
Mata Yudha berkaca-kaca mengetahui operasi neneknya yang gagal. Dia terbayang akan motivasi dokter hebat saat dia mengirim chat pribadi menanyakan perihal neneknya. Ivan menyadari kesedihan Yudha, sebelah tangannya masih berusaha menghubungi dokter hebat itu. Sedang tangannya yang satu menepuk punggung Yudha, berusaha memberi dukungan pada sahabatnya.
“Kenapa dokter itu tidak datang?” Suara Yudha terdengar sangat bergetar, dari matanya pun terlepas crystal bening. Yudha langsung menghapusnya. “Kenapa dokter itu tidak datang saat nenekku sangat membutuhkannya?”
"Kenapa dia tidak datang saat kita semua sangat membutuhkannya?"
Ivan tidak tahu harus berkata apa, dia juga bisa merasakan bagaimana kehancuran dan kesedihan Yudha saat ini, dirinya hanya terus berusaha menghubungi dokter hebat itu, entah ini panggilannya yang keberapa, yang jelas sudah ratusan pesan dan ratusan kali dia menghubungi dokter itu.
“Halo!?”
Mendengar ada jawaban dari ujung telepon membuat semangat Ivan seketika menyala. "Dia menjawab panggilanku!"
Yudha menegakkan wajahnya, mengetahui dokter itu akhirnya bisa dihubungi.
Ivan kembali fokus pada dokter hebat tersebut. “Halo dokter?!”
“Di mana ruang operasinya?”
Mendengar deruan napas yang tidak beraturan dari ujung telepon sana, membuat Ivan membatalkan menanyakan kenapa dokter sangat sulit dihubungi. Ivan yakin, dokter hebat itu juga tengah berusaha keras untuk sampai di tempat ini. “Ruang operasi VIP yang ada di lantai 15.”
“Kenapa dia baru datang saat nenekku sudah di operasi oleh dokter lain!"
Ivan berusaha meminta Yudha untuk tenang, dengan isyarat tangannya.
Yudha tidak bisa lagi menahan diri, dengan kasar Yudha merebut handphone Ivan. Ivan ingin merebut lagi, namun dia melihat Yudha masih tenang, Ivan membiarkan Yudha berbicara dengan dokter hebat itu.
"Lantai berapa?"
Sangat jelas Yudha mendengar suara laki-laki dari ujung telepon sana.
"Lantai 15."
Ting!
"Ayo cepat!"
"Halo, Tuan ...."
Mendengar sapaan dari ujung telepon membuat Yudha tersadar
“Sebentar lagi saya sampai, saya akan berusaha semampu saya untuk melanjutkan operasi yang gagal, kalian semua optimis, berdo’a terus semoga nenek Zunea bisa bertahan. Yakinlah, nenek pasti selamat!”
"Maaf Tuan, saya harus sudahi dulu, do'a 'kan kami, semoga usaha kami berhasil."
Mendengar suara dokter hebat segala kepanikan, kegundahan, kekecewaan, dan kesedihan Yudha lenyap seketika. Ada semangat dan harapan yang muncul kala mendengar suara dokter misterius itu Dari nada suara dokter itu, terdengar dia tengah berlari dan sangat terburu-buru. Yang membuat Yudha penasaran, ada dua suara di ujung telepon sana.
Ivan mengambil kembali handphonenya, namun panggilan itu sudah berakhir.
“Dia datang, van.”
“Iya, dia datang.”
"Saat kau bicara dengan dokter itu, dia perempuan atau laki-laki?" Yudha masih penasaran.
__ADS_1
"Yang bicara padaku perempuan."
"Tapi, tadi ada suara laki-laki dari sana."
"Perempuan atau laki-laki, itu tidak penting. Semoga dengan perantara tangan ajaib dokter hebat itu, nenek bisa selamat."
Yudha dan ibunya bisa bernapas sedikit lebih lega, mereka sangat berharap nenek Zunea bisa selamat.
