
Wena mematung melihat belasan orang memakai setelan jas lengkap berbaris di depan pintu rumahnya, di tengah-tengah laki-laki berpakaian rapi itu ada pengacara Nizam.
Nizam mendekati Wena. “Selamat malam, Nyonya Harisons,” sapa Nizam.
Melihat Nizam seorang diri saja Wena ketakutan, apalagi saat ini Nizam malah membawa puluhan laki-laki bertubuh tegap dengan setelan jas lengkap. “Ada keperluan apa seorang pengcara Nizam yang terhormat mendatangi kediaman kami dengan rombongan seperti ini?” Wena berusaha terlihat arogan, walau dalam dirinya dia sangat takut.
“Kami datang untuk menyita semua aset keluarga Harisons yang ada di rumah ini,” terang Nizam.
“Apa!?” kedua bola mata Wena membulat sempurna.
“Ini surat izin kami untuk membawa semua aset yang ada di rumah ini, bahkan termasuk rumah ini.” Nizam tersenyum smirk.
“Ada apa ma?” tanya Fazran, saat dia menatap kedepan ternyata ada pengacara Nizam dan belasan orang lainnya.
“Kami datang untuk menyita semua aset Anda Tuan Fazran yang terhormat, dan ini adalah surat izin kami.” Nizam memberikan lembaran kertas itu pada Fazran.
Keringat seketika membasahi pelipis Fazran, kala kedua matanya membaca tulisan pada lembaran-lembaran kertas itu. Sedang orang-orang berjas lengkap langsung masuk kedalam rumah Wena, mereka mulai mengambil barang-barang berharga yang ada di ruang tamu, barang-barang itu mulai mereka bungkus dengan pengaman dan dimasukan ke dalam peti. Sedang di depan rumah beberapa mobil deret mulai menderet mobil-mobil mewah milik Fazran.
Kemarahan Wena semakin berkobar, melihat guci kesayangannya, set crystal langka kesayangannya, juga mobil-mobil miliknya diambil. “Anda jangan macam-macam dengan kami Nizam! Apa hak mu ingin menyita aset kami!? Kalau ingin menggertak kami gunakan otak Anda!” maki Wena.
“Mama! Jangan kurang ajar pada Tuan Nizam!” Fazran sangat kesal karena Wena berani memaki Nizam. Fazran menoleh lagi pada Nizam. “Tolong jangan ambil barang-barang kami, kita bicarakan dulu.”
“Semua keterangan ada pada surat itu,” ucap Nizam.
“Ini peringatan dan hukuman untuk keluarga kalian, karena kalian berusaha mencari masalah lagi. Kami belum menghukum Quenzee karena ingin memberi kalian kesempatan. Tapi kalian malah membuat masalah baru, berusaha menjebak Diana dengan masalah yang tidak dia lakukan, kalian semua sengaja menutupi kasus sebenarnya, kalian sudah tahu kalau penyebab Nazta meninggal adalah karena alergi obat, tapi kalian malah membayar orang untuk menjebak Diana dengan mengatakan kebohongan kalian, dan membuat laporan palsu kalau Nazta meninggal karena luka kecelakaan.” Sambungnya.
Fazran menunduk, menyesal juga tidak merubah keadaan. Harusnya sejak kasus Quenzee dia setidaknya merasa beruntung karena sampai saat ini Quenzee masih bebas, tapi kedua adik dari istrinya malah mengulangi kesalahan yang sama. Fazran berlutut di hadapan Nizam. “Tolong … maafkan kami.”
“Terlambat!” Nizam memberi isyarat agar petugas penyitaan yang datang bersamanya segera memasukkan semua harta berharga milik keluarga Harisons. Mobil mewah, perabotan mewah, semua itu diangkut oleh semua petugas penyitaan.
Wena berusaha menghalangi petugas penyitaan yang mulai membawa barang-barang miliknya menuju mobil. “Kalian tidak bisa semena-mena begini! Penyitaan pun ada proses!”
__ADS_1
“Proses?” Nizam menertawakan Wena. “Kami tidak mengenal proses. Kami akan membantu siapa saja yang kami mau dalam sekejap, juga menghancurkan siapa saja yang kami mau dalam sekejap pula. Kalian semua mencari gara-gara dengan orang yang salah.”
Wenna berteriak histeris melihat keadaan rumahnya, ternyata petugas penyitaan juga mengambil semua tas dan sepatu branded miliknya.
