
Menyadari ada orang lain selain mereka di ruangan ini, membuat Qiara ketakutan. Dia terlanjur mengatakan rencana lanjutannya untuk Diana.
"Mama ...." Qiara berlari kearah ibunya.
"Dasar anak ingusan! Beraninya bikin kekacauan, tapi tidak berani bertanggung jawab!" maki suara misterius itu.
"Mau jadi apa dirimu Nona, kalau kedua orang tuamu nanti sudah meninggal?!"
Wilda juga cemas, tapi dia berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja. "Siapa kamu!" Wilda berusaha mencari tahu dari mana suara itu berasal.
"Aku bukan siapa-siapa Nyonya, hanya kerikil jalanan, yang jelas aku bukan sampah seperti kalian!"
Wilda geram mendengar hinaan suara misterius itu. "Hei! Tunjukan dirimu! Jangan bersembunyi seperti pengecutt!"
"Siapa yang pengecutt?! Yang pengecut itu kalian! Membunuh seseorang begitu mudah, padahal orang itu telah membantu misi kalian!"
"Jaga bicaramu Nona! Kamu terlalu banyak bicara! Cepat Keluar dan tampakkan dirimu!” maki Wilda.
Ceklak!
Tiba-tiba ada dinding yang terbuka. Ketiganya membisu menyadari ada pintu rahasia di ruangan yang mereka tempati, ketiganya semakin dibuat terkejut, karena sosok yang keluar dari pintu rahasia itu adalah Diana.
"Aku bukan pengecutt, lihat aku. Aku menampakkan diriku." Diana tersenyum sinis meledek Qiara, Veronica, dan Wilda.
^^ Didd—ddia tidak bisu?
Qiara sangat syok menyadari Diana bisa berbicara. Sedang Veronica seketika diam, kenyataan yang baru dia ketahui saat ini menampar wajahnya begitu keras, hal ini seakan mengambil kemampuannya untuk berbicara.
Dia tidak bisu? Shittt! Pastinya Ivan akan semakin mempertahankan gadis udik ini! Veronica menatap Diana dengan tatapan kemarahan.
Wilda berusaha terlihat angkuh, walau sebenarnya dia sangat takut karena Diana mendengar semua pengakuan dan rencana mereka, tapi sebisanya dia terlihat tegar dan menantang Diana, dan menyembunyikan keterkejutannya. “Ternyata gadis kampungan ini hanya pura-pura bisu?" ledeknya.
"Kamu ingin memanfaatkan rasa prihatin semua orang-orang dengan berpura-pura bisu? Cuih! Rendahan sekali," maki Wilda.
"Kau pikir, dengan berpura-pura bisu semua orang prihatin padamu? Tapi sayang Nona, aku sama sekali tidak prihatin dengan kebisuanmu,” ledek Wilda lagi.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mengaku bisu, kalian semua yang menganggap aku bisu, aku hanya malas berbicara dengan manusia yang tidak punya otak seperti kalian!"
"Suaraku dan bahasaku sulit dimengerti oleh IQ jongkok seperti kalian," hina Diana.
Arrgggg!
Qiara sangat geram dengan hinaan Diana, di ingin menyerang Diana, tapi dirinya di tahan ibunya.
“Bagaimana rencana lanjutan kalian? Kapan akan dilanjutkan? Kalau aku tau waktu dan jamnya, barangkali aku bisa meringankan tugas kalian,” ledek Diana. "Upss, kan targetnya aku, aduhhh boddohnya aku," Diana sengaja mengejek tiga wanita yang ada di depan matanya.
“Tanpa rencana lanjutan pun, kamu akan membusuk di penjara!” ucap Wilda.
"Semua bukti sangat lengkap, kamu menabrak seseorang dan melarikan diri!" omel Qiara.
"Aku hampir menabrak, dan aku tidak menabrak!" ucap Diana.
"Bukti sangat jelas, ada DNA Nazta di bagian mobil Ivan, saksi-saksi dan bukti yang ada di kantor polisi juga membuktikan kan kalau kamu menabrak Nazta."
"Selamat membusuk di dalam penjara!" ledek Wilda.
“Tidak semudah itu Nyonya.” Diana menghempaskan beberapa berkas yang sedari tadi dia peluk keatas meja. “Ini semua adalah coppy dari bukti-bukti kalau aku tidak melakukan tuduhan itu.”
Diana mengambil salah satu berkas. “Kalau kalian tidak mau membaca, biar aku yang bacakan untuk kalian.”
"Kalian selalu malas membaca jawabanku bukan, saat ini biar aku yang membacakan beberapa hal untuk kalian."
