Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 151 Obat


__ADS_3

Semua orang yang ada di sana merasa Ivan sedang bercanda. Ada dokter hebat yang berdiri di sana, Ivan malah meminta pertolongan pada seorang Mahasiswi kedoteran.


“Di saat genting seperti ini, kamu masih bisa bercanda Van?” Yudha tidak mampu menahan diri untuk tidak bicara.


"Aku memahami Anda, kalau Diana sangat berharga bagi Anda. Tapi saat ini keselamatan Tuan Angga paling utama, kalau untuk membuka mata kami tentang kehebatan Diana, lebih baik di lain waktu saja," ucap Pak Jo


Ivan seolah tidak mendengar ucapan Pak Joyga dan Yudha. Dia masih memegang kedua tangan Diana. Ivan tidak memperdulikan yang lainnya. “Tolong kakakku,” ucap Ivan lembut.


Diana menganggukan kepalanya pelan.


“Terima kasih karena mau menolongku." Ivan mencium kedua tangan Diana yang dia pegang. "Aku sangat percaya padamu, maafkan aku karena merepotkanmu.”


Nizam menatap Ivan begitu dalam.


Apa Ivan sudah mengetahui kalau dokter hebat sesungguhnya adalah Diana?


Diana menatap kedua bola mata Ivan, di sana terpancar ketakutan dan kekhawatiran.


Aku tidak peduli apa penilaianmu, dan pandanganmu terhadapku, setelah aku keluar dari pintu operasi dengan membawa keberhasilan.


Diana tidak menjawab ucapan Ivan, dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ivan dan segera mengikuti wakil Ketua Rumah Sakit menuju ruang operasi.


Ivan menatap sendu punggung Diana yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


Hatiku mengatakan, kamu adalah dokter hebat sesunguhnya Diana. Semoga hatiku tidak salah.


Sesampai di ruang operasi, Diana mengirim pesan pada Tony dan Archer.


*Guru, bolehkan aku meminta obat T779? Ada seseorang yang sangat membutuhkannya.


Drttttt!


Pesan balasan dari Archer Diana dapat.


\=Tentu saja boleh, dedikasimu di IMO sangat besar, kamu berhak meminta obat itu. Aku akan mengutus seseorang untuk mengirim obat itu.


Diana sangat lega, kini dia mengirim pesan untuk Tony.


*Tony, aku sudah meminta izin pada Ketua Archer untuk meminta obat T779.


Drtttt!


\=Kamu juga berhak atas obat itu Diana.


Diana segera mengenakan seragam operasi.

__ADS_1


***


Di luar ruangan Operasi.


Nicholas sangat tidak terima dengan keputusan Ivan. Dia berjalan medekati Ivan dengan wajah yang sangat emosi. “Kak Angga celaka karena Diana, dan sekarang kamu meminta Diana menyelamatkannya?”


"Apakah pukulanku kurang?" tanya Ivan pada Nicholas.


Yudha merasa saat ini Ivan sangat tertekan, dia mendekati Ivan.


"Aku sangat tahu Diana gadis yang hebat, dia selalu memukau mata kita dengan kelebihan yang dia miliki. Tapi ... untuk hal ini, ku rasa kamu terlalu cepat mengambil keputusan."


"Yudha benar Van," sela Pak Jo.


"Ivan terlalu memanjakan Diana. Keputusannya mempercayai Diana akan mengantarkannya pada penyesalan yang tidak berujung." Nicholas menatap Ivan begitu dalam."Kamu sangat yakin Diana akan menyelamatkan Angga, tapi lihat nanti apakah Diana menyelamatkan Angga atau malah mengantarnya ke alam lain?"


Pak Joyga bungkam, dia sangat panik dan takut, saat ini dia hanya berharap Angga selamat.


Ivan menyandarkan punggungnya di tembok Rumah Sakit. Ivan terbayang saat operasi ibunya. Dia melihat Diana ada di sana. Kemudian bayangan itu berganti dengan bayangan saat operasi Nenek Zunea.


Semua kejadian itu menguatkan dugaannya kalau Diana adalah dokter hebat yang sesungguhnya.


Ya Tuhan, apa benar aku terlalu bodoh?


Ivan membuang napasnya kasar.


Ivan mengambil sebatang rokok, dia menggigit ujung rokok itu, tapi tidak meyalakan apinya.


