
Ivan menghentikan tangannya yang ingin mengetuk pintu kamar Diana, karena melihat kertas yang menempel di pintu kamar Diana, kertas bertuliskan.
*Aku ada ujian salah satu mata kuliahku pagi ini, jadi aku sudah pergi ke kampus dengan taksi.
Ivan pun langsung turun ke bawah, sesampai di bawah supir kantor sudah menunggunya di pintu utama.
Kenapa gadis itu selalu pergi dan datang sesukanya.
Ivan masih memikirkan tentang Diana, bahkan saat sampai di ruangannya Ivan masih terbayang tentang Diana.
“Ivan.”
Ivan sangat terkejut dengan seseorang yang memanggilnya, saat dia menegakkan wajahnya ternyata itu Yudha. “Ada apa?” Ivan heran melihat wajah Yudha begitu tertekan.
“Ini.” Yudha memberikan selebaran kertas pada Ivan.
“Ini resep dokter bukan?” Ivan berusaha memahami goresan tinta yang ada di kertas itu.
“Iya ini adalah resep, aku diberi resep ini oleh pengacara Nizam.”
Yudha menghempaskan bobot tubuhnya diatas kursi yang ada di depan meja kerja Ivan. Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut karena sangat kaget dengan resep yang dia terima. “Kamu tahu? Resep ini resep yang sangat jarang ditemukan.” Yudha masih dengan raut wajahnya yang sangat serius. “Terakhir kali resep ini muncul 10 tahun yang lalu, dan 10 tahun yang lalu itu adalah adalah resep dari nenek Zelin.”
Sesaat keduanya terdiam, Ivan masih memandangi resep yang Yudha perlihatkan padanya.
“Nenek Zelin adalah dokter cerdas dengan kemampuannya yang luar biasa, sampai sekarang dia jadi legenda karena kehebatannya, kenapa Diana tidak belajar skill dari neneknya sendiri?” Yudha tenggelam oleh pemikirannya sendiri.
Di Kampus Diana.
Video lama yang kembali viral, saat seorang gadis yang berusia 15 tahun yang menyelamatkan korban kecelakaan dengan sebuah pena, menjadi pembicaraan di kalangan Mahasiswa Universitas Bina Jaya. Disela-sela obrolan mereka, tiba-tiba Diana dan Saras memasuki kelas. Mereka langsung menghujani Diana dengan pujian karena tindakannya menyelamatkan Qiara malam itu.
__ADS_1
Diana tidak beraksi apapun, dia dan Saras segera menempati kursi mereka. Saras menyenggol pergelangan Diana, hingga berhasil membuat wanita itu menoleh padanya.
"Kamu tahu kehebohan apa yang terjadi di dunia maya?"
Diana memgangkat sedikit bahunya, wajahnya sangat jelas tidak tertarik untuk membahas hal itu.
Melihat Diana tidak tertarik untuk membahas hal ifu, Saras pun tidak melanjutkan ceritanya tentang kehebohan dunia maya yang terkait dengan kehebatan seorang gadis kecil yang berusia kisaran 15 tahun itu.
Beberapa mahasiwa yang lain membandingkan video viral beberapa tahun yang lalu, video saat seorang gadis yang berusia 15 tahun yang terjadi di luar negri, video itu mereka bandingkan dengan video viral terbaru Diana saat menyelamatkan Qiara.
“Gadis kecil itu sangat hebat, apa mungkin dia berada di Fakultas ini? dan menuntut ilmu di sini bersama kita.” Ucap salah satu Mahasiswa.
"Tidak menutup kemungkinan, bisa jadi dia sudah jadi Dosen."
Saras menoleh kearah Diana, namun Wanita itu tetap tidak peduli dengan segala pujian dan sanjungan yang terus tertuju padanya. Handphone Diana dan Saras juga handphone beberapa mahasiswa lain terus berdering, ternyata banyak pesan yang masuk di group chat Fakultas mereka, semua pesan juga berisi pujian dan sanjungan pada Diana.
Sesaat suasana hening, karena hari ini mereka ada ujian. Selama ujian berlangsung semua Mahasiswa terlihat sangat fokus dengan soal-soal mereka.
Lucas pun mengumpulkan semua lembar jawaban teman sekelasnya, saat sampai di meja Diana, Lucas “Hei Nona, waktumu sudah habis.” Dia mengambil kertas jawaban Diana.
Seperti apa jawaban mahasiswi yang hebat ini?
Lucas memandangi isi kertas ujian milik Diana, namun kertas itu kosong, Lucas tersenyum sinis meremehkan Diana. “Owh, seperti ini jawaban mahasiswi yang cerdas ini,” ledek Lucas.
*
Di kantor Ivan.
Yudha masih membayangkan pengacara Nizam yang bisa menulis resep seperti nenek Zelin, juga memikirkan Diana, kenapa gadis itu tidak belajar pada neneknya sendiri yang kehebatannya melegenda.
__ADS_1
Tetttttt ….
Telepon yang ada diatas meja Ivan berbunyi, dia langsung mengangkatnya.
“Iya, Amanda.”
“Tuan. Bolehkan saya menghadap Anda sekarang? Ada hal penting yang harus saya laporkan.”
“Silakan Amanda.”
Hanya beberapa menit berselang, suara ketukkan pintu pun terdengar, Ivan mempersilakannya masuk, dengan sangat percaya diri Amanda mendekati Ivan.
“Maaf Tuan Ivan, saya mengganggu Anda. Kita kehilangan satu dokumen penting dan sekarang data-data Perusahaan juga hilang Tuan.”
“Bagaimana mungkin?” Ivan terlihat berusaha menahan emosinya setelah mendengar laporan Amanda.
“Ada apa ini, Ivan? Kenapa suaramu terdengar begitu keras?”
Perhatian Ivan sejenak tertuju kearah pintu, dia mencoba meredam emosinya melihat kakaknya datang ke ruangannya.
“Kak Angga, silakan duduk.” Yudha menarik salah satu kursi untuk Angga.
“Ada apa, Ivan?” tanya Angga.
“Ada dokumen perusahaan yang hilang, kak.” Ivan kembali menoleh pada Amanda. “Selain dokumen yang hilang, apa ada lagi yang ingin kamu laporkan?” tanya Ivan.
“Ada Tuan.” Amanda memberikan satu berkas lagi pada Ivan.
Ivan segera membuka berkas yang Amanda berikan padanya. Di dalam sana dia menemukan foto-foto Diana bersama Fredy.
__ADS_1
“Tadi pagi saya ada tugas ke Universitas Bina Jaya, dan saya tidak sengaja melihat Tuan Fredy datang ke sana dan memberikan parcel yang berisi coklat untuk Nona Diana.” Adunya.