
Keinginan Nenek Zelin untuk Diana dan Ivan mengadakan Resepsi di desa segera diwujudkan, sebuah lapangan luas di dekat pintu gerbang desa menjadi pilihan Nenek Zelin. Berbagai persiapan mulai dikebut oleh orang-orang yang dipercayakan Nenek Zelin. Langit sore di desa itu sangat indah, di sebuah ruangan yang ada di rumah Nenek Zelin, Diana diminta mencoba gaun pengantin untuk dikenakan saat pesta nanti.
“Diana ….”
Suara teriakan itu memecah kesunyian, karena mereka semua terpukau dengan kecantikan Diana saat mengenakan gaun pengantin putih. Sedang Diana tersenyum mendengar suara itu, karena dia hafal pemilik suara itu. Diana berjalan pelan sambil mengangkat ujung gaun pengantinnya.
“Hei Saras, akhirnya kau sampai juga.” Diana membuka kedua tangannya meminta gadis itu masuk kedalam pelukannya.
Saras mematung melihat Diana mengenakan gaun pengantin.
“Apa yang ada di depan mataku ini? Apakah saat ini malaikat menanggalkan sayapnya demi berpijak di bumi ini?”
Diana terpaku melihat sosok wanita yang baru turun dari mobil. “Tante Zana ….” Melihat ibu Lucas ikut datang, Diana menoleh kedalam rumah. “Nenek … Tante Zana datang Nek ….”
Diana kembali menoleh pada Saras. “Kenapa diam saja di sana? Tak rindu padaku? Ayo sini peluk aku, aku tidak bisa ke sana, gaun ini terlalu Panjang.”
Saras tersadar dari lamunanya, dia berlari kearah Diana dan memeluk temannya itu. “Maafkan aku ….” Isak Saras.
“Maafkan aku juga, aku tidak bermaksud untuk membohongimu.”
Saat yang sama Nenek Zelin muncul di pintu utama, kursi rodanya didorong oleh Ivan. Nenek Zelin sangat bahagia melihat Lucas dan ibunya pulang.
“Aku tidak tahu harus berkata apalagi, aku sangat bahagia melihat kedua cucuku pulang, aku sangat bahagia melihat Anakku pulang.”
Zana menangis, suaminya hanyalah anak angkat Nenek Zelin, Tapi Nenek Zelin selalu menganggapnya sebagai seorang anak.
“Kenapa menangis di sana, Zana? Kemarilah aku sangat merindukanmu.”
Zana dan Lucas segera mendekati Nenek Zelin, keduanya langsung memeluk erat Nenek Zelin.
Suasana haru yang sangat membahagiakan mewarnai sore di kediaman Nenek Zelin. Diana bertemu teman baiknya, Nenek Zelin juga berkumpul dengan Lucas dan juga ibunya.
“Kalian harus menginap di sini sampai resepsi pernikahan Diana selesai. Ini … dia suami Diana.” Nenek Zelin begitu bangga memperkenalkan Ivan sebagai suami Diana.
Diana melepaskan pelukannya pada Saras. “Aku sangat bahagia kamu di sini, nanti di sini akan diadakan resepsi pernikahanku.”
“Aku juga sangat bahagia bisa memelukmu lagi,” ucap Saras.
“Nanti kita bicara lagi, malam ini kita harus tidur sekamar,” ucap Diana.
“Bagaimana nasib suamimu?” tanya Saras.
__ADS_1
“Hanya malam ini tidak tidur denganku, bukan berarti kiamat untuknya,” ucap Diana. Diana meraih tangan Saras. “Aku tinggal sebentar ya ….”
Saras mengangguk dan memberikan senyuman termanisnya. Sedang Diana menyapa Lucas, dan memeluk ibu Lucas.
**
Di kediaman Kakek Agung.
Mendengar Diana dan Ivan akan mengadakan resepsi di desa, Rani mematung.
“Resepsi tetap akan berjalan, dengan restumu atau tanpa restumu,” ucap Kakek Agung.
Dengan tangan yang gemetaran Rani mulai mengetik.
*Aku ingin datang dan memberi restu untuk mereka.
Kakek Agung dan Sofian saling pandang setelah membaca jawaban Rani.
“Yakin? Medan ke desa itu tidak mudah. Aku tidak yakin kamu bisa bertahan selama 1 jam setelah memasuki hutan,” ucap Sofian.
*Yakin, perbuatanku pada Diana sangat kelewatan, berjuang sehari atau sebulan untuk memasuki hutan masih tidak sepadan dengan maaf darinya.
