Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 175 Masa Lalu Aridya


__ADS_3

Pertemuan Ivan dan utusan ED Group berjalan lancar. Ivan dan Yudha berjalan beriringan meninggalkan Restoran.


“Mau ku antar Yudh?” tawar Ivan.


“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”


Sesampai di pintu utama, Yudha menumpangi sebuah taksi, sedang Ivan melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang sengaja dia parkirkan di gedung lain, yang cukup jauh dari restoran, agar Agis tidak melihat mobilnya, saat Ivan hampir sampai, tiba-tiba ada seseorang yang menyerangnya, Ivan terjatuh karena serangan itu.


"Beraninya main belakang!" Ivan bangkit dan langsung menyerang balik penyerang yang menggunakan topeng itu.


Orang bertopeng itu tidak menyerah, dia berusahan menyerang Ivan.


Shap! Shap! Shap!


Serangan dari orang bertopeng itu dengan mudah Ivan tangkis. Kesabaran Ivan habis, dia balas menyerang orang itu tanpa ampun.


Bough! Bough! Bougthhh


“Kamu merampok orang yang salah!” maki Ivan.


Ivan menendang orang itu begitu keras, hingga membuat sosok bertopeng terlempar jauh dari posisi semula, hal itu dia gunakan untuk kabur dari Ivan.


Ivan membuang napasnya kasar, ilmu bela diri yang dia miliki jauh lebih tinggi dari penyerangnya, sehingga sangat mudah Ivan melumpuhkannya. Ivan terus melangkah menuju mobilnya.


**


Walau batal makan malam dengan Ivan, wajah Agis tetap dihiasi senyuman. Sedang Dillah terus menghitung waktu, memperkirakan Ivan sudah pergi dari sini. Saat dia melihat Agis sudah menghabiskan makanan penutup, Dillah merasa lega, saat yang sama Ivan juga mengirim pesan padanya kalau dia dan Yudha sudah pergi dari Restoran itu.


“Aku sudah selesai, terima kasih atas jamuan makan malamnya dan hadiahnya,” ucap Agis.


“Sama-sama Nona, sekali lagi maafkan Tuan Ivan.” Dillah memasang wajah sedihnya.


“Tidak apa-apa, aku yakin Ivan juga sedih dengan keadaan ini, tapi dia seorang pebisnis yang professional.”


“Benar sekali, Nona. Tuan sangat menyesal karena tidak bisa datang, padahal dia sudah mengatur waktu demi bisa makan malam dengan wanita berbakat seperti Anda.”


“Jangan begitu, Dillah. Jangan terlalu sedih, kita bisa atur ulang untuk makan malam di lain waktu.”


“Nona benar sekali, nanti saya akan sampaikan pada Tuan.”


Agis pamit undur diri pada Dillah, dia melangkah dengan perasaan yang begitu bahagia.


***


Di rumah Aridya.

__ADS_1


Sejak kepergian Agis, Aridya sengaja mengurung diri di ruang buku. Dia duduk di sofa sambil memangku seragam yang dia kenakan saat muda. Pikirannya kembali pada masa lalunya.


Aridya, seorang janda satu anak, dia bekerja di perusahaan obat yang bekerjasama dengan perusahaan obat milik keluarga Bramantyo. CEO Bramantyo Group yang bernama Charlie membuat Aridya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekuat apapun Aridya mengejar Charlie, tetap Charlie tidak menerima cintanya. Aridya memanfaatkan kebaikan Charlie, dengan membuat Charlie tidak sadar dan membuat Charlie menidurinya, setelah kejadian itu, tapi tetap saja Charlie tidak mau menikahinya.


"Maaf Aridya, aku tidak mencintaimu. Ku harap kamu mau memaafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan itu, aku akan memberimu apa saja, tapi tidak dengan pernikahan."


Aridya terpaksa menerima kenyataan, walau dia telah memberikan tubuhnya, tapi tidak bisa mendapatkan cinta Charlie.


Sakit hati Aridya semakin menjadi, saat di perusahaan kedatangan seorang peneliti obat yang bernama Alinka Yolanda, dan membuat Charlie jatuh cinta pada gadis itu.


Kini laki-laki itu terus berusaha mengejar Alinka. Di dalam hati Charlie sudah terekat kuat seorang Alinka Yolanda, walau tidak mendapat restu dari keluarga besarnya untuk menikahi Alinka, Charlie tetap memperjuangkan cintanya, bahkan Charlie mengikuti jejak Alinka yang suka menolong orang kecil.


Charlie mulai mendistribusikan obat-obat paten yang di produk di perusahaannya secara gratis, untuk beberapa yayasan dan lembaga pengobatan yang menggratiskan pelayanan kesehatan mereka.


Hal ini semakin membuat keluarga besar Bramantyo marah, obat mahal diberikan Charlie secara cuma-cuma. Charlie tidak peduli, dia rela menentang keluarganya hanya demi mengejar cinta Alinka Yolanda.


*


Aridya mengusap air matanya, perjuangan cintanya yang gagal membuat hatinya merasakan rasa sakit seperti saat itu.


