Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
bab 181 Air Minyak


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Diana terus memikirkan Ivan.


Rasanya terlalu besar reseko yang Ivan tanggung jika dia ikut bekerjasama denganku untuk menghancurkan ED Group.


Sebelum ini terjadi, sebaiknya aku batalkan saja kerjasama kami.


Untuk membantu Perusahaan yang bagkrut, aku bisa minta bantuan orang lain selain Ivan.


Rasanya, aku tidak bisa membalas dendamku kalau Ivan terlalu baik padaku, lebih baik jangan libatkan dia, agar tidak punya terlalu banyak hutang jasa padanya.


Diana mantap membatalkan kerjasamanya dengan Ivan.


Mobil taksi itu berhenti di depan Gedung perkantoran milik Agung Jaya. Diana membayar ongkos taksi berlebih. “Tolong antarkan dua teman saya ke tujuan mereka,” ucap Diana.


“Kami harus kemana, Diana?” sela Tony.


“Kembali ke hotel Tuan Archer, aku sudah meminta izin pada penanggung jawab di sana.” Tanpa menunggu tanggapan Tony atau Hadhif, Diana langsung pergi dan memasuki kantor Agung Jaya. Tony dan Hadhif memahami Ketua mereka. Mereka meminta supir taksi mengantar mereka ke tujuan mereka.


Diana langsung menuju ruangan Ivan, dia melempar senyuman kecil saat melewati Barbara, dan melengos begitu saja memasuki ruangan Ivan.

__ADS_1


“Ada apa kamu memanggilku?” tanya Diana.


“Aku ingin membahas lanjutan kesepakatan kita tadi malam,” sahut Ivan.


“Kesepakatan apa?”


“Kesepakatan untuk membantumu menyelidiki ED Group.”


Diana membuang kasar napasnya. "Ku rasa aku ingin membatalkan kesepakatan itu, ini terlalu berbahaya untuk karir Agung Jaya, maaf aku benar-benar tidak bisa mengajakmu dalam misi ini,” ucap Diana.


“Kenapa tidak bii—”


Ceklak!


“Baru saja,” sahut Diana.


Yudha melirik kearah Ivan, sangat jelas kalau laki-laki itu sangat kesal melihat kedatangannya. Yudha memasang wajah masa bodohnya, dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. “Kenapa berdiri saja, Diana? Duduklah.”


Ivan menyilangkan kedua tangan di depan dada, dia menatap Yudha dengan tatapan peringatan. Yudha malah tidak peduli, dia tetap fokus pada Diana.

__ADS_1


“Bagaimana kuliahmu, Diana?”


“Ya begitulah, dibilang lancar, tapi aku juga kadang keteteran.”


“Oh iya Diana, mengingat dua resep yang kamu tulis dulu, kamu mengingatkanku pada ibumu yang sangat cerdas. Kamu sangat memahami tentang obat-obatan. Mengapa kamu tidak mendaftarkan diri ke IMO?”


“IMO?” Diana heran dengan usul Yudha. “Bukankah itu sebuah Organisasi yang merampok kalian? Kenapa kamu malah mengusulkanku masuk sana?” Diana menatap Yudha dengan tatapan penuh selidik.


“Walau Ketua IMO pernah merampokku, tapi sifat jelek Ketuanya tidak membuat organisasi malaikat itu juga jelek semua, pengetahuanmu dalam bidang farmasi sangat bagus, karirmu dan masa depanmu akan semakin cerah kalau kamu bergabung dengan IMO.”


Ivan terus menatap Yudha.


Yang kamu ajak bicara itu, ketua IMO Yudh! Batin Ivan.


“Maaf Yudh, aku tidak tertarik ikut seleksi Anggota IMO,” tolak Diana.


"Diana, katakan pada temanmu, kesepakatan yang sudah disepakati tidak boleh dibatalkan." Ivan memberi kode kalau dia tidak terima jika Diana membatalkan kesepakatan mereka.


Diana memahami kode dari Ivan. "Kata temanku, dia tidak bisa bersatu dalam satu wadah dengan Agung Jaya, karena perbedaan. Yah ... mungkin seperti air dan minyak, sekuat apapun mengaduknya agar bercampur sempurna, tidak bisa. Karena air dan minyak jika bercampur dalam satu wadah tidak akan bersatu, hanya berdampingan."

__ADS_1


"Siapa bilang air dan minyak tidak bisa bersatu, bisa kok, kalau ditaambah detergen. Cairan pencuci piring misal?" ucap Ivan.


Yudha menatap Diana dan Ivan bergantian, dia tidak mengerti pembicaraan dua orang yang ada di depannya.


__ADS_2