
Seperti cerita Thaby, pertemuan seluruh Mahasiswa hari ini adalah pengumuman kalau kampus mereka akan menjadi tempat pertemuan Ilmuan dunia. Rektor Abimayu terus mengatkan siapa saja tamu-tamu yang akan datang nanti, termasuk para pejabat Negara terkait.
“Saat acara nanti berlangsung, semoga kalian semua mendapat motivasi dan inspirasi, serta contohlah budi luhur orang-orang hebat Dunia yang hadir nanti.” Pak Abimayu menyudahi sambutannya.
Suara tepukan yang meriah menggema di aula Universitas, semua Mahasiswa dan Dosen sangat bahagia juga bangga dengan kabar yang baru mereka dengar.
Drtttt!
Handphone Diana bergetar, Diana mengintip pesan yang baru masuk, saat melihat pengirim adalah Russel, sesaat Diana menoleh kearah Profesor muda itu.
*Kamu akan menghadiri undangan yang mana? Ilmuan Negara, Peneliti T779, dokter hebat, atau Ketua IMO?
Diana mengetik cepat membalas pesan Russel.
\=Tidak satu pun, dalam acara nanti, aku hanyalah seorang Mahasiswi Kedokteran dari Universitas Bina Jaya.
*Sampai kapan kamu terus bersembunyi?
\=Selama tirai itu mampu menutup, selamamya aku akan bersembunyi.
Dretttt!
Gerakan yang Diana sadari tepat di sampingnya, membuat perhatian Diana terbagi, saat dia menoleh ke samping, ternyata Saras menarik kursi kosong di sampingnya, dan duduk di sana.
“Aku sangat penasaran wajah-wajah Ilmuan Dunia yang akan jadi tamu di acara nanti,” ucap Saras.
Diana segera menyimpan handphonenya. “Sama, aku juga sangat penasaran.” sahutnya.
"Sepertinya saat menjelang acara nanti, penjagaan semakin ketat," gerutu Saras.
"Tentu saja, yang datang Mentri Pendidikan, Mentri Kesehatan, dan beberapa jajaran petinggi lainnya, so pasti keamanan akan sangat ketat."
"Dipastikan kegiatan belajar akan terganggu," gerutu Saras.
"Aku mungkin tidak berada di kampus untuk beberapa hari kedepan, ujian kita juga sudah selesai bukan?" ucap Diana.
"Rasanya aku juga ingin pulang, ahh tapi malas jika hanya sendirian di rumah." Saras bingung sendiri.
"Saranku, kamu tetap di Universitas, hanya saja sebelum keamanan diperketat, kamu penuhi semua kebutuhan kamu, agar nanti tidak ribet dengan keamanan yang berlaku."
__ADS_1
"Usulmu keren, setelah acara ini aku akan memastikan semua kebutuhanku tercukupi, agar aku tidak perlu keluar masuk Universitas," ucap Saras.
Diana dan Saras kembali fokus ke panggung acara, mendengarkan pengumuman yang lainnya.
*Penerbangan Ivan dan kawan-kawan.
“Van, tadi pagi kamu nonton berita nggak?”
“Iya, cuma sebentar, kasus kecelakaan Arano Ayah Fablo kan?”
“Kecelakaan Tuan Arano seperti Flash back kecelakaan Charlie Bramantyo,” sela Yudha.
“Benar, beberapa berita juga membandingkan kecelakaan Arano dan Charlie sama persis, di tempat yang sama pula,” Anton menambahi.
"Menurutku, kematian mereka terlalu mudah, sedang kejahatan mereka selama ini sangat lempat batas," gerutu Ivan.
“Karena ED Group tidak memiliki penerus, ku dengar Hacker handal yang dijuluki no name menyelamatkan nasib karyawan ED Group yang terlantar.” Yudha membahas topik lain.
“Hancurnya ED Group juga berkat bantuan no Name itu, rival-rival ED Group berani melawan karena dukungan No Name,” sambung Dillah.
“Van, kamu tidak mencaritahu siapa no name?" tanya Yudha.
"Aku malas Yudh," sahut Ivan.
“Wah, kalau Tuan Ivan mencari tahu siapa No name, ini sangat membantu calon istri Tuan Angga, Nona Jennifer sangat ingin tahu siapa No name, katanya No name berjasa besar dalam hidupnya,” sambung Dillah.
