Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 72


__ADS_3

Ivan membuka laptopnya, dia mencari tahu tentang tato burung kecil yang di-ukir pada seorang anak kecil. Ivan menarik napasnya begitu dalam saat membaca tentang tato burung kecil itu. Pikiran Ivan melayang entah kemana, sejak kecil Diana sudah memikul penderitaan yang begitu berat.


“Apa karena ini dia menjadi dingin seperti ini? Apa dukanya itu yang membuat Diana kehilangan kemampuannya untuk berbicara?”


Ivan menautkan kedua telapak tangannya, dan menumpukan dagunya di sana. “Diana bukan gadis biasa, banyak hal yang tersembunyi darinya, dia gadis yang sangat cerdas, aku yakin itu.” Ivan terbayang bermacam peristiwa yang menyeret Diana, sejak Wanita itu hadir dilingkup kehidupannya. Orang-orang di sekitar Diana juga bukan orang biasa. Bermacam kelebihan Diana juga terbayang di benaknya, menulis resep, bahkan melakukan Tindakan extrim, namun Tindakan itu menyelamatkan nyawa Qiara.


“Siapa sesungguhnya dirimu, Diana? Mengapa sangat sulit mencari tahu tentang dirimu?”


Rasanya tengkuk Ivan menahan beban ribuan kilo karena membayangkan Diana. Ivan beranjak dari posisinya, dia langsung menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, tapi selama melakukan kegiatan tidak sedetik pun pikirannya melupakan Diana, sepanjang kegiatannya Diana selalu menari-nari dalam benaknya.


Ivan mengusap kasar wajahnya, berharap sosok Diana pergi dari pikirannya, namun saat matanya terpejam, bayangan Diana semakin jelas. “Ya Tuhan ….” Ivan sangat frustasi dengan pemikirannya sendiri yang tidak bisa berhenti membayangkan Diana.


Aku tau diri, Thaby! Sebab itu aku membatalkan niatku untuk melamar Diana untukmu, karena kamu tidak pantas mempersunting Diana


Ivan terbayang ucapan Rektor Universitas Bina Jaya, yang mengatakan anaknya tidak pantas untuk Diana.


 


Tangan Diana tidak pantas dipegang pemuda sepertimu!


 


Ivan semakin stress, atas dasar apa nenek Zelin memilih dirinya untuk menjadi suami cucunya. Ivan menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Seketika bayangannya saat bersama Diana di kamar Asrama kembali muncul, ada rasa yang sangat indah tidak bisa dia ibaratkan dengan apapun, saat dirinya bisa menyentuh Diana. Ivan memandangi langit-langit kamarnya, dirinya masih hanyut dalam lamunanannya yang sangat indah kala bersama Diana.


**


Di kamar Diana.


Setelah mengganti pakaiannya, Diana duduk di kursi kecil yang ada di meja riasnya, Diana memandangi pantulan dirinya yang ada di cermin. Tidak ada perubahan sedikitpun pada wajahnya atau tubuhnya. Tapi sejak Ivan mendekapnya ada perasaan aneh yang tumbuh dalam dirinya.


“Apa yang terjadi padaku?”


“Owh Diana, sadar! Lupakan tentang Ivan, fokus pada misimu untuk mencari tahu kasus pembunuhan ibumu, juga gali lebih dalam tentang orang yang ingin membunuhmu.”


Diana berusaha keras melupakan Ivan, hingga dia hanyut kealam mimpinya. Begitu juga Ivan, kedua matanya pun terpejam rapat.


***


Diana keluar dari kamarnya, saat dia menoleh kearah meja makan, ternyata di sana sudah ada Ivan sambil memindahkan sarapan mereka kedalam mangkok.


“Ayo sarapan dulu, setelah sarapan kita harus ke Rumah Sakit.”


Diana diam di tempatnya, tatapan matanya yang tertuju pada Ivan begitu penuh pertanyaan.


“Aku sudah mengatur janji dengan dokter hebat itu, untuk membuka jahitan pada lukamu yang sangat parah itu. Ku lihat lukanya sudah sembuh, saatnya melepas jahitannya.”


Diana segera mendekat kearah Ivan, dia menarik salah satu kursi dan segera menarik sarapan untuknya. Keduanya mulai menikmati sarapan bersama, setelah selesai sarapan, Ivan meminta supirnya mengantar mereka ke Rumah Sakit .


Sesampai di Rumah Sakit, Ivan dan Diana langsung bertemu di ruangan yang diarahkan oleh seorang perawat. Saat Ivan dan Diana sampai di ruangan itu, ternyata Nizam sudah menunggu mereka.


