Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 184 Ganti Mobil


__ADS_3

Sesampai di Asramanya, Diana langsung menelepon Tony.


“Iya Ketua.”


Sapaan Tony langsung menyambut pendengaran Diana.


“Biasakan memanggilku dengan namaku, jangan terbiasa memanggilku Ketua, karena sebentar lagi kita akan berbaur dengan masyarakat umum,” protes Diana.


“Baik, Kett—” Tony menahan ucapannya. “Baik, Diana.” Ucapnya lagi.


“Tony, kamu jadwal ulang keberangkatan kita, kalian berangkat dengan penerbangan awal, sedang aku dan temanku penerbangan selanjutnya.”


"Kenapa kita harus berangkat beda penerbangan?" tanya Tony.


"Jaga-jaga saja, biar tidak terlalu mencolok. Sesampai di Jerman, kalian langsung ke Asrama yang di sediakan Tuan Muda."


"Baik Diana, aku periksa jadwal penerbangan hari ini dulu."


Dengan sabar Diana menunggu Tony memeriksa jadwal penerbangan menuju Jerman hari ini.


“Untuk hari ini sepertinya penerbangan ke Jerman tinggal satu, hanya adanya besok pagi lagi.”


“Baiklah, atur penerbangan ke Jerman nanti sore untuk kalian, dan besok pagi aku dan temanku,” ucap Diana.


“Siapa dia, ketua?”


“Dillah, Asisten pribadi Ivan."


"Baik Nona, saya akan atur keberangkatan Anda besok.


Diana langsung menutup sambungan telepon mereka.


Keesokan paginya.


Ivan dan Dillah pagi-pagi sudah berada di Universitas Bina Jaya. Senyuman Ivan kian merekah saat melihat Diana berjalan kearah mereka.


“Ku harap kamu tidak keberatan jika aku mengantarmu ke Bandara,” ucap Ivan.


“Aku keberatan pun kamu tidak akan mendengarkanku.” Diana masuk begitu saja ke dalam mobil.


Ivan segera menyusul Diana, dia duduk berdampingan dengan Diana, di bagian depan ada Dillah dan supir kantor mereka.


“Jika di sana Dillah merepotkanmu jangan segan-segan untuk menghabisinya,” ucap Ivan.


“Bilang saja Anda cemburu Tuan, tenang saja aku akan jadi anak kucing yang patuh pada Nona, semoga saat kami kembali, Anda tidak dendam padaku, karena aku hanya patuh pada Nona, dan aku tidak melapor apa pun pada Anda, tanpa izin dari Nona,” sahut Dillah.


"Kau?!" Ivan sangat geram.


"Good, Dillah, aku suka kalau kamu hanya takut padaku," ucap Diana.


"Kalian berdua ... Arggg!" Ivan semakin geram.


"Bukankah Tugas Dillah menjagaku, bukan jadi CCTV dirimu?" goda Diana.


***

__ADS_1


Perlahan mobil melaju meninggalkan area Universitas. Lumayan lama tenggelam dalam kebisuan selama perjalanan, akhirnya Diana, Ivan, dan Dillah sampai di Bandara. Diana melenggang begitu saja menuju ruang tunggu, koper miliknya dibawakan Dillah.


Ivan tidak bisa apa-apa, dia diam menatap Diana yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


“Dillah.”


“Iya, Tuan.”


“Setelah sampai di negara tujuan kalian, segera kabari aku.”


“Baik, Tuan. Tapi, bolehkan saya meminta satu hal?”


“Apa?” tanya Ivan.


“Sediakan aku sambungan aman untuk menghubungi Anda, aku takut musuh Nona melacak komunikasi orang-orang yang ada di sekitar Nona.”


“Aku akan meminta Narendra untuk melakukan itu.”


Dillah segera menyusul Diana menuju ruang tunggu. Tidak berselang lama, pengumuman terdengar, kalau pesawat menuju Jerman akan segera lepas landas.


Semua calon penumpang segera menuju pesawat. Saat Diana dan yang lainnya menuju tempat duduknya, tiba-tiba sosok yang duduk di samping tempat duduk Dillah membuatnya tercengang. Diana tersenyum kecut melihat sosok itu, persis seperti dugaannya, laki-laki itu akan berusaha keras untuk mengikuti mereka.


“Kalian?" Nizam sangat terkejut melihat keberadaan Diana dan Dillah.


“Nizam, apa kamu tidak mengerti privasi?" protes Diana.


"Apa Nizam ikut dalam perjalanan kita nanti, Nona?" tanya Dillah.


“Jangan lancang kamu, panggil aku Kakak, karena aku adalah senior Diana,” ucap Nizam.


“Maaf Tuan-Tuan, apakah ada masalah?” tanya Pramugari.


Mereka segera menempati tempat duduk mereka. Dillah kesal melihat Nizam ikut di penerbangan mereka, dia mengambil handphonenya. Ingin mengirim pesan laporannya pada Ivan.


“Maaf, bisa simpan handphonenya atau aktifkan mode pesawat jika Anda tetap ingin menggunakannya.”


