
Flashback.
“Ramona, Cornelia, Viola, Angga, Ivan, Yudha, Yaqzhan …, kok masih terasa tidak lengkap ya?” Salah satu laki-laki yang ada di ruangan itu mengabsen teman-teman yang ada di depannya.
“Ya kurang lah, Dy. Veronica tidak ada di sini,” sela Yaqzhan.
“Oh iya, Veronica belum datang, kalian tidak menelepon dia?” tanya Shady.
“Veronica tidak bisa bergabung bersama kita saat ini, karena dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal,” sahut Ivan.
Shady berusaha menyembunyikan kekecewaanya, niatnya kembali ke kota ini, karena dia ingin melepas rindu dengan Veronica. Shady izin ke toilet, setelah pergi meninggalkan teman-temannya, Shady langsung menelepon Veronica dan menanyakan segalanya. Veronica menceritakan masalahnya dengan Ivan dan menyalahkan Diana.
“Aku dan papaku sudah memohon pada Ivan, Dhy. Tapi dia tetap tidak mau membantuku.”
“Tenanglah Ve, aku akan berusaha membantumu untuk meluluhkan hati Ivan, agar dia mau membujuk tunangannya untuk mencabut semua tuntutan."
Setelah berbicara dengan Veronica, Shady kembali ke ruangan perkumpulannya. Shady terus memikirkan cara, agar bisa bicara dengan Ivan masalah Veronica. Shady duduk di salah satu sofa yang dekat dengan Ivan. “Van.”
Ivan langsung menoleh kearah Shady. “Iya, Dhy”
“Tentang Veronica, dia teman kita, kita tumbuh besar bersama, banyak waktu yang kita habiskan bersama Veronica. Iya dia memang salah, rasanya tidak adil kalau dia menanggung semua ini. Apalagi ini hanya karena orang baru, kamu lupa bagaimana persahabatan kita yang terjalin sejak kita kecil?”
“Apa maksudmu Dhy?” Ivan menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Shady.
"Kamu tidak tahu bagaimana masalahnya, Dhy, sangat sulit bagi Ivan untuk menerima keberadaan Veronica di dekatnya," sela Yudha.
“Aku tahu Yudh!" Shady berusaha menurunkan intonasi biacaranya. "Maaf Yudh, bukan maksudku membentakmu. Tadi aku sudah menelepon Veronica, dan dia menceeitakan masalah diantara dia dan Ivan."
Yudha masih ingin menumpahkan kekesalannya, namun melihat isyarat tenang dari Ivan, Yudha mengalah.
"Aku tidak mau melihatnya Dy!" ucap Ivan, lembut.
"Separah apa kesalahan yang Veronica timbulkan hingga kamu semarah ini, Van?"
"Sangat fatal! Sangat! Sangat! Parah!" Kemarahan Ivan seketika memancar dari sepasang matanya, terbayang segala perbuatan Veronica.
“Tunggu, memangnya apa yang telah terjadi?” sela Yaqzhan.
Yudha perlahan menjelaskan segala masalah yang Veronica timbulkan.
“Veronica memang salah Van. Tapi dia sahabat kamu, dia juga melakukan kesalahan itu untuk membantumu. Apakah kamu tidak bisa memaafkan Veronica atas dasar persahabatan?” ucap Shady.
"Kalau nenekmu di posisi neneku, bisakah kamu memaafkan dia begitu saja atas dasar pertemanan?"
Pertanyaan Yudha, seketika membuat Shady diam.
“Demi pertemanan kita semua, maafkan Veronica, dan bantu dia,” pinta Yaqzhan.
“Ini acara kita, apakah kita bisa tidak membahas Veronica?”
Shady masih diam, dia bisa melihat bagaimana sorot kebencian yang terpancar dari mata Ivan saat dia menyebut nama Veronica. Shadhy perlahan mengetik pesan. Lalu dia kirim pada veronica.
*Saat ini aku belum berhasil meminta Ivan agar memaafkan kamu, tapi aku akan terus berusaha untuk membantumu mendapat keadilanmu, Ve.
*Siapa tahu kamu ingin bertemu dengan kami, ini kode akses untuk masuk ke room yang kami booking.
*Ivan pasti diam saja andai kamu ada di tengah-tengah kami, dia tidak akan marah atau menampakkan kebencianya, karena dia menghormati kita semua. Beranikan dirimu, barangkali Ivan bisa memaafkanmu setelah pertemuan ini.
