Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 108 Terharu


__ADS_3

Dillah terdiam mendengar penjelasan Ivan, kalau bukan anak buah Ivan yang menyelamatkannya dari dalam kubur. Ivan melempar tablet pada Dillah.


"Mereka semua utusan Diana!"


Setelah menonton semua tayangan video, Dillah semakin merasa sesak, wanita yang dia jebak, malah menyelematkannya.


"Aku masih marah padamu! Pergi dari sini!" usir Ivan.


"Tapi, saya tidak memiliki apa-apa lagi," rengek Dillah.


"Aku hanya mengambil nyawamu, walau gagal! Tapi aku tidak menarik asetmu!" maki Ivan.


"Semua aset saya diambil Nona Qiara," rengek Dillah.


"Jatuh cinta ternyata bikin orang jadi bodoh!" maki Ivan.


"Kapan detik Anda bodoh, Tuan?" tanya Narendra.


Melihat tatapan mata Ivan yang sangat tidak bersahabat, seketika Narendra bungkam.


Mengingat Diana yang memberi kesempatan pada Dillah, Ivan berusaha menekan egonya. "Untuk sementara, kamu tinggal di Paviliun belakang bersama para pelayan."


Dillah menangis, dia terharu melihat kebaikan Ivan. "Terima kasih, Tuan." Dia segera berlari menuju Paviliun belakang.


Kekaguman Narendra pada Ivan semakin bertambah, Ivan memaafkan Dillah hanya demi Diana. "Bagaimana kalau Nona memilih pergi dari Anda? Padahal Anda melakukan hal besar ini demi dia," tanya Narendra.


"Jika dia bahagia dengan hal itu, aku bisa apa?"


Narendra tersenyum, dia tahu kalau dari dalam hati Ivan, laki-laki itu tidak akan melepaskan Diana, dia akan berjuang memperthanakan Diana, melihat Ivan begitu tulus, menyerahkan keputusan hubungan mereka di tangan Diana, Narendra berusaha menahan air mata harunya.


"Terima kasih."


Ucapan seseorang dari arah belakang mengejutkan Ivan dan Narendra. Mereka menoleh kearah suara itu berasal, terlihat Archer berjalan mendekat kearah mereka. Mereka kembali duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Tuan Archer, boleh saya bertanya?" ucap Ivan.


"Silakan, aku akan jawab jika itu bukan suatu rahasia."


“Kenapa Anda hanya menjadikan Diana sebagai murid Anda satu-satunya?” tanya Ivan pada Archer.


Archer tersenyum mendengar pertanyaan Ivan. “Apa yang nenek Zelin lakukan hanya kebaikan, begitu juga dengan Diana. Nenek Zelin tidak pernah memberi tarif tinggi pada pelayanan Kesehatan yang beliau berikan, cenderung lebih banyak yang beliau gratiskan. Andai memberi tarif selangit pun pada orang-orang tertentu, biasanya beliau arahkan uang yang beliau dapat untuk kegiatan amal. Hal itu juga tidak menarik kecemburuan para tenaga medis yang sama. Nenek Zelin sudah memberi harga puluhan kali lipat, hingga ratusan kali lipat, tetap mereka mengemis pada nenek Zelin, agar beliau melakukan operasi pada mereka. Tapi ya hasilnya tetap beliau berikan untuk kegiatan amal, pengobatan gratis dan sebagainya."


Ivan menganggu-angguk mendengar penjelasan Archer.


"Apa yang nenek Zelin lakukan, ditiru oleh cucunya, aku mengajari Diana, andai suatu saat Diana hebat karena ilmu dariku, dia menggunakan ilmu yang dia miliki hanya untuk menolong orang, so secara tidak langsung aku juga berkontribusi untuk kebaikan yang Diana lakukan, Diana beramal dengan kecerdasannya, tenanganya, dan aku beramal dengan ilmu. Membangun sebuah kebaikan, jika kamu punya uang, bisa dengan uang, kalau tidak mampu bisa dengan tenaga, masih tidak mampu, dengan otak,” sambung Archer. Archer menatap Ivan dan Narendra bergantian. "Kebaikan itu selalu ada jalan. Jadi berbuat baik bisa dengan apa saja."


Ivan membayangkan sosok Diana. Sumpah demi apapun ingin rasanya dia berteriak.


Terima kasih Tuhan … karena memberiku permata paling indah.


“Tapi Diana berguru pada banyak orang hebat, jadi gurunya bukan hanya aku,” ucap Archer.

__ADS_1


"Diana mengalami banyak ujian hidup sejak dia masih kecil, mentalnya begitu kuat, ujian demi ujian selalu datang bertubi-tubi, tapi dia tidak menyerah, dia tetap berbuat baik, dia tidak pernah bosan untuk berbuat baik, walau kebanyakan orang-orang menyusahkannya. Bayangkan saja, bagi warga desa yang tidak tahu siapa Diana, mereka mengatakan Diana gadis bodoh dan gila." Archer tersenyum membayangkan makian tetangga yang belum mengenal siapa cucu nenek Zelin sesungguhnya.


Ivan tersenyum, dia terbayang saat pertama kali dia bertemu Diana, dirinya juga sama bodohnya dengan orang-orang yang sering memaki Diana. Ivan tidak tahu harus berkata apalagi.


“Jika Diana sudah kembali, bagaimana kalau kita makan malam bersama?” ajak Archer.


“Rencana yang sempurna, tapi alangkah baiknya Anda juga datang bersama istri Anda,” sahut Ivan.


“Emmm ….” Archer terlihat bingung.


“Kenapa? Ada masalah Tuan?”


“Tidak ada.”


