
Waktu terus berjalan, Rani meminta Sofian untuk membawanya jalan-jalan mengelilingi desa itu, Sofian membawa Rani ke jalan utama ke desa itu, ternyata aksesnya sangat nyaman. Rani hanya menggeleng jika mengingat perjalanan di hutan itu.
“Resepsi Diana dan Ivan akan diadakan di tempat itu.” Sofian menunjuk ke salah satu lapangan luas yang dikelilingi banyak tenda.
Sofian menepikan mobilnya, agar dia dan Rani bisa melihat jelas bagaimana persiapan tempat Resepsi Diana dan Ivan.
“Kenapa tidak di rumah Nenek Zelin?” tanya Rani.
“Mungkin Nyonya Zelin ingin Resepsi kekeluargaan, tempat di sini luas, jadi memuat banyak tamu, pastinya warga desa sini tamu-tamu di resepsi nanti,” jelas Sofian.
“Tante, om … kalian sudah di sini?”
Pertanyaan itu menyita perhatian Rani, dia terkejut melihat dua sosok yang ada di depan matanya. “Jennifer? Angga? Kapan kalian datang?”
“Baru saja mama,” sahut Angga.
Sedang Jennifer heran melihat perubahan Rani, sorot mata yang penuh kebencian itu berganti dengan pandangan yang penuh kasih.
“Bagaimana perjalana kamu Jen?” tanya Rani.
Jennifer masih sulit percaya Rani melihatnya seperti tatapan seorang ibu. “Am … lancar tante, dan sangat menyenangkan,” sahut Jennifer.
“Ah … aku sadar aku terlalu jahat, sehingga kedua menantuku hanya memanggilku tante,” ucap Rani.
“Kami bukan tidak mau memanggil Anda mama, tapi kami sungkan, memangnya Anda mau menerima anak nakal seperti kami?”
Rani menoleh kearah suara itu berasal. Terlihat Ivan berjalan dengan Diana kearahnya.
“Aku bukan tidak mau, aku hanya malu, apa aku pantas menjadi ibu kalian setelah semua perlakuan burukku pada kalian.” Rani semakin menunduk. “Aku rela masuk hutan, hanya ingin memberi restuku sebagai seorang ibu, apakah itu bisa menebus Sebagian kecil dari kejahatanku yang besar?”
“Mama mau datang kesini merestui kami itu sudah cukup,” sahut Diana.
“Mama?” Rani sangat bahagia mendengar Diana memanggilnya mama.
“Apakah restu itu ada untuk kami?” sela Angga.
“Tentu saja, aku merestui pilihan kalian anak-anaku,” ucap Rani.
Diana dan Jennifer mendekati Rani, keduanya langsung memeluk Rani.
Matahari semakin tenggelam kearah barat, Diana dan rombongan memutuskan kembali ke rumah Nenek Zelin. Saat Rani melewati mobil yang Diana naiki, dia terkejut melihat sosok Kekek Agung di sana.
“Jangan banyak bicara lagi, ayo kita ke rumah Zelin, pinggangku sakit karena lama duduk,” protes Kakek Agung.
Tanpa bicara lagi, mereka menaiki mobil masing-masing dan kembali ke kediaman Nenek Zelin. Sedang Diana langsung menuju rumah Profesor Hadju untuk laporannya, dia sudah menemukan 10 Mahasiswa pilihan untuk belajar pada Profesor Hadju, dan nantinya 10 orang itu akan belajar bersama Saras.
Kini semua orang dekat Ivan sudah berkumpul di rumah Nenek Zelin, bahagia, hanya itu yang Ivan rasa saat ini.
**
__ADS_1
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Semua warga desa mengenakan baju serba putih, yudha, Dillah, Nizam, dan laki-laki yang lain terlihat gagah dan menawan dengan setelan jas putih mereka. Sedang Saras, Jennifer, Rani, dan wanita yang lain sangat cantik dengan gaun putih mereka.
Lucas, Nenek Zelin, dan Zana duduk berdekatan. Sedari tadi Zana terus memperhatikan putranya, dia menangkap Lucas selalu mencuri pandang kearah Saras.
“Seumur-umur, baru kali ini kamu membawa pulang seorang gadis,” ucap Zana.
“Ah mama apa-apan sih, aku membawa Saras karena dia teman dekat Diana,” ucap Lucas.
“Dia gadis yang cantik,” ucap Nenek Zelin.
“Ya cantik Nek, karena dia perempuan, kalau dia laki-laki ya tampan.”
Di sisi lain.
Dillah, Yudha, Nizam, Russel, dan Archer duduk berdekatan. Banyak gadis cantik menghadiri resepsi pernikahan Diana. Russel, Nizam, Yudha, dan Dillah, mereka terlihat tidak terpikat dengan kecantikan-kecantikan yang ada di depan mata mereka, entah mengapa setelah mengenal Diana, sulit bagi mereka untuk terpikat dengan gadis yang hanya sekedar cantik. Sedang Archer, semakin menutup diri untuk wanita, dia hanya fokus pada kebahagiaan Diana dan Ivan. Fredy dan Profesor Abimayu duduk di tenda yang lain.
Musik romatis juga memanjakan telinga mereka, Nenek Zelin tidak berhenti tersenyum melihat kebahagiaan ini.
“Jangan ada yang bergerak! Atau peluru ini akan menembus tengkorak kedua pengantin!”
Segerombolan orang bertopeng mengepung tempat acara, dan 6 orang diatas panggung menahan Diana dan Ivan dengan menodongkan senjata api ke sisi kepala Diana dan Ivan, membuat mereka semua mematuhi permintaan penodong itu.
