Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 186 Dia Memang Cerdas


__ADS_3

Melihat dua wanita cantik itu masuk kedalam, Dillah dan Birma berusaha mengumpulkan kesadaran mereka, keduanya saling pandang.


"Ada yang aneh!" ucap Birma.


"Aneh sekali, bagaimana kekasih Tuan Ivan dan Kekasih Tuan Angga begitu akrab?" ucap Dillah.


"Nah ini, selama aku berada di sini, aku tidak pernah melihat Nona Jennifer bertemu dengan Nona Diana." Birma berusaha mengingat momen yang dia lalui sebelumnya saat bersama Jennifer.


"Apakah Nona Jennifer berasal dari desa yang sama dengan Nona Diana?" tebak Dillah.


"Nona Jennifer anak konglomerat, dia bukan berasal dari Desa, dia dari negara yang sama dengan Tuan Angga," jelas Birma.


"Bagaimana bisa? Rumor yang beredar Jennifer seorang resedivis," ucap Dillah.


"Dia tersandung hukum saat masa kecil karena kelaparan, dan pernah mencuri untuk makan. Bagaimana ceritanya, sangat panjang. Yang aku tahu dia korban kekerasan dalam rumah tangga, ya mungkin mirip cinderella gitu," terang Birma.


"Mungkin nasibnya mirip Nona Diana, dia berulang kali terseret kasus, beruntung dia punya bukti, kalau dia bersih." Dillah teringat beberapa kasus yang menyeret Diana.


"Hei! Kalian ingin gosip di sana? Tidak mau masuk?" teriak Jennifer.


"Siap Nona, kami menyusul!" sahut Birma.


Mereka berdua segera menyusul Diana dan Jennifer. Di meja makan, Diana dan Jennifer terlihat sangat asyik, bahkan tawa keduanya begitu lepas. Pemandangan yang sangat menyejukan.


Tapi Birma tidak sanggup menahan diri untuk tidak bertanya. “Sejak kapan Nona Jenni dan Nona Diana saling mengenal?” tanya Birma.


Jenni mendekati Birma, dia berdiri di samping Birma. “Kamu ingat tentang cerita masa kecilku saat aku bercerita pada Angga?" bisik Jennifer.


"Bagian yang mana? Cerita masa kecil Anda rasanya sangat banyak," ucap Birma.


"Saat aku sedang melakukan aksi bela diri di pinggir jalan, saat itu ada seorang gadis seumuranku yang melempar dua koin padaku, aku merasa dia menghinaku, hingga aku menantangnya, dan kami duel waktu itu.”


"Owh yang itu ...." Birma bisa mengingat bagian masa kecil Jennifer yang mana yang Jennifer maksud.


“Yang Anda cerita pada Tuan Angga, kalau seorang gadis yang mengenakan jas salah satu Universitas ternama, dan Anda pikir dia memakai jas Kakaknya, Awww!” Birma meringis dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena Jenni mencubit perutnya.


Jenni menoleh pada Diana. "Diana, Damai ...." Jenni mengacungkan dua jari ke udara. "Jangan ada dendam diantara kita."


Diana tersenyum melihat expresi Jennifer.


“Tolong, hinaanku pada gadis itu tentang aku mengatakan dia ingin terlihat pintar jangan disebut, karena pada kenyataan memang benar, gadis itu memang cerdas. Saat anak seusianya masih duduk di kelas satu SMA, gadis itu sudah mengenyam Pendidikan di sebuah Universitas ternama,” ucap Jenni.

__ADS_1


“Kamu tahu siapa gadis kecil yang berduel denganku waktu itu?"


"Mana aku tahu, Anda belum cerita kelanjutannya," sahut Birma.


Jenni menoleh pada Diana. "Dia adalah Diana.” Jenni tersenyum pada Diana, kenangan saat mereka bertemu kembali terbayang, hal itu juga yang membuatnya dan Diana berteman dekat.


Mulut Dillah terbuka lebar mendengar ucapan Jenni.


Berarti sebenarnya Nona seorang sarjana? Terus untuk apa dia kuliah lagi di Universitas Bina Jaya? batin Dillah.


Diana bisa menebak isi pikiran Dillah. Dia menyentuh dagu Dillah. "Jangan terlalu lebar membuka mulutmu!"


"Ma-maaaf Nona."


Jennifer meneruskan ceritanya. “Selain hal itu, setelah kami saling mengenal, kami merasa semakin nyaman, banyak persamaan diantara kami, yah … walau aku tidak secerdas Diana,” ucap Jenni.


