
Sepanjang perjalan menuju Universitas, Diana terus memainkan handphonenya, dia terus berikirm pesan dengan seseorang. Saat Diana menegakan wajahnya, dia melihat wajah Tony sangat berubah, dia terlihat sangat tertekan.
"Ada apa, Tony?"
"Aku tidak tahu harus berbicara darimana." Tony sangat kebingungan.
“Kita ke sana dulu.” Diana menunjuk salah satu Restoran yang tidak jauh dari Universitas.
Setelah memasuki Restoran itu, Tony memberikan beberapa ikat uang ke pelayan. “Tolong kosongkan Restoran ini, apakah ini cukup untuk membooking semuanya?”
“Sangat cukup, Tuan.”
Pelayan langsung melakukan tugas mereka, beberapa menit kemudian, Restoran langsung kosong, bahkan pelayan pun tidak diizinkan Tony berkeliaran di sekitar mereka, Tony mengatakan kalau mereka perlu mereka akan memanggil. Saat ini hanya ada dia dan Diana di sana.
"Keadaan sudah aman, ayo ceritakan, hal apa yang begitu menekanmu?" tanya Diana
“Tugas darimu sangat berat Diana.” Tony menelungkupkan wajahnya keatas meja, dia tidak bisa lagi menyembunyikan kehancuran dirinya. “Kamu tahu sendiri obat itu sangat berharga dan dijaga begitu ketat.”
“Aku tahu, sebab itu aku menyuruhmu mengambil obat itu, karena aku masih cuti aku belum bisa ke sana.”
"Aku sangat stres melakukan tugas ini, Diana."
__ADS_1
Diana memahami kegundahan Tony. “Maafkan aku, aku berjanji padamu, aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.”
“Akhirnya kita bsa bertemu juga Diana.” Sesorang tiba-tiba menarik salah satu kursi yang ada di dekat Diana. “Aku kira kamu mempermainkanku memintaku datang ke sini,” ucapnya.
Tony berusaha menutupi kesedihannya, Tony menata jely wajah laki-laki yang ada di dekat Diana. “Dia Russel? Anggota cadangan IMO?” Tony memastikan.
“Iya, aku Russel, peserta IMO yang tidak pernah berhasil menjadi anggota resmi di IMO,” ucap Russel.
“Dia memang tidak bisa menjadi anggota resmi IMO, tapi dia adalah Profesor di Universitas favorite yang ada di kota ini,” puji Diana.
“Ya, Universitas milik seorang Ivan Hadi Dwipangga tunagannya Diana Rahma Adelia Bramantyo,” ucap Russel.
*Apa? Ivan Hadi Dwipangga tunangan Diana?
Merasa diabaikan, Tony memggunakan kesempatan ini untuk memberi kabar ke group IMO kalau ketua mereka bertunangan dengan seorang rich man Ivan Hadi Dwipangga.
Group seketika ramai saat semua anggota menerima kabar itu. Diana adalah anggota paling muda di IMO, semua Anggota IMO sangat menyayanginya, mendengar berita tersebut semua Anggota langsung menggunakan keahlian mereka memeriksa Ivan. Mereka tidak rela kalau Ketua mereka bertunangan dengan seseorang yang jahat.
*
Banyak hal yang dibicarakan Diana dan Russel, sedang Tony setia menatap layar handphonenya, jemarinya juga terus menari mengetik banyak kata di sana.
__ADS_1
“Aku pamit dulu Diana, ada rapat yang harus ku hadiri. Ingat Diana, kamu harus hadir di mata kuliahku nanti sore,” ucap Russel.
“Akan aku usahakan,” sahut Diana.
Setelah Russel pergi, Tony memberikan handphonenya pada Diana.
“Apa lagi?” tanya Diana.
“Apa benar yang aku dengar, kau dan Ivan bertunangan? Kenapa kamu tidak cerita sebelumnya?” tanya Tony.
“Kamu tidak bertanya,” sahut Diana.
“Yakin kamu menjadikan dia pasanganmu?” Tony terlihat ragu.
“Ada yang salah?” tanya Diana.
“Lihat handphoneku, Ivan adalah sainganmu.”
Diana segera membaca laporan yang ada di handphone Tony.
"Siapapun dia, selama dia tidak mencelakaiku, dia bukan orang yang berbahaya bagiku," ucap Diana.
__ADS_1
Setelah menikmati makanan mereka, Diana mengantar Tony ke suatu tempat, mereka menumpangi taksi online. Setelah mengantar Tony, Diana teringat Ivan. Dia segera minta supir taksi untuk mengantarnya ke Perusahaan Agung Jaya.