Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 46 Maafkan Aku


__ADS_3

Sebelum bertemu Wanita yang ada di dekatnya ini, banyak kata yang ingin Fredy ucapkan, saat dia masih berangan 'andai bisa bertemu'. Tapi, setelah bertemu, dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. “Diana bisa kita bicara?”


Diana menghela napasnya kasar. “Ikuti aku.” ucapnya.


Fredy langsung menelepon anak buahnya, agar mengambil mobilnya yang terparkir di depan halte bus dekat Gedung Agung Jaya group, sedang dia mengikuti Diana. Diana terus melangkah cepat di depan Fredy, walau ketinggalan akhirnya Fredy bisa bernapas lega saat melihat Diana masuk ke sebuah café. Tempat duduk yang paling ujung di dekat jendela menjadi pilihan Diana, dia duduk di sana, dia hanya diam wajahnya pun tidak ber-expresi apapun. Beberapa saat kemudian Fredy duduk di kursi yang ada di seberangnya dan memberikan satu gelas teh yang dia pesan sebelumnya.


“Terima kasih,” ucap Diana dengan nada yang sangat dingin. “Terima kasih atas bantuanmu telah menangani keluarga Harisons.”


Fredy menatap begitu dalam kearah Diana. “Sebuah kehormatan bagiku bisa membantu kamu, Diana.”


“Jadi ... kamu tidak perlu berterima kasih, Diana.”


“Owh, kalau begitu aku pergi dulu.” Diana segera beranjak dari posisinya, melihat Diana berdiri, Fredy pun refleks ikut berdiri.


Saat Diana mengaitkan tas ke bahunya, dengan jelas mata Fredy melihat perban yang membalut kedua telapak tangan Diana. “Kenapa kedua telapak tanganmu bisa terluka?” Suara Fredy terdengar bergetar, raut wajahnya pun seketika diselimuti kekhawatiran.


Diana tidak mempedulikan pertanyaan Fredy, dia menruskan niatnya untuk pergi dari café ini, saat Diana melintas di samping Fredy, Fredy ingin meraih tangannya, namun sebelum itu tercapai Diana lebih dulu mendorong laki-laki itu agar menjauh darinya.


"Jangan berani menyentuhku!"


Fredy merasa bersalah karena terlalu lancang berusaha menyentuh Diana. “Maafkan aku, Diana.” Pandangan mata Fredy masih tertuju pada tangan Diana yang kini tersembunyi di ujung lengan Panjang bajunya. “Kenapa kamu bisa terluka? Dan bagaimana lukamu?”


Diana memandangi kedua telapak tangannya yang berbalut perban. “Hanya luka kecil, tidak apa-apa,” jawab Diana dingin.


“Luka kecil? Kenapa harus di perban?”


Sesaat Diana terdiam. Kemudian senyuman yang begitu dingin dan kaku terukir di wajahnya. "Tidak perlu sekhawatir itu."


Diana menoleh kearah kiri dan kanannya, memastikan keadaan aman untuk terus berbicara. “Beberapa waktu lalu, aku memang meminta bantuan pengacara Nizam untuk berbicara denganmu, untuk meluruskan semua masalah keluarga Harisons dan Agung Jaya. Apa karena hal itu kamu berpikir aku memberimu kesempatan agar kau bisa dekat lagi denganku?"


"Kalau demikian pemikiranmu, maka Anda salah besar Tuan Fredy, dan Anda salah faham atas apa yang terjadi sebelumnya.”


Fredy menunduk, terdengar hembusan napas yang begitu kasar dari arahnya, sejenak dia menegakkan wajahnya kembali dan menatap Diana. “Aku tidak pernah memikirkan hal itu, Diana.” Ucapnya pelan.


“Terus apa maksudmu dengan keadaan sekarang ini? Apa tujuanmu berusaha menemuiku dan ingin berbicara denganku?”


Fredy tidak bisa menjawab. Lidahnya seketika terasa kelu.

__ADS_1


“Kau terlalu emosional! Egois! Suka mengambil keputusan sendiri tanpa mempertimbangkan sebab dari tindakanmu. Kamu juga tidak pernah memikirkan perasaan orang lain!” Wajah Diana terlihat begitu kesal dan menahan kemarahan yang teramat besar.


Tett! Tett! Tett!


Tiba-tiba handphone Diana berdering, perhatian Diana terpecah, dia segera memeriksa layar handphonenya.