Kenangan Aridya berganti pada saat Charlie memohon penawar padanya.


"Aku akan membayar berapa saja yang kamu minta, Aridya. Kata peneliti obat, penawar yang sudah jadi kamu curi. Mereka bisa membuat lagi, tapi itu butuh waktu. Saat ini Alinka sangat membutuhkan penawar itu, tidak bisa menunggu lagi."


"Aku tidak terlibat dalam pencurian itu." Aridya berkilah.


"Kalau aku punya, aku tidak mau memberikan secara cuma-cuma."


"Katakan, kamu ingin uang berapa? Aku akan memberikan sebanyak yang kamu mau."


"Aku tidak mau uangmu, tapi aku mau dirimu!"


"Kau gila Aridya, aku sudah menikah dengan Alinka, dan kami sudah memiliki anak dari pernikahan kami."


"Terserah, pilihan ada padamu, nikahi aku penawar akan kamu dapat, atau putrimu yang baru lahir akan kehilangan ibunya."


"Aku tidak bisa mencintaimu, Aridya."


"Cintaku cukup untuk kita berdua, Charlie."


"Apa saja aku berikan, tapi tidak dengan pernikahan, Aridya"


"Kalau kamu tidak mau, aku juga tidak akan memberikan penawar itu!"


Dada Aridya semakin sesak mengingat kenangan itu, harapannya dia akan hidup bahagia dengan Charlie setelah Alinka tiada, karena dia sengaja memberi hanya setengah dosis dari penawar itu, ternyata setelah Alinka tiada, Charlie juga ikut pergi bersama Alinka. Kenyataan yang sangat jauh berbeda dari khayalannya, mereka berdua pergi di waktu yang hampir bersamaan, membuat Aridya semakin sakit.

__ADS_1


Sekuat apapun Aridya meminta perhatian Charlie selama pernikahan, tetap saja laki-laki itu tidak melihatnya. Bahkan dia tidak pernah tidur dengan Charlie.


Walau Charlie tidak pernah melihatnya dan tidak menyentuhnya, Aridya merasa beruntung, karena keluarga Charlie sangat memperhatikannya, dan dirinyalah yang diakui sebagai menantu sah keluarga Bramantyo dan tinggal di rumah besar keluarga Bramantyo, walau pernikahan mereka tidak tercatat di catatan Negara.


Tapi itu sebelum keluarga besar Charlie tahu, kalau Nazif bukan anak kandung Charlie. Karena hal itu Aridya di usir dari kediaman keluarga Bramantyo. Karena mereka tidak bisa memanfaatkan Aridya untuk mewarisi harta Charlie, karena semuanya sudah tertulis atas nama Diana.


Namun mereka tetap berhubungan baik dengan Aridya, karena Aridya memiliki Nazif, yang merupakan anak dari seseorang yang penting bagi keluarga Bramantyo.


**


"Ternyata Ivan tidak sebodoh Charlie, dia bisa melihat mana permata dan mana beling. Di kehidupan ini, anakku yang akan memenangkan cintanya."


Gupppp!


Suara mesin mobil yang berhenti, dan suara pintu mobil yang tertutup membuat Aridya tersadar dari khayalan masa lalunya. Dia segera berlari menuju pintu utama menyambut kedatangan putrinya.


Sesampai rumah, lampu terang masih menyala. Agis belum keluar dari mobilnya tapi pintu utama rumahnya sudah terbuka. Terlihat di sana Aridya berlari kearahnya.


“Bagaimana sayang? Apa kata Ivan saat melihatmu? Apa dia memujimu? Bagaimana makan malamnya?”


Agis tesenyum karena ibunya terus mencecarnya dengan pertanyaan. “Mama, aku akan cerita tapi di dalam rumah ya.”


Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah.


“Cepat ceritakan, bagaimana makan malam kalian?” Aridya sudah tidak bisa bersabar lagi.


“Ivan tidak datang, mama.”


“Apa?!”


“Walau dia tidak datang, tapi dia melakukan hal istimewa untukku?”


“Bagaimana kamu bisa bahagia seperti ini, sedang Ivan saja membohongimu!”


“Mama, dengarkan aku. Ivan akan menjadi sponsor utama film yang aku bintangi, bahkan dia mengratiskan tempat syuting film yang aku bintangi nanti, dengan syarat hanya aku bintang utama film itu.”


“Ini—” Wajah Aridya seketika bahagia.


“Mama tahu sendiri kalau Universitas Bina Jaya selama ini menutup akses untuk dunia hiburan tanah air. Sangat banyak rumah produksi yang ingin syuting di sana, tapi ditolak. Sedang aku, mereka mengizinkan syuting di sana hanya karena aku, mama.” Agis terlihat begitu ceria.


“Berarti Ivan benar-benar menyukaimu, mama harus ceritakan ini pada adikmu.”


“Terus apa ada perkembangan tentang rencana keluarga kita pada Diana?” tanya Agis.


***

__ADS_1


Bersambung.


***


__ADS_2