
Pak Abi tebayang kejadian satu tahun yang lalu.
Waktu masih jam 02.00 Pak Abi dan beberapa rekannya melupakan hawa dingin pegunungan yang menusuk kulit mereka.
“Apakah sambungan telepon sudah terhubung?” tanya Pak Abi pada rekannya. Pak Abi seakan putus asa, perjalanan masih jauh, tapi sampai sekarang dokter Zelin belum menerima panggilan mereka.
“Belum di angkat Pak.”
Supir terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju desa tempat tinggal nenek Zelin. Apalagi nenek Zelin dan cucunya belum tahu kalau ada penyerangan saat ini. Pak Abi terus berdo’a agar Tuhan memberkati dan melindungi dokter Zelin dan cucunya Diana.
“Halo! Nyonya Zelin.”
Mendengar rekannya berbicara di telepon membuat Pak Abi lega.
“Kalian harus berhati-hati, kami mendapat info kalau banyak pembunuh bayaran yang akan menyerang kalian saat ini!”
Prank!
Rekan Abimayu yang mendengar suara pecahan itu hanya bisa memberi kode pada Abimayu, kalau penyerangan tengah berlangsung.
“Jangan khawatir, petugas keamanan kami banyak.” Suara wanita tua yang ada di ujung telepon sana menyadarkan rekan Pak Abi.
“Tapi Nyonya Zelin, rencana kedua mereka adalah memfitnah Anda kalau Anda lah yang menciptakan Virus yang saat ini mewabah di desa tetangga. Mereka akan pakai bukti semua mayat di sana untuk menyudutkan kalian.”
“Terima kasih, infonya.”
Rekan Pak Abi tidak bisa berkata banyak, sambungan telepon mereka diputus sepihak oleh nenek Zelin.
**
Saat Pak Abi dan dua rekannya sampai di pondok nenek Zelin, matahari mulai menampakan cahayanya, di sana terlihat biasa-biasa saja, tidak di temukan satu pun mayat. Nenek Zelin menyambut Pak Abi dan rekannya dengan wajah santai, seolah-olah tidak ada kejadian apapun sebelumnya.
“Ayo istirahat dulu, hangatkan tubuh kalian, kalian pasti Lelah dan kedinginan,” sambut nenek Zelin.
“Di mana ratusan pembunuh bayaran datang menyerbu desa untuk menghabisi dokter Zelin dan cucu Anda Diana,” tanya Pak Abi.
“Semua sudah ditangani,” sahut nenek Zelin lembut.
“Maafkan kami, karena kami terlambat mengetahui,” sesal Pak Abi.
__ADS_1
Nenek Zelin hanya tersenyum.
“Padahal kalian sudah bersembunyi di desa terpencil, tetap saja mereka menemukan kalian,” ucap salah satu rekan Abimayu.
“Bagi beberapa orang keajaiban yang dokter Zelin miliki suatu ancaman. Selain memiliki bakat medis yang luar biasa, dokter Zelin dan cucunya juga mengratiskan pengobatan untuk orang miskin. Hal ini suatu musibah bagi segelintir orang yang menjadikan dunia Kesehatan sebagai bisnis. Mereka siap membayar jutaan dollar agar dokter Zelin bekerja untuk mereka, dokter Zelin malah menolak dan memberikan keajaiban yang dia milili secara cuma-cuma. Pastinya hal ini yang membuat dalang setiap kasus murka.” sela Pak Abi.
“Kami masih sangat bersyukur, walau banyak tenaga medis yang mengorbankan Kesehatan orang lain bahkan mengabaikan nyawa orang lain demi uang, masih ada tenaga medis yang berprikemanusiaan,” puji rekan Abimayu.
“Walau banyak yang menjadikan dunia kesehatan sebagai bisnis. Tapi, tidak semua orang menjual pelayanan Kesehatan demi uang, masih banyak petugas medis yang tulus lainnya, di kota saja ada beberapa bidan klinik yang mengratiskan biaya melahirkan di klinik mereka. Walau banyak kejahatan dalam dunia Kesehatan, Tuhan masih menyusupkan beberapa orang yang seperti malaikat dalam dunia medis ini,” sela nenek Zelin.
Pandangan mata Pak Abi kembali menatap nenek Zelin. “Sepertinya nanti siang petugas kepolisian akan menggeledah tempat ini, saya harap Nyonya sudah membereskan semuanya.”
“Tenang saja, saat ini cucuku dan warga desa tengah membakar semua mayat-mayat di gunung, mereka tidak akan menemukan bukti apapun,” sahut nenek Zelin.
***
“Pak! Pak!”
Panggilan yang terdengar telinganya saat ini menyadarkan Pak Abi dari lamunannya tentang mayat-mayat dalam video itu. “Maaf Rian, aku malah melamun.”