“Hubungan Anda dan istri Anda baik-baik saja bukan? Ku dengar kalian pasangan yang sangat romantis, bahkan semua rekan bisnis mengatakan kalau keluarga kalian sangat harmonis,” puji Ivan.


"Iya, itulah adanya rumah tangga kami," sahut Archer.


"Terus, kenapa Anda terlihat ragu?"


“Istriku tidak tinggal di kota ini,” sahut Archer.


“Kalau begitu kita atur ulang rencana yang sangat indah ini.”


Archer tersenyum. “Tentu harus kita atur ulang, lihat Diana pulang tanggal berapa, nanti aku akan membicarakannya dengan istriku.”


“Deal!” seru Ivan.


Archer menatap jam tangannya. “Berbicara denganmu sangat menyenangkan, tapi aku terpaksa izin pamit, karena harus menyelesaikan beberapa urusan.”


Archer pergi setelah dia berpamitan pada Ivan dan Narendra. Narendra memeriksa keadaan sekitar, dia tidak ingin ada yang mendengar laporannya pada Ivan.


Ivan merasa curiga dengan Narendra. “Kenapa kamu?”


“Hanya memastikan keadaan aman, Tuan. Jujur saya masih tidak percaya Dillah”


"Dillah sudah ke Paviliun belakang, dia tidak akan ku beri akses berkeliaran di rumah ini, kecuali--" Ivan sengaja menahan ucapannya.


"Kecuali Nona Diana yang meminta, maka keputusan Tuan akan berubah."


“Memangnya ada apa?” Ivan berusaha merubah topik bahasan mereka.


Narendra segera memberikan dokumen yang sedari tadi dia peluk. “Saya harap Tuan masih punya stock sabar setelah membaca laporan ini. Kalau Tuan tidak sabar, Tuan Danu kesuma, Veronica, dan Nona Qiara mereka tidak bisa selamat.”


“Aku tidak peduli dengan keselamatan mereka!” Ivan membaca dokumen yang Narendra berikan, benar saja kemarahannya seketika berkobar setelah membaca semua catatan yang ada. “Aku akan memberi mereka hukuman!” Ivan mengambil vas bunga dan ingin menghancurkannya.


“Tuan jangan, beban para pelayan sudah berat, jangan Tuan tambah dengan tugas membersihkan semua ini. Apalagi vas itu mahal, lebih baik sedekahkan uangnya daripada beli lagi.”


Ivan kesal, tapi dia mendengarkan Narendra. Ivan meraih handphonenya dan menelepon seseorang. Dia tidak peduli lagi dengan nasib tiga orang yang Narendra sebutkan.


“Mana para tamu kita Ivan?”

__ADS_1


Pertanyaan itu membuyarkan fokus Ivan. “Mereka sudah pulang, Ayah.”


“Owh, tadi aku bicara lama sama mamamu, ku pikir mereka masih lama.”


“Bagaimana keadaan mama?”


“Mamamu baik-baik saja, saat ini dia mempersiapkan keperluannya untuk ke Dubai.”


“Sebaiknya Ayah dan mama tinggal lama di sana, sampai kak Angga benar-benar pulih. Dengan mama lama di luar negri, untuk sementara mama akan melupakan masalah di sini, semoga saat kalian kembali keadaan benar-benar sudah damai.”


“Idemu sangat bagus Van. Baiklah, kami akan menetap di sana sampai kakakmu benar-benar sembuh.”


“Ayah, aku pamit dulu.”


“Iya, hati-hati, Ivan.”


Ivan memberikan mobil kantor pada Narendra, sedang dia mengemudikan mobil pribadinya sendiri. Di tengah perjalanan Ivan menepikan mobilnya, menurut perhitungannya, Diana sudah mendarat di Dubai. Dia segera menelepon Diana.


**


Pesawat yang membawa Diana dan Nizam akhirnya mendarat di Bandara Internasional Dubai. Mereka berempat berjalan bersama.


“Titip barangku sebentar, aku ingin ke toilet.” Diana memberikan handphonenya pada Nizam, dan dia segera berjalan cepat menuju toilet.


Tidak berselang lama, salah satu handphone Diana berdering, terlihat nama Ivan tertera di layar Handphone Diana. Nizam tersenyum dan langsung mengangkat panggilan itu. “Halo tunanganku, apakah kau merindukanku?” Nizam berbicara dengan nada gemulai.


Sontak hal itu membuat Naila dan Mila saling melempar senyum melihat bos mereka seperti seorang banccii.


Di ujung telepon sana Ivan menjaihkan handphone dari sisi telinganya, dia sangat kesal karena teleponnya diangkat oleh Nizam. “Aku ingin berbicara dengan Diana,” ucap Ivan.


“Kangen ya?” ledek Nizam.


“Aku tidak ingin berbicara denganmu Nizam, aku ingin berbiacara dengan Diana.”


“Em … kasih nggak ya ….”


Ivan terdiam di ujung telepon sana.


*Apa Diana sibuk? Sehingga handphonenya dia titipkan pada Nizam?


“Jam berapa saat Diana tidak sibuk?” tanya Ivan.


“Dede selalu sibuk, sibuk mikirin kakak,” ledek Nizam.


Ivan semakin kesal. Sedang Nizam langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak saat dari kejauhan dia melihat Diana berjalan kearahnya. Nizam merubah pandangannya pada dua sekretarisnya. “Kenapa kalian tertawa?”


“Tidak apa-apa Tuan.” Naila dan Mila berusaha menahan tawa mereka.


***


Bersambung.

__ADS_1


***


Untuk Flasback Dillah nanti ya 🙏


__ADS_2