“Kami telah memasang banyak ranjau darat! Jika kalian berani bergerak, tubuh kalian semua akan hancur oleh ledakan itu!”
Semua orang ketakutan, mereka membatu di tempat mereka masing-masing. Sedang Saras mengamati keadaan, dia berusaha mencari tahu tanah mana yang mencurigakan. Saat menekukan yang aneh, Saras melompat kearah itu, benar saja dia merasa menginjak sesuatu.
“Kau nakal gadis kecil, kini kamu menginjak ranjau darat!” ucap salah seorang yang menawan Diana.
Fredy terpana dengan keberanian gadis kecil itu, saat semua takut bergerak karena memikirkan kesalamatan Diana, gadis kecil itu malah menganjak penawan itu mati bersama mereka semua. Saat yang sama beberapa keamanan juga sengaja menginjak ranjau darat yang mereka ketahui posisinya.
“Lepaskan permata kami, atau kalian mati bersama kami?”
“Sial! Kalian semua mengacaukan rencana kami!”
“Silakan lepas pijakan kalian, setidaknya target kami sudah sampai!”
Saras dan beberapa tamu yang sengaja menginjak ranjau darat melepaskan pijakan mereka. Membuat mereka terlempar karena kekuatan dorongan efek edakan kecil dari benda yang mereka pijak. Benda itu memang meledak, namun dampaknya kecil dan ledakannya membumbungkan asap berwarna ke udara.
Sepersekian detik kemudian tempat acara dihujani dengan kelopak bunga mawar putih. Salah seorang bertopeng melepaskan topengnya.
“Selamat berbahagia Ketua.” seorang gadis cantik yang berusia 24 tahun itu bersimpuh di depan Diana.
Semua orang bertopeng juga melepaskan topeng mereka, dan berlutut memberi hormat pada Diana.
“Syanza! Kau membuatku takut! Saat ini yang aku pikirkan hanya Nenekku!” protes Diana.
“Kami sudah minta izin beliau Ketua,” sahut Syanza.
DI tempat duduknya Nenek Zelin bertepuk tangan dan melempar ciuman pada Syanza.
__ADS_1
“Dia siapa?” tanya Ivan.
“Dia salah satu bagian dari IMO, tugasnya menyeleksi calon-calon anggota IMO,” sahut Diana.
“Yup, dan mereka yang bersamaku ini adalah calon-calon pegawai IMO.
Di tempat lain. Yudha dan Dillah terpesona dengan sosok cantik yang terlihat sangat hebat saat memegang senjata laras Panjang itu.
“Wanita impianku,” ucap Dillah.
“Langkahi mayatku dulu, aku juga menginginkannya,” ucap Yudha.
Keadaan kembali tenang, mereka semua kembali menikmati pesta pernikahan Diana dan Ivan. Di sisi yang lain Saras berusaha membersihkan gaunnya yang kotor karena terlempar lumayan jauh. Tiba-tiba ada dua tangan yang memberinya sapu tangan. Saras mengakan pandangannya.
“Mau apa kalian?”
“Ini saputangan untuk mengibas debu yang menempel,” ucap Lucas.
“Aku tidak tahu untuk apa saputangan ini, aku hanya menawarkan, barangkali kamu membutuhkannya, ucap Fredy.
Saras malas berurusan dengan dua laki-laki itu, dia pergi begitu saja mengabaikan bantuan mereka.
Diana dan Ivan tidak memperhatikan keadaan, Diana sangat bahagia mengamitkan tangannya di lengan Ivan.
“Siap membangun impian baru bersamaku?” ucap Ivan.
“Tentu saja, suamiku.” Diana menyandarkan wajahnya di depan dada Ivan.
Momen itu diabadikan semua orang, mereka sangat bahagia melihat kebahagiaan ini.
***
Walau mengadakan sebuah resepsi di lapangan desa, namun kebahagiaan di sana luar biasa, semua orang yang hadir turut bahagia. Ivan dan Diana diantar ke rumah Nenek Zelin yang lain, di mana di sana hanya ada Diana dan Ivan. Agar mereka bisa melewati malam tanpa gangguan.
Sedang semua rombongan kembali ke rumah Nenek Zelin. Hanya Kakek Agung yang langsung pulang bersama Pak Abimayu.
Di rumah yang ditempati Ivan dan Diana.
"Ku lihat di pesta tadi ada Fredy," ucap Ivan.
"Mungkin Nenek yang mengundangnya, bagaimana pun dia ikut berjasa menangkap salah seorang yang terlibat pembunuhan papaku, saat menangkap pembunuh itu, anak buah Nenek dan anak buah Fredy banyak yang gugur. Fredy orang yang tidak sabaran, karena keteledorannya itu banyak korban yang gugur, sebab itu aku sangat membencinya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri."
"Aku sangat cemburu melihat kamu dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, aku takut cintaku tidak sebesar mereka," ucap Ivan.
Diana mendekati Ivan dan mengusap lembut wajah suaminya. "Sebesar apapun cinta mereka, tidak bisa mengalahkan atau menandingi rasa cintaku padamu. Bukan besar kecilnya cinta yang kamu beri, tapi kamu telah menundukan hatiku, sehingga tidak ada cinta yang bisa aku lihat selain cinta darimu."
Hening, tidak ada pembicaraan lagi, keduanya hanyut dalam pangutan hangat mereka.
***
__ADS_1
TAMAT.