, malah terkirim padaku.”
“Handphoneku dan tasku.” Diana baru teringat benda-bendanya, dia segera mencari kotak di mana mereka menyimpan handphone Diana. Tidak berselang lama Diana menemukan tas dan handphonenya juga handphone Dillah. Diana memberikan handphone Dillah pada Ivan.
Diana kembali menoleh pada Nizam. “Mungkin takdir ingin merepotkamu lagi, makanya Dillah salah kirim.”
“Kamu baik-baik saja?” Ivan tidak bisa lagi menahan dirinya, melihat Diana asyik berbicara dengan Nizam, rasanya Ivan merasa dirinya ada dalam kobaran api yang besar.
Diana bisa melihat kecemburan Ivan, dia mendekati Ivan dan menyentuh wajah Ivan dengan lembut. “Kalau kamu sudah ada di sisiku, andai roh ku keluar mungkin akan balik lagi ke jasadku, karena tidak ada keadaan yang lebih baik selain bersamamu.”
Ivan memasang wajah arogannya, walau saat ini hatinya seperti hujan bunga Sakura. Sedang Nizam sangat terkejut, pertama kali dia mendengar Diana merayu.
Perhatian Diana tertuju pada ruang kaca di mana Veronica di kurung, layar monitor menunjukan kalau ruangan sudah aman.
“Mau di apakan buah busuk itu?” tanya Ivan, dia mengisyarat pada Veronika.
"Buah busuk ya dilempar ketempat sampah," sahut Nizam.
"Aku bukan hanya ingin membuangnya ketempat sampah, aku malah ingin membakarnya!" Ivan tidak bisa menyembunyikan kemarahannya pada Veronica.
__ADS_1
“Biar dia jadi urusanku, dia telah mempermalukanku sebagai pengacara karena aku tidak bisa menyeretnya ke meja hijau saat kasusnya dengan Diana. Kali ini aku akan membinasakannya tanpa mengotori nama siapa pun!” ucap Nizam.
“Sebentar, aku menghidupkan mesin pembaca ruangan dulu, kita tidak tahu ada virus mematikan virus mematikan seperti apa di dalam. "Diana menekan alat yang ada di samping ruangan. Alat itu menyebutkan ruangan aman. Namun Diana tetap menyemprotkan zat lain. "Ruangan sebenarnya aman, tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga bukan?”
Setelah Diana memasukan obat kedalam ruang kaca, mereka menunggu sesaat baru membuka pintu ruangan itu. Nizam memasukan Veronica yang sudah tidak sadarkan diri kedalam kotak besar, dia memasangkan selang oksigen pada Veronica sebelum menutup kotak itu
"Aku akan pergi dari tempat ini dengan mobil ED Group, kalian pulanglah dengan mobilku." Nizam melempar kunci mobilnya pada Ivan.
Ivan dan Diana meninggalkan pabrik tua dengan mobil Nizam, sedang Nizam terus meyeret kotak tempat Veronica terkurung, dia memasukan kotak itu kedalam mobil box, dan pergi meninggalkan pabrik tua itu.
Di sisi lain.
Narendra menyuntikan cairan pada Fablo, Fablo sadar, tapi dia tidak bisa menggerakkan anggota badannya.
"Apa yang lakukan padaku!" jerit Fablo.
Narendra tidak menjawab, dia memasukan Fablo kedalam mobil pribadi pria itu. Setelah Fablo duduk di belakang kemudi, Narendra mengotak-atik laptopnya. Hingga kemudi mobil Fablo ada di tangannya.
Narendra bingung mengikuti mobil itu dengan apa. Di sela kebingungannya suara klason mobil besar mengejutkannya.
"Butuh tumpangan?"
Narendra tersenyum saat melihat itu adalah Nizam, dia langsung berlari dan masuk kedalam mobil yang Nizam kemudikan.
"Aku butuh tumpangan untuk membasmi virus yang ada di mobil itu." Narendra menunjuk kearah mobil Fablo yang melaju pelan.
"Bagaimana kalau kita tabrak? Kan tajuk berita akan sangat seru, CEO ED Group mati terlindas mobil angkutan perusahaannya sendiri." Nizam tertawa terbahak membayangkan idenya sendiri.
"Aku punya cara yang manis dan aman, kamu cukup ikuti mobil itu dalam jarak 5 kilometer, sisanya serahkan padaku."
__ADS_1
"Oke, setuju." Nizam segera melajukan mobil besar yang dia kemudikan mengikuti mobil Fablo.
Lumayan jauh mereka meninggalkan pabrik, hingga mereka memasuki jalan tol. Jalan itu memiliki pembatas jalan yang tinggi.
"Turunkan kecepatanmu," pinta Narendra.
"Tapi Fablo semakin jauh, lihat dia melaju cepat, sepertinya dia tahu kalau diikuti."
"Tenang saja." Narendra sangat asyik dengan kemudi yang dia pegang.
Melihat Narendra sangat santai, Nizam baru sadar kalau Narendra yang mengemudikan mobil Fablo dari kejauhan.
Di sisi lain.
Fablo hanya bisa berteriak saat mobilnya melaju semakin cepat, dia tidak mampu menggerakan anggota bandannya. Teriakan Fablo semakin keras saat mobilnya melaju cepat kearah pembatan jalan.
Doarrrr!
Kesadaran Nizam belum terlumpul, dia kembali dikejutkan dengan suara ledakan yang sangat keras. Nizam menggeleng melihat langsung kecerdasan Narendra.
"Kita ambil jalur kesana," pinta Narendra.
"Caramu menghabisi Fablo sangat memuaskan, bisa bantu aku cari ide untuk menghabisi si buah busuk Veronica?" tanya Nizam.
Narendra membuka handphonenya, dia memperkirakan lokasi yang tepat untuk melenyapkan Veronica. "Kita ke pabrik lama milik ED Group."
"Ngapain ke pabrik mereka?" tanya Nizam.
"Saat ini pabrik-pabrik ED Group tutup, hanya bagian expedisi yang masih bertugas, saat ini kita membawa mobil expedisi ED Group, so kita manfaatkan situasi."
__ADS_1
Nizam belum mengerti, tapi dia merasa ide itu sangat bagus. Dia segera mengikuti araha Narendra.