Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 275


__ADS_3

Ivan dan Diana sampai di sebuah rumah sederhana, namun memiliki pekarangan yang sangat luas, bahkan di samping rumah itu ada lapangan berkuda. Melihat banyak kuda berlarian bebas di lapangan itu Ivan tersenyum, dia teringat akan kuda-kudanya yang lama tidak dia tengok.


“Ini rumah Profesor Hadju,” ucap Diana.


Ivan berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Terlihat sepi, apakah beliau ada di rumah?” tanya Ivan.


"Biasanya ada, kalau tidak ada, mungkin beliau ke hutan sekedari berkuda di area bebas."


“Ivan, Diana?”


Ivan dan Diana kompak menoleh kearah suara, terlihat Anton berjalan dengan membawa sayuran. “Kapan kalian tiba?”


“Baru saja,” sahut Diana.


“Kamu dari mana, Anton?” tanya Ivan.


“Dari rumah mertuaku, bagaimana ujian Ivan saat masuk desa? Ujian apa yang Mertuaku berikan?”


"Yah, ujian biasa, ternyata rayuanku tidak bisa mengalihkan ujian itu," sahut Diana.


"Terus bagaimana hasilnya?"


“Aku lolos,” sahut Ivan.


“Aku turut bahagia mendengarnya,” ucap Anton.


“Anton, apakah Ayahmu ada di rumah?” tanya Diana.


“Sepertinya Ayah sudah pergi ke hutan, kemaren beliau bilang kalau sore hari ini akan ke hutan.”


“Boleh kami meminjam kuda untuk menyusul Ayahmu?” tanya Diana.


“Tentu saja boleh, silakan pilih kuda mana yang kalian mau, di kandang ada beberapa kuda yang siap untuk ditunggangi,” sahut Anton.


Diana dan Ivan berjalan cepat menuju kandang kuda, hingga mereka memilih kuda yang mereka mau untuk menemani petualangan mereka memasuki hutan. Diana dan Ivan berkuda bersama memasuki hutan, keduanya terlihat sangat bahagia.


Gukkk!


Tiba-tiba Hogu berlari di depan mereka, Ivan sangat terkejut dengan kedatangan Hogu, sehingga dia kehilangan kendali, dan membuat Ivan terjatuh dari kuda, melihat hal itu Diana sangat panik, dia turun dari kuda dan menghampiri Ivan.


Sedang Ivan, dia tenggelam oleh phobianya, ketakutannya semakin menjadi, penglihatannya saat ini Hogu tengah memperlihatkan gigi-giginya yang tajam pada Ivan, dan siap menyerang Ivan.


“Hhhh ….” Sekujur tubuh Ivan gemetaran karena rasa takutnya, keringatnya juga terus bercucuran. Dia tidak mampu menggerakan anggota tubuhnya.

__ADS_1


“Ivan … apa ada yang terluka?” Diana langsung memeriksa bagian tubuh Ivan, dia takut Ivan cedera.


Namun saat ini Ivan tenggelam oleh rasa takutnya, dia tidak menyadari keberadaan Diana, dia juga terus berhalusinasi kalau Hogu ingin menyerangnya.


Diana tidak menemukan cedera serius pada bagian tubuh Ivan, namun reaksi Ivan yang terlihat tidak baik-baik saja, membuat Diana menyadari sesuatu, dia memandang kearah pandangan Ivan tertuju, dan Ivan terus memandangi Hogu.


“Hogu, sembunyi sebentar sayang,” pinta Diana.


Hogu langsung menjauh dari mereka, saat itu perlahan napas Ivan terlihat normal, melihat Ivan sangat ketakutan, Diana langsung memeluk Ivan.


“Ada apa? Apakah ada yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Diana lembut.


“Anjing itu … dia ingin menyerangku.” Ivan menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Diana. “Aku takut anjing ….”


Diana teringat saat pertama kali Hogu menyambutnya, saat itu Ivan langsung bersembunyi di belakangnya, Diana tidak menyadari rasa takut Ivan pada Anjing, dia mengira Ivan ingin memberi ruang pada Hogu.


Diana berulang kali mengatur napasnya, hal yang sangat dia sayangi, adalah hal yang sangat Ivan takuti. Mereka berpelukan dalam waktu yang lama, setelah Ivan mulai membaik, mereka melepaskan pelukan mereka.


“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu phobia pada Anjing, maafkan Hogu karena membuat trauma mu bangkit,” sesal Diana.


“Bukan salahmu, hanya aku terlalu lemah. Kamu tidak salah, Hogu juga anjing baik, hanya saja rasa takut itu masih ada.” Ucap Ivan.