^^^Waktunya minum obatmu^^^


Ternyata itu adalah alarm yang Ivan setel, artinya saat ini waktunya dia meminum obatnya. Teringat sosok Ivan, aura dingin yang sedari tadi menyelimuti Diana seakan mencair, Diana yang tadi kesal dan gusar, sekarang merasa sedikit tenang, kemarahan yang tadi mulai menyala seketika padam. Diana menghirup napasnya begitu dalam dan menghembuskannya perlahan. Merasa lebih lega, dia membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Diana menaruh sesuatu di telapak tangan Fredy. “Ini untukmu.” Diana memberikan sebuah kartu pada Fredy. “Ambil uang dengan kartu itu, berapapun dan sebanyak apapun yang kamu mau, ambillah.” Diana pun pergi begitu saja meninggalkan Fredy.


Fredy menatap nanar kartu yang ada di tangannya. Ada perasaan yang sulit untuk Fredy utarakan, rasa bersalah dan penyesalan yang teramat besar membuat lidahnya tidak bisa mengucapkan kata-kata. Fredy langsung menyusul Diana, saat dia keluar dari café, Diana sudah hampir sampai di jalan utama. “Diana!” panggilnya.


Panggilan Fredy berhasil menghentikan langkah Diana, Wanita itu menoleh kearahnya. Secepat yang dia bisa Fredy berlari mendekat pada Diana. Dia memberikan. kartu itu pada Diana. “Aku tidak pantas menerima imbalan apapun darimu.”


Pandangan mata Fredy begitu dalam. “Aku banyak berhutang padamu Diana, jangankan masalah kecil seperti ketegangan keluarga Harisons dan keluarga Agung. Masalah yang sangat besar pun aku siap membantumu dan pasang badan untuk membantumu.”


Diana membalas tatapan mata Fredy dengan tatapan yang begitu dingin.


“Sejak lama aku ingin mengatakan ini Diana. Tapi, aku tidak punya kesempatan untuk mengatakannya.” Sesaat Fredy terdiam mengumpulkan keberaniannya untuk meneruskan ucapannya. “Diana, maafkan aku atas kejadian satu tahun yang lalu,” ucapnya lirih.


Fredy mematung berdiri di posisinya, matanya terus memandangi punggung Diana yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Melihat Diana berdiri di tepi jalan, seketika kilasan bayangan satu tahun seakan terulang.


Satu tahun yang lalu ….


Seorang Wanita berdiri di tepi jalanan sepi, di sekitarnya banyak darah berceceran di mana-mana. Hujan lebat pun turun kala itu, hingga di tempat itu seakan menjadi sungai darah, karena air hujan yang menyapa permukaan tanah menjadi merah, karena bercampur dengan darah, hingga air hujan yang ada di permukaan tanah bewarna merah.


Drtttt!


Getaran handphone Fredy menyadarkannya dari lamunan kilasan masa lalu. Dia segera meraih handphonenya. Melihat nama sekretarisnya. Fredy  pun langsung mengangkat panggilannya.


“Iya, Thar?”


“Tuan, mobil Anda sudah dibawakan oleh supir Anda ke kantor. Kapan Anda ingin dijemput?"


"Nanti aku kabari."

__ADS_1


"Baik Tuan."


“Oke. Ada lagi?”


“Hanya itu Tuan."


“Athar ….”


“Iya Tuan ….”


“Bisa kamu cari tahu informasi tentang Diana Rahma Adelia Bramantyo? Cari tahu sedetail-detailnya, kenapa kedua telapak tangannya bisa terluka.”


“Diana Rahma cucu Nyonya Zelin sang legenda?”


“Iya.”


“Anda yakin Tuan ingin mencari tahu tentang Diana?”


“Sangat yakin.”


“Maaf, Tuan. Apakah Anda berusaha untuk mendekati dia lagi?”


Fredy terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan sekretarisnya.


“Maaf, Tuan. Bukan saya lancang dan mencampuri urusan Anda. Tapi saat ini, Diana cucu Nyonya Zelin sudah bertunangan.”


“Dia bertunangan atau tidak, itu bukan masalah. Aku hanya ingin tahu, kenapa tangan Diana bisa sampai terluka.”


“Baik Tuan, saya mengerti. Tapi, bolehkan saya memberi sedikit saran?”


“Silakan.”


“Jika Anda berusaha mendekati Diana lagi, sebaiknya semuanya Anda perhitungkan, jangan sampai Anda mengambil langkah yang salah lagi, Tuan.”


****


Kejadian apa 1 tahun yang lalu?

__ADS_1


Sama othor pun penasaran. 🤣🤣🤣🤣


Kita sama-sama tidak tahu sobat.


__ADS_2