Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 200 Privasi


__ADS_3

Aridya sangat kesal melihat Ivan sangat menghormati Jennifer. "Tidak perlu menghormati dia seperti itu, dia tidak pantas kamu perlakukan begitu, yang ada dia bisa lupa dari mana asalnya," ucap Aridya.


"Maaf Tante, Dia orang yang sangat dicintai Kakakku, wajar aku memuliakan dan menghormatinya, yang membuatku menghormati dia, bukan siapa dia, dan dari mana asalnya, tapi karena dia sangat berarti bagi Kakakku."


Jennifer tersenyum sinis pada Aridya, tanpa berkata dia sudah mendapat dukungan dari Ivan.


"Kenapa kamu malah kembali ke rumah?" Tanya Jennifer pada Ivan.


"Aku hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian, sepertinya kalian sangat serius," sahut Ivan.


"Hanya pembicaraan kecil yang menyangkut urusan perempuan, dan sudah selesai," ucap Jennifer.


"Kalau sudah selesai, apa Kakak Ipar keberatan aku mengantar mereka pulang?" Ucap Ivan.


"Wow, diantar dan di jemput, siapakah mereka bagimu?" Goda Jennifer.


"Mereka adalah keluarga wanita yang sangat aku cinta, Kakak Ipar. Calon istriku namanya Diana, dia adalah keluarga dua wanita yang ada di depan Kakak ipar," ucap Ivan.


Wajah agis dan Aridya sangat masam, Ivan melihat mereka hanya karena Diana.


"Karena Diana masih mengikuti tugas kuliah di luar Negri, jadi aku mengundang dua keluarga Diana, sebagai perwakilan dia. Rasanya sangat kurang jika kami menjamu Kakak ipar, tapi anggota keluarga kami belum lengkap," ucap Ivan lagi.


Jennifer menatap Agis dan Aridya dengan tatapan yang meremehkan. "Owh, mereka sebagai perwakilan dari keluarga calon istrimu."


"Ya, begitulah. Apa yang berarti bagi Diana, maka hal itu sangat berarti untukku," sahut Ivan.


"Sepertinya kamu sangat mencintai Diana," goda Jennifer.


"Entahlah apa ini namanya, jika di bumi ini tidak bisa menerima kami berdua, aku rela pergi ke planet lain, asal bisa bersama Diana." Wajah Ivan terlihat merona menahan malu.


"Manis sekali, aku suka semangatmu." Jennifer melirik Aridiya dan Agis dengan sorot mata meremehkan mereka.


Jennifer kembali menoleh pada Ivan. "Kalau begitu, antar mereka dulu, Ivan. Seorang Wagiswari Wulandari pasti sangat sibuk."


"Kakak ipar benar, aku pamit mengantar mereka dulu kak." Ivan langsung berjalan menuju kemudi mobilnya.


Jennifer mendekati Agis. "Lihat sendiri, kamu sama sekali tidak berarti!"


Agis hanya bisa menelan salivanya, dia segera masuk kedalam mobil Ivan, di susul oleh Aridya. Perlahan mobil Ivan melaju meninggalkan area kediaman Kakek Agung. Jennifer terus tersenyum memandangi kepergian Agis dan ibunya.


"Kenapa kamu terlihat sangat bahagia?"


"Mmmm?" Jennifer baru menyadari Angga sudah berada di sampingnya. "Bagaimana aku tidak bahagia? Keluargamu sangat baik, dan adikmu sangat sopan dan sangat menghormatiku."


"Kalau begitu, aku lega melihatmu bahagia, ayo aku antar pulang ke hotel. Kamu harus istirahat."


Angga segera mengantar Jennifer ke hotel, setelah mengantar Jennifer, Angga kembali ke kediaman Agung Jaya.

__ADS_1


***


Kamar hotel Jennifer.


Jennifer langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Diana.


"Diana, tebak aku habis dari mana?"


"Aku malas berpikir," ucap Diana.


"Aku habis makan malam bersama keluarga Agung Jaya," ucap Jennifer.


"Bagaimana sambutan mereka?"


"Kakek Agung, dan Ayah Angga sangat baik dan sangat ramah  tapi mamanya, ihh ingin rasanya aku mengantarnya ke tempat pelatihan untuk senyum."


Diana tertawa mendengarkan aduan Jennifer.


"Tertawa sepuasmu Diana, setelah kamu tahu apa yang terjadi di sana, apakah kamu masih bisa tertawa?"


Diana berusaha berhenti tertawa, entah kenapa baginya lucu mengetahui Jennifer malah bernasib sama sepertinya, yaitu mendapat kebencian Rani. "Emm, memangnya apa yang terjadi di sana?"


"Kakak tirimu datang ke rumah agung Jaya bersama ibunya. Lebih parahnya Ivan yang menjemput, juga mengantar mereka"


Diana seketika membisu.


"Kakak tirimu berusaha merebut Ivan darimu," ucap Jennifer.


"Bukan perkara baru jika mereka ingin merebut apa saja yang telah aku miliki. Hal yang pasti milikku saja, dia selalu berusaha untuk merampas, apalagi Ivan yang belum resmi menjadi milikku."


"Tenang, Diana. Mereka tidak akan mampu merebut Ivan darimu, secara Ivan sangat mencintaimu."


