Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 182 Orang Ketiga


__ADS_3

Air, minyak, detergen. Yudha berusaha memahami tiga istilah itu.


Apakah saat ini mereka membahas perjodohan mereka? Bukankah mereka bisa bersama karena turut campur pihak ketiga? Batin Yudha.


"Itu artinya harus ada turut campur orang ketiga untuk kerjasama kalian nanti, dan temanku tidak suka kalau harus menambah orang lagi." ucap Diana.


"Orang ketiga yang berperan untuk menyatukan dua hal yang tidak bisa di satukan. Hemmm ...." Dugaan Yudha semakin kuat kalau itu pembahasan pertunangan Diana dan Ivan.


"Memang kamu mengerti apa yang aku bicarakan dengan Diana?" tanya Ivan pada Yudha.


"Tidak sama sekali, tapi aku memahami satu hal. Ibarat kamu air, Diana minyak. Nah kalian bisa bersatu karena pihak ketiga, yaitu kakek Agung dan Nenek Zelin. Di sini kedua orang itu seperti detergen yang menyatukan kalian."


Yudha menatap Ivan dengan tatapan serius. "Tanpa bantuan orang ketiga, kamu tidak bisa berpegangan dengan Diana." Sesaat Dillah menatap pada Diana. "Apa aku benar Diana? Kamu pasti tidak mau mengenal Ivan jika Nenekmu tidak memintamu."


"Tidak semua orang ketiga membawa berkah, justru orang ketiga di ruangan ini sangat menggangguku." Ivan mengisyarat Yudha.


"Siapa bilang semua orang ketiga membawa berkah, kalau semua membawa berkah maka pelakor bukan dianggap suatu musibah," ucap Yudha.

__ADS_1


"Ya, beberapa orang ketiga yang menyebalkan diantaranya, pelakor atau pebinor, setan, dan kamu!" Ivan menatap tajam pada Yudha, berharap Yudha mengerti kalau dia hanya ingin berdua dengan Diana.


"Ingin mengusirku tidak perlu pakai istilah Van." Yudha segera bangkit dan keluar dari ruangan Ivan.


Yudha memilih kembali ke ruangannya, di sana dia fokus dengan handphonenya, dia mengabarkan di anggota group yang berisi beberapa orang penting dengan penolakan Diana.


*Hampir semua orang yang memiliki keahlian dalam bidang Farmasi ingin menjadi bagian IMO, selain gajih besar, masa depan juga terjamin.


“Ternyata Tunangan Ivan benar-benar gadis desa udik dan bodoh! Saat IMO menjadi tujuan orang-orang, dia malah tidak tertarik.


Yudha tidak bisa berkomentar lagi di group. Dia hanya menyimak obrolan yang ada.


"Kenapa tiba-tiba kamu membatalkan perjanjian kita, Diana?"


“Musuh yang aku lawan saat ini, bukan musuh sembarangan, andai aku kalah dalam pertarungan senyap ini, yang mati hanya aku, hal ini tidak berdampak buruk bagi banyak orang.”


“Tapi berdampak buruk untukku jika kamu mati,” sela Ivan.

__ADS_1


“Dampaknya yang mati hanya hatimu, tapi badanmu masih hidup,” balas Diana.


"Izinkan aku membantumu, Diana."


“Tolong Ivan, mengertilah. Jangan sampai kota ini menjadi terbanyak penduduk miskinnya karena mereka kehilangan tempat untuk bekerja, turunkan egomu. Jangan kamu kotori nama Agung Jaya dengan menjadi musuh dalam selimut untuk melawan musuhku."


"Aku hanya ingin membuatmu bahagia, Diana."


"Aku percaya padamu dan niatmu, kamu hanya ingin kebaikan untukku dan menolongku. Tolong percaya juga padaku, aku pasti bisa melawan ED Group tanpa harus mencemari Integritas Perusahaanmu, aku tidak ingin misiku menjadi keburukan bagimu, biarkan misiku menjadi keburukan bagi diriku sendiri.”


“Kamu tidak mau melibatkan ku saat ini?" Ivan menatap sendu pada Diana.


Diana menganggukan kepalanya perlahan.


"Baiklah, aku terima keputusanmu, tapi jika kali ini kamu tidak melibatkanku, maka apapun yang terjadi di depan nanti, aku tidak akan menolongmu,” ucap Ivan.


“Justru hal itu yang aku harapkan,” sahut Diana.

__ADS_1


"Semakin jauh jarak antara kita, ini semakin baik untuk kita berdua." Diana memberikan senyuman manisnya pada Ivan.


Ivan menatap Diana dengan tatapan ketidak percayaan. Diana benar-benar tidak membutuhkan dirinya.


__ADS_2