
Pak Abimayu masih sibuk berkutat di depan kumputernya, dia berusaha keras mencari tahu tentang ledakan itu. Tiba-tiba deringan handphone membuyarkan konsentrasinya. Pak Abi menyudahi kesibukannya dan segera menerima panggilan telepon tersebut. Terlebih panggilan itu dari Rumah Sakit Healthy And Spirit.
“Halo selamat malam,” sapa Pak Abi.
Seseorang yang berada di ujung telepon sana menceritakan perihal yang terjadi, kalau anaknya dirawat di Rumah Sakit.
“Baiklah, secepatnya saya akan ke sana.”
Setelah menyudahi sambungan teleponnya, Pak Abi bergegas menuju Rumah Sakit Healthy And Spirit. Sesampai di ruang perawatan Thaby, Pak Abi duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Thaby. Tatapan kemarahannya tertuju pada Thaby.
“Dengan siapa kamu berkelahi?” tanyanya dingin.
“Lucas,” sahut Thaby.
“Apa yang kalian ributkan?”
“Aku tidak terima saat semua mahasiswa mengatakan Lucas dan Diana pasangan yang serasi.”
“Kamu cemburu?”
Thaby tidak bisa menjawab pertanyaan Ayahnya. "Bukan begitu, Lucas juga menghina Diana!"
"Diana saja tidak peduli dengan hinaan orang-orang yang tertuju padanya. Dia dianggap orang-orang wanita bodoh dan gila, Diana membiarkan semua itu."
"Aku tidak bisa diam saja mendengar Lucas mengatakan Diana wanita jallang!"
"Aku memahami kemarahanmu, tapi ku harap itu bukan karena kecemburuan." Pak Abi menatap Thaby dengan tatapan yang sangat menguntimidasi. “Ingat Thaby, kamu atau pun Lucas sama-sama tidak pantas untuk Diana, kalian berdua memang hebat, tapi Diana adalah anugerah yang paling indah, dia hanya pantas bersanding dengan seseorang yang benar-benar istimewa. Bahkan sampai detik ini aku ragu, apakah Ivan pemuda yang tepat untuknya, yaa walau aku tahu Ivan laki-laki hebat."
“Kurang apalagi aku Ayah?” Thaby menatap lembut pada Ayahnya. “Walau aku lebih muda dari Diana, aku sudah membuktikan diriku dengan prestasiku. Tanpa nama Ayah, tanpa campur tangan Ayah, aku bisa lulus lebih cepat dari sekolah formal, bahkan di usiaku yang baru 18 tahun, aku sudah bisa masuk Universitas Bina Jaya. Kurang apalagi aku? Aku bekerja keras untuk membuktikan diri kalau aku pantas untuk Diana.”
"Diana sudah bertunangan dengan orang hebat, Thaby!"
"Hanya bertunangan, selama janur kuning belum melengkung, kesempatan untuk maju masih terbuka lebar!" ucap Thaby.
Pak Abi sangat marah mendengar jawaban Thaby. “Berhenti mengejar Diana, Thaby! Atau kau akan tenggelam di dalam lautan penderitaan yang kamu ciptakan sendiri!”
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukkan pintu membuat ketegangan itu mereda.
“Masuk,” ucap Pak Abi.
Perlahan pintu terbuka, terlihat seorang perawat memasuki ruang perawatan Thaby. “Pak Abi, dokter ingin berbicara dengan Anda.”
Pak Abi segera berdiri. “Baiklah, saat ini juga aku menemui dokter,” ucapnya.
Pak Abi dan perawat itu meninggalkan ruang perawatan Thaby bersamaan. Thaby sendirian di ruangannya, dia memainkan handphonneya, seketika dia teringat Diana dan langsung meneleponnya.
**
Apartemen yang Diana tempati.
Diana terlihat sangat segar, dia juga sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya yang bewarna hitam.
Ting! Tong!
Mendengar suara bel, Diana segera berjalan menuju pintu dan membukakannya, persis seperti dugaannya, itu adalah Ivan.
“Sudah mandi?”
“Sudah,” sahut Diana.
__ADS_1
“Ayo kita makan malam dulu.”
Diana dan Ivan menuju meja makan, keduanya bekerja sama menyiapkan makanan yang Ivan bawa. Setelah semuanya tersaji, keduanya sama-sama menghadapi hidangan mereka dan perlahan mulai menyantapnya. Ivan terus memperhatikan Diana yang terlihat nyaman makan menggunakan tangan kirinya.
