
Keesokan harinya.
Ivan dan Diana meninggalkan hotel tempat mereka beristirahat, sepanjang perjalanan Handphone Ivan terus berdering. Ivan malah sengaja mengabaikannya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Diana.
"Paling mama memintaku untuk menghadiri pemakaman Veronica, atau Fablo, secara mereka pernah menjadi bagian Agung Jaya."
"Itu yang memanggil mama kamu, Van ...."
"Sudah, biarkan saja. Aku malas berdebat dengan mama, jika aku menolak permintaannya, pasti mama menyalahkanmu atas pembangkanganku."
"Jangan seperti itu, suatu saat kita juga akan jadi orang tua, kamu akan mengerti dengan sikap keras mamamu."
"Kamu tidak pernah benci mamaku?" tanya Ivan.
Diana menggelengkan kepalanya. "Apa saja yang mamamu lakukan, itu hanya bentuk perlindungan seorang ibu pada anaknya. Mamamu tidak mengenalku, makanya dia sangat membenciku, di matanya, aku suatu yang membahayakanmu, aku hanyalah perempuan yang ingin memanfaatkan dirimu dan kekayaanmu. Semua sikap mamamu selama ini, dia hanya ingin melindungimu."
"Tapi jangan memintaku menunjukan siapa diriku pada mamamu, biarkan dia tahu dengan sendirinya." Diana sangat tahu Ivan ingin memintanya memberitahu Rani siapa Diana sesungguhnya.
"Apakah kepalaku transparan? Sehingga kamu mudah menebak apa yang aku pikirkan," gerutu Ivan.
Diana tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu Ivan.
"Kita langsung ke kantor ya, Kakakku mencariku."
Diana masih tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sesampai di Gedung Agung Jaya, Ivan meminta supir untuk mengembalikan mobil Nizam. Sedang Ivan dan Diana langsung menuju ruang kerja Ivan. Saat memasuki ruang kerja Ivan, keduanya melihat Angga ditemani 3 orang yang tidak asing.
"Akhirnya kamu datang Van, ini Tuan Muda Archer dan dua temannya ingin bertemu denganmu dan Diana," ucap Angga.
Angga menoleh pada Diana. "Tiga orang penting ini rela menunggumu, pasti ada hal yang sangat serius bukan?"
Diana tersenyum, sesaat dia mengalihkan pandangannya pada Tony. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku sangat baik, Ketua. Terima kasih atas pertolongan Anda."
Ketua?
Angga tercengan dengan panggilan kehormatan salah satu laki-laki itu.
"Ketua, kami bertiga ke sini, karena ada undangan khusus dari Mentri kesehatan, maaf sebelumnya, karena salah satu dari kami tidak bisa menggantikan Anda."
__ADS_1
"Sudah cukup persembunyianmu, Diana." sela Archer.
Diana menerima undangan dari Mentri Kesehatan yang Hadhif berikan. Sedang Angga masih tenggelam dalam ketidak percayannya saat mendengar petinggi IMO memanggil Diana dengan sebutan Ketua.
"Apa tidak bisa dihadiri Tuan Muda saja? semua orang yang berpengaruh tahu, kalau Tuan Muda Ketua IMO," ucap Diana.
"Aku hanya mantan Ketua IMO. Sedang Ketua Aktif adalah dirimu," sela Archer.
Dugggg!
Jantung Angga berdetak sangat lambat saat mengetahui dokter hebat yang mengoperasi dirinya juga seorang ketua Organisasi yang disegani di Dunia.
"Aku mendapatkan dua undangan untuk acara ini, beri aku waktu untuk mempertimbangkannya," pinta Diana.
"Tidak masalah, Ketua." sahut Hadhif.
"Hukuman untukku, bagaimana, Ketua?" sela Tony.
"Setelah lukamu sembuh, kamu menghadap saja ke markas besar, mengingat pengabdian dan jasa-jasamu, pasti mereka akan memberi pertimbangan."
Merasa apa yang ingin mereka sampaikan sudah disampaikan, ketiganya pamit meninggalkan Gedung Agung Jaya. Kini di dalam ruangan Ivan hanya ada Angga, Ivan, dan Diana.
"Van, kenapa Perusahaan memecat sebagian karyawan yang menduduki peran penting di perusahaan kita?" Angga mempertanyakan tentang pemecatan besar-besaran para kepala bagian, dan pemecatan Farhan.
"Kenapa kamu baru datang, Diana? Andai kamu dari dulu di sini, Agung Jaya tidak akan sebodoh ini," ucap Angga.
Tetttttt!
