Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 262


__ADS_3

Siang itu hari yang sangat membahagiakan Nenek Zunea, dia diajak Nenek Zelin untuk tinggal bersamanya di kediaman Nenek Zelin, selama beliau menetap di kota ini.


Mendengar Nenek Zelin ada di kota mereka, Kakek Agung dan putranya juga segera menemui dokter yang melegenda itu. Hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti hati mereka.


Di dalam rumah, para orang tua itu masih membicarakan momen masa muda mereka dulu. Sedang Ivan memilih bersantai di balkon rumah Nenek Zelin, sambil memandangi keadaan rumah yang di jaga ketat keamanan bersenjata.


"Apa pemandangan di luar lebih indah dari pemandangan di dalam?"


Pertanyaan itu mengejutkan Ivan, dia menoleh ke sumber suara tersebut. "Permataku?" Ivan tersenyum melihat Diana.


"Kenapa memilih menyendiri di sini?" tanya Diana.


"Hanya ingin udara dari luar saja, walau Nenekmu menerimaku dengan baik, tapi aku kesulitan bernapas saat di dekatnya, entah kenapa, rasa cemas sekalu menyelimuti hatiku."


"Tenang saja, Nenekku orang yang sangat santai."


"Apakah selalu seperti ini? Maksudku orang-orang yang mengelilingi Nenekmu."


"Kamu lupa kalau banyak orang yang ingin menghabisi Nenekku? Penjagaan beliau selalu seperti ini."


"Aku tau, tapi aku hanya terkejut melihat pengawalan yang sangat ketat ini." Ivan menarik Diana kedalam pelukannya, "malam ini, kamu tidur di mana?"


"Sepertinya akan tetap ke Apartemenmu."


"Apartemen kita," potong Ivan. "Kita sudah menikah, apa saja milikku adalah milikmu."


"Sepertinya aku akan ke Apartemen kita, biarkan dua teman yang baru bertemu itu menghabiskan waktu mereka di sini."


"Lalu, kalau aku rindu Nenekku bagaimana?"


Diana dan Ivan menoleh kebelakang mereka, terlihat soso Yudha ada di sana.


"Kalau kamu rindu, temui saja." sahut Diana.


"Proses masuk tempat ini sangat susah!" gerutu Yudha.


"Sebelum pulang, minta kartu akses khusus, agar kamu mudah keluar masuk rumah Nenekku," sahut Diana.


Hari semakin malam, Diana dan Ivan kembali ke Apartemen mereka, keduanya sangat kelelahan, hingga mereka tumbang begitu saja di tempat tidur.

__ADS_1


Drrtttttt


Getaran handphone membuat Ivan terbangun dari alam mimpimya, dia segera membuka pesan yang terus masuk ke handphonenya. Ivan membaca satu per satu pesan yang masuk, seketika darahnya mendidih membaca semua laporan Pak Abimayu tentang rencana jahat paman-paman Diana.


Ivan sampai di pesan yang terakhir.


*Pihak IMO berharap kamu yang menjaga keamanana di Universitas nanti semua keamananmu, tidak usah ketat, agar mereka lengah. Pihak IMO atau Tuan Muda Archer tidak bisa menempatkan keamanan mereka, karena salah satu pengkhianat adalah mantan istri Tuan Muda sendiri.


Ivan mengetik pesan balasannya dengan cepat.


\=Baik Pak, saya akan meminta Narendra untuk mengatur semua itu.


Selesai membalas pesan Pak Abimayu, Ivan segera menghubungi Narendra, dan memerintahkannya agar mengukuti komando dari Pak Abi dan tim Pak Abi.


***


Hari demi hari berlalu, Diana dengan kegiatan kuliahnya yang terasa membosankan, karena harus melewati pemeriksaan ketat, Ivan dengan pekerjaan kantornya, sedang Nenek Zelin dan Nenek Zunea melakukan apa saja yang mereka mau.