__ADS_1
Perasaan Ivan seketika memburuk karena mengingat Veronica. Mendengar nada panggilan dari handphonenya, Ivan izin keluar untuk menerima panggilan. Beberapa saat berada di luar, Ivan melupakan kemarahannya, saat melihat Diana melintas di depan matanya, namun gadis itu tidak menyadari keberadaan dirinya.
Flash Back Off
Di rumahnya Veronica memandangi layar handphonenya, ingin sekali bertemu dengan teman-teman masa kecilnya, tapi dia tidak punya keberanian menampakkan wajahnya di depan Ivan. Veronica hanya bisa memandangi layar handphonenya yang berisi kode akses untuk menuju ruangan yang Ivan sewa di salah satu clubhouse ternama di kotanya. Kode itu dikirimkan oleh Shady padanya.
Nada dering panggilan masuk membuyarkan lamunan Veronica. Dia segera memeriksa layar handphonenya. Tertera nama Shady di ID pemanggil.
“Iya Dhy ….”
“Ve, kapan kita bisa bertemu? Aku kangen banget sama kamu.”
Veronica sangat malas mendengar perkataan Shady, Veronica merasa kalau Shady menyukainya, tapi hatinya sudah tertanam begitu dalam hanya untuk Ivan.
“Nanti kapan-kapan ya, Dy.”
“Kamu ada di rumah? Kalau kamu nggak sibuk biar aku yang ke rumah kamu sekarang.”
“Ada-ada saja kamu Dy, saat ini ‘kan kamu lagi kumpul sama anak-anak, kok malah mau ke rumahku.”
“Iya tadinya kumpul, sekarang udah engagak, tadi ada sedikit kekacauan.”
“kekacauan?” seketika semangat Veronica berkobar.
“Iya, Mona dia bikin gara-gara sama tunangan Ivan. Ivan marah, dari mana aku ceritanya ya ….” Shady terdengar kebingungan.
Veronica terus memancing Shady, akhirnya Shady menceritakan semuanya.
“Sepertinya minuman racikan Mona yang Ivan minum mulai beraksi, makanya dia meminta kami pergi, sedang dia mengurung diri sendiri di sana.”
Senyuman merekah menghiasi wajah Veronica, seketika ada ide yang muncul setelah mendengar cerita Shady. “Shady, sudah dulu ya, aku di panggil mama. Lain kali kita atur waktu untuk ketemuan.”
Veronica segera bersiap, dia merias diri secepat mungkin, setelah selesai Veronica segera melajukan mobilnya menuju clubhouse tempat pertemuan teman-temannya. Sesampainya di sana keadaan sangat sepi. Veronica berjalan mendekati meja informasi. “Permisi mbak, saya diundang Ivan Hadi Dwipangga.” Veronica memperlihatkan kode akses yang dia dapat.
“Di ruangan nomor 2 paling ujung, apa mau kami antar?”
“Oh tidak perlu mbak, saya sudah biasa ke sini. Terima kasih.” Veronica segera menuju ruangan Ivan.
Saat membuka pintu ruangan Ivan, Veronica sedikit terkejut karena bagian kuncinya rusak, hingga dia tidak bisa mengunci ruangannya. Veronica tetap santai, karena clubhouse ini juga sangat privat. Senyumannya semakin merekah, kala dia melihat Ivan kehilangan kesadarannya. Veronica segera menurunkan bagian pundak blousenya yang terbilang seksi, dia langsung duduk di samping Ivan. Dengan mudahnya Veronika menarik Ivan, dan menengelamkan wajah Ivan pada tubuhnya. Ivan berontak, dia menegakkan wajahnya memandangi wanita seksi yang duduk di sampingnya.
Ivan tersenyum saat melihat gadis seksi itu, dalam penglihatannya itu Diana, Ivan pun mengulangi lagi kegiatan yang menjadi candu baginya. Begitu beringas dia menelusuri lekuk leher Veronica yang dia pikir Diana.
Ceklak!
Ivan marah kegiatannya terganggu. “Bukankah sudah ku bilang aku tidak mau diganggu!”
Saat dia berusaha membuka matanya dengan sempurna, ternyata itu Diana.
Diana di sana? Lalu yang di sini?
Saat Ivan menoleh ke samping ....