“Sudah semua?” tanya Nizam.
“Sudah Tuan.”
Nizam menoleh kearah Fazran. “Kami memberi tempo 1 minggu, jika dalam satu minggu kalian tidak angkat kaki dari rumah ini, jangan salahkan petugas penyitaan barang kalau mereka menendang kalian dari sini.”
Setelah semua pekerjaan selesai, Nizam dan petugas penyitaan pergi begitu saja meninggalkan kediaman Fazran.
Fazran mematung memandangi rumahnya yang kosong. Wena terkulai di lantai, dan menumpahkan air matanya. Dendamnya tidak terbalas, kini keluarganya seketika menjadi orang miskin.
“Argggggg!” jerit Wena. Sekeras apapun dia menangis tidak akan mengembalikan keadaan kembali seperti semula.
Aidil dan neneknya bingung harus berbuat apa, dia hanya mematung sambil memeluk sang nenek.
Di kediaman keluarga Agung.
Rani menunggu kedatangan Wilda dan Qiara, ingin meminta pertanggung jawaban kedua ibu dan anak itu, tapi sampai selarut ini Wilda dan Qiara belum kembali. Rani mondar-mandir di dalam rumah, berusaha merangkai kata untuk menjawab semua pertanyaan mertuanya nanti. Pastinya kakek Agung akan memarahinya habis-habisan karena berani memutuskan pertunangan Diana dan Ivan.
Kring! Kring!
Dugggg!
Jantung Rani berdetak tidak normal, saat melihat panggilan video dari kakek Agung. Sekujur tubuh Rani gemetaran. Hingga suara panggilan itu tak terdengar lagi, Rani masih belum mampu menerima panggilan dari mertuanya.
Rani sangat ketakutan melihat panggilan video yang kedua masuk lagi. Dia sudah tahu apa yang akan dia dapatkan dari Ayah mertuanya, Sofian, dan juga Ivan. Rani menarik napasnya begitu dalam, mempersiapkan dirinya untuk menerima semburan kemarahan kakek Agung. Setelah Rani menggeser icon bewarna hijau, sangat jelas dia melihat wajah mertuanya yang terlihat sangat marah.
“Ayah ….”
__ADS_1
“Kamu keterlaluan Rani! Kamu telah melempati batas! Kau memutuskan pertunangan Ivan dan Diana tanpa persetujuanku!”
“Ayah ….”
“Saat Diana dalam masalah, sebagai keluarga barunya seharusnya kamu membantunya, bukan meninggalkannya dengan mengumumkan pemutusan pertunangan antara Ivan dan Diana!”
“Aku tidak melakukannya Ayah.”
“Bagaimana kamu mengelak Rani! Berita online sangat jelas menyebut namamu!” maki Sofian.
“Aku tidak melakukan hal itu, kemaren aku meminta Wilda dan Qiara yang mengurus urusan Diana. Tapi dia mengaku sebagai aku, dan memutuskan pertuangan Diana dan Ivan.” Rani membela diri.
“Kenapa kamu tidak klarifikasi?” cerca kakek Agung.
“Ku pikir-pikir, dengan publik tahu Diana bukan bagian keluarga Agung Jaya, hal ini sangat baik, sebab itu aku diam.”
“Pemikiran kamu sangat salah Rani!” bentak Sofian.
“Setelah operasi Angga selesai, aku akan mengumumkan kalau pertunangan Diana dan Ivan tidak berakhir!”
Ivan hanya diam menyimak obrolan kakeknya dan kedua orang tuanya. Dirinya berharap Diana menganggap pertuangan mereka masih terikat.
**
Di Clubhouse mewah.
Malvin dan Thaby sangat bahagia, mereka memenangkan perang online mereka dengan para pemuja Qiara. Bahkan para fans fanatik Qiara tidak mampu lagi membela junjungan mereka. Diana menatap tajam pada seorang pelayan laki-laki yang masuk ke ruangan mereka. Pelayan itu menata makanan pesanan para pelanggan diatas meja. Perlahan Diana mendekatinya.
Pelayan itu memasang senyuman ramah di wajahnya. “Apa Nona butuh sesuatu?” tanya-nya.
Diana tidak membalas senyuman ramah pelayan itu, dia memasang wajah Dingin, dan menatap pelayan itu dengan tatapan yang penuh penekanan. “Siapa yang menyuruhmu mengambil foto-foto kami saat kami makan siang di sini?” cerca Diana.
__ADS_1