“Diana, kamu ku tinggal dulu. Aku harus menghadiri rapat para pimpinan Rumah Sakit, sebentar.” Sedikit pun Ivan tidak menoleh kearah Nizam.

__ADS_1


Diana hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ivan langsung pergi dari sana. Pandangan mata Nizam terus memandang kearah Ivan.


“Kenapa dia sangat dingin dan tidak peduli padaku, Diana?” Nizam mengisyarat pada Ivan.


“Mana aku tahu.” Diana langsung menarik salah satu kursi dan duduk di sana.


Nizam meraih kursi yang lain dan duduk berseberangan dengan Diana. “Aku bukan gila homat Diana, apalagi kehormatan yang tertuju padaku bukan untukku, penghormatan mereka itu untuk sang dokter jenius.” Nizam mengisyarat pada Diana. “Tapi, sikap orang-orang sangat baik padaku karena mereka mengira akulah dokter hebat itu. Tapi, Ivan? Dia tetap tidak peduli padaku.”


Mood Diana semakin memburuk karena Nizam terus menyebut nama Ivan, nama yang mulai ikut berdetak dalam setiap detakkan jantungnya, namun nama itu sangat ingin dia lupakan. Nizam melihat jelas bagaimana keadaan Diana saat ini, dia bisa menangkap perasaan Diana yang begitu buruk saat ini.


“Apa yang terjadi?” Nizam berusaha membantu Diana, walau dia tahu ujungnya adalah penolakan.


“Apanya?”


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu terlihat begitu buruk? Aku yakin ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, Diana yang ku kenal seorang gadis yang ceria walau dia sangat pendiam.”


“Tidak ada apa-apa. Cepat lakukan tugasmu.” Diana memberikan tangannya pada Nizam.


Nizam langsung melakukan tugasnya, dia melepas jahitan yang ada pada telapak tangan Diana.


Akhirnya tugas Nizam selesai. Diana memandangi keadaan tangannya yang ditangani oleh Nizam. “Ternyata jiwa doktermu masih sangat kuat.”


“Ya …, profesi yang aku jalani dengan penuh rasa cinta, tapi harus aku lepas demi mimpi kedua orang tuaku.


“Tentang operasi kak Angga, aku ingin melakukannya di luar negri, di Rumah Sakit milik professor Hadju,” ungkap Diana.


“Ide yang bagus, apalagi setelah kejadian kemaren, Rumah Sakit Healty and Spirit, terlanjur kecolongan.” Nizam mengingat kekacauan saat operasi nenek Zunea.


“Kamu benar Diana, tidak menutup kemungkinan dia akan mengacaukan operasimu lagi jika kamu melakukannya di sini. Selain peralatan medis yang sangat canggih di Rumah Sakit professor Hadju, di sana juga jauh dari jangkauan Veronica.”


“Entah kenapa sampai detik ini, pihak Universitas Bina Jaya tidak berani mengeluarkan seorang Veronica, padahal kejahatannya sangat luar biasa."


“Ini juga yang sering aku tanyakan pada Pak Abimayu,” sela Nizam.


“Semakin mereka mengeluarkan kekuatan, maka kita bisa melihat langsung sebesar apa kekuatan seorang Danu Kesuma.”


“Aku juga memantau hal ini, Diana. Semakin sulit aku menyeret Veronica, semakin semangat aku menyelediki siapa saja yang terlibat. Bahkan yang baru ini aku mengirim surat peringatan pada Danu, dan aku penasaran apa Tindakan Danu untuk menyelamatkan putrinya.”


“Demi keberhasilan operasi kak Angga, sebaiknya kamu katakan pada keluarga kakek Agung, kalau operasi akan dilakukan di luar negri.”


“Kapan kamu akan mengatur jadwal operasi di luar negri?”


“Belum tahu, aku akan menelepon Profesor dan menanyakan jadwal kosong dia.”


“Kalau sudah pasti tanggal, kabari aku. Agar aku secepatnya membicarakan hal ini pada keluarga Kakek Agung.”


Diana dan Nizam terus berdiskusi tentang rencana Diana. Diana menoleh jam tangannya, merasa cukup lama dia di sini, dia izin pergi pada Nizam. Diana segera berjalan menuju pintu utama Rumah Sakit, dia mengirim pesan pada Ivan.


*Aku sudah selesai, bolehkah aku pergi duluan? Aku ingin segera pergi ke kampus.


Diana membuang kasar napasnya, karena Ivan tidak membalas pesannya.

