Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 96 Kata Keramat


__ADS_3

Dillah berusaha keluar dari club tempat perayaan ulang tahun Veronica, dia langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju hotel yang Qiara tempati.


Brak!


Dillah sangat kasar membuka pintu kamar, membuat Qiara terperanjat.


“Baby ….” Qiara langsung menyambut Dillah. Melihat wajah Dillah begitu panik dan ketakutan, Qiara berusaha menenangkan Dillah.


“Qiara, aku dalam bahaya. Diana selamat dan saat ini dia bersama Ivan.”


Qiara sangat tidak percaya dengan yang Dillah ucapkan. "Bagaimana mungkin dia selamat? Mamaku menyewa 100 preman untuk membunuhnya."


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Diana baik-baik saja."


Qiara menatap mata Dillah begitu dalam, sedang jemari lentiknya terus memijat bagian tubuh Dillah. “Kita hadapi sama-sama, baby.” Qiara mendekatkan bibirnya pada Dillah.


Perlahan rasa takut Dillah pada Ivan dia lupakan. Dia tenggelam dengan persilatan lidahnya dengan Qiara. Qiara menarik wajahnya dan memandang wajah Dillah begitu lembut.


“Kamu menyesal melakukan ini?”


“Walau pun setelah ini aku harus mati, aku rela.”


Qiara kembali mencium Dillah dan menariknya menuju tempat tidur.


**


Di Club tempat perayaan ulang tahun Veronica.


Pandangan mata Veronica tertuju pada Diana. "Aku tahu dia tunangan Ivan, dan aku siapa dia!" ucap Veronica Sinis. "Malam ini malam perayaan ulang tahunku, dan aku tidak mengundang dia, kenapa dia ada di sini?"


"Aku yang memintanya datang!" ucap Ivan tegas.


"Kenapa? aku tidak punya urusan dengannya, aku hanya mengundang teman masa kecilku!" Veronica berusaha mempermalukan Diana.


"Kau ingin mengusirnya?" tatapan mata Ivan tertuju pada Veronica. "Baiklah, kalau kau ingin mengisirnya aku juga akan pergi," ucap Ivan.


"Ayo Diana kita pergi," ajak Ivan.


"Ivan, jangan pergi." Veronica berusaha menarik napasnya begitu dalam. "Tidak apa-apa dia di sini."


Diana menoleh pada Ivan, ternyata Ivan juga tengah menatapnya, keduanya beradu tatap sejenak. Diana mengalihkan pandangan matanya, dia melihat-lihat keadaan sekitar. Melihat ada balkon kecil di sana, Diana berjalan menuju balkon. Melihat Diana melangkah kearah itu, kaki Ivan melangkah begitu saja mengikuti Diana seperti ada yang menariknya agar mengikuti wanita itu, seperti sebuah magnet yang menarik besi. Ivan terus berjalan mengikuti Diana, hingga keduanya menghilang di balik pintu balkon.


Perasaan Veronica sangat hancur, Ivan benar-benar tidak melihatnya, dia berdandan cantik dan seksi, sedikit pun Ivan tidak menoleh padanya, sedang Diana yang berpenampilan seperti preman jalanan dengan tas ranselnya, Ivan malah memandangi wanita itu tanpa berkedip.

__ADS_1


Air mata Veronica menetes begitu saja. Seharusnya malam ini menjadi malam bahagia. Lagi-lagi karena kemunculan Diana semua harapannya musnah.


“Hei, ayo tiup lilinnya.” Shady tersenyum manis berusaha membuat perasaan Veronica lebih baik. “Ayo Veronica,” rayunya.


Karena Shady, perasaan Veronica lebih baik, yang menemani Veronica untuk tiup lilin hanya Yaqzhan dan Shady. Yudha sengaja duduk menyendiri di mini bar yang ada di ruangan itu, dan mengisi waktunya berbincang dengan bartender dan Narendra yang baru saja bergabung. Mereka bertiga membahas tentang minuman yang enak menurut mereka.


Sedang di sana, Veronica sudah berdiri di dekat kue ulang tahunnya. Shady menyalakan lilin pada cake Birthday Veronica. Shady dan Yaqzhan menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ untuk Veronica. Saat lagu berakhir, Veronica mendekatkan wajahnya pada kue ulang tahunnya, bersiap untuk meniup lilin.


