
Diana tidak tahu harus bicara apa, dia berjalan menuju kamar mandi dan mengurung diri di dalam sana.
“Diana!” Ivan mengetuk pintu kamar mandi berulang kali.
“Firasat seorang ibu benar Ivan. Ibumu sangat benar, aku tidak pantas menjadi istrimu, aku tidak pantas atas cintamu.” Air mata mengalir deras membasahi pipi Diana.
“Diana, jangan membuatku takut.” Ivan terus mengetuk daun pintu kamar mandi. “Aku tidak peduli apa niatmu atau tujuanmu masuk kedalam keluargaku, yang jelas saat ini aku sangat mencintaimu Diana."
Diana berusaha menghentikan tangisnya. Perlahan dia membuka pintu kamar mandi. Melihat Diana mau menampakan dirinya, Ivan sangat lega.
“Boleh aku meminta satu hal padamu?” tanya Diana.
“Katakan.”
“Ambilkan handphoneku.”
Mendengar permintaan Diana, Ivan tertawa dan menggelengkan kepalanya. Dia segera melangkah mengambilkan benda yang Diana maksud.
“Ini.” Ivan memberikan handphone itu pada Diana.
“Aku minta waktu sebentar.” Diana kembali menutup pintu kamar mandi, dan menguncinya dari dalam.
Saat ini yang ada dalam pikiran Diana adalah Neneknya, Diana langsung menelepon nomor Neneknya, masih suara 'tutt' yang berulang, Diana menyalakan kran air, agar Ivan tidak menguping dengan jelas pembicaraannya nanti.
“Ada apa Diana? Kenapa kamu menelepon Nenek pagi-pagi begini?”
Diana baru menyadari kalau dia dan Neneknya memiliki selisih waktu.
“Maafkan aku Nek.”
“Katakan, ada apa?”
“Nek … Andai aku mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupku, apakah Nenek sedih karena saat itu terjadi Nenek tidak bersamaku? Apakah Nenek marah saat aku berdiri sendiri dengan keputusanku tanpa Nenek?”
“Kamu bahagia dengan keputusan yang kamu ambil?”
“Sangat, Nek.”
“Kalau begitu putuskanlah, walau Nenek tidak berada di sisimu setiap waktu, tapi doa Nenek selalu bersamamu.”
“Makasih Nek.”
“Ada lagi?”
“Tidak ada Nek.”
“Istirahatlah, jangan terlalu memeras tenagamu.”
“Iya Nek.”
__ADS_1
Selesai berbicara dengan Neneknya, Diana merasa lebih baik, Diana memandangi pantulan dirinya yang ada pada cermin. “Pantas saja Nenek selalu menasehatiku agar jangan dendam, tapi api dendamku begitu besar, beruntung aku belum melakukan apa-apa. Kalau sampai melakukan hal yang merugikan Agung Jaya, yang ada aku menyesal sendiri. Karena Agung Jaya sama sekali tidak terlibat.”
Diana mencuci wajahnya, selesai mencuci wajah, Diana meraih handuk dan mengeringkan wajahnya. Perhatian Diana tertuju pada tisu toilet yang menjuntai, hingga di benaknya terlintas sebuah ide.
**
Saat Diana keluar dari kamar mandi, dia melihat Ivan duduk di tepi tempat tidur. Diana medekat dan berdiri tepat di depan Ivan.
“Ada apa, Diana?” tanya Ivan lembut.
“Selain karena Nenekku, aku menerima perjodohan ini mulanya ingin balas dendam atas kematian kedua orang tuaku.”
"Balas dendam?" Ivan menautkan kedua alisnya, dia tidak mengerti dengan ucapan Diana.
“Apa kamu juga berpikir Agung Jaya terlibat dengan kasus kematian kedua orang tuamu?" tebak Ivan.
Diana menundukan wajahnya. “Maafkan aku.”
“Kamu tidak salah, keadaan yang sangat menipu,” ucap Ivan.
"Sekarang kamu sudah tahu, kalau Agung Jaya tidak terlibat, apakah kamu ingin pergi dari hubungan ini?” tebak Ivan lagi.
"Ya, aku sangat ingin pergi," sahut Diana
Ivan mematung mendengar jawaban Diana.
"Tapi aku tidak bisa pergi, kamu bukan hanya mengikat jariku dengan cincin pertunangan, tapi kamu juga telah mengikat hatiku begitu kuat. Bagaimana aku pergi?" ucap Diana, lirih.
Diana berlutut di depan Ivan. "Will you marry me?" Diana menyodorkan cincin yang dia buat dari tisu.
“Hei apa ini?” Ivan mengambil cincin buatan Diana. “Ini tisu, kamu kreatif sekali puji Ivan.
