
Di kediaman Keluarga Kesuma.
Veronica hanya bisa diam dalam pelukan ibunya, pikirannya semakin kacau, segala rencananya selalu gagal, bahkan hari-harinya menghirup udara bebas semakin sedikit, karena jika persidangan dimenangkan oleh Diana, uang dan jabatan Ayahnya tidak bisa menukar kebebasannya.
Danu berulang kali memijat pelipisnya, sangat pusing dengan masalah yang Veronica timbulkan, usahanya membujuk ibu tiri Diana agar Diana mencabut tuntutannya juga tidak membuahkan hasil, sedang hari persidangan pertama semakin dekat.
"Pengacara Nizam berhasil membuat persidangan lebih cepat, ini mematahkan usaha kita supaya persidangan ditunda lebih lama," gerutu pengacara Veronica. Sore ini mereka harus menghadiri sidang pertama kasus yang menyeret Veronica.
"Bagaimana pun caranya, kalian harus bisa mengatur supaya Veronica diperbolehkan tidak menghadiri sidang," sela Mayesta.
"Itu sudah kami atur Nyonya, persidangan kali ini hanya diwakili oleh kuasa hukum, sepertinya pihak Diana juga tidak datang, aku kemaren mendengar sekilas kalau Diana tidak bisa hadir dalam persidangan sore nanti."
"Kenapa kasus ini sampai ke pengadilan? Apa kamu tidak bisa membereskannya di awal Danu?!" Wanita tua itu menggeleng, dia tidak rela cucunya diseret ke meja hijau. “Kemana kekuatan kamu Danu? Kamu diam saja lihat anakmu?!”
“Ibu, aku sudah berusaha sebisaku,” sahut Danu.
“Sepertinya aku juga harus turun tangan untuk membela cucuku.”
“Ibu mau apa?” tanya Mayesta.
“Menemui Zunea, berbicara sebagai seorang teman dengannya.”
“Ide Nyonya besar sangat bagus, setidaknya kalau Nyonya besar bisa membujuk keluarga Nyonya Zunea untuk memaafkan Veronica, maka Veronica akan terbebas dari satu pasal,” sela pengacara Veronica.
“Kalau begitu, panggilkan supir, biar si tua renta ini turun tangan!” ucap nenek Veronica kesal. Dia merasa yang muda tidak becus menangani urusan ini.
****
Di tempat lain ….
Diana duduk santai di salah satu bangku taman yang ada di kampusnya. Sejak pagi dia membolos. semangat belajarnya saat ini pudar. Pikirannya masih memikirkan tentang siapa yang berniat menghabisinya. Pikiran Diana terbang entah kemana.
Apakah mereka yang berniat membunuhku, berkaitan dengan pembunuhan ibuku?
Kalau iya, maka kerja kerasku untuk menyingkap misteri kematian ibuku sedikit lagi menemui jalan terang. Tapi siapa mereka?
Diana menilik jam tangannya, sebentar lagi mata kuliah professor Russel akan selesai, Diana bangkit dari duduknya, dan segera memacu langkahnya menuju kelas professor Russel.
Di dalam kelas.
Profesor Russel mulai membereskan beberapa kertas yang ada diatas mejanya. “Ada pertanyaan?” matanya memandangi semua Mahasiswanya.
“Tidak ada prof,” jawab semua Mahasiswa serentak.
“Sekian kelas saya hari ini, jangan lupa tugas dari saya dikumpulkan minggu depan, kalau ada yang kesulitan silakan datangi saya ke ruangan saya.” Profesor Russel pun meninggalkan kelasnya.
Di depan kelas professor Russel memeriksa jadwalnya, fokusnya tiba-tiba terusik saat sekilas pandangan matanya tertuju ke ujung Lorong. Di sana terlihat Diana berdiri, pandangan matanya begitu tajam tertuju pada professor Russel.
Merasa professor Russel menyadari keberadaanya, Diana berjalan menuju tempat yang dia rasa sepi, professor Russel melihat-lihat keadaan sekitar, karena sepi dia pun segera menyusul Diana. Di tempat itu hanya Diana dan professor Russel.
“Kenapa kamu sangat susah dihubungi?” Pertanyaan yang sejak kemaren berputar di benak Diana.
__ADS_1
“Aku hanya hati-hati Diana.”