Pada sisi lain. Arli selalu menyamar dengan peran yang berbeda setiap harinya, untuk memantau keadaan Universitas Bina Jaya. Melihat keamanan begitu ketat, sangat sulit baginya menembus keamanan berlapis itu. Arli kembali ke markas dengan laporan yang dia dapat.


"Aku tidak bisa menembus keamaman berlapis, bagaimana caranya aku menaruh bom ini lebih awal!" keluh Arli.


"Maksudmu?" Arli tidak mengerti dengan ucapan Nazif.


"Setelah melewati penjagaan utama, kalian bisa melakukan apa saja di dalam," sahut Nazif.


"Masalahnya aku tidak bisa masuk!" keluh Arli.


"Aku punya akses kalau kamu mau," sahut Nazif.


"Kenapa tidak bilang dari tadi!" omel Arli.


"Lah, tante nggak nanya," balas Nazif.


"Sudah-sudah. Jadi ... apa kamu punya cara buat kami masuk, Nazif?" tanya Rafardhan.


"Punya, ada 2 temanku calon Mahasiswa Universitas Bina Jaya, kalau Om dan tante mau masuk, kalian menyamar sebagai orang tua temanku, saat ini dia butuh pendamping, karena tua mereka ada di luar Negri," sahut Nazif.


"Jadi ... kami harus apa?" sahut Alizan.

__ADS_1


"Om Alizan dan om marawi datang sebagai wali salah satu temanku, begitu juga tante Arli dan om Rafardhan. Urusan penyamaran, itu kalian yang pikirkan, aku hanya bilang pada dua temanku, kalau om-om dan tanteku bisa jadi pendamping mereka, ya selain itu kalian harus menjemput mereka dulu sebelum ke Universitas Bina Jaya."


Rencana dari Nazif menurut mereka bagus, keempatnya menerima rencana Nazif. Rafardhan, Alizan, Marawi, dan Arli segera mempersiapkan penyamaran mereka. Sedang Nazif, langsung mengirim pesan pada Nizam, kalau umpan mereka dimakan oleh target.


*


Seminggu berlalu.


Arli, Rafardhan, Alizan, dan Marawi melenggang dengan mudah memasuki area Universitas Bina Jaya, mereka menyamar sebagai orang tua calon Mahasiswa yang telah disiapkan Pak Abimayu untuk menangkap wajah baru para penjahat itu.


Keempatnya mulai mempersiapkan rencana mereka, setiap hari mereka membawa satu per satu bahan perakit bom, mereka semakin lega, karena pemeriksaan hanya memastikan yang keluar masuk memang mereka yang berkaitan dengan acara. Di luar pengetahuan mereka, selalu ada yang memantau setiap gerak gerik mereka, dari cctv, mau pun dari mata-mata yang Ivan sebarkan di Area Universitas.


Akhirnya semua alat terkumpul, Arli merakit bom satu persatu, setelah semua selesai, dia keluar dari toilet membawa 4 bom itu.


"Lihat, sepertinya itu target mereka." Russel menunjuk layar CCTV yang menangkap gerak gerik Arli.


Nizam mengambil handphonnya, dia mengirim pesan pada Nazif.


*Apakah detonator sudah kamu selipkan pada mereka?


\=Sudah, mereka tidak menyadari kalau detonator ada di saku mereka.


*Foto-foto para pejabat Negara, bagaimana?


\=Itu sedang mamaku kerjakan, saat ini mama dan Kak Agis menyelipkan semua foto yang Tuan berikan di berkas rencana mereka, juga menempel di papan tulis yang ada di mobil itu.


Nizam kembali fokus pada layar yang memperlihatkan gerak-gerik Arli.


"Saat Arli mengeluarkan bom keempat, langsung kepung dia," perintah Archer.


"Bagaimana dengan 3 saudara Bramantyo?" sela Nizam.


"Mereka pasti akan lari ke mobil, saat mereka sudah masuk mobil, kita langsung serbu dan kepung mereka, usahakan ada wartawan yang meliput kejandian nanti."


Bersambung.


****


Hari ini 3 epesode ya, kalau besok libur harap maklum ya😄

__ADS_1


__ADS_2