Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 49 Jebakan


__ADS_3

Veronica sejenak menunduk, menghela napasnya begitu dalam, samar terdengar isak tangisnya. Hal itu semakin membuat Yudha mual.


“Aku tidak bisa menyalahkan kamu Yudh, karena kamu mempercayai Diana. Siapa saja pasti luluh pada sikapnya yang tekesan polos dan lugu.”


Wajah Yudha seketika berubah menjadi memerah, menahan segala luapan kemarahan, karena Veronica menyalahkan Diana. “Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan Diana! Kamu memang ingin membunuh nenekku, Diana tidak berkaitan dengan ini!”


"Kapan kalian sadar?! Selama ini dia hanya berpura-pura polos saja di depan kalian, semua orang tertipu dengan kepolosan dan keluguannya, termasuk kamu. Saat ini yang tidak tertipu dengan  aktingnya hanya aku dan tante Rani.”


Yudha tertawa, menertawakan penilaian Veronica pada Diana.


"Seingatku, kamu selalu berusaha menyingkirkan wanita yang ada di sekitar Ivan." Yudha menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. "Bahkan kamu berulang kali memfitnah Diana, yang aku heran kamu selalu lolos dari tuntutan hukum."


"Iya memang nenekku memaafkan kamu, tapi maaf dari nenekku saja tidak cukup untuk membebaskan kamu dari kasus yang menjeratmu!"


Yudha meneruskan langkahnya, tiba-tiba dia berhenti, namun dia tetap memunggungi Veronica. “Ingat Veronica, jangan pernah menganggap Diana sainganmu, atau menganggap Diana mengambil Ivan darimu. Karena kamu dan Ivan tidak memiliki hubungan apapun! Ikatan yang kamu akui secara sepihak itu hanya khayalanmu! Ivan juga tidak pernah menyukaimu. Dia bersikap baik padamu murni sebagai teman. Tidak lebih dari itu!”


Perlahan Yudha berbalik kearah Veronica. Dia menatap wanita itu dengan tatapan tajam dan sangat mengintimidasi. “Ivan tidak pernah suka padamu sadari itu! Berhenti bersikap kepedean seolah diantara kalian ada ikatan.” Yudha langsung pergi dari sana meninggalkan Veronica seorang diri. Dengan santai Yudha melajukan mobilnya tanpa mempedulikan keberadaan Veronica.


Veronica sangat sakit mendengar penuturan Yudha, kalau Ivan tidak pernah menyukainya, Veronica menggigit bibir bawahnya menahan luapan rasa sakit dalam dirinya, hingga dia tidak merasa kalau bibirnya berdarah karena gigitannya.


Selamat Diana, kamu berhasil membuat Yudha berpihak padamu, tidak menutup kemungkinan Ivan juga sudah memihakmu. Tapi aku akan terus berusaha untuk menyingkirkan kamu, Diana.


****


Di ruang sidang.


“Sidang akan dilanjutkan lagi—” Hakim menyebutkan tanggal sidang selanjutnya, palu pun diketuk.


Perlahan orang-orang yang mengikuti sidang mulai membubarkan diri. Wajah pengacara Veronica terlihat pucat, wajah Danu juga seperti pakaian kusut yang tidak pernah disetrika. Sedang pengacara Nizam terlihat begitu bahagia, walau dia sedikit kesal, karena pihak polisi masih tidak mengurung Veronica di Sel, namun pengacara Nizam berusaha terlihat senang, dia membereskan semua berkasnya dan pergi meninggalkan ruang sidang dengan langkah kaki yang begitu bahagia.

__ADS_1


“Pemisi Pak.”


Langkah kaki Nizam terhenti saat Mila sekretarisnya memanggilnya.


“Ada apa Mila?”


“Ada seseoorang yang menunggu Bapak.” Mila menunjuk kearah parkiran, di mana terlihat seorang pemuda berdiri di samping mobilnya.


“Dia mengatakan apa tujuannya menungguku?”


Mila mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Nizam. Dia pun membisikkan sesuatu, kenapa Yudha ingin bertemu dengannya.


“Ha ha ha hahaaa!” Nizam tertawa. “Baiklah, aku menemui saudara Yudha dulu.” Nizam pun berjalan kearah Yudha.