Suara telepon yang ada di meja Ivan terdengar, Ivan langsung meraih telepon itu.
"Iya Barbara."
"Tuan, di luar Tuan Danu kesuma meminta izin untuk menemui Anda, bagaimana Tuan?"
Ivan menoleh pada Diana dan Angga. "Papa Veronica ingin bertemu denganku, menurut kalian bagaimana?"
"Izinkan saja, kita lihat apa tujuannya ke sini," usul Diana.
"Diana benar Van," ucap Angga.
"Izinkan dia masuk, Barbara."
__ADS_1
***
Beberapa saat kemudian Danu memasuki ruang kerja Ivan. Dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Maafkan kami, om. Kami tidak hadir di pemakaman Veronica." Angga membuka obrolan.
"Tidak apa-apa, Angga. Kedatangan om kesini bukan untuk itu."
"Terus untuk apa, om?" tanya Ivan.
"Om ingin memberi penawaran, kalau kalian mau tau satu rahasia, om hanya ingin pekerjaan yang bisa om kerjakan, untuk menyambung hidup om dan istri om."
Melihat tatapan Ivan, Diana, dan Angga, Danu merasa salah tingkah.
"Ini hanya penawaran saja, jika Nak Ivan mau memberi pekerjaan kecil, Om akan memberitahu sebuah rahasia."
Danu semakin menunduk. "Bukan maksud om ingin menjual rahasia ini, tapi perusahaan om sudah hancur sejak Agung Jaya lepas tangan, kami bisa bertahan lagi karena bantuan ED Group, kini ED Group juga hancur."
"Kalau rahasia itu memang penting, dan aku belum tahu, aku siap memberi om pekerjaan. Kalau aku boleh tahu, rahasia tentang apa?" tanya Ivan.
"Rahasia kematian Charlie Bramantyo."
Kedua mata Diana membulat sempurna mendengar ucapan Danu.
"Cerita yang bersumber pada kebenaran, atau hanya bersumber pada imajinasi om?" cecar Ivan.
"Ini kebenaran, setelah om cerita, Angga pasti akan ingat kejadian itu."
Danu memulai ceritanya. "Malam itu, aku, dan beberapa pemimpin perusahaan besar tengah berpesta, merayakan keberhasilan kami, karena sebentar lagi penawar yang kami produksi akan laku keras di mana-mana, tiba-tiba ibumu menelepon kami, kalau Charlie memberikan suntikan Dana pada Agung Jaya, dengan tujuan Agung Jaya memproduksi penawar dan membagikannya secara gratis, itu sebagai ungkapan terima kasihnya, karena Agung Jaya memberinya penawar untuk istrinya yang sekarat."
"Jangan membuat api diantara ibu dan anak, Tuan!" ucap Diana.
"Tapi iniah kenyataannya, Diana. Kenapa Rani takut menerimamu, selain dia memandangmu sebagai gadis desa, dia juga takut kamu mengetahui rahasia sebelumnya pada Agung Jaya. Peraturan di keluarga Agung Jaya, menantu pertama di keluarga itu memegang hak penuh brangkas Agung Jaya. Dalam brangkas Agung Jaya, selain banyak uang, juga menyimpan banyak rahasia."
"Bisa lanjutkan cerita sebelumnya?" pinta Ivan.
Danu melanjutkan ceritanya. "Setelah tahu ancaman yang datang, kami semua berembuk memikirkan cara menyingkirkan Charlie. Waktu semakin sempit, saat Rani mengatakan Charlie sudah meninggalkan rumah Agung Jaya, Aku meminta Rani mengikuti Charlie. Rani panik, hingga dia tidak menyadari kalau mobil yang baru sampai masih ada Angga yang tertidur saat pulang dari latihan bela diri."
Angga mengingat kejadian itu, di mana hal itu sangat memyakitkan, saat dia bagun dia sudah tidak bisa berjalan dengan 2 kaki, malam itu detik terakhir dia berjalan dengan dua kaki, kemana-mana selalu menggunakan tongkat.
"Kalian semua sudah tahu ceritanya, bukan? Kecelakaan yang Rani alami, membuat Angga cacat, dan kecelakaan itu terjadi karena Rani berusaha mengejar Charlie, kemungkinan saat itu Charlie menyadari dia diikuti, lalu menambah kecepatan mobilnya, nahas Rani tidak pandai melajukan mobil dengan kecepatan tinggi."
__ADS_1
"Seberapa jauh keterlibatan Rani, kalian simpulkan sendiri, Rani hanya ingin uang dari persenan penawar, kalau dari sudut pandangku," ucap Danu.