Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 69 Memeluk


__ADS_3

Diana terkejut melihat sosok yang berada di depan pintu.


 


*Ivan*?


 


Kedua bola mata Diana membulat sempurna melihat Ivan datang ke Asramanya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata jua pun, Ivan menerobos masuk begitu saja kedalam kamar Diana, membuat Diana Refleks mundur, agar tidak terlalu dekat dengan Ivan. Ivan langsung menutup pintu kamar itu.


“Maaf aku mengikutimu, aku hanya ingin melihat bagaimana keadaanmu jika di asrama.” Pandangan mata Ivan begitu sayu memandangi gadis yang ada di depan matanya.


Diana terus mundur, karena Ivan terus mendekat padanya, hingga langkah mundurnya tertahan oleh meja yang ada di di belakangnya. Diana berharap ini khayalannya saja, namun Ivan malah semakin mendekatinya. Tatapan Diana yang begitu indah seakan menghipnotis Ivan dan menghilangkan kesadarannya, entah dorongan dari mana dia langsung memeluk Diana erat, dan mengangkat tubuh Diana, hingga Diana dalam posisi duduk di meja kecil yang ada di belakangnya, Ivan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Diana. Menghirup kuat di lekukan leher itu. Aroma tubuh itu semakin membuat dirinya hilang kendali.


Diana tidak mengerti dengan keadaan ini, dari dalam dirinya ada hal yang memerintahnya untuk mendorong Ivan, saat kedua telapak tangannya mendarat di depan dada Ivan, Diana merasakan sesuatu. Ada yang mengganggu sistem kesehatan tubuh Ivan, Diana pun tenggelam oleh keinginan tahuannya hal apa yang terjadi pada diri Ivan.


Diana terus berusaha merasakan semua signal yang dia tangkap, dan berusaha mengambil kesimpulan hingga dia tidak menyadari lagi apa yang Ivan lakukan padanya, pada sisi lain Ivan terus menciumi ceruk leher itu, dari sisi telinga kanan, turun ke pundak, lalu berpindah lagi ke sisi yang satunya.


Diana dapat menyimpulkan yang terjadi pada tubuh Ivan, namun suara decakkan, dan deruan napas Ivan pada permukaan kulitnya saat ini membuat dirinya tenggelam oleh perasaan lain, bukan lagi pada rasa keingintahuan dirinya.


Diana tidak berdaya menepis semua rasa ini, anggota tubuhnya sungguh menikmati hal ini, kegiatan Ivan pada ceruk lehernya membuat ada yang mendidih dalam dirinya. Diana merasa sangat nyaman dengan keadaan ini, dan menikmati semuanya, refleks bagian kepalanya mendongak, seakan mempersilakan dan mempemudah Ivan mendalami kegiatannya. Ivan semakin aktif berkegiatan di ceruk lehernya. Pijatan lembut tangan yang kokoh itu menghadirkan rasa yang tidak pernah Diana rasakan sebelumnya. Diana tenggelam semakin dalam, tangannya yang semula hanya menempel pada bagian depan dada Ivan, kini naik, dan mencengkramm kuat di pundak Ivan, membuat Ivan semakin kehilangan kendali.


Tangan Ivan terus menelusup ke bagian dalam baju Diana, menelusuri setiap centi kemulusan tubuh nan indah itu. Tangan Ivan terus memijat lembut bagian punggung Diana, mengusapnya, dari bagian punggung hingga kembali lagi pada bagian pinggul. Ivan semakin mabuk dengan aroma tubuh wanita yang ada dalam pelukannya, dia menciumi sisi telinga Diana, lalu turun hingga ke bagian pundak Diana berulang kali, berpindah dari sisi kanan lalu ke kiri. Keadaan ini sungguh memabukkan. Deruan napas keduanya jelas terdengar. Karena semakin ternggelam oleh perasaan aneh yang tiba-tiba membutakan keduanya.


