Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 135 Tidak Mungkin Dia


__ADS_3

Ivan terus maju mendekati Diana, membuat Diana terpojok di dinding. Ivan mengambil laptop yang Diana pegang, dan meletakkannya di meja yang ada di dekatnya. Posisi mereka masih saling berhadapan. Ivan menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Sebelum aku mengatakan hal penting ini, kamu mau menjelaskan sesuatu?”


Diana tegang, tapi masih berusaha memasang raut wajah bingung, seolah dia tidak mengerti apa pertanyaan Ivan.


“Baik kalau kamu tidak mau bicara, biar aku yang mengatakan beberapa hal.”


“Diana.” Ivan memegang kedua telapak tangan yang begitu indah itu.


“Aku tidak ingin ada kesalah fahaman diantara kita.” Ivan menunduk sejenak, berulang kali dia menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. “Aku tidak tahu atas dasar apa nenekmu mempercayakan permatanya padaku, aku bukanlah orang baik, tapi aku juga tidak terlalu jahat. Kamu harus tahu hal ini, agar kamu tidak kecewa padaku di lain hari nanti.”


Huhh!


Diana menghembuskan napasnya perlahan, dia sangat lega, dia pikir Ivan mengatakan hal yang berkaitan dengan IMO dan dirinya. “Ha ha ha!” Diana berusaha mengusir ketegangan dengan tawa kecilnya. “Aku pikir kamu mau bilang apa gitu, ternyata ...." Diana menggelengkan kepalanya pelan.


Diana balas menatap Ivan. "Untuk hal itu kita sama, aku juga bukan orang baik, tapi juga tidak terlalu jahat."


“Kamu tidak kecewa padaku?” Ivan menatap Diana dengan tatapan yang begitu dalam.


“Pasanganmu cerminan dirimu, mengingat bagaimana jeleknya aku, bagaimana mungkin aku berharap memiliki pasangan yang sempurna?” Diana menatap Ivan dengan tatapan santai.


“Baguslah, setidaknya kamu sudah tahu kalau aku memiliki sisi buruk. Selain itu aku juga orang yang keras."


"Aku bisa menangkap hal itu, buktinya Dillah, dia langsung kamu kubur saat mengkhianatimu."


"Aku senang karena kamu tidak kecewa padaku. Ya sudah, kerjakan sana tugasmu." Ivan beranjak dari posisinya dan melangkah menuju pintu.


“Ivan.”


Langkah Ivan seketika terhenti kala Diana memanggilnya. Dia berbalik menoleh kearah Diana. “Ada apa?”


“Kamu yang membelikan ini?” Diana memperlihatkan satu boneka beruang kecil warna biru pada Ivan.


“Bukan, mungkin Dillah yang membelikannya untukmu.”


Diana menatap kembali boneka kecil yang dia pegang.


“Boneka itu terlalu imut dan lucu, tidak cocok denganmu, kalau aku yang membeli, mungkin aku akan belikan boneka bajak laut, hmm … sepertinya itu juga tidak pas.” Ivan menumpukan dagu pada tangannya, terlihat berpikir boneka apa yang pantas dengan Diana. “Rasanya kebanyakan boneka imut dan lucu, mereka tidak pantas menjadi mainanmu.”


Diana sangat kesal dengan jawaban Ivan, dia melempar boneka yang dia pegang kearah Ivan, namun meleset, Ivan sudah berlari keluar dari kamar Diana, dan langsung menutup pintunya.


Di luar kamar Diana, Ivan tersenyum melihat kekesalan Diana, dia senang ternyata Diana memperlakukan baik boneka kecil yang dia beli untuk Diana.

__ADS_1


Setelah dari kamar Diana, Ivan kembali ke Apartemen Yudha. Ivan heran melihat beberapa petugas keluar masuk dari Apartemen Yudha.


“Ada apa Yudha?” tanya Ivan.


“Tidak ada apa-apa Van, nanti malam aku akan mengadakan Barbeque di sini, sambil menunggu rencana yang sudah kita susun, kita santai di sini sambil makan-makan.” Yudha memperlihatkan semua perlengkapan Barbaque yang dia siapkan.


**


Di sisi kota yang lain ….


Sebuah mobil mewah keluar dari area Bandara, mobil itu melaju cepat menuju salah satu hotel bintang 5 yang dekat dengan bandara. Saat mobil mewah itu berhenti di depan pintu utama Hotel, seorang pemuda tampan dengan setelan jas keluar dari mobil mewah itu. Dia berjalan santai menuju meja receptionis dan mengambil kunci kamar hotelnya di sana. Beberapa pelayan hotel ingin menemaninya tapi dia tolak, dia berjalan sendirian menuju lift.


Tink!


Pintu lift terbuka.


“Tuan Muda?” Laki-laki itu sangat kaget melihat Ketua IMO terdahulu ada di dalam lift.


“Cepat masuk Tony, aku ke sini untuk menjemputmu.”