“Hati-hati?”
“Iya, aku tidak ingin ada yang curiga kalau aku salah satu orang yang membantumu.”
“Jadi, kamu sudah menemukan identitas orang yang ingin membunuhku?”
“Belum.” Russel menghembuskan napasnya begitu kasar. “Aku yakin, mereka orang yang sangat kuat pengaruhnya, sangat sulit melacak dan mencari tahu tentang mereka. Mereka bukan orang sembarangan, Diana. Aku sangat mohon padamu agar kamu semakin waspada dan meningkatkan kehati-hatianmu, mereka sangat hebat pastinya.”
Diana terlihat membuat otaknya bekerja keras memikirkan hal ini, sampai saat ini identitas orang yang ingin membunuhnya belum juga terungkap. Sekuat apa? Dan sehebat apa mereka. Pikiran Diana terus berputar tentang hal itu.
Profesor Russel mengambil sesuatu dari sakunya. “Ini kunci laboratorium pribadiku, lakukan apa yang ingin kamu lakukan di sana.”
Diana menerima kunci laboratorium Russel. “Terima kasih.”
Diana dan Russel berpisah, Russel kembali ke ruangannya, sedang Diana pergi ketempat lain, semangatnya untuk belajar saat ini benar-benar luntur.
Tink!
Handphone Diana menerima satu pesan, setelah membaca isi pesan itu, dia pun segera pergi ketempat yang disebutkan oleh sang pengirim pesan.
****
Di ruangan Dosen.
Setelah mengajar di kelasnya, Febrian memeriksa list Absensi Mahasiswanya, perhatiannya terfokus pada satu nama yang sangat sering bolos pada setiap mata kuliah yang berlangsung. ‘Diana Rahhma—' Brian segera mencari tahu data diri mahasiwanya, saat dia mengetik nama ‘Diana Rahma’ hanya ada deretan nomor telepon tanpa nama dan tanpa ada keterangan status kekeluargaan, hanya nomor-nomor telepon saja yang ada pada data-data Diana. Brian memijit kepalanya, bingung mau menghubungi nomor yang mana. Brian memilih secara acak, dan langsung menelepon nomor yang dia pilih.
Sapaan di ujung telepon itu membuat Brian berpikir. Laki-laki, dari suaranya masih muda. Tidak mungkin kalau dia Ayah Diana.
“Halo ….”
Sapaan itu menyadarkan Brian dari pemikirannya. “Iya halo, apakah ini dengan kerabat Diana Rahma?”
“Iya benar sekali, ada apa ya Pak?”
“Saya adalah Pembimbing Akademik Diana, bisakah saya meminta waktu Anda sebentar?”
“Bisa Pak.”
“Begini, Diana Rahma sering membolos, bahkan sangat banyak mata kuliah yang dia lewatkan. Saya sangat berharap agar Anda lebih memerhatikan jadwal kuliah adik Anda.”
Brian terus mengatkan hal yang berkaitan dengan kuliah Diana, walau dia hanya mendapat jawaban ‘ Iya Pak’ dan ‘Baik Pak’ dari ujung telepon sana.
****
Di kantor Ivan.
Seperti hari-hari biasa, Ivan selalu sibuk dengan bermacam berkas yang antri dengan sentuhannya. Tiba-tiba deringan handphone membuat fokus Ivan buyar. Ivan mencari benda pipih persegi Panjang yang terus berdering itu, ternyata dia meninggalkan handphonenya di atas meja tamu. Yudha juga terlihat sibuk di sana.
“Yudha, bisa minta tolong?”
__ADS_1
Yudha faham dengan maksud Ivan, dia langsung menyambar handphone Ivan dan memberikannya pada Ivan.
“Dari siapa?” mata Ivan kembali fokus pada layar laptopnya.
“Tidak ada namanya.” Yudha memperlihatkan layar hanphone itu kearah yang punya.
“Bisa tolong diangkat? Jangan lupa nyalakan loudspeakernya.”
Yudha pun melakukan apa yang Ivan minta. Mulanya Ivan tidak fokus dengan si penelepon, mendengar itu adalah Dosen Wali di kelas Diana, Ivan pun mulai fokus mendengari segala perkataan dari ujung telepon sana. Sedang Yudha, dia berusaha keras menahan tawanya, saat mendengar begitu jelas segala aduan Dosen tentang Diana yang membolos, apalagi saat dosen mengira kalau Ivan adalah kakak Diana.