Ivan memukul bagian sisi kepalanya, hal itu berhasil membuat sedikit kesadarannya kembali, saat dia menoleh kearah wanita yang tadi dia ciumi, Ivan terkejut. Karena itu Veronica, bukan Diana. “Kau?!” Ivan ingin marah, tapi melihat Diana langsung pergi dari ruanganya, Ivan mementingkan mengejar Diana.
“Ivan ….” Veronica berusaha menahan Ivan, tapi dirinya terjatuh keatas sofa karena Ivan mendorongnya. Melihat Ivan berusaha mengejar Diana, Veronica semakin kesal.
__ADS_1
Di halaman clubhouse, Nizam terkejut melihat Diana keluar dari pintu utama dengan raut kemarahan, Nizam berlari menyusul Diana.
“Diana, apa Ivan melakukan sesuatu padamu?”
Diana hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kamu semarah ini?”
Diana mengambil handphonenya.
*Ivan berduaan dengan Veronica di dalam room.
“Apa?!” Nizam sangat marah membaca jawaban Diana. “Dengar kataku tadi Diana. Kita tidak tahu apa tujuan Ivan, harusnya saat ini dia jaga jarak dengan Veronica, dia malah bersama Veronica.”
Diana tidak bisa mengontrol kemarahannya, seketika rasa marah, sakit, kecewa, bercampur jadi satu saat kedua matanya melihat Ivan bermesraan dengan Veronica. Bahkan air matanya sempat terlepas, kala sedikit dari bagian hatinya terasa sangat sakit.
“Tolong Diana, jauhi Ivan. Kita selidiki dulu Danu Kesuma,” ucap Nizam halus.
“Diana!”
Diana dan Nizam langsung menoleh kearah suara itu berasal.
Brukkk!
Ivan jatuh, karena kehilangan keseimbangannya, Ivan berusaha bangkit lagi dan berusaha mencari Diana. setiap orang yang berpapasan dengannya Ivan selalu menahan mereka, memastikan itu Diana atau bukan.
Melihat Ivan yang selalu salah orang, mengira pelayan yang lalu Lalang di sekitarnya adalah Diana. Diana terdiam, dia terbayang kejadian saat Mona dan kedua temannya memaksa dirinya minum. Tapi, malah Ivan yang meminum minuman yang Mona racik.
“Mari kita pulang, Di.” Ajak Nizam.
Diana mengetik ….
*Maaf, aku tidak bisa meninggalkan Ivan dengan keadaan seperti ini.
Diana langsung menyusul Ivan. Melihat Diana mendekati Ivan, Nizam sangat marah. Dia segera pergi dari sana. Sedang Diana berusaha membantu memapah Ivan menuju mobilnya. Saat sampai di mobil, ternyata tidak ada supir di sana. Saat Diana meraba saku jas Ivan, dia menemukan kunci mobil.
Ya Tuhan … bagaimana Ivan menyetir kalau dia mabuk begini. Sedang aku walau bisa menyetir, tapi aku tidak punya sim.
Diana berusaha membantu Ivan masuk kedalam mobil, setelah Ivan duduk di kursi mobil, Diana memasangkan seatbelt pada Ivan, dia segera menuju kemudi, perlahan Diana menhidupkan mesin mobil, mobil itu pun meninggalkan area clubhouse.
Diana sangat fokus dengan keadaan jalanan di depan, tiba-tiba Ivan terus bergerak, membuat fokus Diana terbagi, antara memperhatikan Ivan, juga memperhatikan jalanan.
Ivan mengusap lembut kaca mobil di sampingnya. "Diana ...." gumamnya.
Diana menggelengkan kepalanya, melihat Ivan yang membayangkan kaca mobil itu adalah dirinya
Ivan bersandar di kaca mobil yang ada di sampingnya, seakan dia bersandar pada tubuh Diana. "Kenapa kamu pergi dengannya?"
Ucapan Ivan menyita perhatian Diana. Dia menoleh kearah laki-laki itu.
“Diana … aku tidak mengundang Veronica, aku tidak tahu kenapa Veronica ada di ruangan itu, kenapa aku menciumnya? Karena sebelumnya aku melihat dia itu dirimu. Sebab itu aku—”
Saat Diana kembali melihat jalanan, ada petugas jalanan yang menyebrang.
Shutttttttt!
Diana mengerem mobilnya, dan berusaha mengendalikan mobilnya yang oleng karena pengereman mendadak. Guncangan di dalam mobil Membuat Ivan seketika lupa dengan apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
“Wah, kamu hebat sekali, ngeng … shutssss!” Ivan masih meracau.