__ADS_1


Diana tidak menyadari keberadaan Ivan yang berada tepat di belakangnya, sejak Ivan keluar dari pintu utama, tatapan tidak Sukanya tertuju pada gadis yang ada di depannya, saat berangkat bersamanya, Diana mengenakan cardigan Panjang yang menutupi seluruh lekuk tubuhnya, namun yang ada di depan matanya kini, Diana hanya mengenakan celana Panjang dan baju atasan yang memperlihatkan betapa indahnya bentuk tubuh gadis itu, bentuk tubuh yang sangat diimpikan setiap orang. Wanita yang melintas di dekat Diana saja mengagumi bentuk tubuh itu, apalagi laki-laki sepertinya. Rasanya Ivan ingin mencongkel mata-mata yang memandangi Diana dengan penuh kekaguman. Perlahan Ivan melepaskan jas-nya dan berjalan mendekati Diana.


“Mana Cardiganmu?”


Tanpa menunggu jawaban Diana, Ivan langsung menutup keindahan itu dengan jasnya. "Baju atasanmu ini untuk usia anak berapa tahun? Kenapa tidak menutup sampai kancing celanamu?" Ivan kesal, karena tadi dia bisa melihat celah mulus antara batas celana dan ujung bawahan yang Diana kenakan.


Diana menatap Ivan dengan tatapan kekesalan.


Sejak kapan dia mengurusi apa yang aku pakai?!


“Ayo masuk kedalam mobil, kamu ingin ke kampus bukan?”


Diana segera masuk kedalam mobil, saat dia sudah duduk di kursi, dia melemparkan jas yang menutup tubuhnya kearah Ivan. Dia meraih handphonenya dan menulis cepat di sana.


*Kenapa harus menutupi tubuhku, walau tanpa cardigan Panjang, pakaian yang aku pakai tidak terlalu terbuka.


Ivan membaca tulisan Diana, namun tidak menanggapinya. “Sudah kamu minum obatmu?” Ivan langsung membuka botol minuman dan memberikannya pada Diana, dia sangat yakin Diana belum meminum obatnya.


Diana menerima botol minuman yang Ivan sodorkan padanya, dia segera mengambil obatnya dari dalam tas, dan langsung meminum obatnya.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar kaca jendela mobil diketuk. Saat Ivan menoleh ternyata itu Nizam. Ivan segera menurunkan kaca jendela mobilnya. “Ada apa?”


“Ini cardigan Diana ketinggalan.”


Ivan segera menerimanya. “Terima kasih.” Tapi, Nizam masih berada di dekatnya. “Masih ada lagi?”


“Sudah saatnya untuk memberi Tindakan tegas untuk sepupumu Qiara dan Veronica.”


“Lakukan apa saja yang kamu mau, aku tidak akan membela mereka atau melindungi mereka sedikit pun,” jawab Ivan.


“Baguslah, karena aku tidak akan berhenti sebelum mereka membayar lunas perbuatan mereka pada Diana. Aku tidak akan melepaskan mereka.”


“Ada lagi? Karena aku harus mengantar Diana ke kampusnya.”


Nizam menggeleng, dia mundur beberapa langkah. Sesaat kemudian mobil Ivan melaju meninggalkan area Rumah Sakit.


***


Di bagian lain Rumah Sakit Healthy And Spirit.


Kondisi Qiara semakin membaik, bahkan dia diperbolehkan dokter untuk pulang, tapi Wilda dan Qiara memilih untuk tetap berada di Rumah Sakit ini. Karena kalau Qiara keluar dari Rumah Sakit, dia dituntut Ivan untuk meminta maaf pada Diana. Qiara diam mendengari semua cerita ibunya tentang permintaan Ivan, juga tentang kasus Veronica.


“Bagaimana Qiara?” Wilda menanyakan keputusan apa yang Qiara ambil.


“Aku tidak tahu mama, apa harus membenci Veronica lalu meminta maaf pada Diana.”


“Secepatnya kamu harus mengambil keputusan, lama-lama semua orang akan menyadari kalau kamu sudah sembuh, sebelum mereka tahu, kamu sudah menentukan keputusan yang kamu mau.”


“Aku akan menolong Veronica ma, dan membuat gadis bisu itu menyesal karena berani menamparku!”

__ADS_1


“Aku akan mengajak Veronica untuk membalas dendam pada gadis bisu itu. Bukan hanya  sekadar balas dendam, tapi aku juga akan melempar dia sejauh mungkin dari keluarga kita.”


__ADS_2