
Suasana di ruang rapat terasa sangat santai, karena mereka belum memulai rapat, mereka mengisinya dengan perbincangan santai. Ivan perlahan membuka pintu ruangan, dia mendapati salah satu pegawai SW Group mencermati wajah Diana begitu dalam. Hal ini membuat Ivan sangat kesal.
Brakkkk!
Ivan sengaja membanting pintu dengan keras.
"Tuan Ivan kenapa?" bisiknya pada Yudha.
"Ivan tidak suka kamu memandangi tunangannya seintens itu," jawab Yudha.
Pegawai itu baru menyadari kesalahannya. “Maaf Tuan, saya tidak menyukai wanita, saya seorang gay,” ucapnya.
Mendengar pengakuan laki-laki di sampingnya perlahan Yudha menggeser duduknya menjauhi laki-laki itu, sebelum Yudha tahu dia Gay, Yudha merasa biasa-biasa saja berdekatan, saat tahu, Yudha merasa geli.
Laki-laki itu memahami kekhawatiran Yudha. "Jangan takut Yud, aku tidak akan memaksa orang kalau dia tidak mau denganku."
“Bukan begitu, aku hanya baru memikirkan sesuatu, sepertinya kamu coucuok sekali dengan Dillah. Soalnya Dillah trauma berhubungan dengan perempuan, dia sangat bernappsu dengan sesama jenis,” ledek Yudha.
“Itu bisa kita bahas nanti, saat ini meluruskan kesalah fahahaman Tuan Ivan sangat penting untuk keberlangsungan hidup saya.”
Dillah sangat kesal dengan Yudha, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Apa maksudmu memandangi tunanganku seperti tadi?!” Hardik Ivan.
“Saya hanya mengamati kulit Nona, dia memilki kulit putih, bersih, dan sehat. Tapi sayang, dia tidak merawatnya dengan baik.” Laki-laki itu meraih sesuatu ke tasnya. Dia meperlihatkan skincare yang dia simpan. “Demi aset Anda yang sangat berharga ini, sebaiknya Anda pertimbangkan produk ini, produk ini akan menambah kecantikan Anda.”
“Maaf, aku tidak tertarik.” Diana meraih tasnya, dan mengambil sesuatu dari sana.
__ADS_1
Diana mengambil satu botol yang berisi cairan putih kental seperti susu. “Aku tidak terlalu merawat kulitku dengan skincare yang ada di dokter kecantikan atau di pasar, aku hanya merawatnya dengan ini. Ini extraksi dari bahan-bahan alami."
Laki-laki itu mengambil botol yang Diana perlihatkan, dia mengamati botol itu. “Hati-hati kulit Anda bisa rusak kalau salah memakai produk, apalagi produk ini tidak ada BPOM nya, pasti mengandung bahan-bahan berbahaya.” Dia mengembalikan botol itu pada Diana.
Diana tertawa mendengar penilaian pegawai SW Group itu. “Bagaimana mungkin ini mengandung bahan berbahaya? Aku meraciknya sendiri dan memakainya untukku sendiri.”
Ceklak!
Tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan sosok tampan yang seusia Ivan dengan setelan jas lengkapnya. Kedua matanya berbinar bahagia melihat sosok yang ada di depan matanya. Sontak mulutnya pun terbuka lebar.
Melihat hal ini Ivan semakin marah, sedang Yudha berusaha mengulum senyumnya, dia memikirkan apa tidakan Ivan pada Presiden SW Group yang berani memandangi Diana seperti itu, apakah Ivan diam saja, atau sadis selayaknya memarahi dirinya.
Diana segera berdiri dan berjalan kearah Presiden SW Group. “Apa kabar Tuan Yama?” Diana mengulurkan tangannya menyambut Presiden SW Group.
“Tuan Muda Yama mengenal siapa Nona Diana?” sela anak buah Yama yang sedari tadi berbicara dengan Diana.
“Dokter?” Laki-laki gay itu syok mengetahui Diana seorang dokter.
“Lupakan siapa aku, kita berkumpul di sini untuk membahas Kerjasama Agung Jaya dan SW Group. Bukan membahas siapa aku,” potong Diana.
“Maafkan aku dok.” Yama terlihat sangat menghormati Diana.
Ivan menghempas napasnya begitu lega, ternyata sikap Yama pada Diana hanya sebuah kekaguman dan rasa terima kasih, sikap Yama sangat berbeda, dia seperti sangat segan pada Diana.
“Silakan duduk Yama,” ucap Diana.
“Terima kasih dok.”
__ADS_1
Yama berusaha sedikit lebih santai .”Oh ya, ada urusan apa sehingga bu dokter ada di sini, apakah tengah melakukan penelitian pada obat-obatan yang di produksi Agung Jaya?”
“Aku tidak bekerja untuk Agung Jaya,” sahut Diana.
Ivan dengan santai duduk di samping Diana, dan melingkarkan tangannya di pundak Diana. “Diana memang tidak bekerja pada perusahaa Agung Jaya, tapi dia patnerku dalam rumah tangga.”
“Maksudnya?” Yamaka terlihat syok. Apalagi saat ini Ivan menggandeng Diana.
“Ivan Hadi Dwipangga adalah tunanganku,” ucap Diana.
“Apa? Tunangan? Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau CEO Agung Jaya Group adalah tunangan Anda? Aishhh kalau aku tahu sejak lama, tidak ada seleksi apapun bagi SW Group untuk Agung Jaya,” ucap Yama.
“Maksud Anda?” Ivan sulit percaya dengan hal yang dia dengar barusan.
“SW Group siap menjadi patner Agung Jaya jika kalian menginginkan hal itu.”
Yama menoleh pada Farhan. “Farhan, tawaran Kerjasama kemaren SW Group siap bergabung. Kamu siapkan berkas lanjutannya.”
“Baik Tuan,” sahut Farhan.
Farhan sangat bahagia, tanpa sadar dia memeluk Dillah. “Akhirnya berhasil! Andai saja Nona masuk perusahaan ini sejak kemaren, maka kita semua tidak perlu pusing mengurus kerjasama ini,” bisik Farhan pada Dillah.
“Hei, aku masih normal, kalau mau belok sama pegawai yang itu saja!” Dillah menunjuk kearah pegawai SW Group, dan langsung melepaskan pelukan Farhan.
“Maafkan aku, aku terlalu bahagia.”
Rapat pun dibatalkan, Yama tidak memerlukan gagasan Ivan, dia percaya sepenuhnya pada Agung Jaya karena Diana. Beberapa karyawan diminta meninggalkan ruang rapat. Kini yang tersisa di ruang rapat hanya Diana, Ivan, Yudha, Dillah, dan Farhan.
__ADS_1
Ivan, Yudha, dan Dillah pura-pura menyibukan diri, karena tidak tahu harus membahas apa dengan Presiden SW Group. Mereka hanya menguping pembicaraan Diana dan Yama, obrolan keduanya pun pembahasan tentang Kesehatan ibu Yama.