
Yudha sangat terpesona dengan kilau berlian yang menyilaukan matanya. “Yakin tidak bisa ditambang?”
“Kepala Suku ingin warga desanya hidup dengan damai, mereka tidak mau di desa ada konflik apapun itu,” sahut Diana.
“Padahal pertambangan mensejahterakan kehidupan Masyarakat sekitar jika dikelola dengan benar, tanpa KKN tentunya,” ucap Yudha.
“Lupakan tambang di desa kami, bukankah kalian sudah memiliki izin tambang di desa lain? Yang aku maksud sebelunya,” ucap Diana.
“Izin pertambangan memang sudah aku kantongi, tapi berlian di sana masih di monopoli Perusahaan kecil dan menengah di sana, mereka bermain sangat cantik,” sela Ivan.
“Maksudmu?” Diana belum mengerti ucapan Ivan.
“Kegiatan tambang berlian di desa itu di kuasai oleh beberapa perusahaan kecil, Agung Jaya belum bisa menambang dengan maksimal karena banyak hal yang jadi penghalang.”
Ivan menarik napasnya begitu dalam. "Saat Karyawan Agung Jaya melakukan pertambangan, ada saja kecelakaan kerja, dari mesin yang tiba-tiba rusak, bahkan banyak lagi, saat aku mengirim mata-mata, ternyata itu antek-antek dari perusahaan lain yang juga menambang di sana."
Diana mencoba memahami cerita Ivan, hingga dia menemukan satu ide. “Bagaimana kalau kita kacaukan harga pasaran?” Diana memandangi semua yang ada dalam ruangan secara bergantian. “Dengan Agung Jaya menurunkan harga jual berlian terbaik, maka pasaran harga akan kacau, Agung Jaya perusahaan besar, sengaja rugi tidak menghancurkan satu tiang pun di perusahaannya.”
“Dengan kacaunya harga pasar, maka perusahaan kecil itu akan kelabakan, dan mereka akan kehilangan orang-orang kuat yang selama ini melindungi mereka.” Ivan melirik kearah Diana. Terlihat Diana menaik turunkan alisnya merespon perkataannya.
"Kenapa kamu sangat cerdas, permataku?" Ivan menarik Diana kedalam pelukannya dan memelik permatanya begitu gemas.
Diana melepaskan diri dari pelukan Ivan. “Ini hari minggu, kamu juga punya burung besi, bagaimana kalau kita ke desa di mana tambangmu berada?” tawar Diana.
“Burung besi?” Dillah menatap kearah sangkar Ivan.
Apa mereka akan berpetualang di desa? Batin Dillah.
“Lihat apa kau?!” Yudha melempar kartu kearah mata Dillah. “Jangan berpikir aneh-aneh, burung besi yang Diana sebut adalah Helikopter milik Ivan!”
“Owh ….” Dillah memasang wajah bodohnya dan kembali melanjutkan memakan cemilannya.
Anton tersenyum melihat wajah Dillah. “Katakan, apa yang kamu pikirkan sebelumnya?” goda Anton.
“Aku pikir burung Ivan selalu tegak, makanya Diana menyebutnya burung besi.”
“Sudah kuduga!” omel Yudha.
“Hei fokus dengan rencana kita ke desa itu,” tegur Ivan.
Ivan menoleh pada Diana. “Desa itu sangat dekat dengan desa Nenek, bagaimana setelah urusan kita selesai, kita temui Nenekmu?”
Diana menggelengkan kepalanya. “Untuk menemui Nenekku, kita harus memiliki persiapan, kita ke sana hanya melihat perusahaanmu, tidak mampir ke desaku,” ucap Diana.
"Mengapa? Aku sangat ingin bertemu Nenekmu," ucap Ivan.
__ADS_1
"Selain desa kami sangat kaya dengan harta karun yang masih tertanam di perut bumi, di desa kami juga banyak orang hebat yang tinggal di sana, seperti dokter Zelin, dia tinggal di desa semata menyembunyikan Diana dari kejaran musuh, bukan rahasia lagi jika banyak orang yang ingin membunuh Diana," sela Anton.
"Helikopter jika akan memasuki wilayah desa kami tanpa mengatakan kode, maka akan ditembak oleh penjaga," sela Diana.
"Lalu Nenekku nanti bagaimana?" tanya Yudha.
"Untuk Nenekmu, semua persiapan dan akses masuk desa tengah aku persiapkan," sahut Diana.
"Yakin aman?" Yudha memastikan.
"Kalau kamu percaya padaku, aku jamin Nenekmu sampai dalam keadaan selamat di desaku nanti."
"Urusan Nenek Zunea nanti kita atur lagi, saat ini lebih baik kita atur keberangkatan kita menuju desa tambang," potong Ivan.
