Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 71 Siapa Yang Melakukan?


__ADS_3

Melihat lukisan burung kecil yang ada di permukaan kulit Diana seakan membuat Ivan kehilangan kesadarannya. Yang dia inginkan saat ini hanya ingin berada dekat dan semakin dekat dengan gadis yang dia rengkuh saat ini.


Sentuhan Ivan dipermukaan kulitnya juga membuat Diana kehilangan separu kesadarannya, pergerakan lembut tangan Ivan di pinggangnya membuat ada yang semakin mendidih dalam dirinya. Di sisa kesadarannya Diana menepis demgan lembut tangan Ivan yang terus mengusap dan memijat lembut pinggulnya. Tepisan dari Diana membuat kesadaran ivan juga kembali.


Keadaan seketika canggung, Diana berusaha menghindari Ivan, dia tidak mampu lagi membalas tatapan mata yang terasa begitu memabukkan. Diana berjalan cepat menuju kamarnya. Tapi tiba-tiba Ivan menahannya, dan memojokkannya di tembok yang ada di dekat kamar Diana.


“Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu ingin menghindariku?”


Diana memberanikan diri, balas menatap sepasang mata yang memandanginya penuh damba, tatapan itu sungguh sangat memabukkan. Tatapan mata Ivan membuat Diana kembali tak berdaya. Ivan terus menatapnya begitu lembut tapi juga sangat dalam.


“Apakah ada luka yang kamu sembunyikan di sana?” Tangan Ivan kembali menyentuh bagian pinggang Diana.


Hembusan napas Ivan yang terpantul dipermukaan kulitnya, seketika membuat sekujur tubuh Diana merinding hebat. Diana berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa sulit untuk dihirup juga sulit sangat dihembuskan. Sentuhan lembut itu, ditambah suara Ivan yang terdengar bergetar, semakin membuat sekujur tubuhnya juga merasakan getaran itu. Dada Diana semakin terasa sesak rasanya Ivan mengambil semua oksigen yang ada di ruangan ini.


Sambil menahan segala rasa yang asing yang terus berkecamuk dalam dirinya, Diana berusaha mengetik …


*Tidak ada luka.


*Apakah Anda masih penasaran dengan tato ini?


Ivan menganggukkan kepalanya perlahan.


*Tato ini ada sejak aku kecil.


Sejak kecil? Kenapa ada yang tega mentato seorang anak kecil?


“Siapa yang melakukan itu padamu?  Apakah Nizam?"


Diana mengetik kata lain, dia tidak menjawab pertanyaan Ivan.


*Setelah orang tuaku meninggal, beberapa pemuka tokoh desa yang sangat menyayangiku membuat tato burung itu. Banyak hal yang mereka Yakini, diantaranya: Melambangkan bahwa selalu ada harapan walau berada di tengah kesulitan. Yang lainnya lagi, bahwa cinta dari orang yang sangat mengasihiku selalu ada bersamaku, walau dia telah tiada.

__ADS_1


*Ibuku telah Tiada, tapi dengan adanya tato itu, mereka meyakinkan seorang anak piatu sepertiku, agar selalu merasakan kasih sayang dari ibuku, walau kami telah berbeda dunia.


 


Aaaaa ....


 


Diana hanya bisa menjerit dalam hati.


Kenapa dengan mudahnya aku bercerita pada Ivan ....


Diana kembali mengetik kata baru.


*Aku tidak tahu apa-apa, lebih baik Anda cari tahu sendiri.


Mata Ivan sedari tadi berkaca-kaca setelah membaca semua jawaban Diana. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Diana sebelumnya. Wanita ini masih kecil sudah mengalami kesedihan yang sangat besar, dia tidak mendapatkan kasih sayang ibunya sejak kecil. Tangan Ivan masih betah memegang bagian tubuh Diana yang dihuni burung kecil.


Brukkkk!


Diana mendorong pelan tubuh Ivan agar menjauh darinya, dia tidak tahan lagi dengan segala luapan perasaan yang muncul. Diana segera berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam, dia takut Ivan akan datang lagi.


***


Di sebuah Restoran mewah.


Aridya dan putranya Nazif melangkah memasuki Restoran mewah dengan gaya angkuhnya. Di tengah ruangan VVIP seorang laki-laki tampan menyambut keduanya.


“Terima kasih, Nyonya Aridya karena berkenan memenuhi undangan makan malam dengan saya.”


“Sama-sama, Tuan Fredy. Saya merasa sangat tersanjung menerima undangan makan malam bersama Anda,” balas Aridya.

__ADS_1


Fredy mulai memanggil pelayan, mereka mulai menikmati hidangan pembuka.


“Kalau kami boleh tau, ada hal penting apa hingga Anda mengundang kami makan malam?” tanya Aridya.


“Mulai saat ini dan seterusnya, aku hanya ingin kalian berhenti mengganggu Diana,” ucap Fredy begitu menekan.


Aridya dan Nazif saling pandang, keduanya tersenyum mendengar permintaan Fredy.


“Kalau kalian berjanji tidak akan mengganggu Diana, aku akan membantu kalian untuk urusan apapun di kemudian hari.”


“Hanya itu?” Aridya memastikan.


“Iya, hanya itu.”


“Baiklah, kami berjanji,” sahut Aridya. Wajah Aridya begitu jelas terlihat bahagia.


“Kalau kalian coba-coba mengganggu Diana dikemudian hari, kalian berdua akan berurusan denganku! Dan jangan harap kalian bisa kabur dariku!”


“Aku berjanji Tuan Fredy, aku tidak akan mengingkari janjiku.” Aridya mengangkat tangannya ke udara sebagai penguat ikrar janjinya. "Aku berjanji tidak akan mengganggu Diana."


Mereka kembali melanjutkan acara makan malam mereka. Setelah selesai makan malam, Fredy pergi lebih dulu dari Restoran itu.


“Mama ….” bisik Nazif.


Aridya menoleh pada putranya. "Ada apa?"


“Kenapa mama begitu cepat menyetujui permintaan Fredy? Kenapa mama tidak sedikit jual mahal seperti saat mama meladeni Danu?”


“Fredy dan Danu berbeda sayang.” Aridya tersenyum sumringah. “Sudah saatnya kita menyayangi Diana, dan kamu berusahalah untuk bersikap baik padanya. Memperlakukan dia dengan baik tidak hanya menguntungkan kita berdua saja, tapi dengan kita bersikap baik pada Diana ini semua juga demi kebaikan nama keluarga kita, sayang.”


***

__ADS_1


Terima kasih dukungannya Sobat, aku kasih bonus 1 bab, tapi besok aku hanya update 1 bab juga. 😂😂😂


__ADS_2