"Ayah dan ibuku saling mencintai, tetap saja ada celah bagi orang untuk merebut Ayahku," ucap Diana.


Perkataan Diana membuat tenggorokan Jennifer terasa tercekak. "Oh iya, Diana. Aku akan mengurus Kakak tirimu itu, aku mau memberi dia kejutan besok," ucap Jennifer.


"Jangan terlalu memperlihatkan dirimu Jen, hanya untuk melindungiku."


Diana menarik napasnya begitu dalam. "Aku sudah terlalu banyak kehilangan, kehilangan kedua orang tuaku, kehilangan masa kecilku yang seharusnya menikmati masa-masa indah sebagai anak-anak, bahkan aku kehilangan identitasku. Karena teror yang terus mengincarku, aku harus menyembunyikan identitasku. Jadi … aku tidak takut kehilangan lagi, aku sudah biasa," sahut Diana.


Diana kembali menghela napasnya begitu dalam. "Sumber cinta, dan cinta terbesar dalam hidupku saja, aku belajar merelakan kepergian mereka, apalagi Ivan, bahkan sebelum memilikinya, aku sudah siap kehilangan dia."


Jennifer membisu. Nasibnya dan nasib Diana tidak jauh berbeda, namun mendengar ucapan Diana, hati Jennifer sangat nyeri  bagai dihantam sebuah batu besar.


"Agis menyewa paparazzi untuk memviralkan kedekatannya dengan Ivan, aku sudah membereskan hal itu. Oh iya, kamu tidak mau memberiku imbalan atas kerja kerasku malam ini?" Tanya Jennifer.


"Imbalan apa yang kamu mau? Jangan bilang kamu masih ngotot memintaku mencari tahu hacker itu," tebak Diana.

__ADS_1


"Apalagi? Saat ini tujuanku hanya itu, tujuan ku yang lain sudah tercapai, dicintai seseorang dengan tulus, dan melihat orang yang aku cinta bisa berjalan normal."


"Boleh aku bicara banyak hal?"


Jennifer tertawa mendengar pertanyaan Diana. "Ini yang orang tunggu, selama ini kamu irit bicara," ledek Jennifer.


"Perasaan kasih dan sayang yang tumbuh di hati kita, membuat kita ingin tahu banyak hal tentang orang yang kita sayangi. Sekecil apapun yang berkaitan dengan yang kita sayang, kita selalu ingin tahu segalanya tentang dia."


"Tahukah kamu, keingintahuan seperti itu membuat seseorang yang memiliki privasi, merasa terganggu dan tidak nyaman."


"Saranku, berhenti mencari tahu siapa No Name, karena tujuanmu itu membuat No Name tidak nyaman, mungkin saat ini No Name tahu, kalau kamu dan orang-orang yang berhutang budi padanya ingin bertemu dengannya."


"Perlu kamu ingat Jen, rasa sayang itu seharusnya bertujuan memupuk rasa nyaman, bukan memperluas keingintahuan."


"Apa gunanya kamu mengetahui segalanya tentang orang yang kamu sayang, jika hal itu mengganggu dan membuatnya tidak nyaman dengan kekepoanmu?"


Jennifer berusaha memahami semua perkataan Diana. "Apa salah jika aku ingin tahu siapa dia? Karena aku hanya ingin berterima kasih."


"Ingin berterima kasih, tapi berusaha meruntuhkan privasinya?" Tanya Diana.


"Kepo boleh, tapi tidak semua orang senang jati dirinya diketahui. Sebab itu sangat penting menghargai privasi seseorang."


"Kamu saat ini, berbuat baiklah pada siapa saja, dan berusaha menolong mereka yang butuh pertolongan. Tuhan tidak buta, Tuhan tidak tidur, dia melihat semua ketulusan dan kebaikanmu, mungkin suatu saat Tuhan akan memberimu suatu Mukjizat, dengan membukakan padamu siapa No Name, dengan cara Tuhan. Lalu kamu akan mengetahui siapa No Name atas kehendak DIA. Apa yang tidak bisa dilakukan jika Tuhan menghendaki?"


Jennifer tidak bisa menjawab perkataan Diana, akhirnya dia menutup sambungan telepon tanpa mengucap sepatah kata.


***


Jerman.


Diana berharap Jennifer berhenti mencari tahu tentang No Name. Diana menaruh handphonenya di atas meja, namun handphone itu kembali berdering.  Melihat  nomor yang dia simpan dengan kode, Diana langsung menerima panggilan itu.


"Ada hal penting?" Tanya Diana.


"Ketua, ini aku Tony. Akhirnya kami bisa mendeteksi orang yang menyerang server kumputer IMO. Tapi memiliki kendala, Ketua."


"Apa itu?"


"Hadhif dan Zhafqar tidak bisa menembus pertahanan keamanan mereka."


"Kirim padaku kode dan program Regionalnya."


"Baik Ketua."


Setelah Diana mendapat apa yang dia minta, dia segera memeriksa semua itu. Saat memeriksa kode dan program itu, Diana merasa tidak asing.


"Ternyata dia." Diana membuang napasnya kasar saat mengetahui siapa pengkhianat itu.

__ADS_1


__ADS_2