“Diana, kamu terbiasa makan dengan tangan mana? Kanan atau kiri?”
“Aku bisa keduanya.” Diana memperlihatkan kalau dia leluasa menggunakan tangan kiri dan tangan kananya.
Suara deringan Handphone membuat fokus Diana pada makanan buyar, dia segera meraih handphonneya, melihat Thaby yang menghubunginya, Diana segera menerima telepon itu.
“Iya,” sahut Diana.
“Diana, saat ini aku di Rumah Sakit, sebelumnya aku berkelahi.”
Thaby menyebutkan banyak hal tentang Lucas yang mengina Diana, tapi Diana malas mendengarnya, dia menaruh handphonneya diatas meja dan meneruskan kembali makannya. Di sana Thaby terus berbicara, merasa tidak ada respon, Thaby menyudahi panggilan telepon mereka.
Setelah selesai menikmati makan malam mereka, Ivan bersiap meninggalkan Diana di sana. “Apartemen yang aku tempati tepat di sebelahmu, kalau malas meneleponku, berjalan ke balkon dan panggil aku, aku pasti akan menemuimu,” ucap Ivan.
Diana masih diam dan hanya menganggukkan kepalanya.
“Apartemenku sebelah kanan, kalau kamu berteriak ke sisi kiri kamu memanggil Yudha,” ucap Ivan lagi. Dia segera pergi meninggalkan Apartemen Diana.
Setelah Ivan pergi, entah kenapa ada yang kurang bagi Diana, Diana menuju kamarnya, mendengar handphonenya terus berbunyi, Diana meraih benda itu, terlihat banyak pesan dari group chat yang dia ikuti. Terlihat yang paling aktif chat di sana adalah Malvin dan Nicholas.
*Sepertinya Thaby cemburu, karena semua Mahasiswa mengatakan kalau Lucas sangat cocok dengan Diana, chat Malvin.
*Memang begitu adanya, Diana dan Lucas pasangan yang sangat serasi, menurutku, Chat Nicholas.
*Aku juga sangat setuju kalau Diana dan Lucas, Chat anggota yang lain.
*Ku rasa Lucas menghina Diana, hanya karena menutupi perasaannya, siapa yang bisa menghindari pesona Diana.
Diana sangat tidak nyaman membaca semua chat yang mengatakan dia dan Lucas pasangan serasi. Diana mengetik begitu cepat.
Sesaat group chat hening karena pesan Diana.
*Maafkan aku Diana, aku lupa kalau hubungan itu utamanya rasa nyaman. Chat Malvin.
Nicholas juga mengirim pesan yang berisi permohonan maafnya.
Diana menyimak semua chat yang ada dalam group, perlahan dia memahami kenapa terjadi perkelahian antara Lucas dan Thaby.
Diana mengetik pesan baru, dan dia kirim pada salah satu anggota group lewat chat pribadi.
**
Asrama laki-laki di Universitas Bina Jaya.
Lucas sangat fokus membaca semua pesan di group yang menyatakan dia dan Diana pasangan serasi, Lucas tenggelam oleh perasaan kesalnya, dia tidak membaca lagi pesan terbaru yang ada di group.
Tink!
Notifikasi pesan pribadi yang masuk membuat ketenangan Lucas terganggu, tapi dia segera membuka pesan itu.
*Besok minta maaf pada Thaby, kalau kamu tidak mau minta maaf padanya, aku akan memaksamu dengan caraku. Satu lagi, kita berdua sama sekali tidak serasi sebagai pasangan.
Membaca pesan dari Diana, Lucas semakin kesal, dia membanting handponenya keatas Kasur.
**
Apartemen yang Diana tempati.
__ADS_1
Diana tidak bisa tidur, suara hujan yang turun begitu derasnya jelas terdengar membuat otaknya sibuk memikirkan Ivan, dia terus terbayang berjalan di tengah gerimis dan Ivan memeluknya erat. Diana mengambil buku dan duduk di tempat tidur. Hampir semalaman Diana tidak tidur, semalaman dia membaca buku dan memikirkan momen-momen yang dia lalui bersama Ivan.
Perlahan sinar matahari mulai menerangi bumi, dan menembus celah-celah gorden yang ada di kamar Diana. Diana segera bangun. Baru saja Dia keluar dari kamar, suara bel kembali terdengar. Diana yakin itu Ivan, dia segera membukakan pintu. Benar saja, wajah tampan Diana lihat kala pintu dia buka.