“Wah … No name sangat luar biasa Van,” ucap Yudha.
Ivan tidak peduli, dia asyik menikmati pemandangan dari kaca helikopter.
**
Di sisi lain.
Aridya dan kedua anaknya dijauhi masyarakat sekitar, mereka masih ingat himbauan kepala klinik agar menjaga jarak dengan keluarga Aridya, karena mereka mengidap penyakit aneh. Sedang Aridya tidak mengetahui apa alasan tetangganya selalu terlihat takut padanya, Aridya mengira mereka semua segan dan hormat padanya.
Tadi malam juga merekan mendapat bingkisan, entah dari siapa. Tapi keadaan yang sangat kekurangan ini, membuat Aridya menyepelekan siapa pengirim paket itu, baginya yang terpenting saat ini perutnya dan kedua anaknya bisa terisi dengan makanan.
Malam itu berlalu indah, akhirnya mereka bisa menikmati hidangan mewah, steak daging yang sangat lezat. Hingg tidur mereka pun sangat nyenyak.
__ADS_1
Sinar matahari semakin terik, namun keadaan rumah Aridya masih terlihat sepi.
"Agis! Nazif! Bangun!" Teriakan Aridya memecah keheningan.
Sekuat apapun Aridya berteriak, kedua anaknya tidak kunjung keluar kamar, kesabaran Aridya habis, dia langsung memasuki kamar Agis, dan dia menemukan putrinya pingsan di lantai.
Aridya panik, dia berteriak memanggil nama Nazif, sambil berlari kearah kamar putranya, dan Aridya menemukan hal yang sama, Nazif juga pingsang di lantai.
"Steak, Pitzza, pasti 2 makanan tadi malam beracun." Aridya berusaha mencari kotak pitzza dan kotak steak daging itu, tapi dia tidak menemukan benda yang dia cari di manapun.
"Arrggggt!" Aridya semakin panik, dia berlari keluar rumah dan meminta pertolongan, tapi tidak seorang pun mau menolongnya.
Aridya terus berteriak dan menangis di jalanan berusaha meminta pertolongan, namun semua orang malah pergi menjauhinya. Salah satu pengguna jalan melihat kejadian itu, langsung menelepon ke klinik kesehatan terdekat.
Mengetahui identitas yang rusuh di jalan itu adalah salah satu dari 3 orang yang di tolak sistem, kepala Klinik tidak mau mengambil reseko, di langsung melaporkan kejadian pada Organisasi IMO. Saat yang sama, Archer sendiri yang menerima panggilan itu.
"Tenang Pak, virus itu tidak menular dari udara, tapi air liur dan jarum suntik."
"Selama ini seluruh warga jaga jarak, klinik juga tidak pernah menyuntik salah satu dari mereka."
"Tenang saja Pak, tim kami akan segera ke lokasi."
Saat panggilan telepon terputus, Archer segera menghubungi Fredy.
"Bagaimana Tuan Archer?"
"Mangsamu sudah tumbang, silakan jemput dengan dalih Isolasi, sisanya aku serahkan padamu," ucap Archer.
***
Di kantornya, Fredy nenitahkan anak buahnya untuk menjemput Aridya dan kedua anaknya dengan alasan Rehabilitasi.
Di kediaman Aridya.
Suasana pinggiran kota yang biasanya sepi, kali ini mendadak ramai saat mobil ambulan dan beberapa mobil lain parkir di dekat rumah yang Aridya tinggali. Keadaan semakin mencekam saat rumah Aridya seluruhnya di bungkus plastik.
Aridya bingung dengan suara kresek-kresek yang terdengar di depan rumahnya, dia terkejut dengan kedatangan orang-orang yang menggunakan pakaian keamanan.
"Mohon kerja samanya, Nyonya Aridya, saat ini Nyonya dan kedua anak Anda harus kami karantina, demi kesehatan kalian bertiga, juga demi keamanan semua warga."
__ADS_1
Ucapan dari pengeras suara itu membuat Aridya sangat malu. Dia terpaksa masuk kedalam mobil Ambulan, sedang Agis dan Nazif dibawa dengan tandu menuju ambulan yang lain.
Saat mobil ambulan pergi, petugas yang tertinggal segera menyemprotkan cairan untuk meyakinkan warga yang menyaksikan, kalau saat ini mereka berusaha membasmi Virus.