Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 114 Sabar


__ADS_3

Diana baru keluar dari ruangan Zaira, tidak jauh dari ruangan Zaira, terlihat Profesor Hadju berdiri di sana.


"Profesor?" Diana mempercepat langkahnya.


"Maaf Prof, kalau saya lama, saya tidak tahu kalau Anda menunggu saya."


"Santai saja, Diana. Selama kamu masih di negara ini, waktuku untukmu."


"Jangan membuat saya mendapat banyak musuh, Prof."


"Banyak musuh?" Profesor Hadju bingung dengan ucapan Diana. "Manusia hebat sepertimu banyak yang mencintai malah, bukan memusuhi."


"Ya banyak lah Prof. Profesor Hadju banyak murid, kalau Profesor memperlakukan saya seistimewa ini, pastinya banyak yang cemburu."


"Kamu hebat karena kwalitas dirimu, bukan karena pelakuan khusus dariku, andai ada orang lain yang memiliki bakat hebat seperti kamu, aku pun akan memperhatikannya seperti aku memperhatikan kamu."


"Justru walau mereka biasa-biasa saja, tugas Profesor yang mengasah mereka."


"Itu tugas umumku, dan tugas khususku, memberikan sesuatu yang lebih untuk orang-orang yang memiliki kelebihan seperti dirimu. Semakin berbakat orang seperti dirimu, semakin banyak orang-orang yang merasakan kebaikanmu."


Profesor teringat berkas yang sedari tadi dia pegang. "Ini data-data mereka yang kemaren kamu minta."


"Terima kasih Prof." Diana segera membuka dokumen itu dan membacanya.


"Kriteria tempat yang kamu minta juga sudah disiapkan, apapun yang terjadi di sana, semua aman, tidak akan sampai ke ranah hukum."


"Baik prof, terima kasih atas semuanya. Bolehkah saya pergi?"


"Tentu saja."


Diana segera berlari menuju pintu keluar. Saat dia sampai di pintu utama, semangatnya yang sebelumnya berkobar tiba-tiba padam, saat dia melihat seorang laki-laki mengenakan jas lengkap berjalan kearahnya. Dia menatap malas pada laki-laki yang terus mendekatinya.


“Ayo Diana, kita selesaikan masalah Nazif."


"Aku bisa sendiri."


"Aku tahu kamu bisa sendiri, tapi izinkan aku membantumu, Diana."


"Fredy, berhenti untuk berusaha dekat denganku! Karena itu tidak akan pernah berhasil!"


"Aku tidak mendekatimu, aku hanya ingin melindungimu, membantumu, dan membelamu."


"Semua masalah Nazif akan aku selesaikan sendiri."


"Aku tahu kamu bisa segalanya sendiri, izinkan aku membantumu. Rencana yang berjalan saat ini, aku juga terlibat di dalamnya."


Diana semakin geram mendengar jawaban Fredy.


"Ayo ikut aku, kita ke tempat itu sama-sama."

__ADS_1


“Aku bisa sendiri datang ke tempat itu,” sahut Diana.


Fredy tidak menghiraukan penolakan Diana. “Nizam menunggu kita di sana.”


"Nizam?"


"Yup, semua sudah siap, hanya mengggu dirimu."


“Tapi aku ingin makan dulu, aku lapar.”


“Aku sudah siapkan juru masak untukmu di sana.”


Diana tidak bisa menolak Fredy lagi, dia terpaksa mengikuti Fredy. Mobil yang dikemudikan supir Fredy memasuki sebuah tempat rongsokan mobil, Diana berusaha mengamati keadaan sekitar, tidak lama mobil berhenti di tengah tanah lapang luas, di sana ada kemah kecil, dari kejauhan ada seseorang yang memasak di sana.


"Pak, parkirkan mobil ini yang jauh dari sini, saat saya butuh Anda, saya akan telepon," ucap Fredy.


"Baik Tuan."


Fredy menoleh kearah Diana. “Ayo turun, di sini tempat kita Negoisasi nanti,” ucap Fredy.


Diana dan Fredy turun dari mobi, keduanya berjalan menuju kemah itu, seorang juru masak segera menghidangkan makanan.


Fredy tersenyum mlihat raut wajah Diana, terlihat dia sangat menginginkan makanan yang tersaji "Kamu hanya berdiri di sini dan memadanginya tanpa mencicipinya?" tanya Fredy. "Tenang saja, tidak ada hal aneh di makanan itu, di sini ada Nizam yang mengawasi, aku juga tidak akan macam-macam andai tidak ada Nizam."


Diana tidak bisa menahan dirinya, dia mulai menikmati makanan yang ada, dan dia sangat menyukainya.


Shrkkkk!


“Mereka datang,” ucap Nizam.


Saat Diana menegakkan wajahnya terlihat dua mobil itu berhenti di dekat kemah, saat yang sama pintu mobil terbuka.


