Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 118 Tidak Mengantuk


__ADS_3

Ivan kembali dengan membawa box yang berisi makanan, untuk makan malam mereka. Waktu terus berlalu, padahal hanya beberapa hari tidak melihat Diana. Entah mengapa rasanya sangat lama. Sambil menikmati makan malam, sedikit pun Ivan tidak melepaskan padangan matanya dari Diana. Wajah itu yang selalu ingin dia lihat, kala mata tertutup mau pun terbuka.


“Kau butuh sesuatu?” tanya Diana.


Ivan menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu aku ke kamarku duluan.”


Ivan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Diana.


“Sangat nyaman bukan hanya menggeleng dan mengangguk?” ledek Diana.


Ivan hanya tersenyum, entah mengapa membisu seperti ini sangat nyaman. Diana hanya melempar senyuman kecilnya, perlahan wanita itu menghilang dari pandangan mata Ivan. Ivan juga kembali ke kamarnya, dia segera mengganti bajunya dengan piyama tidurnya.


Ting! Tong!


Samar Ivan mendengar suara bel pintu, dirinya begitu malas keluar dari kamar, tapi Ivan tetap melangkah keluar karena bel itu terus berulang kali terdengar.


Ceklak!


Pintu terbuka, Ivan terkejut melihat sosok yang ada di depan pintu. “Mama?”


Rani menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. “Kenapa kamu sangat terkejut melihat ibumu?”


“Ya pasti aku terkejut mama, bukannya mama dan papa di Dubai menemani Angga?”


“Aku tidak tenang, sebab itu aku kembali. Angga biar bersama papamu saja. Keadaannya juga semakin membaik, hanya menunggu proses pemulihan saja.”


“Owh.”


“Hanya Owh?” Rani menatap Ivan penuh selidik. “Kamu tidak mengajak mamamu untuk masuk kedalam? Kamu membiarkan mama mu ini berdiri di depan pintu saja?”


Ivan tidak mau membuat keadaan yang tenang ini memburuk, dia sangat tahu kalau ibunya membenci Diana. “Mama, sebaiknya mama pulang. Lihat ini sudah jam berapa? Anak mama ini besok pagi harus bekerja, sedang Diana mungkin besok kuliah.”


“Apa kamu menyembunyikan sesuatu di dalam Apartemenmu?”


“Mama jangan berpikiran yang bukan-bukan, di dalam sana hanya ada Diana.”


“Terus, kenapa kamu malah mengusir mamamu?”


“Mama, tolong mengerti, ini sudah malam. Kenapa juga mama datang malam-malam begini, kalau mama perlu aku, seharusnya mama panggil aku, aku akan datang ke rumah kakek.”


“Kalau mama mu ini ingin menginap di Apartemenmu bagaimana?”

__ADS_1


“Mama, jangan bercanda. Di Apartemenku hanya ada dua kamar, satu kamarku, dan satu kamar Diana. Mama mau tidur sekamar denganku apa dengan Diana?”


“Kalian tidak—”


"Mama sangat ngebet pengen punya cucu ya? Sabar ma, aku dan Diana belum resmi menikah."


Rani semakin marah mendengar jawaban Ivan. Harapannya hubungan Ivan dan Diana berakhir sebelum sampai kepernikahan.


"Kalian tinggal satu atap sudah lama, yakin kamu dan Diana tidak melakukan apapun?"


"Mama menginginkan hal itu terjadi ya?" goda Ivan.


"Ivan!"


“Mama pikir anak mama ini laki-laki seperti itu? Andai bukan karena permintaan kakek, aku tidak mau tinggal satu atap dengan Diana tanpa ikatan pernikahan, aku lebih bahagia memberikannya rumah atau Apartemen baru, aku tidak rela dengan argumen buruk masyarakat terhadap Diana, wanita yang tinggal satu atap dengan laki-laki, tapi tidak menikah. Aku sebagai laki-laki tidak rugi apapun, tapi Diana yang rugi, terlebih aku laki-laki normal, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan diriku.”


Rani merasa lega dengan jawaban Ivan, walau dirinya masih kesal. "Ya sudah, kalau begitu mama langsung pulang saja."


"Mau ku antar?"


"Tidak perlu, aku datang ke sini bersama supir pribadiku."


"Aku antar sampai bawah."


"Ya sudah, aku hanya ingin memastikan mamaku baik-baik saja sampai mobil."


"Bilang saja kamu ingin memastikan mama mu ini pulang beneran atau pura-pura pulang."


"Ya ampun mama, pikiran mama jelek sekali."


"Mama pulang." Rani segera berjalan menuju lift dan pergi meninggalkan Apartemen Ivan.


