Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 273


__ADS_3

Melihat yang datang adalah Tony, Yudha sangat kesal. Tony berjalan kearah Yudha dengan sambil memeluk tablet.


“Bunga-bunga yang tumbuh di semua pekarangan ini bukan bunga-bunga biasa, tolong … cukup hanya dengan memandang menikmati keindahannya, bukan memetiknya. Karena harganya di luar batas perkiraanmu. Kamu memang kaya, hanya saja aku ragu kamu mau mengganti rugi apa yang kamu petik.”


“Jangankan satu bunga, seluruh halaman ini aku mampu membayarnya!” ucap Yudha.


Tony tersenyum sinis mendengar jawaban Yudha. Dia memindai salah satu bunga. Hingga suara robot menyebutkan salah satu bunga yang bernilai 25.000 dollar.


“Walau yang ingin kamu petik itu tidak terlalu mahal, tapi itu adalah mawar Juliet, bunga ini salah satu jenis bunga mawar mahal yang terjual dengan harga jutaan dolar. Bunga Mawar Juliet, adalah jenis bunga mawar yang dikembangkan oleh David Austin dan membutuhkan waktu selama 15 tahun untuk bisa menciptakan bunga cantik tersebut."


"Bunga hothouse asal Itali ini, mempunyai aroma wangi yang tajam dan sensual." Tony menyebutkan nama bunga-bunga indah lainnya, yang ada di sana.


Diana mendengar suara berisik dari arah taman, terlihat Tony dan Yudha ada di dekat kebun Neneknya. Diana menghampiri mereka. “Aku tahu kalian sangat bahagia bisa bertemu di sini, tapi bisakah kalian mencari tempat lain untuk mengobrol?”


Yudha sangat sulit mempercayai reaksi Diana, dia terlihat sangat santai seolah pekarangannya hal biasa, padahal pekarangan itu seperti tambang.


"Aku ingin ke sungai saja, suasana di sana sangat sejuk, pamit Tony.


"Aku mau mencari Dillah." Yudha berjalan kearah depan rumah Nenek Zelin.


***


Di kota.

__ADS_1


Saras semakin bingung, selama ini Diana memang tidak pernah menipu siapa-siapa, karena dia menyembunyikan identitasnya, selain itu dia pribadi yang sangat menyenangkan.


Saras terus melangkah, dia tidak memperhatikan keadaan. Pikirannya terus berputar tentang Diana, dia merindukan temannya itu, namun juga dia merasa tidak pantas berada di dekat Diana.


Brukkk!


Tiba-tiba Saras bertabrakan dengan seseorang, dan hampir membuatnya jatuh. Beruntung orang yang dia tabrak menolongnya, hingga pantat Saras selamat dari mencium lantai marmer.


"Kalau jalan gunakan matamu!" tegur orang itu.


Saras menegakan pandangannya, yang ada di depannya saat ini adalah laki-laki impiannya, Lucas. Namun perasaan untuk Lucas seakan lenyap, hatinya saat ini hanya merindukan Diana.


Tlek! Tek!


"Aku jalan pakai kaki, bukan pakai mata!" sahut Saras. Saat ini perasaanya sangat buruk, dia segera pergi dari sana, dan berjalan cepat menuju kamarnya.


Lucas semakin bingung dengan sikap Saras. Sebelumnya Saras selalu bersikap manis dan selalu berusaha menarik perhatiannya.


***


Di luar Negri.


Setelah melewati pemeriksaan pertamanya, Rani dan Sofian harus bersabar menunggu tindakan selanjutnya. Saat ini mereka berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Rani dan Sofian mengantri makanan di salah satu Restoran.

__ADS_1


Antrian cukup panjang, melihat gilirannya masih lama, Sofian berbisik pada Rani. "Papa kebelet mau pipis, mama bisa papa tinggal sebentar?"


Rani menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Sofian. Sedang Sofian langsung berlari menuju toilet. Antrian di belakang Rani semakin panjang, tidak terasa akhirnya sampai pada giliran Rani.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"


Rani mengambil handphonenya untuk bersiap mengetik menu yang dia pesan.


"Sangat tidak sopan sekali Anda, di tanya malah sibuk bermain handphone!" ucap salah satu pengunjung yang ada di belakang Rani.


Tubuh Rani bergetar hebat, dia teringat pernah memaki Diana saat Diana sibuk mengetik jawaban untuk menjawab pertanyaan Ayahnya.


Rani ingin memberitahu kalau dirinya tidak bisa bicara, namun ketikan jemarinya tidak secepat ucapan mulut pelanggan lain. Keributan pun terjadi. Rasanya Rani sangat menyesal karena tidak mendengarkan saran Diana untuk belajar bahasa isyarat. Rani berpikir itu sebuah hinaan Diana saja, andai saat ini dia bisa memberi isyarat kalau dirinta tidak bisa bicara, maka kesalah fahaman ini tidak perlu berlarut.


Kata hinaan dan makian terus tertuju pada Rani, hingga jempol Rani tidak bisa mengetik sebuah kata. Hinaan mereka sangat biasa, namun hatinya sesakit ini. Sedang dulu, dia menghina Diana lebih kacar dari hinaan dan makian mereka.


"Ada apa ini?"


Suara itu menyadarkan Rani dari lamunannya.


"Ini, wanita paruh baya ini di tanya pesanan apa, malah memainkan handphone," adu pelanggan lain.


"Maafkan istri saya, dia bukan memainkan handphone, tapi dia ingin memesan makanan dengan sebuah ketikan, mohon maaf, istri saya tidak bisa bicara," ucap Sofian.

__ADS_1


Beberapa pengunjung lain langsung minta maaf pada Rani, sedang sebagian pergi begitu saja. Melihat mereka yang pergi begitu saja, Rani seakan berceemin dengan kejadian saar dia berseteru dengan Diana. Dia teringat saat Diana tidak terbukti bersalah, dia tidak pernah minta maaf, dia malah pergi. Mendapat perlakuan seperti itu, rasanya hati Rani dijepit dua batu besar yang sangat kuat. Sakit, hanya itu yang dia rasakan saat ini.


__ADS_2