Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 197 Jennifer


__ADS_3

Kakek Hong merasa ada perubahan pada Diana. "Kenapa, Diana?"


"Tidak apa-apa, Kek."


"Ada hal yang bisa aku bantu?"


"Tidak ada kek, semua pekerjaan yang ada harus aku selesaikan sendiri."


"Baiklah, kalau begitu aku mau menyuruh para pelayan untuk pembersihan di sisi timur."


"Iya, Kek."


Kakek Hong mengajak beberapa pelayan pergi bersamanya.


Setelah Kakek Hong menghilang dari pandangannya, Diana menuju lab Komputer. Diana langsung menyalakan komputer khusus miliknya, komputer itu hanya bisa aktif dengan sensor mata. Diana membuka kedua matanya, saat sensor mulai mendeteksi.


Komputer itu pun terbuka. Di sana tertera jelas sebuah nama akun dengan tulisan No Name. Diana mulai memeriksa beberapa informasi yang masuk.


Melihat symbol badut tertawa dan menangis, Diana teringat dengan Jennifer. “Maafkan aku Jen, bukan aku tidak mau membantumu, tanpa kamu katakan rasa terima kasihmu, No Name sudah mendengarnya, karena No Name itu adalah aku sendiri.”


Diana kembali fokus pada layar komputernya. Di sana dia membaca sebuah informasi yang mentargetkan lucas dan Ayahnya.


"Apa sebenarnya tujuan mereka, sehingga mereka juga mentargetkan Paman Ifdhal?"


Di sana Diana juga menemukan rencana musuhnya yang mentargetkan Anton Permana, cucu Profesor Hadju.


Menurut Informasi, Anton P akan datang ke kota untuk bertemu CEO Agung Jaya. Pastikan kalian menculiknya. Dia adalah pencipta T779.


Berhasil menculik Anton, kita bukan hanya mendapatkan Formula T779, tapi kita juga bisa menukar keselamatan Anton dengan T779 yang Diana miliki.


Diana menggeleng membaca sebagian rencana musuhnya yang dilacak No Name. Diana langsung mencari sambungan aman dan segera menghubungi Anton.


“Halo Diana, ada apa kamu meneleponku di nomor penting?”


“Anton, mulai sekarang tingkatkan kewaspadaanmu, karena ada sekelompok orang yang saat ini mengincarmu."


"Saat ini aku baik-baik saja, Diana. Terima kasih karena sangat mengkhawatirkanku."


"ED group masih berambisi untuk memiliki T779, bahkan mereka sudah menemukan Agedamu yang akan bertemu dengan Agung Jaya, dan mereka ingin memakai kesempatan itu untuk menculikmu."


"Bukankah di Dubai juga banyak anak buah ED Group, mengapa mereka ingin menculikku saat aku menemui Agung Jaya Group."


"Itu juga yang aku pikirkan."


"Aku memahami satu hal, mereka ingin menculiku saat semua orang-orangku tahu aku menghilang setelah bertemu Agung Jaya Group," tebak Anton.


"Dengan begitu, ED Group merasa aman, karena semua orang yang sayang padamu curiga pada Agung Jaya," tebak Diana.


"Tepat sekali!"

__ADS_1


"Mereka luar biasa licik!"


"Setelah aku ke Negaramu, aku akan ceritakan beberapa hal nanti, kenapa aku mempercayakan obat T779 pada Agung Jaya."


"Aku tunggu kedatanganmu."


"Sabar, masih lama, Diana."


"Iya, aku tahu."


Diana menyudahi sambungan telepon mereka, dia kembali pada pekerjaan yang lain, untuk meretas informasi musuhnya.


**


Di Tanah Air.


Akhirnya Jennifer menginjakan kakinya di Negara kelahirannya lagi, dia dan Birma segera menuju hotel yang Angga siapkan untuk Jenifer. Sesampai di kamar, Jennifer sangat bahagai melihat Angga bisa berjalan normal tanpa bantuan kaki ketiga.


“Sayang!” Jennifer langsung memeluk Angga.


Melihat dua orang saling melepas rindu, Birma menunggu di depan kamar hotel itu.


“Puas jalan-jalannya?” tanya Angga pada Jenni.


“Sangat puas.” Jennifer perlahan melepaskan pelukannya.


“Aku siap.”


“Baiklah kalau begitu, kamu istirahat dulu, nanti malam aku akan menjemputmu lagi.” Angga mencium pipi kanan dan kiri Jenifer, walau masih rindu, tapi dia ingin kekasihnya memulihkan tenaga untuk makan malam nanti.


"Sampai jumpa nanti malam, sayang." ucap Jennifer.


"Jangan terlalu cantik ya, kamu boleh tampil cantik hanya untukku." Angga mengusap sisi kepala Jennifer.


"Siap! Malam ini aku akan berpenampilan seperti gadis lugu yang lembut, biar ceritanya kita seperti ciderella dan pangeran."