"30 menit lagi kita berkumpul di atap Gedung Agung Jaya, bagaimana Tuan?" usul Dillah.
"30 menit waktu yang cukup untuk kalian bersiap, sana pergi dan siapkan keperluan kalian untuk bermalam di sana," titah Ivan.
Yudha, Dillah, dan Anton segera meninggalkan Apartemen Ivan, sedang Ivan dan Diana mempersiapkan keperluan mereka masing-masing.
Tink!
Kegiatan Diana terhenti saat mendengar notif group dari kampusnya. Diana segera membaca pesan itu.
*Untuk semua Mahasiswa Universitas Bina Jaya diharapkan untuk berkumpul di Aula kampus, ada pemberitahuan dadakan.
Ceklak!
Mendengar suara pintu yang terbuka, Ivan menoleh kearah pintu. "Ada apa permataku, butuh bantuanku?"
"Bolehkah aku berangkat belakangan saja sendiri?" tanya Diana.
"Kenapa sayang?"
"Ada panggilan dadakan dari kampus, kalau berkenan siapkan aku 1 helikopter untukku menyusul kalian nanti."
Ivan merasa sedikit kecewa tidak bisa bersama Diana selama perjalanan udara nanti, tapi juga sedikit lega, setidaknya Yudha tidak punya celah untuk dekat dengan Diana.
"Bisa?"
Pertanyaan Diana membuyarkan lamunan Ivan.
"Tentu saja bisa, sayang. Bersiaplah menuju kampus, aku akan mengantarmu ke Universitas, baru aku berangkat ke kantor."
Memiliki pasangan yang sangat mengerti kesibukannya, Diana sangat bahagia. Dia langsung memeluk Ivan. "Terima kasih, karena selalu mengerti keadaanku."
__ADS_1
Ivan tersenyum dan menepuk lembut punggung Diana. "Ayo selesaikan persiapan kita."
***
Setelah selesai dengan persiapan untuk menginap di desa, Ivan melajukan mobilnya menuju Universitas Bina Jaya. Mobil Ivan berhenti sebelum mencapai gerbang kampus.
"Belajar dengan baik, buat Nenekmu bangga padamu," pesan Ivan.
Diana mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Ivan dengan sangat lembut. "Hati-hati, suamiku." Diana tersenyum kecil dan segera turun dari mobil Ivan.
Sedang Ivan tidak bisa berhenti tersenyum mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Dengan perasaan yang penuh akan kebahagiaan, Ivan melanjutkan perjalannya menuju Gedung Agung Jaya. Saat sampai di atap, di saja sudah ada 3 rekannya yang lain. 3 orang itu terlihat bingung melihat Ivan datang seorang diri.
"Mana Diana?" tanya Anton.
"Ada tugas di kampus, dia janji akan menyusul kita, aku sudah menyiapkann1 helikopter untuknya," sahut Ivan.
Tanpa bicara lagi, mereka bertiga memasuki hellychopter. Helikopter pun mulai mengudara menuju tempat tujuan yang mereka tuju.
Di Universitas Bina Jaya.
Banyak Mahasiswa yang baru kembali ke Universitas karena panggilan dadakan di hari libur mereka, halaman Universitas pun di penuhi lalu lalang para Mahasiswa yang membawa ransel maupun koper. Beberapa kelompok juga terlihat bersantai di bawah pohon bercengkrama dengan teman-teman mereka.
Salah satu Mahasiswa langsung berhenti bicara saat dia melihat sosok yang selama ini sangat dia rindukan. Dia berlari kearah Mahasiswi itu, dan meninggalkan teman-temannya.
"Hei, Thaby! Selesaikan ceritamu!
"Nanti aku selesaikan!" Thaby terus berlari mengejar targetnya.
"Hai Diana." Thaby berusaha berjalan mengimbangi langkah Diana yang lumayan cepat.
"Hai Thaby."
"Bagaimana Jerman?"
"Aku harus jawab bagian apa?" Diana balik bertanya.
"Tidak usah dijawab, melihatmu kembali dari pertukaran pelajar, aku sudah sangat bahagia," ucap Thaby.
Diana tidak merespon, pandangannya lurus kedepan seolah dia berjalan sendirian.
"Kamu tahu kenapa kita dipanggil dadakan?" Thaby berusaha membahas topik lain.
"Sebentar lagi, Universitas kita dipercaya melangsungkan acara hebat, di mana ilmuan Dunia akan berkumpul di sini," ucap Thaby.
"Owh ...." Diana tetap dingin dan fokus dengan tujuannya.
__ADS_1
"Ya sudah, sampai nanti, Diana."
Diana tidak menjawab, dia terus saja melangkah, melihat hal itu Thaby hanya bisa membuang napasnya, dia tidak tahu dengan cara apalagi agar bisa menarik sedikit perhatian Diana.