“Jangan lupa make a wish dulu,” bisik Shady.


Veronica memejamkan matanya memanjatkan permohonannya dalam hati, lalu meniup lilin yang menancap pada kue ulang tahunnya.


Kali ini Veronica hanya bisa memberikan potongan kue pertamanya untuk Shady, karena Ivan masih betah berduaan di balkon dengan Diana.


**


Ivan mengunci pintu balkon dari luar, dia tidak ingin siapa pun yang ada di dalam mengganggu kebersamaanya dengan Diana. Beberapa hari tidak melihat Diana, ada sesuatu yang menyiksa di dalam dirinya. Ivan langsung mendekati Diana, jarak keduanya sangat dekat, hingga bisa merasakan pantulan napas keduanya dipermukaan kulit masing-masing.


Tangan Ivan melingkar di pinggang Diana, dia menahan pinggang itu, agar posisi indah ini tidak bergeser sedikit pun. “Semenjak aku pergi, kamu bikin masalah?” Mata Ivan memandangi wajah Diana dengan tatapan yang penuh damba.


“Apa yang terjadi selama aku tidak bersamamu?” tanya Ivan lagi.


Ivan menelusupkan telapak tangannya dibalik atasan Diana, agar permukaan kulitnya bisa bertemu langsung dengan permukaan kulit Diana. Dia memijat lembut pinggang Diana. Ivan mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Diana. "Sepertinya burung kecil yang ada di sana merindukan sentuhanku?”


Ivan sangat terkejut mendengar kata keramat yang pertama kali dia dengar, kini dia dengar kembali. Tapi Ivan berusaha menyembunyikan keterkejutannya mengetahui Diana tidak bisu. Ivan kembali memandangi wajah Diana dengan raut wajah yang dihiasi senyuman manis, dia menepikan helaian rambut Diana yang menutupi sebagian wajahnya.


“Aku tidak bisu, aku bisa berbicara," ucap Diana.


Ivan tetap sangat santai, bahkan dia terus membelai lembut helaian rambut Diana.


“Anda tidak terkejut?”


Ivan tersenyum, kini sebelah tangannya merengkuh pinggang Diana semakin erat lagi. “Aku tahu sejak lama kalau kau tidak bisu,” kilah Ivan.


“Sejak lama?”


“Ya …, kamu pernah tidur mengigau dan berbicara, selain itu aku juga pernah mengetesmu. Ingat saat aku mabuk? Saat itu aku tidak mabuk, aku hanya berharap malam itu kamu marah-marah padaku, atau menendangku, karena aku lancang memelukmu.” Ivan semakin merapatkan tubuhnya dan tubuh Diana tidak membiarkan ada jarak satu centi pun diantara mereka. “Ternyata di balik dinginnya sikap seorang Diana, ada kehangatan yang sangat tulus. Di balik sikapnya yang arogan, ada kasih sayang yang begitu halus. Malam itu, kamu pasrah tidur dalam pelukanku. Hampir semalaman aku terjaga memandangimu, hingga saat menjelang pagi aku ketiduran, paginya aku merasakan kepalaku sangat pusing saat mendengar panggilan telepon.”


Dua pasang mata itu terus beradu tatap. Rasanya ribuan kata yang ingin diungkapkan telah tersampaikan lewat tatapan mereka.


“Andai tante Wilda tidak menjebakmu, apakah kamu akan pura-pura bisu selamanya?” tanya Ivan lembut.


Diana tidak bisa menjawab, tatapan lembut mata Ivan yang penuh damba menghipnotis sekujur tubuhnya untuk diam, hingga lidahnya ikut kelu.

__ADS_1


“Diana …, aku tidak ingin pertunangan kita berakhir, aku ingin pertunangan kita terus berlanjut. Andai jawabanmu kamu ingin pertunangan ini berakhir, aku memaksamu untuk tetap meneruskan pertunangan kita.”


“Aku tidak terima pemutusan pertunangan ini, bagiku sampai detik ini kamu masih tunanganku.” Tangan Ivan yang sedari tadi membelai lembut rambut Diana, kini memijat tengkuk Diana, pijatan yang sangat lembut, perlahan dia mendekatkan wajahnya pada wajah Diana.


