
Di Gedung Agung Jaya group.
Dillah berlari cepat menuju ruangan Ivan, sesaat setelah dia menerima salah satu laporan dari pengurus Gedung Apartemen yang tidak jauh dari Universitas Bina Jaya.
“Tuan.” Dillah memberikan laporan yang dia bawa pada Ivan. “Menurut laporan pengurus di sana, pengacara Nizam meminta izin pada pengurus, Apartemen yang dia miliki akan di huni oleh seseorang.”
“Bukankah hak Nizam menyerahkan Apartemennya, atau menyewakannya, hanya saja dia ikuti peraturan yang berlaku.”
“Memang begitu Tuan, pengacara Nizam juga mengikuti peraturan, tapi yang akan menempati Apartemen itu Nona Diana. Bukankah Anda juga mempersiapkan satu unit Apartemen untuk Nona Diana di sana?”
Ivan terdiam mengetahui Nizam akan meminjamkan Apartemen miliknya pada Diana. “Mungkin Diana lebih nyaman menerima bantuan dari Nizam dibanding diriku, mereka sudah mengenal cukup lama, sedang denganku Diana baru mengenal setelah kami bertunangan. Tidak masalah jika Diana mau.”
“Pengacara Nizam meminta perbaikan pada beberapa bagian di Apartemennya.”
“Kamu urus semuanya, Dillah. Buat Apartemen Nizam senyaman mungkin untuk Diana. Apa yang kamu butuhkan untuk di Apartemen Nizam, ambil saja dari unit yang aku sediakan untuk Diana, untuk menghemat waktu.”
“Baik Tuan. Kalau begitu saya mau ke Gedung itu untuk mengawasi beberapa perubahan di sana.” Dillah segera pergi meninggalkan ruangan Ivan.
**
Universitas Bina Jaya.
Russel mulai Menyusun rencana untuk mewujudkan keinginan Diana. Mereka sama-sama bekerja keras mencari tahu tentang Perusahaan keluarga Bramantyo. Russel menyandarkan punggung di sandaran kursi.
“Aku tidak habis pikir, Diana. Bukankah kamu anak kandung dari salah satu putra Bramantyo? Walau Ayahmu sudah tiada, tapi kamu adalah bagian keluarga Bramantyo, kenapa mereka sesadis ini berusaha menghabisimu?”
“Tanyakan saja langsung pada mereka,” sahut Diana.
**
Malam menyapa kota itu, Diana menyerahkan semua urusan itu pada Russel.
Tink!
Suara pesan yang masuk menghentikan langkah Diana, dia segera membaca pesan itu.
*Diana, malam ini kamu menginap di Apartemenku saja, jaraknya sangat dekat dengan universitas Bina Jaya, hanya berjalan kaki sebentar kamu sampai di blok itu.
Nizam memberikan lokasi Gedung Apartemen yang dia maksud.
*Kopermu sudah ku antar ke sana, pihak Apartemen juga sudah memberi izin.
Diana segera mempercepat langkahnya menuju Apartemen yang Nizam maksud. Saat Diana keluar dari Gedung, terlihat riak hujan mulai turun. Merasa jaraknya tidak terlalu jauh, Diana tetap berjalan menerobos riak-riak gerimis yang turun.
Diana berjalan begitu santai, membiarkan setiap tetesan gerimis menyapa tubuhnya, tiba-tiba ada seseorang yang memayunginya. Diana menoleh ke sampingnya. Dia sangat terkejut melihat Ivan.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Diana.
“Kamu kenapa hujan-hujanan malam-malam begini?” Ivan balik bertanya.
__ADS_1
“Tujuanku sangat dekat, Nizam meminjamkan Apartemennya yang ada di Gedung itu untuk ku tempati.” Diana menunjuk salah satu Gedung yang menjulang tinggi.
“Tujuan kita sama, aku juga mau ke Gedung itu.” Ivan menunjuk bangunan yang sebelumnya Diana tunjuk.
“Kenapa?”
“Banyak hal yang harus aku selesaikan di Universitas, jadi aku memutuskan untuk menginap di Apartemenku yang ada di sana. Supaya aku tidak kehabisan waktu hanya untuk belak-balik ke sini.”
Diana dan Ivan berjalan bersama menuju Gedung tujuan mereka.
Plap! Glegarrr!
Kilatan kilat dan suara petir yang menggelegar membuat Diana terkejut dan sontak memeluk Ivan. Ivan terdiam dipeluk Diana.
“Kamu takut petir?” tanya Ivan lembut.
Diana sadar dia memeluk Ivan, perlahan dia melepaskan pelukannya. “Tidak, aku hanya terkejut.”
Ivan tersenyum. Dia melingkarkan sebelah lengannya di pundak Diana, menarik tubuh wanita itu agar berdekatan dengan tubuhnya. “Ya, mana mungkin wanita hebat sepertimu takut dengan petir, tapi izinkan aku memelukmu sampai ke tempat tujuan kita.”
Sepanjang perjalanan sebelah tangan Ivan memeluk Diana, sedang tangan yang satunya memegang payung yang melindungi mereka dari tetesan gerimis yang terus membasahi permukaan bumi. Diana dan Ivan sampai di Gedung yang mereka tuju. Diana berjalan mendekati dia Receptionis di sana.
