
Setelah mengantar semua tamu sampai ke depan pintu, Makhaya kembali kedalam rumah, terlihat Ivan sangat santai menikmati secangkir kopi. Makhaya mendekati Ivan.
“Aku turut bahagia mendengar pernikahanmu dengan Diana.”
Ivan tersenyum menghormati wanita paruh baya itu.
“Bagaimana keadaan Kakekmu?” tanya bibi Makhaya.
“Semakin membaik.”
"Sewaktu Nyonya Zelin masih di kota, Nyonya Zunea dan Kakek Agung adalah teman dekat beliau," ucap Makhaya.
"Iya, bahkan saat Nenek kemaren ke kota, mereka kembali berkumpul," sahut Ivan.
“Ku lihat Diana sangat dekat dengan Anda, pasti bibi keluarga dekat Diana,” ucap Ivan.
“Aku bukan bagian keluarga Nyonya Zelin, aku hanya pelayan di sini.”
“Tapi Diana memandang Anda seperti keluarga, dan aku yakin bagi Diana dan Nenek Zelin, Anda adalah bagian keluarga mereka.”
Makhaya tersenyum mendengar ucapan Ivan, kebanyakan orang kaya memiliki sikap Arogan, Ivan malah seperti Diana yang memandang dengan pandangan kasih orang-orang yang mengabdi untuk mereka.
"Bi Makhaya, ada kabar kapan Nenek kembali?" tanya Diana.
"Belum tau, Diana."
"Kalau begitu, aku mau ke rumah Profesor Hadju dulu, aku mau mengajak Ivan jalan-jalan kesana," ucap Diana.
__ADS_1
"Hogu mana Diana? Sejak turun dari gendonganmu, aku tidak melihatnya lagi," ucap Makhaya.
"Entah, sepertinya dia masuk hutan, tahu sendiri, dia selalu memberiku kejutan jika aku baru kembali," sahut Diana.
"Aku masih ingat, saat Hogu membawa seekor burung yang indah, lalu dia persembahkan padamu, beruntung nyawa burung itu masih bisa diselamatkan karena dia hampir mati kena gigitan Hogu." Bibi Makhaya tertawa teringat kelakuan Hogu.
"Ya sudah bi, aku dan Ivan ke rumah Profesor dulu, tolong pastikan pelayan lain melayani tamu-tamuku dengan baik," pinta Diana.
Diana dan Ivan berjalan kaki menuju rumah profesor Hadju. Pemandangan desa Diana sangat indah, Ivan sama sekali tidak keberatan walau harus terus berjalan kaki, pemandangan di sana sangat sayang jika dilewatkan.
"Sejak datang ke desa ini, aku merasa kehilangan kemampuan untuk bicara, keindahan dan keramahan semua warga membuat aku kagum," ucap Ivan.
"Kak Diana!"
Seorang gadis cantik berlari mendekati Diana.
"Ada apa?" tanya Diana.
"Kenapa ibumu?"
"Tidak tahu." Gadis itu menarik Diana kearah rumahnya.
Diana menoleh kearah Ivan. "Tunggu aku ya, aku hanya sebentar."
Ivan menganggukan kepalanya. Menunggu Diana menolong orang, Ivan berjalan-jalan sendiri di area itu. Samar-samar Ivan mendengar suara jeritan binatang. Ivan berusaha mencari sumber suara itu.
Saat Ivan menemukan sumber suara itu, ternyata itu adalah Hogu. Terlihat kalung anjing itu tersangkut diantara pagar. Mengingat Hogu kesayangan Diana, Ivan berlari kearah Hogu.
__ADS_1
Ekkkk! Ekkkk!
Jeritan Hogu teramat memilukan, dia berusaha melepaskan diri, namun malah semakin tersiksa.
Ivan mencoba membuang rasa takutnya. "Tenang Hogu, aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin membantumu."
Perlahan Ivan membuka kalung Hogu, hingga anjing itu terbebas dari jepitan pagar. Hogu terlihat memungut sesuatu di tanah. Ternyata itu beberapa tangkai bunga. Ivan tersenyum melihat Hogu, dia yakin yang Hogu bawa untuk Diana.
"Hogu, boleh aku pasangkan kembali kalungmu?"
Anjing itu mendekati Ivan, mempersilakan Ivan untuk memasangkan kalungnya. Ivan segera memasang kalung itu ke leher Hogu. Walau sekujur tubuhnya merinding karena ada perasaan menggelitik saat dia bersentuhan langsung dengan Hogu. Saat kalung itu terpasang, Ivan segera mundur dan mengatur napasnya.
Gukkk!
Suara Hogu, hampir membuat jantung Ivan copot, namun anjing itu tetap pada posisinya.
"Hogu berterima kasih padamu, karena kamu menolongnya."
Saat Ivan menoleh ke belakangnya, Hogu juga berlari kearah itu sambil membawa bunga yang terus dia gigit.
Terlihat di sana Hogu memberikan bunga itu pada Diana.
"Anak pintar, kamu tahu kalau bunga-bunga di rumah kesayangan Nenek, kamu membawakan bunga dari hutan untukku. Terima kasih Hogu ...." Diana membelai lembut Hogu.
Ivan tersenyum melihat pemandangan itu. Kini dalam pikirannya, bagaimana dia menyesuaikan diri dengan Hogu, sedang dia saja takut pada anjing.
"Hogu, bawakan dulu ini ke rumah ya ... aku mau mengunjungi Profesor dulu," ucap Diana.
__ADS_1
Guk! Guk!
Hogu kembali menggigit bunga itu, dan berlari menuju rumah Nenek Zelin. Sedang Ivan dan Diana melanjutkan perjalanannya menuju rumah Profesor Hadju.