“Yakin Hogu anjing yang baik?” tanya Diana.


Diana mendekatkan wajahnya ke wajah Ivan. "Memang begitulah kenyataannya, Hogu anjing kesayanganku."


“Maafkan aku ….”


Ivan tidak bisa menjawab perkataan Diana, karena Diana telah membungkam mulutnya. Keduanya hanyut dalam pangutan mereka. Saat Ivan semakin tenggelam, Diana memberi isyarat pada  Hogu agar mendekat. Anjing patuh itu pun mendekat dengan sangat pelan, Diana melepaskan jaketnya, dan melemparnya ke sisi Ivan, Saat Diana mendorongnya, Ivan menumpukan sebelah tangannya ke samping, dia mengira di samping tangannya adalah jaket Diana, hingga dia terus fokus pada kegaitan mereka.


Melihat tangan Ivan sangat dekat dengan Hogu, Diana menarik tangan Ivan dan mengarahkan pada Hogu. Merasa tangannya menyentuh bulu-bulu lembut, sontak bulu kuduk Ivan kembali merinding.


“Santai saja, dan pejamkan kedua matamu,” bisik Diana. Diana terus membuat Ivan mabuk akan belitan lidahnya, sedang tangannya membimbing tangan Ivan agar mengelus-elus Hogu.


Saraf-saraf tegang Ivan perlahan terasa rilex, Diana membiarkan Ivan mengusap Hogu sendiri, dan dia perlahan melepaskan ciuman mereka.


“Buka matamu, lihat Hogu tidak menyakitimu, dia malah menyukaimu,” ucap Diana.


Ivan perlahan membuka mata, dan melihat dia dengan nyaman mengusap bulu-bulu Hogu, tidak ada rasa takut, malah ada rasa gemas dan ingin menggelitik anjing itu.


“Diana menempelkan wajahnya di sisi telinga Ivan. “Hogu juga menyukaimu, karena Hogu tahu aku mencintaimu. Coba kamu perintah Hogu, dia akan menurutimu.”


“Hogu, duduk!” ucap Ivan.

__ADS_1


Gukkk!


Anjing itu langsung duduk.


“Hogu, berguling ….” Perintah Ivan.


Anjing itu langsung berguling-guling di tanah.


“Hogu, peluk Ivan.” Titah Diana.


Hugu langsung berlari kearah Ivan dan memeluknya. Hogu dengan santainya menjilati pipi kanan dan kiri Ivan. Mendapat perlakuan manis Hogu, rasa takut itu benar-benar pergi. Ivan terbaring di tanah karena tidak mampu menahan keseimbangan karena menahan Hogu.


“Asyik sekali kalian semua.”


Ucapan itu menyita perhatian Diana dan Ivan, Hogu juga berhenti menjilati pipi Ivan. Dia langsung duduk seolah memberi hormat pada laki-laki yang menunggang kuda yang mendekat pada mereka.


“Prof, akhirnya kami menemukan Anda,” ucap Diana.


“Oh ya Diana, apa aku bisa meminta waktumu untuk membahas IMO?” ucap Profesor Hadju.


“Tentu saja Prof.”


“Kalau begitu, aku ingin kita membicarakan IMO sambil berkuda,” ucap Profesor Hadju.


Diana menoleh pada Ivan, sedang Ivan, dia sadar kalau guru besar Diana hanya ingin berdua dengan Diana.


“Kalian lanjut saja, kalau diizinkan, aku ingin bermain bersama Hogu,” ucap Ivan.


“Tapi kamu tidak hafal wilayah ini, Van.” Ucap Diana.


“Ada ini.” Ivan memperlihatkan handphoenya pada Diana. “Di sini ada peta, lebih penting lagi ada Hogu bersamaku, bukankah dia sangat hafal dengan area ini.”


Guk! Guk!


Hogu seakan membenarkan perkataan Ivan.


“Ya sudah, sampai jumpa lagi nanti di rumah ya ….” Diana kembali naik kuda, dan dia mengikuti Profesor Hadju.


Setelah Diana menjauh, Ivan mendekati Hogu dan mengusap anjing itu. “Hogu, bisa bantu aku menemukan arah jalan pulang ke rumah Profesor Hadju.”


Gukkk!


Ivan seakan mengerti jawaban Hogu, dia segera naik keatas kuda, melihat Ivan sudah siap, Hogu langsung berlari memandu Ivan, dan Ivan mengikuti Hogu dengan kudanya. Setelah mengantar kuda ke peternakan profesor Hadju, Ivan meneruskan perjalanan pulang dengan jalan kaki bersama Hogu.

__ADS_1


__ADS_2