Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 237 Bukan Dia


__ADS_3

Pikiran Diana masih berputar tentang sosok pengkhianat itu, kenapa orang itu tega mengkhianati IMO. Sedang Tony, dia terus berbicara dengan Fablo, matanya memantau pergerakan anak buah Fablo. Terlihat beberapa anak buah Fablo mengumpulkan senjata laras panjang mereka, kini hanya ada beberapa orang bersenjata yang berjaga.


Tony meraih sesuatu dari saku jaketnya. Dia sesaat melirik Fablo, laki-laki itu fokus memadangi Diana yang terkurung dalam kotak kaca. Tony merasa ini kesempatan emas baginya, dia menarik pin granat yang dia bawa dan melemparnya kearah kumpulan senjata anak buah Fablo.


Doarrr!


Suara ledakan mengejutkan semua orang. Tony langsung bersembunyi, dan kembali melemparkan granat. Diana belum keluar dari pemikirannya. Tapi suara ledakan yang terdengar mengejutkan Diana. Dia melihat keadaan di luar ruangan, terlihat Tony berkelahi dengan anak buah Fablo. Dugaan Diana benar lagi, Tony hanya berpura-pura jadi pengkhianat agar bisa menangkap pengkhianat yang sesungguhnya.


Tetttt!


Tony menekan tombol di samping pintu masuk. Hingga pintu masuk ruangan kaca itu perlahan terbuka, Tony melempar 2 pistol kedalam kotak kaca, dia tidak menunggu pintu terbuka sempurna, dia melanjutkan pertarungannya dengan anak buah Fablo.


Mendengar suara tembakan dan ledakan, Fablo melarikan diri. Melihat Fablo lari, Veronica sangat geram.


"Dasar pengecut!" Veronica tidak diam saja melihat hal itu, dia berusaha menutup pintu itu lagi.


Tapi terlambat, Diana sudah keluar. Diana meraih tangan Veronica dan mendorong wanita itu masuk keruangan kaca.


Diana masih ingat cara anak buah Fablo mengunci ruangan dengan cepat tanpa tombol, dia melakukan hal yang sama, hingga pintu ruangan langsung terkunci.


“Dasar Jalanggg!” Veronica berteriak sekuat yang dia bisa sambil memukuli kaca penghalang mereka.


Diana meledeknya, dia meraih mic. “Aku tidak dengar, simpan tenagamu manis. Percuma kamu berteriak aku tidak mendengarmu,” ledek Diana.


"Akkkkkkk!!" Veronica mengamuk di dalam ruangan, sekuat apapun dia memukul kaca itu sama sekali tidak berdapak.


Di dalam ruangan kaca Veronica tidak menyerah, dia terus memukul-mukul kaca. Diana melupakan Veronica, Diana fokus mengarahkan senjatanya pada anak buah Fablo yang masih memegang senjata, namun jumlah pelurunnya terbatas, semua anak buah Fablo yang bersenjata sudah tumbang, kini mereka berkelahi dengan tangan kosong.


Di sudut sana Tony mulai kewalahan melawan anak buah ED group yang semakin banyak. Diana masih bertarung dengan anak buah ED Group yang mengelilinginya, sedang di sudut lain Tony kalah, dia terjatuh, dia pasrah menerima pukulan semua lawan yang mengeroyoknya.


“Bertahan Tony!” teriak Diana.


Saat yang sama Nizam dan Ivan muncul, keduannya berkelahi melawan musuh yang mengeroyok Tony. Melihat Ivan datang, Diana sangat bahagia, dia semakin semangat menghajar semua musuhnya, dia terus melawan musuh di sekitarnya. Yudha sadar diri dia tidak punya ilmu bela diri, dia berjalan di belakang Narendra. Saat ada musuh menyerang, Narendra yang melindunginya, hingga mereka bisa menyelamatkan Dillah.


Ikatan Dillah berhasil di buka, Dillah sangat bahagia, dia langsung memeluk Narendra. Saat Dillah ingin memeluk Yudha, Yudha menghindar.


“Cukup ucapkan terima kasih, aku masih normal, aku tidak mau belok!” ucap Yudha.


“Aku semakin mencintai Anda, Tuan.” Goda Dillah.


“Aku jadi takut dekat-dekat Dillah, jangan-jangan dia terlahir kembali dengan jiwa perempuan,” ucap Narendra.

__ADS_1


Dillah melihat musuh mendekat, dia langsung menyerang musuh, melindungi dua lelaki yang telah menyelamatkannya.


Pertarungan sengit terus terjadi. anak buah ED Group yang lain datang, dan mulai menghujani Diana dan rekannya dengan Peluru. Sontak mereka langsung mencari tempat persembunyian. Diana melihat keadaan sekitar, banyak zat berbahaya, di persembunyiannya, Diana mencampur beberapa bahan kimia berbaya kedalam tabung, merasa cukup banyak, dia mulai melempar kearah musuh. Suara ledakan pun menggema. Dampak ledakan membuat musuh terlempar jauh.


Ivan menggeleng melihat bakat Diana, saat ada kesempatan Ivan berlari kearah Diana.


"Apa yang ku lihat ini?" Ivan masih takjub.


"Cepat lempar ini kearah musuh, pastikan tepat." Diana membagi bom buatannya pada Ivan, dan mengajarinya menggunakannya.