“Baiklah, besok kita mulai perjalanan Panjang kita menuju desa Diana,” ucap Sofian.
Kakek Agung memahami isyarat Sofian. “Masih … tanyakan saja pada kepala pelayan.”
Sore itu Rani harus menghabiskan ramuan herbal yang diseduh Sofian. Rasa yang tidak enak harus Rani abaikan, dia ingin berhasil masuk hutan dan bertemu Diana.
**
Di desa Diana, mereka semua mengadakan pesta kecil-kecilan menyambut kedatangan kembali Zana, dan juga orang-orang terdekat Nenek Zelin ingin mengenal Ivan lebih dekat. Saras sangat terharu berada di tengah-tengah keluarga Diana, di sana dia tidak disambut dan dilayani sebagai tamu, tapi dia dilayani sebagai keluarga.
Malam itu pun Saras dan Diana berbagi tempat tidur. Di luar suara musik dan tawa para warga samar terdengar, namun Diana dan Saras memilih untuk beristirahat.
“Saras, Aku belum bicara pada profesorku, namun jika beliau memenuhi permintaanku, apa kamu mau belajar padanya?”
“Kau gila Diana? Tentu aku mau!”
“Ya sudah, besok aku akan menemui profesor, jadi selama di sini selain kamu bersenang-senang bersamaku, kamu juga bisa sambil belajar pada guruku.”
“Terus bagaiman kuliahmu di Universitas?” tanya Saras.
__ADS_1
“Aku tidak kuliah lagi, sebagai perminta maafan ku pada semua orang, aku membuka kelas di sana. Setelahnya aku fokus dengan tugasku sebagai dokter bedah dan seorang istri.”
“Kita tidak bisa bertemu lagi dong ….”
“Pasti kita bisa bertemu, aku kerja di Rumah Sakit Pendidikan yang berkaitan langsung dengan Universitas Bina Jaya, saat kamu bertugas di sana untuk kuliahmu, tentu kita bertemu bukan?”
“Aku tadinya takut, kamu berteman denganku hanya kasihan denganku.” Saras memeluk erat Diana.
“Kamu tulus, dan aku mencintai siapa saja yang memberi ketulusan.”
**
Keesokan harinya.
Setelah sarapan bersama, profesor Hadju mendatangi rumah Nenek Zelin. Diana tidak membuang waktu, dia mengatakan rencananya, agar profesor bersedia mengajari temannya selama dia ada di sini.
“Temanku pada dasarnya cerdas, hanya saja dia seperti kesulitan memahami setiap pelajaran Prof.”
“Dia berarti bagimu?”
“Sangat ….”
“Kamu tahu sendiri, murid khususku hanya Russel, Nizam dan dirimu. Karena kamu sangat menyayangi temanmu, maka aku bersedia mengajarinya. Bahkan dia boleh terus belajar bersama 10 mahasiswa Universitas Bina Jaya pilihanmu nanti."
Yudha tidak sengaja mendengar kalau Nizam salah satu murid Profesor Hadju, dia langsung mendekati Diana dan Profesor Hadju untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya. “Bukannya Nizam seorang pengacara, bagaiman bisa dia menjadi murid profesor Hadju?”
“Nizam dulu kuliah di Kedokteran, dan dulu Nizam adalah seorang dokter Forensik, namun keluarganya tidak mendukung Nizam dalam pekerjaan itu, dia diminta kuliah hukum, dan dia jadi pengacara hanya karena memenuhi keinginan keluarga,” terang Diana.
“Bukankah itu dinilai tidak—”
“Apa yang orang kaya mau selalu baik, kamu lupa bagaimana pengaruh keluarga Nizam? Pengaruhnya sama kuatnya dengan pengaruh keluargamu,” sela Diana.
Yudha diam, dia tidak menyangka Diana tahu segala hal, bahkan tentang seberapa besar pengaruh keluarganya.
Di kediaman Kakek Agung.
Rani dan Sofian, di iikuti 4 pengawal mulai bersiap melakukan perjalanan mereka.
“Ayah tidak mau ikut kami ke desa?” tanya Rani.
“Aku sudah tua, bagaimana bisa aku mengikuti kalian.”
__ADS_1
Berat membayangkan resepsi Ivan tanpa kehadiran Kakek yang sangat Ivan cintai, namun Rani juga memahami keterbatasan Ayahnya. Mereka segera memulai perjalanan mereka. Mulanya perjalana sangat santai, hingga mobil mulai memasuki jalana extrem, jantung Rani mulai berpacu hebat melihat medan yang mereka lalui.