
Wilda tersenyum melihat siapa yang datang, sejak dulu pemuda ini selalu membela dan melindunginya. “Angga …, ini Ivan keterlaluan! Dia meminta tante dan Qiara untuk menemui Diana dan meminta maaf padanya.”
“Itu harus tante.”
Dugggg!
Wilda sangat terkejut, dia pikir Angga akan memihaknya.
“Qiara selamat karena Tindakan cerdas Diana, Qiara juga sangat keterlaluan memojokkan Diana. Perbuatan Qiara bukan hanya merugikan Diana, tapi juga mencemari nama baik keluarga Agung Jaya, juga Universitas kebanggan kakek,” ucap Angga dengan nada yang begitu halus.
“Aku tunggu kedatangan tante dan Qiara untuk minta maaf pada Diana,” sela Ivan.
Angga meraih tangan Wilda, dan menepuknya lembut. “Semoga setelah kejadian ini, Qiara bisa lebih berpikir dewasa juga bisa introspeksi diri dan pandai menghargai orang lain. Jangan memandang orang-orang yang bekerja padanya dengan merendahkan mereka. Kejadian kemaren sangat memalukan keluarga besar kita, tante.” ucap Angga.
Wilda melepaskan tangannya dari genggaman Angga, dia memandangi kedua keponakannya bergantian, tanpa bicara sepatah kata pun dia masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang Wilda tumpangi pun langsung meninggalkan kediaman keluarga Agung.
Ivan dan Angga sejenak saling pandang, keduanya sangat heran dengan bibi mereka.
"Ayo kita kembali kedalam," usul Angga.
Ivan mengangguk, dan melingkarkan pergelangan tangannya di pundak Angga. Mereka segera kembali ke ruang makan. Di sana terlihat kedua orang tua mereka, kakek Agung, Diana, juga pengacara Nizam. Terlihat kakek mengisikan piring Diana, gadis itu hanya tersenyum dan memberi isyarat ‘sudah’ pada kakek.
“Ayo nak, sini kita bergabung,” sambut Sofian, saat melihat kedua putranya datang.
Pandangan kakek Agung tertuju pada kaki Angga yang cacat, kemudian dia menoleh kearah pengacara Nizam. “Nak Nizam … bolehkah aku meminta satu hal padamu?”
“Apa kek?”
“Bisakah kamu mengoperasi kaki Angga?”
“Maaf kek, itu tidak perlu. Lagian aku sangat sibuk tidak punya waktu untuk rehat di Rumah Sakit untuk persiapan operasi, apalagi tahap penyembuhan, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku selama itu.”
__ADS_1
“Tuan Angga betul, operasi ini membutuhkan waktu, bahkan operasi ini sangat memakan waktu, sedang Tuan Angga sendiri waktunya habis untuk pekerjaan," sahut Nizam.
“Nak, pekerjaanmu bisa kamu jalankan dari Rumah Sakit, tanpa harus menggunakan kakimu. Kamu hanya perlu berkata dan tunjuk,” sela Rani.
"Ibumu benar, Angga. Kalau Nizam bersedia melakukan operasi untukmu, rehat lama dari bisnismu tidak masalah." Pandangan kakek Agung tertuju pada Nizam lagi. “Nak Nizam, kakek mohon ….” Pinta kakek Agung. “Aku akan bayar berapa pun asal kamu mau mengoperasi kaki Angga.”
Diana meraih handphonenya dan mengetik pesan.
*Terima tawaran operasinya, katakan pada mereka operasi akan dilakukan secepatnya, namun kita tetap meminta waktu untuk menentukan kapan waktunya untuk menjalankan operasi.
Tink!
Perhatian Nizam tertuju pada handphonenya, saat dia mengintip, itu pesan dari Diana, dia pun segera membuka pesan itu. Setelah membaca semua isi pesan Diana, Nizam memandang Diana dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
“Nak Nizam, tante yakin kamu bisa mengoperasi kaki anak tante,” rengek Rani.
Nizam membalas pesan Diana.
\=Iya.
Mendapat pesan balasan dari Diana, Nizam pun menegakkan wajahnya. “Baiklah, saya akan melakukan operasi pada Tuan Angga, berhubung Tuan Angga orang yang sangat sibuk, saya akan usahakan agar bisa melakukan operasi secepatnya, namun saya harus rapat dulu dengan tim, juga memeriksa keadaan kaki Tuan Angga, untuk menentukan kapan waktu yang tepat.”
Kakek Agung dan Rani terlihat sangat terkejut namun juga sangat bahagia.
“Kalau begitu, sekalian aku minta agar kamu mengoperasi Diana, aku yakin ada masalah pada tenggorokkannya, dan pastinya Diana bisa berbicara kalau ditangani dengan benar," sela Ivan.
Diana dan pengacara Nizam saling pandang mendengar permintaan Ivan.
“Ammm, untuk Tindakan operasi pada Diana, kita bicarakan nanti, setelah operasi pada Tuan Angga berhasil,” sahut Nizam.
Semua orang melanjutkan menikmati hidangan penutup mereka.
__ADS_1
Tlink!
Diana segera membuka pesan masuk yang ada di handphonenya.
*Diana, aku ingin berbicara denganmu.
Diana terlihat santai, dia menghapus pesan itu, dan mengetik kata pada handphonenya.
*Apakah aku boleh permisi?
“Tentu saja boleh Diana.” Sahut kakek Agung.
Diana pun undur diri dari semua orang. 5 menit berlalu, semua masih berada di meja makan sambil berbicara hal santai, sedang Nizam terus memandangi layar handphonenya.
Tink!
Sebuah pesan masuk ke handphone Nizam, dia mendapat pesan dari Diana, yang membagikan titik lokasi Diana saat ini. Nizam pun menegakkan wajahnya.
“Aku mohon izin sebentar, aku ingin menghubungi tim ku untuk recana operasi ini,” sela Nizam.
Semua orang pun memberi izin pada Nizam.
Nizam akhirnya bertemu dengan Diana di tempat sepi.
“Diana, apa alasanmu mau mengobati Angga? Apa ini semua karena Ivan? Kau mulai menyukainya? Owh maaf, mungkin lebih tepatnya apa kau sudah menyukainya?”
“Bukan karena Ivan, tapi karena uang. Kamu dengar apa kata kakek, kalau dia akan membayar berapa pun untuk operasi ini.”
Nizam membuang kasar napasnya, sulit untuk percaya kalau Diana melakukan semua ini demi uang. Pandangan Nizan tertuju pada tangan kiri Diana. “Sini ku lihat tanganmu.”
“Tanganku tidak apa-apa, sebentar lagi juga sembuh.”
__ADS_1
“Kamu tidak pernah berubah Diana, kamu tidak pernah memperhatikan luka yang menggoresmu. Lukamu itu memang harusnya sembuh sejak kemaren, tapi keadaan lukamu kembali terbuka karena sifatmu yang tidak memperdulikan dirimu sendiri.” Nizam tetap meraih tangan Diana. Saat melihat luka Diana sudah diobati dengan baik, dia pun merasa lega.