Setiap sudut persembunyian anak buah ED Group mereka lempari sejata buatan Diana. Perlahan semua anak buah ED Group tumbang karena serangan balik mereka semua. Ivan sangat bangga bisa melihat langsung Diana melibas semua penyerangnya dengan mudah, perlawanan Diana dengan kejeniusannya membuat Ivan tidak bisa mengungkapkan kata-kata lagi.


Di ruang kendali.


Fablo sangat syok melihat 500 anak buahnya tumbang dilibas Diana dan penyelamatnya. “Ah! Aku salah sasaran! Aku tidak pernah menduga Diana sehebat ini.”


Fablo belum bisa keluar dari keterkejutannya, kini alarm tanda pintu keamanan di bobol berteriak. Saat yang sama Ivan dan Narendra mendatanginya.


“Berani-beraninya kamu menculik istriku!” Ivan meraih krah baju Fablo dan sebelah tangannya memberikan bogeman mentah yang mendarat telak di rahang Fablo.


“Narendra, kamu punya cara untuk menghabisi laki-laki ini dengan sadis?” tanya Ivan.


“Serahkan semuanya padaku Tuan, Aku tidak akan mengecewakan Anda.”


Sesampainya di bawah akhirnya Ivan menemukan Diana. “Apa yang kamu cari, sayang?”


“Mencari bom asap beracun yang sebenarnya, yang ada ini hanyalah bom asap biasa.”


“Untuk apa kamu mencari bom asap beracun yang asli?”


“Tadi seseorang ingin membunuhku dengan bom itu, tapi ada seseorang yang baik menyelamatkanku dengan menukar bom asap beracun dengan bom asap biasa.”


Diana terus membandingkan kode dalam setiap tabung. Akhirnya Diana menemukan bom asap beracun yang sesungguhnya. "Ini dia."


"Mau kamu apakan benda berbahaya itu?" tanya Ivan.


“Nanti kamu juga tau, ayo ikuti aku. Aku punya hadiah untukmu.”


Ivan segera mengikuti Diana, hingga mereka sampai di depan ruangan kaca. Saat sampai di depan ruangan kaca, Diana menemukan laki-laki yang menyelamatkannya dari asap beracun.


“Dillah, selamatkan paman ini, bawa dia ke klinik terdekat,” ucap Diana.

__ADS_1


“Baik Nona.”


"Yudha bisa kamu bantu Dillah?" tanya Ivan


"Tentu saja." Yudha membantu Dillah membawa laki-laki yang Diana maksud ke Rumah Sakit dengan mobilnya.


Diana tersenyum Ivan masih tidak meyadari hadiah yang dia maksud. “Kamu belum tahu hadiahku?” tanya Diana.


“Apa itu?”


Diana menunjuk kearah ruangan kaca. Saat Ivan melihat sosok yang ada di dalam ruangan kaca, dia sangat marah.


“Masih hidup ternyata dia!” Rahang Ivan mengeras melihat Veronica.


“Dia akan mati tidak lama lagi.” Diana memasukan selongsong bom asap ke wadah yang ada, dan dia yang melepaskan bom asam beracun kedalam ruangan kaca di mana Veronica terkurung, dia juga menambahkan beberapa zat lain.


Saat asap tebal menyelimuti ruang kaca itu, Veronica berteriak kesakitan, dadanya sangat sakit. Veronica berlari ke pintu kaca, berteriak minta bukakan pintu sambil memukul-mukul pintu itu, tapi orang di luar tidak mendengar teriak kesakitannya.


Diana tahu bagaimana tersiksanya Veronica saat ini, tapi sisi kemanusiaannya sudah hilang jika berhadapan dengan musuh. Diana mengambil mic, dan berbicara. “Sudah ku katakan padamu, jangan cari gara-gara denganku, jika kesabaranku hilang, maka aku kehilangan sisi kemanusiaanku.”


Bruk!


Seorang laki-laki bersimpuh di depan Diana. “Ketua, maafkan aku.”


Melihat Tony, Ivan ingin menghajarnya, namun Diana menahan Ivan.


“Bukan Dia pengkhianat yang sebenarnya."


Mendengar ucapan Diana, Ivan menahan kemarahannya.


Diana menoleh pada Tony. "Kamu minta maaf atas apa? Sedang kamu bukan pengkhianat dalam IMO,” ucap Diana.


“Banyak, aku merugikan ketua dalam banyak hal. Apakah perbuatanku barusan, bisa menebus kesalahanku yang sangat banyak sebelumnya.”


“Kesalahanmu padaku aku maafkan, namun kesalahanmu pada organisasi tidak bisa dimaafkan, kemungkinan kamu akan dicopot dari jabatan,” ucap Diana.


“Itu masih sangat baik ketua, walau aku kehilangan jabatan, aku bahagia bisa menemukan pengkhianat sesungguhnya.”


"Kembalilah ke markas," ucap Diana.


"Bisakah aku meminta bantuan Ketua? Biarkan aku di hukum, agar si pengkhianat mengira aku benar-benar mengabdi padanya, dan biarkan dia berpikir kalau posisinya saat ini aman," pinta Tony.

__ADS_1


"Aku akan membantumu untuk hal itu."


Ivan masih tidak mengerti, namun Diana memintanya untuk tenang.


__ADS_2