Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 99 Membantai 100 Orang


__ADS_3

Setelah petualangan kedua mereka, Qiara kelelahan, dia tertidur dalam pelukan Dillah. Jemari tangan Dillah mengusap lembut helaian rambut Qiara, sedang pikirannya terbang entah ke mana.


Dia wanita atau iblis?


Dillah terbayang dengan cerita anak buah Wilda, di mana laki-laki bertubuh tegap yang berjumlah 100 orang disikat habis oleh Diana, Dillah tidak bisa membayangkan seperti apa Diana, karena begitu mudah melawan 100 orang dalam waktu yang cepat. Pemikiran Dillah Diana akan mati karena dibantai oleh 100 orang anak buah Wilda, tapi anak buah Wilda yang dibantai Diana, mereka semua tak berdaya melawan serangan balik Diana.


Apa dalam video yang di dapat Narendra itu adalah perbuatan Diana sendiri?


Dillah menatap lembut wanita yang ada dalam dekapannya. “Apapun yang terjadi besok, yang jelas saat ini aku sudah sangat bahagia, dan aku siap menerima konsikuensi karena mengkhianati Ivan.” Dillah mendaratkan ciuman lembutnya di pucuk kepala Qiara. Dia juga perlahan memejamkan matanya.


**


Di club malam.


Narendra masih merayu Ivan, agar Ivan mau mengenalkan dirinya pada Diana. "Ayolah Tuan, beritahu padaku tentang kakak ipar walau hanya sedikit," rayu Narendra


“Apa yang bisa aku jelaskan? Diana hanya mahasiswi kedokteran biasa,” terang Ivan.


Mahasiswi biasa dari mana? Dia punya keistimewaan khusus. Andai Anda melihat langsung kejadian saat Nona Diana membantai 100 orang dengan sangat mudah. Aku saja tidak mampu mengalahkan lawan seperti Nona mengalahkan semua musuhnya.


Narendra berusaha memasang wajah santai, seolah dia percaya apa kata Ivan.


“Aku ingin percaya, Diana hanya gadis biasa. Tapi kedua mataku terlalu sering disuguhkan keajaiban Diana. Resep obat, Tindakan pada Qiara, mengembalikan file perusahaan.” Yudha mengingat jelas hal yang menurutnya itu luar biasa. “Pak Abi juga sangat mengagumi Diana, ku rasa Diana—” Melihat Diana berdiri di posisinya, Yudha tidak bisa meneruskan ucapannya.


“Mau kemana kakak ipar?” tanya Narendra. Melihat tatapan peringatan dari Ivan, karena dirinya memanggil Diana kakak ipar, Narendra kembali diam.


"Mau kemana, Diana?" tanya Ivan begitu lembut.


“Aku ingin ke bandara, jadwal keberangkatan kami semakin dekat.” Diana menatap Ivan begitu lembut. “Aku pergi.”


Ivan tidak bisa meng-iyakan, namun juga tidak mampu menahan. Dia hanya menatap Diana yang bersiap untuk pergi. Diana memasang kembali jaket dan ranselnya dan segera pergi meninggalkan club. Setelah keluar dari club, Diana melajukan motor yang dia kendarai menuju bandara dengan kecepatan tinggi.


**


Di Bandara.


Nizam berada di ruang tunggu VIP bandara, dia memeriksa beberapa dokumen bersama Naila dan Mila. Obrolan mereka bertiga sangat serius, dan tidak menyadari keadaan sekitar. Penumpang lain yang berada di ruang VIP terpana dengan sorang gadis yang baru memasuki ruangan yang mereka tempati. Penampilan gadis itu yang sangat dingin membuat mereka tidak berani melempar senyuman, apalagi menyapanya.


Bruk!

__ADS_1


Gadis itu meletakkan ransel dan jaket kulitnya diatas meja. Membuat Nizam dan dua sekretarisnya terperanjat.


“Diana, akhirnya kau datang juga,” sambut Nizam.


“Apa aku terlambat?” tanya Diana.


Naila dan Mila saling pandang, keduanya sangat terkejut menyadari Diana bisa bicara.


“Pesawat akan berangkat beberapa jam lagi,” sahut Nizam.


Diana segera duduk di sofa yang berseberangan dengan Nizam.


“Cofe?” tawar Nizam.


Diana menyetujui tawaran Nizam, tidak lama secangkir kopi tersuguh di depan mata Diana.


Mereka semua masih menunggu jadwal penerbangan mereka. Naila dan Mila tertidur, Diana menggunakan waktu yang ada untuk mempelajari tentang Riwayat calon pasienya. Sedang Nizam memainkan handphonenya untuk mengusir rasa bosannya.


“Kedua sekretarisku tertidur, kamu tidak mau tidur Diana?” tanya Nizam.