“Tidak apa-apa, Pak. Berpikir Panjang sebelum terjun itu sangat penting Pak.” Febrian berusaha memahami Pak Abi. “Anda yakin menjaminkan nama Anda untuk Diana?”
“Yakin ini Editan Pak?”
“Waktu akan menjawabnya.” Pak Abi tersenyum berusaha meyakinkan Febrian kalau video itu editan, juga dia mantap dengan tindakannya menjamin Diana dengan namanya.
“Baiklah Pak. Saya akan memberikan izin pada Diana.”
Merasa urusannya selesai, Febrian segera keluar dari ruangan Pak Abi. Sedang Pak Abi langsung mengunci pintu ruangannya, dia tidak ingin ada yang masuk saat dia menghubungi seseorang nanti. Pak Abi duduk santai di kursi kerjanya yang empuk,dia segera menekan nomor telepon yang bertuliskan Tuan Muda AA.
“Selamat pagi Pak Abi, apa ada hal penting?”
Pak Abi langsung menceritakan video viral tentang Diana saat ini. “Jangan sampai orang tahu kejadian asli dari video itu, kalau sampai orang tahu, maka Diana tidak bisa menyembunyikan identitasnya lagi.”
“Untuk di dunia maya, ku rasa seseorang tengah melakukan tugasnya, karena jika video itu tidak di hapus, akan berdampak pada sebuan instansi penelitian. Apakah Anda ingat, kalau tahun lalu kita membuat video yang sama di tempat yang berbeda?”
Pak Abi mulai mengingat kejadian setelah itu, kewaspadaan mereka untuk berjaga-jaga, jika suatu hari ada yang merekam kejadian hari itu tanpa sepengatahuan mereka.
“Untuk hal dunia maya, Pak Abi tenang saja, sekarang tugas kita hanya untuk meyakinkan keluarga Agung Jaya.”
__ADS_1
Pak Abi memikirkan banyak hal, dia yakin Ivan pastinya sudah memeriksa keakuratan video itu. “Meyakinkan keluarga Agung tidak semudah meyakinkan warga dunia maya, Tuan.”
“Iya, aku faham akan pemikiran Anda. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kita bertemu nanti, dan kita akan atur waktu untuk mengunjungi keluarga Agung bersama. Serahkan padaku untuk meyakinkan mereka.”
Pak Abi merasa lega atas jawaban Tuan muda. Pak Abi memikirkan sosok Diana yang mana hidupnya tidak pernah sunyi dari bermacam gangguan. “Semoga kamu tidak Lelah nak, atas segala cobaan yang selalu datang padamu,” gumam Pak Abi. Dia kembali meneruskan pekerjaannya.
***
Di sudut lain ….
Ivan mendapatkan info, kalau Wilda dan suaminya berada di sebuah hotel, dia segera menuju hotel itu bersama Narendra. Ivan di sambut baik oleh Wilda dan suaminya.
“Ku rasa, tante sudah tau apa maksud kedatanganku,” ucap Ivan.
“Tentu saja aku tau,” sahut Wilda.
“Aku memberikan dua pilihan pada tante.”
“Pilihan?” Wilda menertawakan Ivan. "Justru aku yang menawarkan pilihan padamu, tinggalkan Diana, atau ku penjarakan dia."
Ivan tidak memperdulikan ucapan Wilda. “Pilihan pertama, berikan video itu padaku, katakan pada dunia maya kalau itu editan, maka aku akan melepaskan om dan tante.”
“Tidak semudah itu, Ivan! Kartu ada di tanganku!” ucap Wilda bangga.
“Jangan terlalu percaya diri tante, nyamuk itu mati karena tepukan.”
“Kalau aku lemah, kamu tidak akan datang dan berunding denganku!”
“Owh, berati tante memilih pilihan kedua?”
Wilda menyilangkan kedua lengan di depan dada, menantang Ivan dengan pendiriannya.
Ivan segera meninggalkan kamar hotel yang Wilda dan suaminya tempati, saat dia berada di depan pintu, Ivan sengaja berhenti namun tidak merubah arah tubuhnya, dia tetap membelakangi Wilda. “Saat aku nanti bertindak, tante jangan menyalahkanku karena tidak memandang tante sebagai keluarga, aku sudah bertindak dengan jalan kekeluargaan dengan memberi tante pilihan, tapi tante menolak damai denganku.” Ivan segera melanjutkan langkahnya meninggalkan hotel Wilda.
“Kenapa tidak mengambil pilihan pertama, mama?”
“Aku punya bukti untuk memenjarakan Diana dengan kasus pembunuhan! Kenapa aku harus menerima tawaran Ivan?”
Ramasta menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.
__ADS_1
“Setelah dari rumah Ayah, aku akan ke kantor polisi untuk melaporkan video itu,” ucap Wilda.