Rasanya ada dorongan ingin lebih dan lebih, salah satu tangan Ivan menjalar ke bagian perut, sedang tangan yang satunya masih menempel di bagian belakang, tangan itu mulai mengusap lembut bagian perut Diana yang sangat langsing, saat tangannya hampir sampai di daerah perbukitan, darah Ivan semakin mendidih, Ivan tidak kuasa dengan ledakkan perasaan itu, dia menarik tangannya yang semakin tidak bisa dikondisikan, lalu memeluk erat tubuh kecil Diana. Ivan menenggelamkan wajahnya semakin dalam di ceruk leher Diana. Sungguh perasaan ini sangat menyiksa.


Tink!


Suara notifikasi handphone Ivan seketika mengembalikan kesadaran mereka berdua, refleks Ivan langsung melepaskan pelukannya, dan mundur beberapa langkah, hingga ada jarak diantara keduanya.


Apa yang aku lakukan?


Menyadari apa yang terjadi barusan, Ivan ingin sekali memukul kepalanya, kenapa dia malah memeluk Wanita dan menciumi aroma tubuh wanita itu, dan sialnya tangan nakalnya menjelajah tubuh yang penuh candu itu.


"Didd--" lidah Ivan terasa kelu, tidak tahu harus meminta maaf atau apa.


Perlahan Diana turun dari meja, dan berusaha mengalihkan pandangannya, agar tidak memandang Ivan. Pandangan mata Ivan yang terus tertuju padanya, lebih membahayakan dari obat bius dan minuman ber-alkohol, karena seketika pandangan itu membuat dirinya tak bisa menepis dan seketika terlena.

__ADS_1


“Diana, aku ingin tahu apa sebenarnya hubunganmu dengan Fredy.” Ivan seketika menghempaskan napasnya, merasa lega bisa mengutarakan apa yang ingin dia tanyakan.


"Apa aku boleh bertanya tentang hal itu?" Ivan berusaha memecahkan kecanggungan yang ada.


Diana langsung melangkah mengambil handphonenya yang dia letakkan diatas meja belajarnya, dan langsung mengetik jawabannya.


*Dari mana aku bisa menjelaskan? Yang pasti semua foto-foto yang kamu lihat sebelumnya semua foto itu asli, bukan editan.


Sakit, hancur, dan hatinya serasa ditikam benda tajam saat membaca jawaban Diana, kalau yang ada di foto itu benar-benar pernah terjadi. Ivan menundukkan kepalanya, mengumpulkan tenaga untuk berbicara. “Ternyata kamu dan Fredy memang memiliki hubungan di masa lalu." Ivan tersenyum masam.


Ivan memijat lehernya, lalu dia berbalik berjalan menuju pintu. "Itu memang masa lalumu, aku saja tidak tahu, apakah aku berhak bertanya tentang masa lalumu."


Saat Ivan hampir membuka pintu, sebuah tangan memegang pergelangan tangannya, Ivan pun menoleh kearah pemilik tangan itu, terlihat Diana menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut. Namun kekaguman Ivan pada sepasang bola mata itu buyar, saat Diana memperlihatkan tulisan yang ada di layar handphonenya.


*Saat foto itu diambil, aku dalam keadaan tidak sadar. Aku dibius. Tapi tidak terjadi apapun antara aku dan Fredy. Bahkan aku tidak pernah jatuh cinta pada Fredy. Jadi apalagi yang harus ku jelaskan?


Seketika darah Ivan mendidih membaca penjelasan Diana, Ivan berjalan menuju sofa, dan menghempaskan bobot tubuhnya di sofa yang ada di kamar asrama Diana. “Apakah Fredy yang membiusmu?”


*Bukan.


Ivan berusaha meredam kemarahan yang mulai menyala. “Kapan peristiwa itu terjadi?”


Ivan memandang Diana begitu intens, berharap Wanita itu menjelaskan lebih lagi.