Ivan sangat lega melihat ibunya mau pergi dari Apartemennya, dia segera mengunci pintu.


Deppp!


Kaki Ivan tersandung sesuatu, hampir saja Ivan terjatuh karena benda itu. Ivan menautkan kedua alisnya, dia sangat heran melihat koper ada di dekat pintu, saat dia membukakan pintu untuk ibunya, koper itu belum ada. "Koper siapa ini?" Ivan berusaha mencermati keadaan koper itu.


Saat yang sama, Diana juga keluar dari kamarnya membawa tas jinjing yang berukuran sedang.


“Diana, apa ini?” Ivan menunjuk pada sebuah koper yang hampir membuatnya jatuh.


“Koper.”

__ADS_1


Ivan membuang napasnya begitu kasar. “Aku tahu ini koper, tapi untuk apa?”


“Owh, aku ingin kembali ke Asrama.”


“Kamu mendengar pembicaraanku dengan mamaku?”


“Kapan kamu berbicara dengan mamamu?”


“Tadi.” Ivan menatap Diana begitu dalam. “Kamu mendengar pembicaraan kami?”


Diana menggelengkan kepalanya, dia menaruh tas jinjing diatas sebuah koper besar.


"Terus, mengapa kamu ingin ke Asrama?"


"Karena aku hanya ingin ke sana."


“Kenapa kamu datang dan pergi sesukamu Diana? Kau pikir Apartemenku ini hotel? Bisa kau datangi dan kau tinggalkan begitu saja.”


Diana bingung harus menjawab apa, dia hanya tidak mau ada kesalah fahaman antara dia dan Ivan, beruntung saat banyak paket datang Ivan tidak berada di rumah, dengan leluasa Diana mudah mengembalikan paket-peket itu pada pengirimnya.


“Aku tidak melarangmu jika kamu ingin menginap di Asrama. Tapi di sini ada seseorang yang tersiksa jika kamu tinggalkan tanpa sebab.” Ivan berdiri tepat di depan Diana. "Aku tidak kuat jika berpisah jauh denganmu Diana, cukup kepergianmu ke Dubai yang membuatku tersiksa begitu lama."


Ivan memojokkan Diana ke tembok Apartemennya. Perlahan jemarinya membelai sisi kepala Diana. “Jika ada ujian atau kelas yang terlalu sore, silakan menginap di sana. Tapi jika mata kuliahmu normal, tetaplah di sini, temani aku.”


Diana menganggukkan kepalanya, dia menyetujui permintaan Ivan. Ivan tersenyum. Dia mengambil tas jinjing Diana, berniat membawa tas itu kembali ke kamar Diana. Ivan sangat heran, karena bobot tas berbahan kanvas tebal itu sangat berat. Ivan meletakkan tas itu diatas koper, dan membuka resleting tas jinjing Diana. Mata Ivan membulat sempurna saat melihat tas itu berisi penuh dengan uang.


“Kenapa kamu membawa uang sebanyak ini?”


“Itu nenekku yang menyiapkannya untukku, tahu sendiri desa tempat nenekku tinggal sangat terpencil, sangat sulit untuk menarik uang atau mentrasfer uang jika aku butuh, karena itu nenek memberikan semua ini untukku, jika aku butuh, aku tidak kerepotan.”


“Kalau kamu perlu sesuatu, ada aku Diana.”


“Aku bertunangan denganmu, bukan dengan uangmu.” Diana mengambil satu ikat uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada Ivan. “Untukmu.”


“Aku tahu kamu tidak menginginkan apapun dariku, tapi karena kamu bersamaku, maka semua keperluanmu adalah tanggung jawabku.” Ivan mengembalikan uang itu pada Diana. “Oh iya, resep waktu itu, aku memberikan resep itu ke sebuah Lembaga penelitian, dan resep itu mendapat respon yang sangat bagus, dan mereka akan mengirimkan royalti untuk yang membuat resep itu.”


"Aku tidak tertarik." Diana segera berjalan kembali menuju kamarnya membawa tas yang penuh dengan uang. Ivan mengikuti Diana ke kamarnya. Di sana Diana menyimpan kembali satu tas yang berisi uang ke dalam lemari, sedang koper besar yang Ivan bawakan dia taruh di sisi kamar Diana. Diana mengembalikan bebebrapa barang yang terlanjur dia kemas, Ivan hanya diam melihat Diana yang terlihat begitu sibuk.


“Hey, sudah malam, lebih baik istirahat dulu.”


“Aku tidak mengantuk.”


Ivan kesal, dia langsung mendekati Diana dan memojokkannya ke sisi lemari.

__ADS_1


__ADS_2