"Selamat malam, keluarga Nyonya Zunea." Pak Abimayu mendatangi keluarga Yudha.
"Selamat malam, Pak." sahut Ivan.
"Operasi akan segera dilaksanakan, dan operasi ini sangat memakan waktu. Untuk kesehatan kita semua, sebaiknya kalian semua istirahat dulu. Biarkan dokter dan tim melakukan tugas mereka.
Mereka semua segera menuju ruang istirahat VIP yang disiapkan pihak Rumah Sakit, untuk mereka. Sedang Pak Abi kembali melakukan tugas beliau.
Mereka semua merehatkan tubuh mereka. Sedang di bagian lain, Diana dan pengacara Russel terus memacu cepat langkah mereka, hingga mereka sampai di ruang operasi.
“Maafkan atas kekacauan ini, dokter Diana,” sesal Pak Abi, kepala Rumah sakit.
Diana memberi isyarat pada kepala Rumah Sakit agar tenang. Diana bertanya di mana tim yang akan membantunya.
Operasi ini sangat dadakan, tidak ada persiapan, tim operasi masih kurang satu orang.” jawab Pak Abi. Sejenak pandangan Pak Abi tertuju pada Nizam. “Bukankah Anda juga seorang dokter?”
Nizam menatap heran pada Kepala Rumah Sakit.
"Dulunya," sahut Nizam.
“Demi Diana.” Nizam pasrah, dia segera mengikuti Diana untuk mengganti pakaian mereka.
Diana, Nizam, dan Pak Abi mendekati ranjang operasi. Melihat kekacauan yang ada di dalam ruang operasi, membuat perut Nizam terasa diobok-obok. “****!” Nizam berusaha menahan rasa mualnya, kala melihat tumpukan kasa berdarah yang menggunung. Tentunya kasa itu sebelumnya dipakai untuk menahan darah pasien. “Yang melakukan operasi sebelumnya dia seorang dokter bedah apa seorang tukang jagal!” Nizam tidak bisa menahan emosinya melihat keadaan ini. Melihat kekacauan ini, Nizam tidak bisa menahan kemarahannya. “Dia ingin menyelamatkan pasien atau ingin membunuh pasien?!”
Nizam berusaha menetralkan kemarahannya. “Maaf, Diana. Aku terlalu lama meninggalkan tugas dokterku. Sepertinya aku tidak bisa membantumu melakukan tidakan langsung pada pasien. Aku akan membantumu dengan memantau monitor.”
“Iya,” sahut Diana.
Deguarrr!
Rasanya ada petir yang menyambar, mendengar suara Diana. Jantung Pak Abi seakan berhenti berdetak, dia sangat terkejut mengetahui Diana bisa bicara.
Beberapa tim yang akan membantu Diana pun datang, saat para dokter itu akan melakukan operasi, Pak Abi segera keluar dari ruang operasi. Operasi pun segera mereka lakukan.
Jam menunjukkan jam 7 malam, Pak Abi menemui Ivan dan Yudha. “Nak Ivan dan Nak Yudha, istirahat dulu, operasi tengah dilakukan dokter hebat itu.
Rasa Lelah seakan tidak terasa bagi Yudha, kala yang lain memejamkan matanya, Yudha masih setia menatap jam dinding yang ada di dinding Rumah sakit itu.
Diluar batas kekuatannya, Yudha pun tertidur. Kala dia membuka matanya, ternyata matahari sudah menampakkan cahayanya.
"Operasi dimulai jam 7 malam, kini sudah jam 6 pagi, namun kita semua belum juga mendapatkan kabar," guman Yudha.
"Percayakan semuanya, Yud!" Ivan berusaha memberi semangat pada Yudha.
“Sarapan dulu nak.” Desy menyodorkan sepotong roti untuk puteranya.
__ADS_1
“Aku tidak lapar, bu.” Tolak Yudha.