Dillah batal mengirim pesan pada Ivan, dia segera menyimpan handphonenya.


"Kenapa kamu bersikeras mengikutiku, Nizam?" tanya Diana.


"Aku tidak mengikutimu, saat ini aku melakukan perjalanan untuk bisnisku. seharusnya aku ke Jerman sejak kemaren, tapi aku batalkan."


"Owh ...." Diana sangat sulit mempercayai.


"Ternyata Tuhan saja ingin aku selalu membantumu, buktinya kita satu penerbangan, Diana."


Setelah beberapa jam penerbangan, akhirnya mereka sampai di Negara tujuan mereka, yaitu Jerman.


Saat mereka sudah turun dari pesawat, Nizam berjalan bersama Diana dan Dillah.


"Ku rasa, kita harus berpisah di sini, Nizam. Bukankah katamu kamu datang untuk bisnis bukan mengikutiku?" ucap Diana.


"Ya, sampai jumpa lain waktu Diana."


Mereka berpisah. Saat Diana sudah jauh dari pandangannya, Nizam langsung menelepon bawahannya.

__ADS_1


"Bisa rapat yang akan aku hadiri di tunda?"


"Tidak bisa, Tuan. Kalau di tunda lagi, mereka akan merasa di permainkan, kemaren rapat sudah di tunda satu kali."


Nizam menutup teleponnya, dia langsung menghubungi anak buahnya yang lain.


"Kalian di mana?"


"Masih di Jerman, bukankah Anda mengutus kami menunggu tiga orang yang ada di foto kemaren?"


"Bagus! Tapi yang harus kalian ikuti saat ini hanya dua, yang wanita. Wanita itu datang dengan temannya yang lain."


"Karena dua orangnya sudah mendarat di sini, kemaren Tuan, karena hanya melihat dua orang, sebab itu kami membagi tugas, dua dari kami memantau yang sudah datang, aku sendiri memantau di bandara sejak kemaren."


Nizam sangat kesal mengetahui hal ini, Diana sengaja berangkat dengan pesawat yang berbeda dengan dua temannya.


Keberuntungan berpihak padaku, Diana. Aku ke sini untuk bisnis, malah satu pesawat denganmu.


"Yang perempuan sudah sampai di bandara," ucap Nizam.


"Baik Tuan, sepertinya kami sudah melihat target kami, dia akan meninggalkan badara dengan sebuah minibus."


Nizam sangat bahagia mengetahui anak buahnya sudah menemukan Diana. "Bagus, ikuti terus dia dan kabari aku."


Selesai memberi perintah pada anak buahnya, Nizam segera menuju hotel tempatnya mengadakan rapat selama satu bulan kedepan.


***


Diana dan Dillah berjalan bersama, di depan sana sudah ada mobil yang menjemput mereka. Setelah keduanya masuk ke dalam mini bus itu, mobil perlahan melaju meninggalkan Bandara.


"Pak, kita memutar ya, jangan langsung ke tujuan."


Supir yang mengemudikan mobil melihat spion kecil di depannya, terlihat ada sebuah mobil yang mengikuti mereka sejak meninggalkan bandara. Dia faham kenapa Diana meminta agar memutar lebih lama. Perlahan mobil mini bus itu memasuki sebuah gedung, sesampai di sana mereka berganti mobil.


Dillah tidak bertanya, mengapa mereka ganti mobil, setelah berpindah, mereka meneruskan perjalanan lagi. Beberapa jam menempuh perjalanan, supir itu lagi-lagi meminta mereka turun, dan menaiki mobil yang lain. Selama perjalanan mereka sudah menumpangi 3 mobil yang berbeda.


Perjalanan yang di lalui lumayan jauh, Dillah beberapa kali melirik jam tangannya, menghitung waktu yang sudah mereka tempuh untuk perjalanan yang seakan tiada akhir ini. Dillah menghempas napasnya lega, akhirnya mobil yang dia tumpangi akhirnya berhenti juga.


Sebuah bangunan rumah kuno menyapa mereka, supir yang menjemput menurunkan barang-barang bawaan mereka. Sedang Dillah memandangi bagunan kuno yang masih berdiri kokoh di depan matanya.


Ceklak!


Pintu dengan arsitektur kuno itu terbuka, dan menampakan sosok laki-laki tampan. “Bagimana perjalanan kalian?” tanyanya.


Kedua bola mata Dillah seakan melompat keluat, mulutnya juga terbuka lebar saat melihat sosok yang menyambut mereka.


***


Utusan Nizam.


Melihat mobil mereka memasuki sebuah gedung, mereka langsung menelepon Nizam.


"Tuan, target Anda berada di sebuah gedung." Mereka menyebut nama gedung itu.


"Baguslah, pantau mereka, kalau bisa cari tahu mereka menginap di Apartemen bagian mana, usahakan kalian menyewa tempat yang dekat."

__ADS_1


"Baik Tuan."


Satu rekannya yang lain, langsung meretas data kumputer gedung itu, mereka berusaha mencari tahu Diana menyewa Apartemen yang mana.


__ADS_2