Tidak ada kecacatan atas dugaanku kalau Diana dokter hebat itu, saat dokter hebat itu akan mengoperasi kak Angga ke Dubai, Diana juga pergi ke sana.


Kalau Diana tidak memiliku kemampuan, dia tidak akan berani menerima permintaanku, Diana bukan sosok yang butuh pengakuan.


Semoga keyakinanmu tentang Diana tidak mengantarkanmu pada lembah penyesalan, Van.


Batin Ivan.


Perlahan Yudha kembali menyusul Ivan. "Aku tahu kepercayaanmu pada Diana, sebelum semua ini terlambat, biarkan Nizam melakukan tugasnya," bujuk Yudha.


Ivan melihat semua wajah yang ada di sekitarnya, wajah-wajah itu hanya diselimuti kecemasan.


Ivan balas menepuk pundak Yudha. “Tenanglah, selama ada Diana di sekitar kita, semua masalah akan terselesaikan,” ucap Ivan.


“Kenapa kamu seyakin ini Van? Ada rahasia apa yang kamu simpan tentang Diana?” tanya Yudha.


"Tidak ada." Ivan perlahan menyulut rokoknya.

__ADS_1


Yudha mengambil rokoh yang sudah Ivan nyalakan. "Lihat tanda itu, no smoking!" Yudha memadamkan api rokok itu dan membuangnya ke tong sampah.


"Kamu benar-benar tidak menyadari semua kejadian yang terjadi di sekitar kita Yudh?" tanya Ivan.


"Menyadari apa?" Yudha balik bertanya.


“Apa kamu tidak menyadari setiap operasi yang berhasil yang kita lihat, selalu ada Diana di sekitar kita.” Ivan mencoba memberi isyarat pada Yudha kalau dokter hebat itu adalah Diana.


Namun Nicholas memahami hak yang berbeda dari ucapan Ivan. “Pemikiranmu mulai kolot seperti warga desa Van, kamu mulai mendewakan sesuatu,” ucap Nicholas.


“Maaf permisi, di mana saya bisa menemukan mahasiswi yang bernama Diana Bramantyo?”


Mendengar nama Diana di sebut, Ivan menoleh kearah meja informasi yang tidak jauh darinya.


"Dia kuliah di jurusan apa Pak?" tanya petugas.


"Kedokteran," sahut laki-laki itu.


Pertanyaan seseorang yang mencari Diana menarik perhatian Ivan. Ivan segera mendekati laki-laki itu. “Anda mencari Diana?”


Laki-laki paruh baya itu menatap jeli Ivan, dia mengenali jelas laki-laki yang mendekatinya, dia ingat kalau Ivan adalah tunangan Diana, dia sangat ingat saat mantan Ketua IMO memberikan identitas Ivan padanya, dan meminta dirinya memeriksa identitas Ivan. Merasa Ivan orang bersih dari penyelidikan, dia percaya Ivan bukan orang yang berbahaya. “Beruntung saya bertemu Anda, tolong berikan ini pada Diana.”


Ivan memandangi tabung obat yang dia pegang.


"Saya permisi dulu."


Setelah memberikan obat itu pada Ivan dia segera pergi dari Rumah Sakit.


Ivan masih mematung menatap jeli obat yang ada di tangannya, kedua bola mata Ivan seketika melotot saat melihat nama yang tertera pada obat itu.


**


Di desa Diana.


Archer datang bertamu ke rumah nenek Diana, dia memastikan keadaan Tony di sana. Setelah berbincang santai dengan Nenek Zelin, Archer langsung menemui Tony.


"Kamu suka di sini?" tanya Archer.


"Aku sangat suka."


"Tapi waktumu habis." Archer tersenyum melihat kebingungan Tony.


“Aku datang ke sini untuk menjemputmu, sebentar lagi Diana kembali ke sini bersama beberapa orang. Sebelum dia datang kamu sudah harus pergi dari sini,” ucap Archer.


"Tidak masalah, aku akan bersembunyi di tempat lain." Tony teringat sesuatu. “Tadi Diana mengirim pesan padaku, dia butuh obat khusus, dan sudah ku kirim pada utusan Anda.”

__ADS_1


“Obat?” Archer tiba-tiba teringat sesuatu. "Bukankah semua obat ada tanda?"


"Ya, obat yang ada di pusat penelitian semua memiliki tanda khusus, semua kode memiliki arti tertentu," sahut Tony.


__ADS_2