Brukkk!


Ada seseorang yang di dorong keluar dari mobil. Laki-laki yang didorong dari dalam mobil terguling di tanah.


Saat dia menegakkan wajahnya, dia merasa memiliki harapan. “Diana tolong aku,” ringis Nazif.


Diana menautkan kedua alisnya saat melihat bagaima memprihatinkannya keadaan Nazif, kemejanya terlihat kotor dan robek, bahkan banyak noda darah yang mengering. Wajah Nazif terlihat sangat menyedihkan, bengkak, biru lebam di mana-mana, bahkan hidungnya, sisi bibirnya, juga telinganya mengeluarkan darah. Diana bisa membayangkan sepedih apa para penculik itu menyiksa Nazif.


Sesaat kemudian keluar seorang pria berkumis dari mobil, diikuti oleh beberapa pengawalnya. Dia menatap tajam kearah kemah, di sana dua orang penduduk lokal melayani Diana, mereka mengisi gelas minuman dan mengisi piring Diana. Diana terlihat santau dan terus menikmati masakan mereka.


"Bisa kita mulai kesepakatan kita?" tanya salah satu anak buah laki-laki berkumis.


Fredy menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya, meminta orang-orang itu diam.


"Kau ingin mempermainkan kami?!" bentak rekan yang lain.


"Bisakan kami meminta waktu? Lihat wanita ini sedang makan. Bukankah saat makan kita harus menghormati makanan kita? Salah satunya dengan tidak berbicara saat makan, kalau itu bukan hal darurat."

__ADS_1


“Aku tidak butuh ceramahmu anak muda! Aku butuh formula itu! Mana Formula itu?!” makinya.


Fredy menaruh jarinya di depan mulut lagi. meminta pria berkumis itu untuk diam. "Apakah kalian semua akan mati jika bersabar sedikit saja?"


"Tidak ada sabar! Aku sudah lama menunggu!"


"Kalau tidak ada sabar, maka kalian bisa kehilangan nyawa kalian!" kecam Fredy.


"Berikan formula itu, tawanan kami lepas dan masalah kita selesai!" teriaknya.


"Saranku, sebaiknya kalian bersabar, jangan ganggu waktu makannya, sangat berbahaya kalau kalian merusak naffsu makannya,” tegur Fredy.


"Yang dalam bahaya itu kalian! Kalau tidak memberikan formula itu pada bos kami."


“Jangan banyak drama! Cepat berikan formula itu, atau ke habisi dia!” Laki-laki berkumis itu menunjuk pada Nazif.


"Habisi saja, lumayan sampah berkurang dari muka bumi ini," tantang Fredy.


Nazif sangat putus asa mendengar jawaban Fredy. Apalagi saat ini Diana seakan tidak melihatnya, wanita itu malah terus menikmati makananya. Nazif merasa sangat hancur.


"Habisi dia dan habisi mereka semua!" perintah laki-laki berkumis pada anak buahnya.


Trang! Tang! Tang!


Makanan yang Diana nikmati terbang jauh dihempaskan Diana.


Melihat Diana kehilangan selera makannya, Fredy sangat kesal dia mengepalkan kedua tangannya. Fredy mendekati laki-laki berkumis itu. “Bukankah tadi sudah kuminta untuk Diam dan bersabar sebentar?”


"Beri dia waktu yang tenang untuk menikmati makananya," teriak Fredy.


“Jangan berani-berani membentakku!” maki laki-laki berkumis.


Bougght!


Di luar dugaannya, laki-laki yang berdiri di depannya malah melayangkan bogem mentah ke wajahnya, dan membuatnya tersungkur ke tanah.


“Siall! Hidungku patah! Arggg!” jerit laki-laki berkumis itu


Anak buah laki-laki berkumis itu ingin maju untuk membela Tuan mereka, tiba-tiba Fredy mengeluarkan senjata api, dan menodongkan ujung sejatanya ke kepala Tuan mereka.


“Mundur!” teriak Fredy. "Kalau tidak mundur, kepalanya aku ledakan!" Fredy mengarahkan ujung senjatanya pada laki-laki berkumis ketua para penculik itu


"Mundur kalian semua! Jangan melawan! Kalau kalian melawan, isi kepalaku akan berhamburan keluar ...." Laki-laki berkumis itu gemetaran.


Semua anak buah laki-laki berkumis kompak mundur.


"Kenapa seperti ini, bukankah Anda sudah sepakat dengan peraturan yang kami beri?"


“Anda menyalahi peraturan yang telah ku buat!” teriak laki-laki itu pada Diana.

__ADS_1


Diana mendorong meja yang ada di depannya, seketika semua yang ada di meja terbang tak tentu arah. Diana berjalan mendekati laki-laki berkumis itu. “Peraturan?” ucapnya mengintimidasi. “Tidak ada peraturan untukku! Karena aku sendiri peraturan itu!”


__ADS_2