
Pelayan itu sangat terkejut menyadari gadis kemaren yang dia kira bisu ternyata bisa berbicara, namun dia berusaha memasang wajah santai dan pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Diana. “Maaf, foto apa yang Anda maksud Nona? Saya tidak mengerti.”
Diana memperlihatkan postingan yang berisi semua kegiatan Diana dan teman-temannya siang itu. Bahkan ada foto yang sangat jelas memfoto kartu VVIP milik Diana. “Teman-teman saya hanya melihat sekilas kartu itu, satu pun diantara kami tidak ada yang sempat memfoto kartu itu.”
Pelayan laki-laki itu masih terlihat sangat tenang. “Selama kalian semua bersenang-senang di sini, saya sepanjang waktu bekerja, bagaimana saya mengambil foto-foto kalian? dan akun media sosial saya bukan itu.”
"Anda pikir saya bodoh? memiliki lebih darib1 akun bukan perkara sulit!" ucap Diana.
“Tidak mungkin dia pelakunya Diana, karena mengambil foto pelanggan secara diam-diam di sini merupakan pelanggaran berat. Peraturan kerja di sini, jika ada pelayan yang membuka aktivitas pelangggan dengan cara apapun, akan mendapat hukuman, beberapa waktu lalu, ada pelayan yang mengambil foto seorang pengusaha dengan selingkuhannya, pelayan itu di bayar istri sah pengusaha, saat ini pelayan itu hanya tinggal nama. Ini salah satu sebab kenapa tempat ini mahal, karena keamanan dan kerahasiaan di sini terjamin,” jelas Thaby.
“Thaby benar, ku rasa pelayan di sini tidak berani bertindak bodoh seperti apa yang kamu tuduhkan, Diana. Ku rasa pelakunya salah satu dari kita yang berjumlah 8 orang sebelumnya,” sela Malvin.
“Biasanya yang melakukan hal ini, orang yang tidak menyukai kamu, Diana. Yang jelas terlihat kalau dia tidak menyukai Diana, Syila dan Lucas.” Thaby memandang kearah Lucas. “Ayo Lucas, akui saja kalau semua ini adalah perbuatan kamu. Akui saja!” ucap Thaby.
“Aku tidak melakukannya!”
“Tapi kemaren kamu banyak mengabadikan momen dengan kamera handphone mu,” ucap Malvin.
“Iya, aku memang mengabadikan momen kita kemaren tapi aku tidak mempostingnya ke media sosial, aku hanya menyimpannya untuk kenangan.” Lucas mengambil handphonenya. “Ini foto-foto yang di unggah orang itu ke internet, sedang foto-foto yang aku abadikan seperti ini.” Lucas memperlihatkan perbedaan antara foto yang dia ambil dan foto-foto yang tersebar di internet.
Malvin dan Thaby berusaha mengamati perbedaan foto-foto yang ada di internet sama foto-foto yang ada di handphone Lucas, perbedaannya sangat banyak.
“Memang bukan Lucas yang memposting semua foto-foto kita,” sela Diana.
“Lalu siapa orang itu?” tanya Malvin.
Diana mengambil handphonenya dan memperlihatkan sosok yang tertangkap pada foto yang dia abadikan. Di sana terlihat seorang wanita mengambil foto-foto mereka dengan kamera professional dari jarak yang lumayan jauh. “Wanita dalam foto itu adalah istrinya.” Ujung telunjuk Diana mengarah pada pelayan laki-laki itu.
“Wah-wah … ini pelanggaran berat, dan pasti pihak Clubhouse tidak akan mentolelir pelanggaran ini,” ucap Thaby. “Apalagi setahu aku pemilik clubhouse ini laki-laki yang kejam.” Thaby sengaja menakut-nakuti pelayan itu.
“Pelanggaran ini bisa bawa ke ranah hukum, karena ini pelanggaran luar biasa!” tambah Malvin.
__ADS_1
“Maafkan saya Nona, saya hanya di suruh seseorang. Saya butuh uang banyak, dan saya menerima tawaran pekerjaan ini. Karena hanya mengabadikan momen orang yang di maksud, sebab itu saya terima.” Pelayan itu mengakui perbuatannya.
“Siapa yang membayarmu untuk melakukan ini?” tanya Diana.
“Veronica.”
Semua teman-teman Diana terkejut menyadari kalau dalang semua ini adalah Veronica.
“Apa tujuan Veronica membuat Image Diana buruk di dunia maya?” guman Thaby.
“Sejak masalah ini timbul, nama Veronica seketika bersih, sepertinya dia sengaja menjebak Diana untuk menyelamatkan dirinya,” sela Malvin.
“Tolong maafkan kami Nona, saat ini anak kami sakit dan butuh biaya yang lumayan besar, saya terpaksa menerima tawaran ini karena butuh uang.” Pelayan itu memelas meminta belas kasihan Diana.
“Sebelum memberi maaf, beri dia efek jera dulu, Diana.” Usul Malvin.