“Permisi mbak, ada titipan untuk saya? Atas nama Diana,” ucapnya. Diana memberikan kartu pengenalnya.
“Sebentar ya mbak.”
“Cepat mbak, dia sudah lelah seharian kuliah dan dia ingin kartu akses untuk ke Apartennya,” sela Ivan.
“Iya saya tahu, tapi saat ini dia sudah Lelah dan kedinginan.” Ivan berlalu begitu saja meninggalkan meja Receptionis.
“Memang dia siapa mbak?” tanya Diana pada salah satu Receptionis.
“Nona tidak kenal dia?” Receptionis itu seakan tidak percaya.
Diana hanya tersenyum.
“Dia pemilik Gedung ini.”
“Owh, terima kasih ya mbak,” ucap Diana, dia meraih kartu akses itu dan segera menyusul Ivan yang masih menunggunya di depan lift.
“Tujuan kamu lantai berapa?” tanya Diana.
“Lantai yang sama dengan Apartemen Nizam.”
Diana segera memencet angka pada papan tombol lift, beberapa menit kemudian Ivan dan Diana sampai di tujuan mereka. Saat Diana membuka Apartemen Nizam, Ivan juga mengikutinya. Diana tercengang melihat keadaan Apartemen Nizam sama persis dengan Desain Apartemen Ivan.
“Bagaimana bisa Apartemen ini sama persis seperti Apartemenmu?” tanya Diana.
“Pekerjaan Dillah, aku hanya memintanya mempersiapkan ruangan ini agar kamu nyaman, apa yang dia kerjakan aku juga tidak tahu.”
__ADS_1
Diana masih melihat-lihat semua sudut Apartemen Nizam.
“Sana mandi, aku akan meminta seseorang untuk mempersiapkan makan malam untuk kita.”
Diana menganggukkan kepalanya. Setelah Ivan pergi Diana segera menuju kamar dan mencari kopernya. Saat Diana asyik mengeluarkan keperluannya, tiba-tiba suara deringan handphone menyita perhatiannya. Diana segera meraih handphonenya, terlihat nama Pak Abimayu di identitas pemanggil. Diana segera menggeser icon yang bewarna hijau.
“Iya Pak.”
“Diana, aku baru saja mempelajari motif dari dampak ledakkan itu. Sangat jelas ledakkan itu mentargetkan dirimu. Tenang saja Diana, aku akan mengusut kasus ini dan mencari siapa pelakunya.”
“Terima kasih Pak.”
“Bagaimana keadaanmu Diana?”
“Aku baik-baik saja Pak.”
“Syukurlah, tingkatkan kewaspadaanmu, dan jaga dirimu.”
“Terima kasih, Pak.”
Diana dan Pak Abimayu menyudahi pembicaraan mereka.
**
Di Asrama laki-laki yang ada di Universitas Bina Jaya.
Beberapa Mahasiswa berkumpul di salah satu sudut Asrama yang biasa mereka jadikan tempat untuk berkumpul. Sebagian besar Mahasiswa di sana membicarakan Diana dan kecantikkannya.
“Bagiku, Diana adalah Mahasiswi tercantik di Universitas ini, dia sangat serasi kalau bersanding dengan Lucas,” ucap salah satu Mahasiswa.
“Kamu benar sekali, Diana cantik, bersanding dengan Lucas Mahasiswa paling tampan di sini, selain tampan Lucas juga memiliki prestasi yang baik,” tambah yang lainnya.
"Baik apanya? Aku memang bukan orang baik, tapi dimataku Diana hanyalah seorang jallang!" sela Lucas.
"Jaga ucapanmu, Lucas!" tegur Thaby.
Thaby sangat emosi, dia langsung mencengkram krah kemeja Lucas. “Tidak ada yang pantas menjadi pendamping Diana diantara kalian semua,” sela Thaby.
Mendengar ucapan Thaby, Lucas kesal, dia segera menepis cengkraman tangan Thaby, dan menghempas kasar tangan itu. “Terus yang pantas siapa? Dirimu?” Lucas mendorong pelan tubuh Thaby.
“Aku memang tidak pantas untuk Diana, karena bagiku Diana bagai berlian, tapi aku akan membuktikan diri kalau aku pantas untuk mendampinginya.”
“Membuktikan dengan apa? Kamu hanyalah preman di Universitas ini, tapi sepertinya kalian berdua pasangan serasi,” ledek Lucas.
Lucas tersenyum sinis. "Bahkan sangat serasi, preman dan jallang, sangat serasi." ledek Lucas lagi.
"Jaga bacotmu!" maki Thaby.
"Kau mau apa? Pukul aku? Ayok sini!" tantang Lucas.
__ADS_1
Thaby dan Lucas sama-sama tidak bisa mengontrol emosi mereka, sehingga mereka terlibat perkelahian sengit, serangan dari Thaby hanya mengenai sedikit bagian tubuh Lucas dan membuat sisi bibir Lucas berdarah juga memar di beberapa bagian wajahnya, sedang Thaby terluka parah dan di bawa ke Rumah Sakit.