Tony segera masuk kedalam lift. Archer menekan lantai paling tinggi di hotel itu. Setelah mereka sampai di lantai teratas, keduanya harus menaiki anak tangga untuk sampai di atap Gedung. Sesampai di atap Gedung, Tony kembali terkejut saat melihat satu hellykopter ada di sana.


“Cepat naik, aku akan mengantarmu ke tempat persembunyianmu untuk sementara waktu,” ucap Archer.


**


Malam menyelimuti kota itu. Diana seharian ini menyelesaikan beberapa tugas kuliah dari kamarnya. Tiba-tiba aroma yang sangat menggugah selera menggoda indera penciumannya. Diana bangkit dari posisinya berusaha mencari sumber wangi makanan itu. Saat dia sampai di balkon kamarnya, di sisi yang lain terlihat Yudha dan Dillah asyik memanggang makanan di sana. Diana memandangi berbagai menu Barbeque yang Dillah dan Yudha panggang, dia hanya menelan salivanya membayangkan nikmatnya panggangan Dillah dan Yudha.


“Hei Diana, apa kau hanya melihat dan berdiam diri saja di sana?”


Sapaan Yudha membuat Diana tersadar dari lamunannya mengagumi bakar-bakaran itu.


“Ayo kemari, kita makan malam bersama,” ajak Yudha.


"Oke, aku segera ke sana."


Diana bergegas menuju kamar Yudha. Deringan handphone membuat Diana menghentikan langkahnya, saat dia melihat identitas pemanggil adalah nomor asing yang sangat dia ingat. Diana segera menerima panggilan telepon itu.


“Iya Tony?”


“Ketua, terima kasih banyak, kini saya sudah aman. Saya bisa selamat karena pertolongan Anda, maafkan saya karena baru memberi kabar, saya sudah sampai di tempat nenek Ketua.”

__ADS_1


Karena ada batas panggilan, Tonny langsung memutuskan panggilan mereka. Diana menghapus Riwayat panggilan masuk, dan meneruskan langkahnya menuju Apartemen Yudha. Saat Diana memasuki Apartemen Yudha, dia langsung menuju balkon.


“Ayo Diana, kemarilah. Kita makan malam bersama. Kamu mau apa?” Ivan memperlihatkan semua menu yang sudah matang dan tersusun rapi diatas meja.


Diana tidak menjawab, dia langsung duduk di salah satu kursi dan memandangi semua menu.


“Minumanmu.” Ivan memberikan sebotol bir yang telah dibuka pada Diana.


Diana ragu menerima bir yang Ivan berikan, mengingat tutupnya sudah Ivan buka. Diana takut Ivan ingin menjebaknya dengan membuat dirinya mabuk. Diana masih was-was, hatinya mengatakan Ivan sudah mencurigainya. Tapi Diana tetap menerima bir yang Ivan berikan, dan menaruhnya di dekatnya.


“Kenapa tidak diminum?” tanya Ivan.


“Aku ingin makan dulu.” Dengan santai Diana mengambil satu menu yang paling dekat dengannya.


Ivan ingin bertanya lagi, tapi deringan handphone Yudha membuat Ivan menahan ucapannya.


“Dillah, kamu jaga panggangan ini, kalau matang sajikan saja, aku ingin menerima panggilan dulu. Ini nomor penting.” Yudha menoleh kearah Ivan. "Ketua keamanan yang aku sewa untuk menangkap Wakil Ketua IMO, menelepon."


"Cepat angkat!" titah Ivan.


Yudha langsung meninggalkan panggangan, dan berbicara dengan seseorang di ujung telepon sana.


Wajah Yudha terlihat begitu kesal, membuat Ivan khawatir pada Yudha. Dillah telah selesai memanggang, Dillah meletakan satu piring panggangan terakhir di meja kecil di dekatnya, dia segera mendekati Ivan.


Di sudut sana, Yudha juga terlihat menyudahi pembicaraannya, Yudha langsung mendekati Ivan dan Dillah.


“Rencana kita untuk menculik Wakil Ketua IMO gagal, rencana kita telah bocor! Sepertinya ada pengkhianat diantara kita!” Wajah Yudha sangat frustasi.


Mengingat ucapan Yudha 'ada pengkhianat diantara mereka' membuat sorot mata Yudha, Dillah, dan Ivan kompak tertuju kearah Diana. Ketiganya saling pandang, karena memiliki kecurigaan yang sama. Di sana Diana terlihat begitu santai menikmati semangkuk mie dengan potongan daging panggang dan sosis panggang.


“Tidak mungkin Dia."


Ivan, Yudha, dan Dillah kembali saling pandang, karena mereka mengucapkan kalimat yang sama.


***


Bersambung.


***


Kenapa muter? Ya beginilah kerangka yang aku terima.

__ADS_1


Bebas komplain, kali aja dibaca oleh pemilik ide cerita ini, aku Author hanya mengembangkan kata, bukan menentukan alur. Ingat kembali, ini Misi Kepenulisan.


__ADS_2