“Aku setuju, kita minta manager tempat ini menghukum dia di depan mata kita.” Thaby menambahi.
“Dasar! Katanya jangan buat dia takut, tapi kamu malah mengatakan kebenaran tentang pemilik tempat ini,” gerutu Thaby.
Wajah pelayan itu semakin pucat, bukan rahasia jika bos besarnya seseorang yang kejam.
Diana menoleh kearah pelayan itu. “Saya memaafkan Anda. Tapi untuk hukuman dari manajemen Clubhouse saya tidak ikut campur, dan saya tidak akan membela Anda. Anda bertanggung jawab sendiri untuk hal itu.”
Wajah pelayan itu panik, hukuman dari manager Clubhouse lebih menakutkan dari kurungan penjara. Dia melepaskan jas putih yang merupakan seragam pelayan di sana, dan segera kabur dari sana.
Tatapan Diana kembali tertuju pada Lucas. Tatapan yang sangat menekan itu membuat Lucas canggung, dia sadar kalau dirinya juga banyak membully Diana sebelumnya.
“A—ada tugas dari Profesor, aku izin pergi duluan.” Tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Lucas juga meninggalkan tempat itu, diikuti oleh dua teman laki-laki yang selalu bersamanya.
“Terima kasih, karena sejak awal kalian berusaha percaya padaku, walau di tengah-tengah kalian terprovokasi oleh Syila.”
__ADS_1
“Maafkan kami, Diana.” Ucap Thaby.
“Tidak perlu meminta maaf,” balas Diana.
Diana kembali duduk di sofa dan menikmati pesananya. Mereka sesekali membahas tugas dari profesor mereka.
Tink!
Suara notifikasi pesan membuat obrolan Diana bersama teman-temannya terjeda. Diana membuka pesan yang baru masuk, membaca nama si pengirim pesan, tiba-tiba kedua sudut bibir Diana saling Tarik, hingga melengkung sebuah senyuman.
*Diana, aku pulang malam ini, ada pekerjaan yang harus ku tangani, hingga aku tidak bisa menunggu operasi selesai. Malam ini pesawatku mendarat sekitar pukul 23.00 kalau kamu masih kuat membuka kelopak matamu, susul aku di sebuah club.
Ivan mengirimkan alamat club yang akan dia datangi nanti. Diana merasa teman-temannya memandanginya, dia berhenti tersenyum dan memasang wajah santainya. “Aku ada urusan lain, apakah kalian keberatan kalau aku pamit duluan?”
“Tentu saja kami tidak keberatan, Diana. Kalau ada keperluan lain, pergilah.”
“Semua tagihan yang kita pesan malam ini sudah aku bayar, nikmati malam kalian.”
“Terima kasih banyak, Diana,”
“Kalian jangan sampai terlalu malam, besok pagi ada kelas,” tegur Diana.
“Tidak akan larut malam, paling lama kami bertahan di tempat ini sampai jam 11,” sahut Malvin.
Setelah Diana pergi meninggalkan mereka, Malvin dan Thaby melanjutkan serangan mereka di dunia maya. Sebelumnya mereka menyerang fans fanatik Qiara, sekarang mereka memimpin pengguna dunia maya untuk menyerang Qiara.
Diana membelah jalanan malam dengan menaiki motor sport milik Nizam. Diana melajukan motor yang dia kendarai menuju toko pakaian, di sana dia membeli pakaian yang nyaman untuk naik motor. Setelah menemukan setelan yang dia suka, Diana membelinya dan langsung mengenakannya. Tubuh indah Diana dibalut dengan setelan celana jeans Panjang yang ketat, dan jaket kulit yang melindunginya dari suhu dinginnya malam.
Diana merasa sangat nyaman berkendara, karena mengenakan pakaian yang tepat. Diana segera menuju Apartemen Ivan, dia mengambil beberapa keperluanya di sana, dan memasukkannya ke dalam ransel. Selesai, Diana melanjukan kembali motornya membelah jalanan malam. Diana berhenti sejenak di tepi jalan raya, dia melirik jam tangannya, memperhitungkan waktu untuk bertemu Ivan. Karena masih lama, Diana membaca kembali pesan yang Dillah kirim padanya.
*Diana, selagi Ivan belum kembali, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku sempat mendengar Ivan menyewa 20 orang pembunuh bayaran handal untuk membunuhmu, malam ini Ivan kembali, memastikan kalau rencananya berhasil. Saat ini para pembunuh bayaran itu rapat di sebuah Gudang tua di pinggir kota, mereka tengah menyusun strategi untuk membunuhmu, agar bisa merekayasa kematianmu seolah itu adalah sebuah kecelakaan. Kamu gadis baik Diana, tidak pantas mati sia-sia. Ku mohon pergi secepatnya.
__ADS_1
Diana menggelengkan kepalanya membaca pesan Dillah, dia merubah arah tujuannya, Diana melajukan motornya menuju markas para orang-orang sewaan itu.