
Setelah memasuki sebuah ruangan khusus, pelayan yang mengantar Diana izin undur diri. Diana menghempaskan bobot tubuhnya pada salah satu sofa empuk yang ada di ruangan sana. Sepasang matanya menyapu pemandangan yang indah yang menghiasi ruangan yang dia tempati.
Tok! Tok! Tok!
“Permisi Nona, maaf mengganggu kenyamananya, ada seseorang yang meminta Anda datang ke ruangan sebelah.”
Diana berpikir Nizam menunggunya di ruangan yang lain, karena clubhouse ini terlihat sepi. Diana segera bangkit dan mengikuti pelayan yang menjemputnya. Saat pintu ruangan terbuka sangat jelas siapa saja yang ada di ruangan itu. Yang Diana kenali hanya Ivan, Angga, dan Yudha, sedang beberapa orang yang lainnya Diana tidak pernah melihat sebelumnya.
“Permisi Tuan, saya sudah memanggil wanita yang Anda maksud, apakah ada lagi yang Anda perlukan?”
Ucapan pelayan itu seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruangan itu, mereka penasaran dengan sosok yang masuk bersama pelayan.
“Tidak ada lagi, terima kasih,” sahut Ivan.
Pelayan itu langsung pergi undur diri. Wajah Yudha seketika berbinar bahagia saat melihat kehadiran Diana.
“Diana ….” Yudha refleks berdiri menyambut Diana.
“Diana, masuklah,” sambut Ivan.
Diana melangkah mendekat kearah Ivan.
“Oh ya semuanya, perkenalkan ini adalah Diana, dia tunangan Ivan,” ucap Yudha. Kemudian pandangan Yudha kembali tertuju pada Diana. “Mereka semua adalah teman-teman masa kecil kami. Ini Yaqzhan, dia salah satu teman akrabku. Yang ini Shady, kalau dia lebih dekat dengan Ivan. Di sana ada Viola, Cornelia, yang duduk di sebelah Angga adalah Ramona."
Diana memberikan senyuman kecil, berusaha bersikap manis pada teman-teman Ivan dan Yudha. Walau senyuman Diana disambut denga tatapa sinis oleh teman-teman Ivan. Senyuman yang mereka berikan pada Diana, Palsu.
"Kamu baru bertemu mereka pastinya, karena saat acara pertunangan kalian, mereka sama sepertiku. Tidak bisa hadir, biasa ... ada pekerjaan di luar negri.”
Dari penampilan para pria yang ada dalam ruangan itu, sangat jelas mereka golongan elit, terlihat dari setelan yang mereka kenakan, juga jam tangan yang mereka pakai, semuanya bernilai ratusan juta. Apalagi dress beberapa wanita cantik yang duduk bersama mereka, dress mahal, tas-tas yang mereka pakai juga tas branded yang bernilai ratusan juta.
“Kalau yang ini bukan hanya teman kami, tapi sekarang dia sekretarisku. Namanya Ramona, panggil dia Mona.” Angga mengisyarat pada seorang Wanita cantik yang duduk di sampingnya.
“Mona ini adalah anak angkat Sekretaris om Sofian, dan sekarang dia mewarisi pekerjaan ibu angkatnya, menjadi sekretaris perusahaan Agung Jaya yang Angga pegang,” terang Yudha.
“Kenapa hanya berdiri di sana, Diana? Ayo kemari.” Ajak Ivan.
“Iya Diana, ayo berkumpul bersama teman-teman kami. Agar kita semua saling mengenal,” tambah Yudha.
Diana tidak tertarik untuk mengenal lebih dekat teman-teman Ivan. Apalagi dari raut wajah mereka sangat jelas mereka tidak menyukai Diana. Bukan hanya itu, Diana semakin malas untuk mengenal mereka semua, mereka hanya anak-anak orang kaya yang suka menghambur-hamburkan harta orang tua mereka. Terlebih tiga orang Wanita cantik yang ada dalam ruangan itu, terlihat jelas mereka menampakkan ketidak sukaan mereka padanya. Diana meraih handphonenya dan mengetik kata.
*Bolehkan aku ke sana? Aku ingin mengambil minuman untukku.
Diana menunjuk kearah mini bar yang ada di ruangan tempatnya berada.
“Tentu saja, ambil apapun yang kamu mau. Atau pesan apa saja jika yang ada di sini tidak ada yang kamu suka. Kalau di sana kamu bebas meracik minuman sesukamu,” sahut Ivan.
Diana segera melangkah menuju mini bar. Mona terus memandangi kearah Diana.