Mendengar panggilan sudah berakhir, Yudha meletakkan handphone Ivan di atas meja kerja Ivan. Tawanya pun tidak bisa dia tahan lagi. “Huhhhh ….” Yudha berusaha keras agar berhenti tertawa, tapi tidak bisa. “Demi apa ini?” Yudha masih tidak bisa behenti tertawa. “Seorang Ivan Hadi Dwipangga, murid teladan dari TK sampai Fakultas, Mahasiswa yang sangat patuh, mendapat peringatan dari dosen.” Yudha memegangi perutnya, karena tidak bisa berhenti tertawa. Berulang kali dia memukul meja Ivan, menertawakan Ivan yang ditelepon oleh Dosen Wali, Diana.
“Aku harus memberi Diana hadiah sepertinya, karena sebab dia, seorang Ivan Hadi Dwipangga yang sangat teladan, dan dia sangat mustahil mendapat surat peringatan, sekarang malah mendapatkannya.” Yudha terus terkikik, dia sangat puas, baginya ini sangat lucu.
Ivan menatap Yudha dengan sorot mata yang begitu tajam, memberi tatapan peringatan pada Yudha agar Yudha diam.
Tok! Tok!
Suara ketukkan pintu berhasil membuat Yudha menghentikan gelak tawanya. “Masuk,” sahut Yudha.
Perlahan pintu pun terbuka. “Selamat sore Tuan Ivan, Tuan Yudha.” Sapa Amanda sopan.
Raut wajah Ivan dan Yudha seketika berubah datar, saat melihat Amanda yang memasuki ruangan.
Amanda terus melangkah kedalam ruangan Ivan, dan berhenti di samping meja kerja Ivan. “InI Tuan, dokumen-dokumen penting yang Anda minta.” Amanda meletakkan beberapa berkas yang dia bawa diatas meja Ivan.
“Oke, nanti saya periksa,” sahut Ivan dingin.
“Oh ya Tuan, saya ingin melaporkan sesuatu.” Amanda mengeluarkan handphone dari sakunya. “Foto ini saya ambil di halte bus yang dekat dengan kantor kita, Tuan.”
Ivan dengan jelas melihat Diana dan Fredy berdua di foto itu, bahkan jarak keduanya lumayan dekat.
“Maaf Tuan, bukan maksud saya mencampuri, hanya saja saya khawatir kalau Nona Diana mencurangi Anda. Lihat dia sangat dekat dengan CEO Edge Group.”
“Bagaimana kalau Nona Diana adalah kaki tangan Tuan Fredy? Jangan-jangan saat dia merusak dokumen penting tempo hari, tujuannya supaya perusahaan Tuan Ivan kalah, dan tender pastinya akan dimenangkan oleh Edge Group. Saya yakin, itu semua pasti rencana Tuan Fredy.”
Ivan menumpukan dagunya pada tangan kanannya, mendengari laporan Amanda yang sangat membosankan. “Oh ….” Tanggapannya.
“Tuan harus hati-hati, jangan sampai tertipu oleh keluguannya,” ucap Amanda.
“Oke, aku mengerti.”
Amanda merasa kurang puas, expresi Ivan yang sangat datar.
“Ada lagi? Kalau tidak ada tolong kamu keluar.”
Amanda mematung, dia sangat bingung kenapa Ivan sama sekali tidak emosi mendengar semua laporannya. Amanda berusaha menyalakan api lagi. “Tatt—”
Ceklak!
Suara pintu ruangan yang terbuka membuat semua perhatian tertuju kearah pintu. Melihat sosok yang baru memasuki ruangan Ivan, mulut Yudha terbuka lebar, mengagumi sosok gadis muda yang sangat cantik dengan gaun indah yang dia pakai, gaun itu memperlihatkan indahnya lekuk tubuh si pemilik tubuh, dan memperlihatkan sepasang kakinya yang jenjang hingga atas lutut, pemandangan yang sangat indah. Tidak hanya Yudha yang tertegun melihat gadis itu, Ivan pun ikut mematung melihat indahnya ciptaan Tuhan yang ada di depan matanya.
__ADS_1