Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 196 7 Turunan 7 Tanjakan


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Kakek Hong, Dillah di obati secara traditional. Beberapa jam kemudian Dillah perlahan membuka kedua matanya. Dillah sangat kaget karena terbangun di tempat yang asing.


“Akhirnya kamu sadar anak muda,” sapa Kakek Hong.


Dillah sangat malu, ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya ke dasar lautan. Dillah menunduk menyembunyikan wajahnya. “Maafkan aku Kek.”


“Seharusnya aku yang minta maaf, anak muda. Aku membuatmu terluka.”


“Kakek tidak salah, aku kena karma atas kesombonganku, sebenarnya aku tidak memiliki ilmu bela diri kek, pekerjaanku hanya stay di depan komputer. Aku adalah Asisten Pribadi salah satu pengusaha muda di negaraku.”


Kakek Hong tersenyum mendengar pengakuan Dillah.


“Suhu, ini ramuan yang Suhu minta,” ucap seorang pemuda yang baru datang membawa satu mangkuk air yang berisi ramuan herbal.


“Suhu?” Mulut Dillah terbuka lebar saat menyadari Kakek Tua yang dia remehkan ternyata seorang guru bela diri.


“Berikan padanya.” Kakek Hong mengisyarat pada Dillah. “Anak muda, habiskan obat itu, supaya kamu cepat pulih,” ucap Kakek Hong.


“Baik, kek.” Dillah segera menghabiskan obat traditional itu.


"Aku harus memanggil Anda dengan sebutan apa?" tanya Dillah pada Kakek Hong.


"Panggil aku senyaman kamu saja, anak muda."


"Nama saya, Dillah Kek."


"Namaku Ahong, orang di sini biasa memanggilku Kakek Hong."


**


Merasa lebih baik, Dillah memutuskan untuk berkeliling kediaman kakek Hong, terlihat beberapa pemuda Latihan bela diri di sebuah lapangan.


“Andai aku tidak di tugaskan mengawal Nona Diana, ingin rasanya aku berlatih bela diri bersama mereka.” Pandangan Dillah lurus kearah mereka yang tengah berlatih.


“Kamu belum kenal siapa Diana?” tanya Kakek Hong.


“Aku kenal, kek, dia gadis yang sangat menyenangkan dan rendah hati, suka menolong juga, tapi melihat gaya hidupnya sepertinya dia tidak rajin menabung."


Kakek Hong tertawa mendengar ucapan Dillah. "Terus apa yang membuatmu berpikir Diana tidak memberi izin jika kamu ingin berlatih bela diri di sini?"


"Tunangannya itu tidak bisa berpikir dengan jernih, dia menyuruhku mengikuti Nona Diana dan mengawalnya kemana saja, ini sangat lucu dan aneh bukan? Karena kalau terjadi apa-apa, yang ada Nona Diana yang melindungiku.”


“Tunangan?” kakek Hong terlihat bingung.


“Iya, Nona Diana sudah berrtunangan dengan Ivan Hadi Dwipangga.”


“CEO Agung Jaya Group?” sela Kakek Hong.


“Iya, Kakek kenal dengan Ivan?”


“Tunggu sebentar, kamu bilang sangat bosan berada di komplek besar itu bukan? Aku akan bertanya pada Diana, apakah dia setuju kalau kamu tinggal bersamaku selama dia mengerjakan pekerjaannya.” Kakek Hong sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


Kedua bola mata Dillah berbinar bahagia. “Kakek serius?”


“Serius, kalau Diana setuju maka bos mu tidak akan berani melarangmu atau memarahimu.”

__ADS_1


Kakek Hong langsung menelepon Diana.


“Bagimana keadaan temanku Kek?” tanya Diana.


“Keadaan temanmu sangat baik, hanya saja kalau dia kembali ke sana, kejiwaannya terancam.”


“Kenapa Kek?”


“Karena dia stres berdiam diri di sana, supaya dia baik-baik saja, dan kamu bisa melanjutkan tugasmu, lebih baik dia tinggal bersamaku, dia sangat tertarik dengan bela diri. Kalau kamu setuju dia tinggal bersamaku untuk beberapa saat, aku akan mengajarinya bela diri, Bagaimana?”


“Kalau dia bahagia, biarkan saja kek. Tapi bolehkan aku bicara dengannya?”


“Tentu saja, Diana.”


Kakek Hong segera memberikan handphonenya pada Dillah. “Diana ingin berbicara padamu.”


“Iya Nona,” ucap Dillah.


“Dillah, tugasku masih lama di sini, untuk sementara kamu bersenang-senanglah di sana, kalau kamu bosan di sana, kamu bilang pada kakek Hong kalau kamu ingin kembali.”


“Bagaimana tugasku pada Anda, Nona.”


“Keamanan di sini sangat ketat, aku baik-baik saja. Kalau aku butuh kamu, aku akan memanggilmu.”


“Beneran Nona akan memanggilku?”


“Tenang saja, aku pasti memanggilmu kalau aku butuh.”