“Aku tidak mengantuk,” sahut Diana. Kedua matanya masih fokus pada layar laptop.


“Nizam. Kamu kenapa?” Diana langsung mengamankan laptop dan berkas yang terkena kopi. “Beruntung bagian luarnya waterproof,” gumam Diana.


Keterkejutan Diana membangunkan Naila dan Mila yang sedari tadi terlelap.


"Ada apa Nona?" tanya Naila.


"Tidak apa-apa, kopi tumpah." Diana mengamankan laptop dan dokumen ke meja di dekat Naila dan Mila. Diana kembali ke meja Nizam, ingin memberikan tisu untuk mengelap tumpahan kopi diatas meja, tapi ada yang janggal, Nizam tidak ada di sana.


“Apa maksudmu mengambil foto temanku secara diam-diam!?”


Diana sangat mengenali suara makian itu, Diana mencari dari mana suara itu. Tidak jauh darinya, terlihat seorang gadis yang berdiri berhadapan dengan Nizam, gadis itu terus menunduk. Diana segera mendekati Nizam, mencari tahu hal apa yang membuat Nizam semarah itu.


“Maaf Tuan, saya tidak bermaksud apapun, saya hanya mengagumi tubuh indah teman Tuan.” Wanita itu memberikan handphonenya pada Nizam. Dia memposting foto Diana di akun pribadinya, dengan caption pujian tentang tubuh Diana dan memiliki tubuh seperti itu adalah impiannya dan impian hampir semua wanita.


*Penguman kepada para penumpang ….


Mendengar pengumuman itu, semua calon penumpang pesawat segera mengambil bawaan mereka, begitu juga Naila dan Mila, mereka segera mengumpulkan barang-barang mereka. Sedang gadis yang berdiri di depan Nizam hanya terus menunduk, tak berani bergerak.

__ADS_1


Diana menepuk pundak Nizam, dia memberi isyarat agar segera bersiap menuju pesawat mereka. Nizam masih memastikan pengakuan gadis itu benar, dia memeriksa galery di handphone gadis itu. Hanya ada beberapa foto Diana, dan sudah dia posting di laman akun sosialnya. Perhatian Nizam tertuju pada foto saat Diana melepaskan jaketnya, dia bisa melihat di sana kalau tangan Diana terluka. Nizam memaafkan gadis itu, dia mengembalikan handphone pada pemiliknya. Gadis itu terlihat lega karena Nizam percaya padanya.


Nizam berlari mendekati Diana. “Kamu terluka lagi?” Nizam panik.


Diana tidak menjawab, dia mengambil ranselnya dan meminta salah satu sekretaris Nizam mengamankan dokumen dan laptop.


“Diana!”


“Hanya luka kecil, kamu tenang saja.”


Nizam membuang napasnya kasar, Diana dan kedua sekeretarisnya sudah berjalan mendekati petugas dan memberikan boarding pass.


**


Sudah hampir pagi, tapi Wilda tidak bisa tidur nyenyak, dia terbayang kemarahan Ayahnya tadi malam. Selama ini Ayahnya tidak pernah memakinya seperti tadi malam, hal itu membuat Wilda semakin kesal pada Diana, karena sebab Diana lah dirinya menerima kemarahan Ayahnya.


Di Hotel tempat Dillah dan Qiara.


Qiara sangat nyenyak, perlahan Dillah merebahkan Qiara pada bantal, setelah pergulatan mereka, Qiara tidur berbantalkan pergelangan tangan Dillah.


Tink!


Suara notifikasi handphone Qiara menyita perhatian Dillah. Dillah penasaran dengan sosok yang mengirimi Qiara pesan dini hari begini. Perlahan Dillah membuka handphone Qiara.


*Qiara, video yang kamu kirim sudah kami posting di internet dengan durasi 50 detik. Sebentar lagi Diana akan kembali viral.


Kedua mata Dillah terbelalak melihat video apa yang dimaksud si pengirim pesan. Dillah segera mencari  handphonenya, dan langsung menelepon Wilda.


“Ada apa Dillah? Qiara mengecewakanmu?” tanya Wilda.


“Tante, kenapa video itu disebar di internet?” Dillah sangat panik.


“Apa  maksudmu?”


Dillah menceritakan pesan masuk pada handphone Qiara. “Tante silakan cek postingan pengikut Qiara.” Dillah menyebutkan nama akun penggemar Qiara yang membagikan video rahasia itu.


“Dasar gegabah anak itu!” Wilda terdengar begitu kesal. “Kamu tangani masalah yang timbul di sekitar Ivan, untuk yang lain, biar menjadi urusanku.”


“Baik tante.”

__ADS_1


Hanya hitungan menit, video yang diposting penggemar Qiara mulai menjadi pembahasan para pengguna dunia maya. Nama Diana kembali menjadi perbincangan di dunia maya.


__ADS_2