Diana mengetik kata baru, dia mengerti apa yang Ivan tunggu darinya.


*Semua itu sudah berakhir, dan aku tidak ingin mengungkitnya. Yang jelas saat ini, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Fredy.


*Ada lagi yang ingin Anda tanyakan?


“Kamu mengenal Lucas?”


*Secara pribadi aku tidak mengenalnya sama sekali. Yang aku tahu, dia adalah ketua kelas, dan kepercayaan salah satu dosen di Universitas Bina Jaya.


“Sebelum kita pulang, bagaimana kalau kita makan malam dulu?”


Diana menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Ivan.


*Aku membereskan barang-barangku dulu.

__ADS_1


“Baiklah, aku tunggu di mobil.” Ivan pun segera keluar dari kamar Diana.


Ivan segera masuk ke dalam mobil, dan meminta supir mengantar mereka ke salah satu Restoran elit langganan Ivan. Ivan teringat kembali akan cerita Diana, perbuatan Fredy pada Diana hal yang sangat dia benci, kemarahannya pun kembali menyala, dia langsung menelepon Yudha.


“Ada apa Van? Apa ada hal yang penting? Saat ini aku bersama Dillah.”


“Yud, pastikan setelah kontrak kerjasama yang lama berakhir, putuskan semua hubungan perusahaan kita dengan Edge group. Aku tidak mau menjalin kerjasama apapun dengan Edge Group setelah ini."


“Tenang dulu Van."


"Aku tidak bisa tenang kalau masih memiliki kerja sama dengan Edge Group!"


"Maksudmu kita tidak akan memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaan Edge Group dan tidak menjalin kerjasama baru lagi?”


“Iya, aku tidak ingin satu proyek dengan Fredy.”


"Kalau dia ada di proyek yang sama dengan kita, keluarkan dia!"


"Kalau mereka tidak berani mengeluarkan Fredy, kita yang keluar!"


"Wait ... kenapa kamu semarah itu, Van?" Yudha sangat bingung dengan permintaan Ivan, setahunya saat ini Agung Jaya tidak memiliki masalah dengan Edge Group.


"Saat ini aku tidak bisa menjelaskan, yang penting jangan bekerjasama dengan Fredy!"


“Oh oke aku mengerti, nanti akan aku urus semuanya.”


Ivan menutup panggilannya, entah kenapa dia sangat marah, setelah membaca penjelasan Diana sebelumnya, mendengar nama Fredy saja seketika darahnya mendidih.


Tok! Tok!


Suara ketukkan pintu mobil mengembalikan kesadaran Ivan, ternyata itu Diana. Ivan langsung membuka pintu mobilnya. Diana duduk dengan santai di samping Ivan, sepanjang kakinya melangkah, dia terus terbayang kejadian saat Ivan memeluknya begitu erat, dia merasakan ada sedikit masalah dengan kesehatan Ivan, tapi dia tidak punya keberanian mengatakan apa yang terjadi pada sistem kesehatan Ivan. Diana kembali terbayang hal yang dia tangkap, saat telapak tangannya mendarat di depan dada Ivan, Diana menatap wajah Ivan begitu dalam, ingin sekali dia mengatakan hal yang sedari tadi menggajal dalam hatinya pada Ivan.


“Pak, ke Restoran yang saya sebutkan tadi,” ucap Ivan pada supirnya. Mobil perlahan melaju meninggalkan area universitas Bina Jaya.


“Did—” Ivan tidak meneruskan ucapannya, kala sepasang matanya beradu tatap dengan sepasang mata Diana. Ivan merasa ada hal yang ingin Diana utarakan padanya. “Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?”


Tatapan itu ....


Ivan sekaan tenggelam oleh rasa yang menenggelamkannya sebelumnya. “Kalau ada, sampaikanlah.” Ivan berusaha menepis getaran kecil yang terasa dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2