“Semua juga tidak lapar Yud, karena kegelisahan kita. Tapi kita semua harus sehat. Makan sedikit demi daya tahan tubuh kita.” Bujuk Ivan.
Yudha terpaksa menerima sepotong roti pemberian ibunya, dan pelan-pelan menggigitnya.
Di ruang operasi.
Nizam masih setia memantau pergerakan yang ada pada layar monitor, dan selalu memberitahu Diana segala pergerakan yang terpantau. Kini dia faham, kenapa Diana meminta bayaran yang sangat mahal untuk melakukan operasi ini. Sudah hampir 12 jam mereka di ruangan operasi ini, namun operasi belum juga selesai. Nizam sangat kagum dengan kegigihan, kecerdasan, dan Tindakan Diana.
Sedang di luar ruangan operasi.
Yudha, Ivan, dan keluarganya kembali berkumpul di depan pintu ruang operasi.
Veronica gelisah, karena tim dokter masih saja berusaha menyelamatkan nenek Zunea. Dia berusaha menyalakan percikan api lagi. “Ini gara-gara Diana, karena ulahnya nenek harus berjuang keras seperti ini, tim dokter juga.”
“Operasi sudah berlangsung 12 jam.” Veronica memasang wajah sedihnya.
“Tadi malam, saat kita di café, Diana melihat kita bersama di sana, Van.”
“Café?” Ivan berusaha mengingat, memang benar tadi malam dia bersama Veronica di café.
“Iya, aku melihatnya datang ke café itu, aku tidak menyangka kalau dia senekad ini.”
“Dia cemburu melihat kita bersama, dan dia melampiaskan kemarahannya dengan meracuni nenek Zunea. Kami satu kampus, dan dengan dia mencelakai pasienku, maka akan sangat berdampak pada karirku.”
“Diana lagi?!” Wajah Desy sangat marah, rasanya dia tidak sanggup melontarkan kata-kata lagi.
“Aku tidak tahu dosa apa yang kami perbuat! Sehingga kami harus berurusan dengan gadis desa pembawa sial itu!”
Saat yang sama, Diana mendengar jelas makian yang tertuju padanya, dia hanya diam, dan meminta Pak Abi untuk keluar lebih dulu.
Ceklak!
Mendengar suara pintu operasi yang terbuka, mereka semua kompak menoleh kearah yang sama. Terlihat Pak Abimayu keluar dari ruang operasi. Yudha langsung mendekatinya. Melihat raut kesedihan yang terpancar dari sepasang mata Yudha, Pak Abi sangat faham apa yang ingin Yudha ketahui darinya.
Pak Abi menepuk pelan bahu Yudha. “Tenang Yudha. Saat ini operasi masih tengah berlangsung. Sabar ya …, terpantau keadaan nenekmu semakin membaik.”
Seketika kedua bola mata Veronica terbelalak, seakan ingin melompat dari tempatnya, kala mendengar keadaan nenek Zunea yang membaik.
*****! Kenapa tuh nenek selamat?!
Kalau dia mati, maka Diana akan tersingkir selamanya dari sisi Ivan.
****! ****! ****! Kenapa pula itu dokter bedah datang dan menyelamatkan nenek Zunea*!
Flash Back.
Beberapa dokter yang dipanggil Kepala Rumah Sakit berkumpul, karena merekalah yang akan menjadi tim yang melakukan operasi bersama dokter hebat nantinnya. Tiba-tiba Veronica datang dan mengambil tempat dokter hebat tersebut.
Veronica melakukan hal yang tak harusnya tidak dia lakukan, dia berharap, tindakannya pada nenek Zunea bisa mengantarkan sang nenek lebih cepat menuju pintu kematian, agar niatnya menyingkarkan Diana berjalan mulus.
Namun operasi yang dia lakukan dihentikan, karena keadaan pasien yang semakin memburuk. Terlebih Tim baru menyadari, yang ada bersama mereka bukan dokter hebat. Tapi seorang dokter Internship.
__ADS_1