Birma mulai menyadari satu hal, sosok yang Jenni ceritakan itu adalah seorang Ilmuan Negara, juga seorang dokter hebat yang menjadi misteri. “Ternyata dia orangnya?” ucap Birma.


“Ya, aku memang orang, bukan hantu,” sahut Diana.


“Sepertinya kedepannya hubungan kalian akan semakin dekat, karena Tunangan Nona Diana dan Tunangan Nona Jenifer bersaudara,” sela Dillah.


“Gara-gara melihat Diana, aku lupa mengajak kalian semua menikmati makanan yang tersedia,” ucap Jenni.


"Terima kasih Nona," sahut Dillah dan Birma bersamaan.


"Untuk kamar kalian masing-masing sudah di siapkan oleh pelayan di sini,” sambung Birma.


Dillah dan Birma menarik salah satu kursi yang mengelilingi meja makan itu, keduanya segera menikmati hidangan yang ada.


“Silakan kalian isi tenaga kalian dulu,” ucap Jenni.


Diana mengambil sebiji jeruk, dan mulai menikmatinya, sedang Dillah terlihat sangat rakus menikmati hidangan yang tersaji.


“Diana, kamu tidak lapar?” tanya Jenni.


“Aku belum lapar, Jen.”


“Selagi mereka menikmati makanan, bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling tempat ini?” usul Jeni.


“Boleh juga.”

__ADS_1


Diana dan Jenni pergi berdua. Mereka berkeliling bangunan utama yang ada di wilayah konsorsium itu. Obrolan kecil terus terdengar dari keduanya. Kadang terselip tawa keduanya.


“Bagaimana operasi Angga?” tanya Jenni.


“Operasi ku lakukan di Dubai, semua berjalan bagus. Tapi beberapa hari lalu Angga mengalami musibah, dia berjalan di perkebunan yang basah.” Diana menceritakan tragedi Angga, hingga Angga harus di rawat kembali di Rumah Sakit.


“Entah Angga yang tertutup, atau usaha seniorku yang kurang keras, hingga hal itu terjadi,” ucap Diana.


“Apapun yang terjadi pada Angga, itu bukan salahmu, Diana.” Jenni berusaha memberi semangat pada Diana.


“Dua tahun yang lalu, aku selalu memintamu melakukan operasi pada Angga, tapi jadwalmu selalu penuh,” ucap Jeni.


“Maafkan aku.”


“Tidak masalah, aku memahami jadwal operasimu yang harus di lakukan di Negara yang berbeda, sekarang aku sangat bahagia, akhirnya orang yang aku cinta mendapat giliran untuk di tangani seorang dokter hebat sepertimu," ucap Jennifer.


"Saat pertama kali melihat Angga, aku baru sadar, dia kekasihmu. Saat malam Kakeknya meminta sang dokter misterius mengoperasi Angga, aku meminta Seniorku menerimanya."


"Mereka belum tahu siapa sang dokter?" tanya Jennifer.


"Untuk saat ini identitasku masih aman." Senyum kecil yang begitu manis menghiasi wajah Diana.


“Kamu merindukan Negara ini, Diana? Kamu kuliah di sini lumayan lama bukan?”


“Di sini aku hanya beberapa semester, karena prestasiku, aku dibawa ke negara lain, dan belajar di sana.”


“Nona!” teriakan itu membuat Diana dan Jenni menyudahi obrolan mereka.


Dari arah depan, Dillah berlari mendekat pada mereka.


"Ada apa Dillah? Apa kamu baru saja melihat hantu?" ledek Diana.


"Teror yang terus menggangguku lebih menakutkan dari hantu. Mereka sama-sama tidak terlihat, tapi rasa takut yang dia berikan tidak bisa aku ibaratkan dengan kata-kata," ucap Dillah.


"Siapa hantu itu? Apa tampan atau cantik?" goda Jennifer.


"Aku mau bilang hantu itu tampan, tapi bagi Nona Jennifer, Tuan Angga manusia paling tampan yang ada di muka bumi ini," ucap Dillah.


"Siapa hantu itu, dan apa maunya sehingga meneror kamu terus?" tanya Diana.


"Tuan Ivan."

__ADS_1


"Astaga, majikan dikatain hantu!" goda Jennifer.


"Teror darinya lebih menakutkan dari teror hantu, Tuan Ivan selalu meneleponku, dia terus menanyakan keberadaan Nona Diana, kalau Anda tidak meneleponnya sekarang, aku tidak bisa istirahat dengan tenang,” adu Dillah.


__ADS_2