“Sarapan untukmu.” Ivan memberikan satu nampan berisi menu sarapan dan segelas susu untuk Diana.
“Hanya aku?”
“Rindu sarapan denganku ya?” goda Ivan.
“Narsis!” Diana segera mengambil nampan yang Ivan pegang, dan kembali menutup pintu.
Ivan tersenyum sendiri melihat tingkah Diana, dia segera melangkah menuju Apartemen yang Yudha tempati.
Di dalam kamar Diana.
Diana membawa segelas susu menuju balkon, dia terus meminum susu itu perlahan sambil menikmati sejuknya udara pagi. Sesekali Diana melirik kearah Apartemen Ivan, berharap kedua matanya bisa melihat Ivan lagi.
“Van!”
Diana terkejut mendengar teriakkan yang meyebut nama Ivan. Saat dia menoleh kearah suara itu ternyata itu Yudha, dia berada di balkon yang bersebelahan dengan balkon Diana.
“Ivan! Ada yang diam-diam merindukanmu!” teriak Yudha lagi.
“Yudha! Jangan bicara aneh kamu!” tegur Diana.
“Kalau kangen, bilang saja Diana, jangan malu,” goda Yudha.
Diana memasang wajah cueknya, dia terus meneguk susu yang ada di gelasnya.
Yudha merasa kalah, karena Diana sama sekali tidak terpancing. “Bagaimana kabarmu, Diana?” Yudha berusaha merubah arah pembicaraan.
“Baik.”
“Sejak kemaren malam hujan terus, membuat aku semakin tersiksa, rasanya sulit sekali memejamkan mata, andai saja aku memiliki guling bernyawa yang bisa aku peluk setiap malam, pastinya hujan ini akan menjadi momen yang sangat indah.”
Diana tetap diam, seolah dia tidak mendengar keluhan Yudha, walau yang Yudha katakan benar adanya, dirinya semalaman tidak bisa tidur karena merindukan pelukan Ivan.
Yudha menoleh kearah Diana, wanita itu sedikit pun tidak berubah, masih seperti Diana yang pertama kali dia lihat, sangat dingin, namun beruntungnya saat ini Diana mau berbicara dengannya.
Diana tenggelam dalam pemikirannya, kenapa saat hujan turun begitu deras membasahi permukaan bumi, kerinduannya pada Ivan juga semakin besar, nama Ivan seakan ikut disetiap helaan napasnya, setiap detik rasanya dia selalu merindukan Ivan. Diana menatap kosong pemandangan yang ada di depan matanya. Bingung dengan dirinya sendiri.
Sedang disisi balkon yang lain, Yudha memainkan handphonenya. Yudha membaca begitu serius email yang masuk. Sepasang mata Yudha berbinar begitu bahagia, saat dia menemukan identitas ketua IMO (International Medical Organization).
“Ivannn!” Teriakkan Yudha begitu keras, membuat burung-burung yang betengger di pepohonan terbang ke segala arah.
Diana juga sangat terkejut, dia pikir Yudha bisa membaca pikirannya dan ingin menggodanya lagi.
Teriakkan Yudha membuat Ivan dan Dillah sangat terkejut, sedari tadi keduanya berada di ruang tamu yang ada di Apartemen Yudha, keduanya sangat serius mendiskusikan pekerjaan mereka.
Ivan memberikan Dillah dua dokumen. "Periksa itu, aku mau samperin Yudha dulu."
Ivan bergegas menyusul Yudha. “Pagi-pagi kamu teriak terus Yudh, mau pamer pada Diana kalau teriakkanmu lantang?” gerutu Ivan. Saat kedua mata Ivan melihat Diana ada di sisi balkon yang lain, seketika senyuman menghiasi wajahnya.
“Ivan, kita akan menemukan informasi siapa ketua IMO!”
Dugggg!
Kedua bola mata Diana membulat sempurna mendengar ucapan Yudha.
Ivan sangat tidak percaya dengan ucapan Yudha. "Jangan sembarangan kamu Yudh! IMO adalah organisasi yang sangat hebat, bahkan sebagian orang menggelari IMO dengan organisasi malaikat."
__ADS_1
"Baca ini!" Yudha memperlihatkan layar handohonenya.
Ivan segera mendekati Yudha, memastikan kalau yang dia katakan itu benar.