Dillah sangat bahagia, dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, Dillah mengembalikan handphone jadul itu pada Kakek Hong.


**


20 hari berlalu, Diana masih sibuk dengan pengembangan T779, sedang Dillah semakin bahagia bisa berlatih dengan murid-murid Kakek Hong.


“Dillah, aku mau menemui Diana. Kamu mau ikut?”


“Apa Nona Diana membutuhkanku? Kalau iya, aku ikut.”


“Diana tidak butuh siapa-siapa, justru banyak orang yang membutuhkan dia, termasuk bosmu,” ledek Kakek Hong.


“Kalau begitu, aku di sini saja, aku masih penasaran dengan pelatihan kemaren,” ucap Dillah.


Kakek Hong datang sendirian ke Konsorsium tempat Diana mengembangkan bibit T779.


**


Komplek Konsorsium.


Diana menikmati makan siangnya, dia memandangi keadaan Konsorsium yang terasa semakin sepi, karena Jenifer dan Birma sudah pergi, Jenifer bersikeras ingin mencari No Name dengan bantuan Angga. Bahkan gadis itu sudah terbang ke tanah Air sejak dua hari yang lalu.


“Kamu baru makan siang, Diana?”


Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Diana. “Kakek Hong?” Diana memberikan senyuman manisnya pada laki-laki tua itu.


"Jaga kesehatanmu, Diana. Kalau kamu sakit, siapa yang melanjutkan cita-cita mulia ini?"

__ADS_1


"Kebiasaan buruk aku Kek, kalau sudah memegang semua botol di Lab, aku lupa waktu."


"Atur alarm di handphonemu, atur jam tidurmu dan waktu makan mu," ucap Kakek Hong.


Alarm, Diana teringat pada Ivan. Di mana pemuda itu menyetel alarm untuknya agar dirinya minum obat tepat waktu.


"Kamu memikirkan siapa?" goda Kakek Hong.


"Ah, tidak memikirkan apa-apa, hanya saja di sini seketika sepi saat Jennifer pergi, Dillah juga pergi."


"Jennifer kemana?"


"Bertemu kekasihnya," sahut Diana.


"Kamu ingin Dillah kembali?"


"Tidak Kek, biarkan Dillah bersenang-senang di sana, sepanjang waktunya dia hanya kerja-kerja dan kerja."


“Bagaimana penelitianmu Diana?” tanya Kakek Hong.


“Belum mendapat kemajuan Kek. Cara produksi masih belum bisa di sederhanakan, tapi aku tetap mengembangkan obat itu walau dengan cara lama.”


“Baguslah, semoga Niat baikmu direstui Alam.”


“Bagaimana dengan keadaan Dillah? Apa dia merepotkan Kakek?”


“Keadaan temanmu sangat baik, bahkan dia sangat semangat belajar bersama beberapa muridku. Dia sangat pengertian, sama sekali tidak merepotkan. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, aku akan mengantarnya ke sini. Dengan dia bersamaku, kamu bisa bekerja dengan tenang, dia juga tidak stres berdiam diri di sini.”


“Terima kasih banyak Kek,” ucap Diana.


“Tenyata pemuda itu anak buah seorang pengusaha muda yang terkenal itu, ya? Ivan Hadi Dwipangga.”


Diana menganggukan kepalanya pelan.


“Kenapa Ivan mengutus anak buahnya mengawalmu? Apa hubunganmu dengan Ivan?” Kakek Hong pura-pura tidak tahu.


“Ku rasa Dillah pasti sudah menceritakan banyak hal pada Kakek,” ucap Diana.


“Jadi kalian benar-benar bertunangan?”


“Iya, Nenekku sangat yakin dengan pilihannya, salah satu tujuanku dalam hidup adalah membahagiakan Nenekku.”


“Nenekmu selain cerdas dalam bidang medis, ternyata dia juga sangat cerdas dalam hal lainnya, pemikiran Nenekmu sangat benar dengan menjodohkanmu dengan Ivan, tapi di sini kalian sama-sama orang hebat."


"Tapi ada yang mengganjal hatiku," ucap kakek Hong.


"Apa Kek?"


"Jika kalian Bersatu dalam sebuah hubungan, perjalanan kalian tidak mulus, pastinya banyak kerikil tajam di setiap jalan yang kalian lewati nanti,” ucap Kakek Hong.


“Aku mengerti apa maksud Kakek, tanpa Ivan bersamaku saja hidupku sangat berliku, rasanya tujuh tanjakan, tujuh turunan, tujuh belokan, rintangan seperti itu belum seberapa jika dibanding dengan ujian hidupku.”


“Semoga kalian berdua sama-sama menguatkan nanti, cintailah pasanganmu dengan semua kekurangannya, Diana.”


Mendengar cinta, Diana membuang napasnya kasar, dia meraih gelas minumnya dan perlahan meminumnya untuk mengusir kecanggungan yang mulai menderanya.

__ADS_1


__ADS_2