Tanpa Diana sadari, Ivan telah menyatukan bibir mereka, tidak dapat dihindarkan persilatan lidah yang begitu lembut dan dalam, semakin dalam, dan lebih dalam lagi. Ivan dan Diana memejamkan kedua mata mereka menikmati ciuman pertama mereka. Tiba-tiba  kedua mata Ivan terbuka, saat indera penciumannya mengendus bau amis darah. Dia segera menarik wajahnya dan memeriksa keadaan Diana.


"Ada apa?" Diana terkejut melihat Ivan menggeledah tubuhnya.


Ivan menemukan luka pada punggung telapak tangan kiri Diana. “Kamu terluka.” Wajah Ivan yang sebelumnya diselimuti kebahagiaan, seketika diselimuti oleh kepanikan.


Diana menarik Ivan agar duduk di kursi Panjang yang ada balkon. “Tenanglah, ini hanya luka kecil. Lihat. Tidak dalam ini hanya tergores saja.”


“Siapa yang melukaimu?”


Diana duduk di samping Ivan. “Aku kurang percaya kalau kau tahu aku tidak bisu sejak lama.” Diana berusaha mengalihkan fokus Ivan.


“Sejak aku tahu kamu cucu nenek Zelin, sejak itu aku ragu kamu bisu. Nenekmu dokter hebat, pastinya tidak akan membiarkan permatanya begitu saja.”


Ivan mengambil sebungkus rokok yang ada di saku jasnya, mengambil satu batang dan mulai menghisapnya. Satu tangannya memegang rokok, sedang tangannya yang satu memegang lembut tangan Diana, tangan yang selamanya ingin dia pegang dan tak ingin dia lepaskannya. Ivan memandangi jemari lentik Diana yang putih mulus, di sana tersemat cincin pertunangan mereka.


“Tanganmu terluka terkena apa, Diana?”


“Lukaku tidak apa-apa, bahkan aku tidak merasa sakit sedikit pun. Apalagi saat ini dokter hebatku sudah berada di sampingku.”


“Diana ….” Ivan sangat berharap Diana mau mengatakan siapa yang membuatnya terluka.


“Boleh aku katakan, jika yang melukaiku adalah kamu?” Diana tersenyum memandangi wajah Ivan.


“Kenapa aku?”


“Karena aku merasa sakit saat tidak ada kamu di sisiku.”


Ada sesuatu yang meledak dalam diri Ivan. Ivan menarik tubuh Diana agar bersandar pada dadanya yang bidang. Diana teringat sesuatu, dia melepaskan diri dari dekapan Ivan, Diana membungkuk meraih ranselnya yang dia taruh di dekat kaki kursi. Saat tubuh Diana sedikit membungkuk membuka ranselnya, kedua mata Ivan sangat jelas melihat punggung baju Diana kotor, juga terlihat samar pinggang Diana yang putih mulus ada terlihat memar di sana. Ivan bangkit, lalu menarik Diana untuk merapat ke tembok. Diana pasrah saat Ivan memojokkannya di tembok, sedang laki-laki itu menyingkap atasan Diana. Hingga Mata Ivan melihat jelas ada memar di bagian pinggang dan punggung Diana.


“Siapa yang melakukan ini padamu?!”


Diana menurunkan bajunya yang diangkat Ivan terlalu tinggi, dan berbalik menghadap kearah Ivan. “Aku ingin memberi sesuatu untukmu.” Diana kembali berjalan mendekati ranselnya, dan mengambil beberapa dokumen dari sana. Diana memberikan dokumen itu pada Ivan. Ivan sangat marah membaca semua yang tertera pada dokumen yang dia terima.


“Apakah lukamu, memarmu, perbuatan mereka?”


Diana tidak menjawab pertanyaan Ivan, dia meraih ranselnya dan mengaitkan di bahunya. Melihat Diana tidak mau menjawab pertanyaannya, Ivan sangat kesal, hanya bisa membuang napasnya kasar dan pasrah, dia tidak bisa berbuat apa-apa supaya Diana mau bercerita.


“Kalau kamu tidak mau menceritakan siapa pelakunya, tidak apa-apa. Aku akan mencari tahu sendiri. Sebelum itu, ayo kita kembali ke dalam."

__ADS_1


__ADS_2