Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 272


__ADS_3

Melihat langsung bagaimana Ivan dan Diana menghajar semua lawan mereka seperti sedang berdansa, rasanya Yudha melihat sebuah adegan film di mana aktris wanita dan aktor pria bekerja sama menghajar musuh, Diana seperti melayang, dan kendalinya adalah Ivan, dan kaki Diana pun terus menendang musuh.


Puk! Puk!


Tepukan di pundaknya membuat Yudha tersadar dari kekagumannya membayangkan pertarungan Ivan dan Diana sebelumnya.


“Jangan melamun saja, itu mereka sudah berjalan memasuki desa,” ucap Dillah.


Yudha dan Dillah berjalan bersama mengikuti rombongan, dan mereka kembali di sambut dengan pemandangan yang menakjubkan, ini bukan suatu desa, namun seperti kota modern yang tersembunyi di pelosok. Ada satu lapangan luas, di mana banyak helikopter di sana, jalan di desa itu juga begitu mulus, setiap bangunan rumah seperti di sebuah komplek perumahan elit, memiliki halaman yang luas, dan setiap rumah memiliki mobil mewah.


Melihat hal itu Yudha sangat takjub.


“Ini adalah kota modern, bukan suatu desa,” ucap Dillah.


“Tidak mudah untuk bisa tinggal di sini, dibutuhkan kesetiaan kuat yang teruji, dan banyak hal lagi,” ucap salah satu penduduk desa.


Yudha ingin bertanya, apakah laki-laki itu warga asli atau pendatang, namun pertanyaannya tertahan, saat dia melihat sekelompok orang mengenakan pakaian serba hitam menghadang di depan mereka. Salah satunya maju dan menunduk pada Diana.


“Selamat datang kembali permata desa kami,” sambutnya.


Melihat mereka memberi hormat pada Diana, Yudha membuang napasnya lega. Diana meminta mereka semua berdiri dan mengajak mereka semua untuk ikut ke rumah Neneknya. Rombongan Diana pun semakin banyak.


Setiap warga yang melihat kepulangan Diana, mereka memberi senyuman dan melambai pada Diana. Diana juga membalas senyuman mereka dan melambaikan tangannya.


“Warga di sini sangat menyayangimu, sangat berbeda dengan desa sebelah yang kita kunjungi,” bisik Ivan.


“Kenapa Nenek memilih mengembangkan desa ini? Itu karena mereka menerima kami apa adanya, walau kecil aku dianggap bodoh, mereka tidak membullyku. Mereka malah memberi kasih sayang.”


"Bagi mereka, kecerdasan itu kehendak Tuhan. Setiap manusia memiliki kadar yang berbeda, ada yang memiliki seperti sebutir pasir, ada seperti 1 litar pasir, ada juga seperti bongkahan batu besar. Menyayangi yang dianggap bodoh, adalah menghormati ketetapan Tuhan."

__ADS_1


"Kira-kira, Tuhan memberimu kecerdasan seperti apa ya?" goda Ivan.


"Aku hanya wanita desa idiot dan setengah gila," sahut Diana


“Jadi … warga desa yang mengatakan kamu perempuan bisu, bodoh dan rada gila, hanya dari desa sebelah?” tanya Ivan.


“Iya, dulu Nenekku membuka praktek di sana, merasa tidak cocok dengan lingkungan di sana, akhirnya Nenek pindah ke sini.”


Mereka terus melangkah, sudah begitu jauh, namun tidak tahu kapan pemberhentian mereka. Dillah dan Yudha beberapa kali tertinggal rombongan, setelah mereka memiliki tenaga lagi, mereka kembali menyusul rombongan. Hingga mereka sampai di sebuah rumah besar, dikelilingi pagar tinggi dan di jaga banyak orang, Yudha dan Dillah sangat bahagia, akhirnya perjalanan mereka berakhir.


Saat pintu gerbang itu terbuka, tiba-tiba seekor anjing berlari cepat kearah mereka. Ivan tidak suka dengan anjing, melihat anjing itu berlari kearahnya, Ivan langsung berpindah ke belakang Diana.


Guk! Guk!


Anjing itu langsung masuk kedalam pelukan Diana.


“Hogu tampan, apa kabarmu?” Diana mengusap-usap sekujur tubuh anjing kesayangannya.


Ivan sangat takut anjing, dia memiliki trauma karena semasa kecil pernah diserang anjing. Ivan berusaha menyembunyikan ketakutannya.


“Wah Hogu, ternyata sudah bisa mengetahui kalau majikannya pulang.” Seorang wanita paruh baya menyambut mereka semua.


"Bibi Makhaya, apa kabar?" Diana melepaskan Hogu dan langsung memeluk wanita yang selalu setia mendampingi Neneknya selama ini.


"Aku baik."


Di bagian belakang rombongan.


Dillah dan Yudha sangat jelas melihat keadaan di depan saat ini, terlihat Diana sangat menyayangi seekor anjing.

__ADS_1


“Tuan Yudha, tebak … kira-kira anjing itu yang tergeser, atau Tuan Ivan akan mengesampingkan phobianya pada anjing?” tanya Dillah.


“Cinta katanya bisa merubah segalanya, paling Ivan akan mencintai anjing itu, karena Diana sangat mencintai anjing itu.”


“Ayo semuanya silakan masuk,” ajak wanita paruh baya itu.


“Bi Makhaya, Nenek mana?” tanya Diana.


“Nenek sedang turun gunung.”


Diana dan rombongan segera memasuki rumah besar itu, Ivan, Dillah, dan Yudha dikejutkan oleh satu sosok yang tidak asing, itu adalah Tony. Terlihat dia sangat santai menikmati jamuan yang tersedia.


“Tony, kapan kamu datang?” tanya Diana.


“2 hari yang lalu bersama Tuan Muda.”


“Lalu mana Tuan Muda Archer?” tanya Diana.


“Dia ikut turun gunung bersama Nenekmu, menemani Nenekmu melakukan chek up.”


Diana terdiam. Dia kembali teringat dengan keadaan Neneknya yang beberapa tahun terakhir tidak dalam keadaan baik. Sehebat apapun dirinya, dia tidak bisa menentang garisan Tuhan. Andai dirinya mampu menulis takdirnya sendiri, dia ingin Neneknya hidup sehat selamanya bersama dirinya. Diana berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dia memberikan senyuman pada rombongan yang datang bersamanya.


“Ayo semua, silakan dinikmati jamuan sederhana kami.”


Mereka semua di jamu oleh semua pelayan Nenek Zelin. Obrolan dalam ruangan itu tidak dipahami oleh Yudha dan Dillah, mereka izin undur diri untuk berkeliling rumah. Dillah menyusuri area depan rumah, dan berkenalan dengan pengurus kebun Nenek Zelin.


Sedang Yudha, dia sangat tertarik dengan keindahan taman yang ada di samping rumah. Taman itu ditumbuhi banyak bunga yang tidak pernah Yudha lihat sebelumnya. Salah satu bunga membuat Yudha terpesona, dia mendekati bunga itu dan ingin memetiknya.


"Jika masih menyayangi tanganmu, jangan petik bunga mana pun yang ada di sini!"

__ADS_1


Suara teguran itu membuat Yudha menahan keinginannya.


__ADS_2