Setelah keluar dari kamar Jennifer, Angga langsung menemui Birma. "Bagaimana selama di sana, apa Nona Muda berulah lagi?"


"Tidak, Tuan. Selama di Jerman, Nona Muda suka mengurung diri di Konsorsium Papanya, dia berusaha keras mencari seorang Hacker yang dijuluki No Name, dia hanya ingin membalas kebaikan No Name," adu Birma.


"Nanti kita bahas lagi, saat ini kamu awasi kamarnya dari luar, jangan sampai ada yang menggangunya."


"Baik, Tuan."


**


Di kediaman Agung Jaya.


Di ruang tamu khusus yang ada di rumah itu, hanya ada Sofian, Rani, dan Kakek Agung.

__ADS_1


“Kamu sudah pinta Ivan menjemput gadis pilihanmu?” tanya Kakek Agung pada Rani.


“Aku sudah mengaturnya Ayah, dan Ayah lihat sendiri wanita pilihanku untuk Ivan, jauh lebih baik dari pilihan Ayah,” ucap Rani.


“Aku penasaran dengan pilihanmu, Rani. Apalagi Nenek Diana juga sudah memberikan keputusan pada Diana, apakah ingin melanjutkan pertunangan, atau putus. Jadi, aku juga menyerahkan keputusan pada Ivan. Kalau Ivan memilih gadis pilihanmu, aku tidak akan menghalangi, dengan syarat.” Kakek Agung mengarahkan jari telunjuknya pada Rani. “Dengan Syarat dia lebih baik dari Diana.”


“Nanti Ayah lihat sendiri, saat malam ini dia datang,” ucap Rani.


“Kamu bahagia sekarang? Aku sudah memberi kesempatan padamu untuk memperkenalkan seorang gadis pilihanmu pada Ivan. Kita lihat nanti, pilihan siapa yang terbaik," tantang Kakek Agung.


"Kita lihat nanti, Ayah." Rani terlihat sangat percaya diri.


"Jika pilihanmu terbaik di mataku, maka aku tidak akan menghalangi niatmu, kamu sangat mengenal aku, andai pilihanmu lebih baik dari Diana, aku tidak akan mengingkari itu. Tapi, jika Diana lebih baik dari pilihanmu, mau tak mau kamu harus menerima Diana, jika gadis itu memilih meneruskan hubungannya dengan Ivan." Kakek Agung langsung beranjak dari posisinya dan berjalan menuju kamarnya.


“Setelah Ayah melihat gadis pilihanku, aku yakin dia akan berubah pikiran,” ucap Rani.


“Andai kamu membuka matamu, kamu akan melihat, tidak ada perempuan yang lebih baik dari Diana.” Sofian kesal dengan keras kepalanya Rani, dia juga pergi dari ruang tamu itu.


Rani masa bodoh dengan sikap Sofian, pikirannya saat ini adalah Angga. “Kini Tinggal pasangan Angga.”


**


Tidak terasa waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua Anggota keluarga terlihat antusias menunggu kedatangan Angga yang akan memperkenalkan calon istrinya. Saat melihat Angga memasuki pintu utama dengan menggandeng seorang gadis, seketika semua perhatian tertuju pada gadis yang digandeng Angga.


“Selamat malam, semuanya.” Sapa Angga.


“Selamat malam, Nak. Akhirnya kamu membawa pujaan hatimu juga ke rumah ini,” sambut Sofian.


“Gadis yang cantik, pantas saja cucuku jatuh cinta padamu, dan tidak ada satu pun gadis di kota ini yang mampu menarik perhatiannya, ternyata di luar Negri sana dia sudah memiliki dirimu,” goda Kakek Agung.


Jennifer berusaha memberikan senyumannya pada dua keluarga yang menyambutnya begitu hangat, tapi wanita paruh baya yang terlihat cantik itu seperti tidak tahu cara tersenyum, bahkan tatapannya pun terasa menyeramkan.


“Siapa nama pujaan hatimu, Angga?” tanya Kakek Agung.


Pertanyaan itu membuyarkan perhatian Jennifer pada Rani.


“Sayang, ayo perkenalkan dirimu,” ucap Angga.


“Selamat malam semua, perkenalkan saya Jennifer, saya bukan siapa-siapa, saya hanya seorang gadis yang sangat beruntung di muka bumi ini, karena dicintai oleh seorang laki-laki sempurna seperti Angga," ucap Jennifer.


“Aku pikir, akan ada orang yang pura-pura bisu lagi saat pertama kali memasuki istana kami.” Ucap Rani sinis.


Rani langsung pergi dari ruang tamu, dia memberi kode pada Angga agar mengikutinya.


“Sayang, kamu kenalan sama Papa dan Kakekku dulu ya, aku ada sesuatu.”


"Iya."


Jennifer segera bergabung dengan Sofian dan Kakek Agung. Pribadi Jenifer yang periang dan menyenangkan, sangat mudah baginya menyesuaikan diri dengan Ayah Angga dan Kakek Angga.

__ADS_1


__ADS_2