Bagaimana bisa Ivan bertunangan dengan Wanita rendahan seperti dia? Sudah bisu penampilannya juga sangat tidak menarik. Sepertinya … Ivan hanya bermain-main dengan gadis bisu itu. Mungkin Ivan mulai bosan berurusan dengan Wanita-wanita cantik berkelas dan dari kalangan elit, makanya dia butuh mainan baru untuk menjadi hiburannya.
Sesaat Mona memandang kearah Ivan, geritik hatinya berbeda jauh dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Dia beberapa kali menangkap Ivan sesekali memandang dalam kearah Diana. Sorot mata Ivan juga terlihat berbeda kala dia memandangi Diana. Pandangan mata itu penuh arti dan sangat dalam.
Tink!
Notifikasi handphone yang terdengar membuat Mona tersadar dari bermacam pikiran sesatnya, dia segera memeriksa layar handphonenya. Terlihat pesan yang dikirim oleh Cornelia.
__ADS_1
*Apa aku bermimpi atau Ivan yang masih tidur? Wanita itu sangat tidak pantas untuk menjadi istri Ivan, bahkan dia bukan wanita berkelas! Ayo kita buka mata Ivan, biar matanya terbuka lebar kalau pilihannya sangat murrahan!
Mona melempar senyuman pada Cornelia. Jemarinya segera menulis kata-kata untuk membalas pesan Cornelia.
\=Jangan kotori lidahmu dengan menyebut semua fakta-fakta tentang gadis kampung itu di depan Ivan dan semua teman-teman kita. Kita beri dia pelajaran yang halus, agar dia bisa bangun, kalau ini bukan cerita dongeng Cinderella. Kita buat wanita bisu itu memperlihatkan jati dirinya yang asli, kalau Ivan melihat bagaimana sesungguhnya wanita itu, maka Ivan tidak tertipu lagi oleh kepolosan gadis itu.
*Bagaimana caranya Mona?
\=Kamu ajak juga Viola.
Mona segera menyimpan handphonenya. “Oh Ya, apa aku boleh menemani Diana di sana?” Mona menunjuk kearah Diana dengan Gerakan bola matanya.
“Tentu boleh Mona,” sahut Angga.
“Cornelia, Viola. Ayo kita temani Diana.” Mona mengisyaratkan sesuatu pada kedua temannya.
Mereka bertiga segera mendekati Diana. Mona langsung masuk ke bagian dalam mini bar, sedang Viola dan Cornelia duduk di sisi kanan dan kiri Diana.
“Kamu minum apa Diana?” tanya Cornelia.
Diana memperlihatkan gelas yang ada di hadapannya.
“Kenapa hanya jus buah?” sela Mona.
“Iya, kenapa hanya jus buah? Di sini banyak minuman-minuman berkelas, dan sangat sulit mendapatkannya jika di tempat lain,” tambah Viola.
“Jangan begitu sista, mungkin Diana belum tau betapa nikmatnya minuman mahal yang ada di sini, maklum saja, karena dia terbiasa minum teh es, paling naik sedikit ke syrup atau jus buah. Ups!” Mona menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. “Maaf Diana, bukan maksudku mengingatkanmu siapa kamu dan siapa Ivan.”
“Kamu jahat banget sih Mona. Diana ini gadis paling beruntung, karena dia adalah sosok Cinderella di dunia nyata. Gadis dari kalangan bawah menjadi bagian keluarga raja.” Viola menambahi.
“Ayo minum Diana, ini hanya satu gelas kecil, sekali tenggak juga habis,” ucap Viola.
“Iya Diana, sangat tidak sopan kalau kamu tidak meminum minuman yang sudah Mona buatkan untukmu.” Cornelia menambahi.
“Dan aku sangat sedih kalau kamu tidak mau meminum minuman ini.” Mona memasang wajah sedihnya.
Melihat raut wajah Diana yang tidak nyaman karena kehadiran 3 temannya di sana, Ivan segera mendekat. “Ada apa ini?" Sela Ivan.
“Diana tidak mau menerima sambutan persahabatan dari kami, Van ….” Rengek Viola.
“Iya, Van. Mona hanya membuatkan minuman enak buat dia, aku jamin tak ada racun di sana,” ucap Cornelia.
“Kami hanya ingin berteman baik dengan tunangan kamu, Van.” Ucap Mona. Mona mendekatkan gelas yang berisi minuman racikannya. “Ayolah Diana, minum ….”
Diana tersenyum, dia turun dari kursinya, dia berjalan mendekati Mona. Diana juga mengambil shaker, lalu menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas takar, setelah mendapat takaran yang dia inginkan, Diana menuangkannya ke dalam shaker. Hal yang sama dia ulangi pada beberapa jenis minuman lain. Diana mengocok gelas kosok yang berbahan stainless dengan Gerakan yang professional, seperti seorang bartender handal. Hal itu sontak membuat Viola dan Cornelia mematung mengagumi gerakkan Diana. Ivan tersenyum melihat jenis minuman yang Diana campur, perlahan dia mulai mengerti kenapa Diana menolak meminum minuman yang diracik oleh Mona.
