
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi semua orang yang ada di dalam ruangan. Perlahan pintu terbuka memperlihatkan sosok Yudha dan beberapa orang yang mengenakan jas lengkap.
"Hei, ada Diana." Yudha melempar senyumnya pada Diana.
Sedang Diana hanya membalasnya dengan senyuman kecil dan anggukan kepalanya.
“Bagaimana? Sudah menemukan solusinya?” Ivan sengaja mengalihkan perhatian Yudha.
"Iya, sudah Van. Semua sudah beres. Hanya tinggal beberapa pengecekan ulang saja."
"Jadi, kalian sudah menemukan di mana titik masalahnya?" tanya Ivan.
“Presiden SW Group ragu, karena ada dana yang tidak wajar dalam proyek kita yang berlangsung, di tambah Agung Jaya tidak membayar pajak, mereka semakin tidak bersemangat untuk terlibat dalam proyek yang tengah berjalan,” terang Yudha.
"Kami sulit percaya saat memeriksa daftar pajak, dan Agung Jaya salah satu perusahaan yang tidak menunaikan pajak, di sinilah timbul keraguan dari Tuan muda kami," ucap salah satu pegawai SW Group.
“Itu kelengahan kami, beruntung Diana menyadari permainan para kepala bagian.” Ivan mulai menceritakan pengkhianatan yang ada di dalam Agung Jaya. Dia memberikan laporan bukti korupsi para kepala bagian itu.
Salah satu laki-laki ber jas yang berdiri di samping Yudha memfoto beberapa dokumen yang dia baca, dan dia kirim pada atasannya. Selang beberapa menit handphonenya kembali berdering, dia tersenyum setelah membaca isi pesan tersebut. “Tuan Muda Yamaka akan segera datang ke sini,” ucapnya.
“Waw, aku sangat tersanjung mendengar hal ini,” sahut Ivan.
"Jadi pembahasan kerjasama kita, kita Tunggu kedatangab Tuan Muda kami."
"Tentu saja," sahut Ivan.
Ivan mengajak mereka untuk menikmati kopi sembari menunggu kedatangan presiden SW Group tersebut.
**
Di sisi lain.
Anton berjalan-jalan di kota itu, dia menuju pasar untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga istrinya di desa. Diana mengenal Anton bukan hanya karena dia cucu dari seorang guru besar, tapi Anton dan Diana juga berasal dari desa yang sama, namun mereka menghabiskan Sebagian besar waktu mereka untuk belajar dan melakukan penelitian di berbagai negara. Deringan handphone menyadarkan Anton dari perhatiaannya yang sedari tadi memperhatikan barang-barang yang orang jual. Anton segera mengambil handphonenya, terlihat nama istrinya di layar handphone.
“Kamu sudah sampai di kota?”
“Sudah, kamu sendiri?”
“Aku baru sampai, oh iya jangan lupa oleh-oleh untuk Ayah dan ibuku.”
“Aku sedang mencarinya, aku belum tahu harus membeli apa,” sahut Anton.
“Kamu jadi bertemu Diana?”
__ADS_1
“Bukan hanya bertemu Diana, aku juga bertemu dengan tunangannya, bahkan kami tinggal di tempat yang berdekatan.”
“Tadi Ayah ketempat dokter Zelin, dan Ayah mendengar kalau Diana akan pulang bersama tunangannya.”
“Wah, ini kabar yang mengejutkan, akhirnya Diana membawa pulang seorang laki-laki,” sahut Anton.
“Ya sudah sana, fokus untuk oleh-oleh, kita lama merantau, setidaknya ada sedikit cinderamata untuk kedua orang tua kita.”
“Tentu.” Anton menyudahi panggilan telepon dengan istrinya. Rasanya sulit mempercayai kalau Diana akan mengajak Ivan ke desanya. Anton langsung menghubungi Diana, memastikan kabar tersebut.
**
Di kantor Agung Jaya.
Merasa handphonenya bergetar, Diana mengintip layar handponennya, melihat yang menelepon adalah Anton, Diana izin undur diri pada Ivan, dia mengisyaratkan kalau dia ingin menerima panggilan. Setelah keluar dari rapat, Diana langsung menelepon balik Anton.
“Halo Diana.”
“Ada apa?” tanya Diana.
“Aku mendengar kabar, kalau kamu akan pulang ke desa bersama Ivan. Apa itu benar?”
