
Diana mendorong tubuh Ivan agar sedikit menjauh darinya. "Darimana kamu mendapatkan rekaman Agis dan ibunya?"
"Ingat saat aku melihatmu di depan Restoran? Saat itu aku baru selesai makan malam dengan ED Group, harusnya malam itu aku makan malam dengan Agis, tapi aku malas." Ivan ingin memeluk Diana lagi, tapi Diana tahan.
"Lalu, apa hubungannya dengan rekaman itu?"
"Aku memberikan Agis hadiah, sebuah tas branded, di mana di tas itu sudah aku sisipkan kamera tersembunyi rancangan Narendra."
"Kau selalu memantau Agis rupanya," goda Diana.
"Sudah tidak lagi."
"Kenapa Tidak?"
"Beberapa hari kemudian, Agis merasa aneh dengan hiasan tas itu, dia membawa tas ke toko yang hanya menjual tas itu, beruntung saudara Narendra bekerja di sana, cctv itu, dia tukar dengan berlian yang berbentuk sama dengan cctv yang aku selipkan. Terus dia bilang itu sebuah berlian, tentu saja saudarimu itu sangat gembira."
Diana berdecak mendengar cerita Ivan.
"Ayo kita tonton lagi." Ivan menarik Diana dan menonton lanjutan video itu.
Bagaimana bisa, anak seorang dokter hebat, dan Alinka juga peneliti obat yang cerdas bisa kena virus itu? Bukankan virus itu tidak menular?
Pertanyaan Agis membuat Diana terbayang saat menjelang kematian ibunya.
__ADS_1
Saat akan peluncuran virus yang berkedok Vitamin itu, Alinka datang untuk mencegah peluncuran itu, padahal semua rencana sudah matang, target dari virus itu adalah anak yang yang tidak berguna, dalam kategori miskin dan bodoh, hingga bumi ini tidak dipenuhi orang-orang miskin tak berguna, karena mereka tidak akan diberi penawar. Sedang korban yang akan mendapat penawar hanyalah mereka yang cerdas atau mereka yang punya uang.
Alinka sudah memberi bukti, kalau vitamin yang akan diwajibkan di sekolah-sekolah nanti, adalah sebuah racun. Tapi mereka tidak percaya, sebagian besar orang mengganggap itu vitamin dan akan disuntik paksa pada anak-anak sekolah nanti.
Alinka berusaha membuka mata mereka kalau itu adalah sebuah racun waktu. Jika memaksa anak-anak untuk di suntik, sama saja membunuh anak-anak itu. Tapi tetap tidak ada yang percaya pada Alinka, lalu Alinka menyuntikan vitamin itu ke tubuhnya, dan dia berkata. 'Kalau aku masih sehat satu bulan kedepan, silakan paksa anak-anak negri untuk kalian suntik. Aku mohon, tunggu sebulan lagi. Dengan santainya wanita itu menyuntikan satu dosis ke tubuhnya sendiri.
Mulut Diana terbuka lebar mendengar hal itu, dia tidak tahu kalau racun itu masuk ke tubuh ibunya karena ibunya ingin menyelamatkan banyak orang. Hingga air mata terlepas dari ujung mata Diana. Diana langsung mengusap air matanya yang jatuh.
Dalam tanyangan video, Agis tegang mendengar cerita ibunya.
Teman Alinka yang terlibat sangat ketakutan, dia melaporkan pada Papamu kalau Alinka disuntik, padahal kenyataanya Alinka sendiri yang mengorbankan diri untuk membuktikan kalau vitamin itu adalah racun. Dia ingin menolong Alinka, tapi juga tidak mau kalau Charlie sampai tau kejadian sesunguhnya, lanjut Aridya.
Kedua mata Diana kembali berkaca-kaca, dia seakan membayangkan kejadian yang Aridya ceritakan dalam video. Saat dirinya membayangkan ibunya menyuntik diri sendiri dengan racun, air matanya pun terlepas.
Ivan mengusap air mata Diana. "Budi luhurmu, tertanam dari nenekmu, lalu ibumu, dari cerita Aridya, ibumu mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan anak bangsa."
"Kau tahu, darimana Agung Jaya bisa menciptakan penawar virus dalam skala besar, dan membagikannya secara cuma-cuma."
Diana menatap Ivan, menanti jawaban laki-laki itu.
"Malam itu, Charlie Bramantyo datang ke rumah Kakek, dia meminta penawar, Papaku bukan tidak mau memberi, tapi papaku hanya memiliki sampel untuk di kembangkan. Saat Ayahmu mengatakan, hanya perlu setengah, Kakek langsung memberikannya, Ayahmu sangat bahagia, hingga dia meminta pengawalnya untuk melanjutkan kerja sama dengan Agung Jaya, di mana investor utama adalah Ayahmu."
Tangis Diana makin pecah, ternyata Agung Jaya sama sekali tidak berkaitan dengan kematian ibunya. Buktinya Ayahnya percaya pada Agung Jaya.
__ADS_1
Ivan menarik Diana kedalam pelukannya. "Jangan menangis, kedua orang tuamu, manusia yang sangat luar biasa, kekayaannya dan kejeniusannya mereka gunakan untuk menolong banyak orang."
Diana masih menangis dalam pelukan Ivan, sedang Ivan membayangkan berita masa lalu. "Saat itu, hanya pengawal ayahmu yang melanjutkan pembahasan kerjasama, sedang Ayahmu langsung pulang membawa setengah dosis untuk ibumu."
"Tapi Papaku pulang dalam keadaan tidak bernyawa lagi," sahut Diana.
"Iya, aku tahu itu." Ivan sangat memahami kesedihan Diana, dia menegakan tubuh wanita itu, dan menghujaninya dengan ciuman. "Jangan sedih, ada aku bersamamu."
Diana sangat sulit untuk berhenti menangis.
"Aku sangat memahami impianmu, karena Agung Jaya juga pernah berjuang untuk hal yang serupa, berkat modal dari Ayahmu, berkat seseorang yang mau bekerja keras, akhirnya Agung Jaya berhasil menciptakan penawar, dan papaku memenuhi janjinya pada Ayahmu, walau saat itu Ayahmu sudah tiada, tapi penawar tetap dibagikan secara gratis."
Rasanya ada sesuatu yang mengikat tenggorokan Diana, dia ingin mengakui sesuatu pada Ivan, tapi terasa sangat sulit.
"Misteri yang ingin aku pecahkan adalah, tentang kematian Ayahmu, apakah dia murni kecelakaan, atau itu suatu pembunuhan."
Melihat Diana masih tenggelam tangisnya, Ivan berhenti membahas itu.
"Jangan menangis lagi permataku," Ivan berusaha menenangkan Diana.
"Aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar," ucapan Diana tenggelam bersama isak tangisnya.
"Sudah, semua orang juga pernah melakukan kesalahan. Seperti aku, yang dendam membara pada IMO, menghabiskan banyak waktu dan uang, hanya untuk mencaritahu siapa ketua IMO."
__ADS_1
Tangis Diana semakin pecah.