Tap! Tak! Tappp!
Perlahan Diana menuangkan minumannya ke dalam gelas kecil, juga memasukkan sepotong es batu ke dalam gelas itu. Diana meraih handphonenya dan mulai mengetik ….
*Aku terima minuman dari kamu, tapi kamu juga harus bersedia meminum minuman yang aku buat. Adil bukan?
*Bagaimana kalau kita minum bersamaan?
Mona terlihat salah tingkah. “Ka—kakk-kamu dulu, baru aku.”
__ADS_1
“Aku dan Diana sama saja bukan?” Ivan meraih gelas minuman yang berisi minuman racikan Mona. “Sebagai tunangan Diana, aku yang menerima ungkapan persahabatan kalian.” Ivan langsung menegak habis isi minuman itu. “Hissss!” Ivan berusaha menahan segala reaksi minuman yang dia minum, saat minuman itu mengaliri batang tenggorokkannya.
“Huhhhh!” Ivan menghempas kasar napasnya, dia kembali menatap kearah Mona. “Sekarang giliranmu. Ayo … salah satu dari kalian minum yang Diana buat untuk kalian.”
Keadaan seketika hening. Bahkan beberapa orang yang ada di ruangan itu juga ikut membisu.
“Ayo minum!”
Tubuh ketiga wanita itu terperanjat, terkejut mendengar bentakkan Ivan.
“Aku hitung sampai tiga! Kalau salah satu kalian tidak mau meminumnya, aku sangat marah!”
“Satu!”
“Dua!”
“Tii—"
Pras! Ivan menyiram minuman itu kearah Mona. Mona hanya bisa menunduk sambil menahan kemarahannya.
“Ivan—”
Sorot mata Ivan yang begitu tajam sontak membuat Viola langsung bungkam.
“Kalian kira aku bodoh?!” Ivan menatap ketiga wanita itu dengan sorot mata yang penuh kemarahan. “Kalian ingin mempermalukan Diana bukan!?”
“Ternyata kalian tidak pernah berubah! Hanya sekelompok anak manja yang bisa membuang-buang harta orang tua kalian, dan memandang hina setiap orang dari penampilannya juga tidak bisa menghargai orang-orang di dekat kalian! Pergi kalian dari sini!”
Ketiga wanita itu ketakutan, mereka tidak bergerak sedikit pun.
Ivan langsung menarik kasar Mona, menyeretnya kearah pintu, lalu mendorong wanita itu. Hingga Mona terjatuh ke lantai.
Ivan menoleh kearah dua wanita yang masih mematung di posisi mereka. “Kalau kalian tidak bisa pergi sendiri, maka aku akan mengusir kalian dengan cara yang sama seperti aku mengeluarkan Mona!”
Cornelia dan Viola segera berlari kearah pintu. Mereka bertiga membantu Mona untuk berdiri, dan langsung meninggalkan tempat itu.
**
Di ruangan lain.
Nizam baru saja kembali ke Clubhouse di mana dia meninggalkan Diana seorang diri di sana. Nizam langsung mendorong pintu ruangan yang dia tempati dengan Diana. “Maaf Diann—” Nizam tidak bisa meneruskan kata-katanya, karena dalam ruangan itu tidak ada seorang pun.
Nizam segera berlari mencari pelayan yang dia tugaskan mengantar Diana ke ruangan yang dia sewa. “Kemana wanita yang datang bersamaku?”
“Saya tidak tahu Tuan, saya hanya mengantarnya ke ruangan, setelah tugas saya selesai, saya kembali ke tempat saya.”
“Dia tidak ada di sana!” Nizam terlihat sangat marah. “Kalau terjadi sesuatu pada teman saya. Saya akan memberi perhitungan dengan semua yang bekerja di tempat ini!”
Keadaan seketika menegang karena Nizam tidak bisa mengendalikan emosinya karena kehilangan Diana.
Salah satu pelayan melaporkan kejadian di depan pada manager, melihat dari cctv siapa yang membuat kegaduhan, Manager juga tidak mau mengambil reseko. “Cek cctv, siapa yang datang dengan pengacara itu.”
Keamanan segera memutar ulang tayangan cctv. Sangat jelas gadis yang datang dengan pengacara Nizam dijemput oleh seorang pelayan, dan dia diantar ke sebuah ruangan lain yang disewa oleh anak-anak pengusaha ternama.
“Antarkan pengacara itu ke ruangan gadis itu berada,” titah manager clubhouse pada beberapa pelayan.
__ADS_1