“Iya, sangat benar. Walau ikatanku dengan Ivan hanya di ketahui oleh beberapa orang, tapi bagaimana pun dia berhak ikut bersamaku ke desa.”
“Iya aku faham kalau hanya aku dan beberapa orang saja yang tahu kalau kalian sudah menikah, bahkan Nenekmu saja belum tahu. Tapi ini pertama kalinya kamu pulang ke desa membawa seorang laki-laki, kalau kamu mau menerima bantuanku, aku siap membantu. Karena istriku adalah anak kepala adat desa kita.”
“Oke Diana, aku hanya ingin membantumu, kamu tahu sendiri proses adat di desa kita sedikit lebih rumit.”
“Iya, aku sangat mengerti,” sahut Diana.
“Oh iya Diana, sebaiknya kamu batalkan untuk mentransfer uangmu, aku tidak butuh lagi,” ucap Anton.
“Kenapa begitu? Sebelumnya kamu bilang butuh untuk pembelian beberapa alat Kesehatan di Rumah Sakitmu.”
“Tidak usah, Diana. Aku akan mendapat bantuan dari Ivan, dia akan memberiku 1 triliyun.”
“Jangan terima uang Ivan, kamu terima uangku saja. Aku secepatnya akan mengirim uangnya dalam jumlah yang sama.” Diana menyudahi sambungan teleponnya, dan dia langsung masuk ke dalam ruangan rapat.
“Ivan, bisa kita bicara?”
“Tentu saja permataku.” Ivan langsung menyusul Diana.
Melihat Ivan berjalan kearahnya, Diana berjalan lebih dulu, hingga mereka sampai di sudut yang sepi.
“Ada apa sayang?” tanya Ivan.
__ADS_1
“Kamu sudah mengirim uang pada Anton?”
“Belum, aku tidak mentrasfer, aku hanya ingin memberinya cek.”
“Kamu itu terlalu boros Van, iya aku tahu kamu kaya raya, tapi jangan terlalu boros, kamu baru saja mengalami kerugian besar, tolong tahan dulu keinginan baikmu.”
“Tapi Diana—”
“Telepon Anton sekarang, katakan kamu batal membantunya karena ada kerugian di perusahaanmu.”
“Aku tidak enak Diana ….”
“Telepon dia,” ucap Diana begitu dingin.
Wanita selalu benar, Ivan mengalah dan langsung menghubungi Anton.
“Halo Van.”
“Anton, maafkan aku, aku batal membantumu.”
“Tidak apa-apa Van, aku akan mendapat bantuan dari Diana.”
Setelah mengucapkan kata maaf, Ivan pura-pura memutuskan sambungan teleponnya dengan Anton.
Ivan memandang pada Diana. “Apa begini sudah benar?”
Diana menganggukan kepalanya. “Baiklah, aku tunggu kamu di ruang rapat.” Diana berjalan menuju ruang rapat.
Setelah Diana menghilang di balik pintu, Ivan kembali menempelkan handphonenya di sisi telinganya. “Anton! Anton! Kamu masih di situ?”
“Masih Van, aku menunggumu, aku tidak enak meyudahi panggilan karena kamu belum memutuskan panggilan kita.”
“Bagus!”
“Ada apa Van?”
“Bagaimana pun caranya, kamu terima bantuanku, dan tahan bantuan dari Diana, selama ini Diana sudah sering membantumu, walau kali ini aku yang membantumu, tapi ini juga atas nama Diana. Aku tidak mau tahu, kamu harus terima bantuanku. Ya sudah, sampai jumpa lagi.”
Setelah menutup sambungan telepon mereka, Ivan berlari menuju ruang rapat.
Di belahan lain.
Anton memandangi layar handphonenya, dia bingung harus menerima bantuan dari siapa. Belum terjawab kebimbangan Anton, tiba-tiba ada pesan baru yang masuk dari Diana.
*Ingat terima bantuan dariku seperti biasa.
__ADS_1
Anton menghempas napasnya begitu kasar. Ivan dan Diana sama-sama konglomerat yang suka menolong, Diana menolongnya agar Ivan tidak perlu keluar dana untuk menolong orang, sedang Ivan ingin menolong Anton demi Diana.
“Ya Tuhan … beri aku kekuatan untuk menentukan, menolak bantuan salah satunya, atau menerima kedua bantuan ini.”