Diana membuka lembaran pertama dan membacakannya isinya. “Penabrak sesungguhnya adalah Alleron Weigh. Dia adalah kakak dari Nazta Mumtaza, sedang Nazta Mumtaza adalah seseorang yang menyamar menjadi petugas kebersihan karena permintaan seseorang. Alleron Weigh, dia seorang penjudi berat dan terlilit banyak hutang pada rentenir. Tapi sayangnya Alleron yang merupakan tersangka asli sudah meninggal tadi malam di rumahnya, penyebab kematiannya belum di ketahui.”
“Jangan omong kosong Diana!” maki Wilda.
"Alasanmu untuk membela diri, tidak masuk akal Diana!" hina Qiara.
“Aku tidak omong kosong! Rekaman CCTV yang asli sudah berhasil dipulihkan, dan rekaman yang dijadikan bukti untuk memberatkanku terbukti itu rekaman TKP yang direkayasa.”
"Untuk edit mengedit, kalian luar biasa," puji Diana.
Qiara bingung harus berkomentar apa. ^^Bagaimana dia tahu kalau rekaman yang terhubung itu sudah disabotase?
Wilda menatap Diana dengan tatapan mata yang begitu tajam. ^^^Siapa sesungguhnya gadis ini? Selain tidak bisu dia juga bisa mengumpulkan semua bukti dalam waktu secepat ini.
__ADS_1
Veronica merasa kesulitan bernapas, karena lagi-lagi rencana mereka yang sempurna dipatahkan oleh bukti-bukti yang Diana miliki. Qiara melirik kearah ibunya, dia tidak tahu lagi harus apa. Wilda memahami kepanikan Qiara dan Veronica, dirinya juga panik tapi Wilda tetap berusaha menyembunyikan kepanikannya.
“Owh, ternyata seperti ini tindakanmu Diana? Saat kamu terpojok dengan kesalahanmu, kamu mengambing hitamkan orang lain atas kesalahanmu,” ledek Wilda.
“Tapi sayang Diana, fitnahan kamu pada kami tidak memiliki bukti,” ucap Wilda.
“Bukti?” Diana tersenyum mendengar ucapan Wilda. “Kalian ingin bukti?”
“Coba kalian teliti lukisan itu dengan benar.” Diana menunjuk ke salah satu lukisan yang ada di ruangan mereka.
Qiara sangat cepat memeriksa lukisan itu, seketika tubuhnya bergetar hebat saat melihat ada kamera tersembunyi di lukisan itu, hal itu juga baru diketahui Veronica dan Wilda.
“Coba kamu cek handphone kamu Veronica. Berapa juta penonton yang menyaksikan siaran langsung Qiara malam ini.”
Veronica segera memeriksa handphonenya. Kedua bola matanya seakan melompat saat melihat siaran langsung dari akun Qiara. Dia memperlihatkan handphonenya pada Qiara dan Wilda. Qiara langsung mengambil handphonenya, benar saja saat ini dirinya tengah melakukan siaran langsung.
"Qiara, kamu saat ini melakukan siaran langsung." Wajah Veronica sangat pucat, mengetahui rencana mereka di tonton jutaan orang
“Bab-bagaimana bisa? Aku tidak melakukan live ini!” Qiara semakin panik, karena siaran langsung itu berisi rencana jahat mereka untuk Diana.
“Qiara! Hentikan siaran langsungnya!” perintah Wilda.
“Sudah dari tadi aku ingin menghentikannya mama, tapi tidak bisa!” Qiara terus menekan tombol 'berhenti' namun siaran itu tidak juga bergenti. Wajah Qiara semakin panik. Dia langsung membanting handphonenya, agar siaran langsung itu berhenti. Handphone Qiara langsung pecah karena bantingan yang begitu kuat.
“Percuma Qiara, siarannya masih berlanjut.” Veronica memperlihatkan layar handphonenya pada Qiara.
“Meretas CCTV jalan raya saja bisa, meretas akunmu tentunya sangat mudah,” ledek Diana.
“Kau?!”
“Ya, aku live dengan akunmu,” jawab Diana.
Qiara tidak bisa fokus pada Diana, karena Veronica memperlihatkan tayangan komentar pada siaran langsung Qiara. Sangat banyak makian, hujatan dari netizen yang tertuju padanya. Warga dunia maya memahami kalau kasus sebelumnya Diana tidak bersalah sama sekali, tapi semua itu bagian rencana Qiara dan Veronica yang ingin menghancurkan nama baik Diana.
Wilda sangat marah pada Diana, dia ingin mendekati Diana dan menghukum wanita itu, tapi langkah Wilda terhenti saat deringan panggilan terdengar dari handphonenya. Wilda memeriksa handphonenya, melihat identitas pemanggil adalah suaminya, Wilda langsung mengangkat panggilannya.
“Iya papa.”
“Perusahaan kita mengalami kerugian sebesar 7 miiliar, harga saham juga tiba-tiba Anjlok!”
__ADS_1
Wilda sangat syok mendengar kabar itu. “Bagaimana ini bisa terjadi, papa?!”