“Kau tidak ingin menikah denganku?” gerutu Diana. “Lihat, saat ini aku berlutut melamarmu.”
Ivan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Diana. Dia ikut berlutut seperti Diana. “Yakin ingin menikah denganku?” tanya Ivan.
“Yang membuatku ragu, aku takut mencintai seorang pemuda dari keluarga yang membunuh kedua orang tuaku, kini keraguan itu telah pergi, lantas apalagi yang membuatku ragu?”
“Kapan kamu ingin kita menikah?” tanya Ivan.
“Mauku detik ini juga, tapi siapa yang memberkati kita?” goda Diana.
“Saat kapal ini menyentuh bibir pantai, kita akan menikah di gereja terdekat.” Ivan langsung mencium bibir Diana.
Pangutan itu terjadi cukup lama, Ivan menggendong tubuh kecil Diana menuju tempat tidur. Lelah bertukar saliva, akhirnya keduanya tertidur dengan posisi berpelukan.
**
Setelah mengatakan isi hatinya, Diana merasa lebih tenang, dia tidur nyenyak dalam pelukan Ivan. Ivan perlahan mengerjapkan kedua matanya. Melihat Diana tertidur, Ivan berusaha memindahkan kepala Diana pada bantal, dengan sangat hati-hati dia melakukannya, Ivan lega karena tidur Diana tidak terusik, Ivan langsung keluar kabin dan menemui anak buah kapalnya, dia memberi perintah pada anak buahnya, agar menambah kecepatan kapal mereka.
__ADS_1
Saat hampir sampai ketempat tujuan, Ivan menelepon anak buahnya yang ada di daratan, untuk menyiapkan semua keperluan untuk menikah, dan memenuhi semua syarat.
***
Di kabin.
Rasanya Diana tidur sangat lama, perlahan dia membuka matanya, senyuman seketika menghiasi wajahnya saat melihat wajah tampan Ivan.
“Selamat pagi permataku, saat ini kita sudah sampai di st peter-ording.”
Diana sangat bahagia, dia langsung berlari keluar kabin, saat sampai di deck, pemandangan indah menyapa kedua matanya.
“Ayo kita jalan,” ajak Ivan.
“Kemana?”
“Ikut saja, nanti kamu akan tahu sendiri.”
Diana dan Ivan terus berjalan, hingga mata Diana membulat sempurna saat melihat banyak anak kecil berbaris di depan gereja kecil.
“Apa inn—” pertanyaan Diana terjeda, saat dia tidak melihat Ivan di sampingnya.
“Ayo Nona, persiapkan diri Anda, Tuan menunggu Anda di dalam sana,” ucap Dillah.
“Ini benar-benar pernikahan?” Diana masih tidak percaya.
“Apa yang Anda inginkan, itulah yang terjadi. Di sini, aku merasa sangat tersanjung, karena aku yang akan menggandeng tangan Nona saat kita memasuki gereja kecil itu,” ucap Dillah.
Diana mengikuti salah satu warga yang menyambutnya, di salah satu ruangan, dia mengganti bajunya dengan gaun pengantin, walau tidak memakai riasan, Diana menjadi pengantin yang sangat cantik.
Dillah terpana melihat kecantikan mempelai wanita yang bediri di tengah pintu. Dillah memberikan lengannya pada Diana. "Siap Nona?"
Diana tersenyum dan mengaitkan lengannya di pergelangan tangan Dillah.
Di dalam gereja.
instrumental penggiring pengantin mulai bermain, beberapa anak perempuan mulai memasuki gereja dan menabur kelopak bunga. Saat yang sama, Ivan langsung menegakan tubuhnya, bersiap menyambut pengantinnya.
Saat melihat Diana muncul bersama Dillah, detak jantung Ivan seakan melambat seiring langkah kaki Diana yang begitu lamban menurutnya.
Saat Diana sampai di depan Ivan, Dillah memberikan tangan Diana pada Ivan. Momen Sakral pun di mulai, seorang Pendeta melakukan pemberkatan kepada sepasang pengantin, hingga janji suci pernikahan terucap jelas di lisan Ivan dan Diana.
Acara suci itu selesai, cincin pernikahan pun melingkar di jari Ivan dan Diana.
Melihat Ivan hanya mencium bibir Diana sekilas saja, Dillah lega, dia sangat takut bosnya itu mabuk saat bibirnya dan bibir Diana bersentuhan.
Dillah mendekati salah satu anak buah Ivan. "Semua hal penting sudah kamu abadikan?"
"Sudah Tuan."
__ADS_1
***
Kalau ada kecacatan logika harap maklum, aku cari infonya nanya-nanya sama om go--gle