“Apa yang kamu inginkan, aku juga. Andai aku bisa memberi mereka semua pelajaran langsung, aku ingin sekali memotong tangan perawat itu!” ucap Nizam. "Apalagi hukum terlalu tumpul untuk seorang Veronica." Nizam geram, karena Veronica bebas berkeliaran ke mana saja.


“Deal!” pengacara Nizam sangat setuju dengan rencana Yudha. Tapi Nizam yakin, ini bukan rencana Yudha, tetapi rencana Ivan.


***


Matahari kini sudah tenggelam, malam kembali menyapa kota itu. Perlahan kelopak mata Diana mengerjap, merasa dia di tempat asing, Diana pun segera bangun. Saat kedua matanya terbuka, dia melihat jas Ivan menutup bagian pahanya. Diana menaruh jas Ivan di sofa, dia bejalan keluar ruangan pribadi Ivan. Ternyata di ruang kerja Ivan hanya diterangi cahaya lampu temaran. Diana kembali kedalam dan membuka handphonenya, terlihat beberapa pesan masuk, tapi Diana hanya fokus pada pesan Ivan.


“Maafkan aku Diana. Bukan maksudku meninggalkanmu di kantorku, tapi aku ada urusan yang sangat penting, jadi aku harus pergi. Aku tidak enak membangunkanmu, tidurmu begitu lelap. Kalau kau sudah bangun kabari aku, aku akan menjemputmu secepatnya.


Diana menyimpan kembali handphonenya, dia segera meraih tasnya ingin pergi dari kantor Ivan. Diana baru saja menutup pintu ruangan Ivan. Merasa handphonenya bergetar, Diana memeriksanya, ternyata ada panggilan dari Amanda. Diana segera mengangkatnya.


“Terima kasih Nona Diana, karena mengangkat panggilan saya. Apakah Anda masih di kantor Tuan Ivan? Kalau masih hembuskan napas Anda agar saya mengerti, kalau Anda sudah pulang, tutup saja panggilan ini."


Diana menghembuskan napasnya.

__ADS_1


“Maafkan saya Nona Diana, bukan maksud saya menghina Anda. Tapi kalau dengan mengetik pesan jempol saya Lelah dan akan makan waktu lama.”


“Saya boleh minta tolong?”


“Saya harus mengirimkan dokumen penting yang tersimpan di komputer kantor Nona. Semua komputer di sana menggunakan sandi. Karena sangat banyak dokumen penting yang tersimpan di sana. Tolong kirimkan salah satu dokumen ke alamat email yang nanti saya kirimkan pada Anda. Sandi komputer di sana—” Amanda menyebutkan sandi kumputer di kantor Ivan.


Setelah selesai mengutarakan maksudnya, Amanda menutup panggilan teleponnya.


Tink!


Handphone Diana menerima pesan yang berisi alamat email. Diana membuka handphonenya, dia hanya tersenyum saat membaca alamat Email yang dikirimkan Amanda padanya. Wanita itu ingin menjebak dirinya lagi. Diana melakukan hal lainnya.


Selesai di kantor Ivan, Diana tidak langsung pulang, dia membereskan pekerjaan lain lagi terlebih dahulu.


Waktu terus berjalan, hawa dingin mulai terasa menusuk kulit. Diana melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 23.45. Diana segera turun dari taksi dan berjalan cepat menuju lift. Saat dia hampir sampai ke Apartemen Ivan, dia melihat Ivan berdiri seperti orang linglung di depan pintu Apartemennya.


Diana membuang napasnya kasar, samar hidungnya mencium bau minuman keras dari tubuh Ivan. Diana mengambil kartu akses untuk membuka pintu, dan memapah Ivan yang kehilangan setengah kesadarannya. Akhirnya mereka masuk ke dalam Apartemen. Dengan susah payah, akhirnya Diana berhasil membawa Ivan ke kamarnya. Diana menyandarkan tubuh Ivan di sandaran ranjangnya. Membuka beberapa bagian kancing atas kemeja Ivan, dan melepaskan sepatu laki-laki itu. Ivan masih diam. Diana pun pergi ke dapur, mengambil segelas air putih untuk Ivan.


Diana ingin kembali ke kamar Ivan, namun menyadari dirinya mengenakan gaun yang akan dia pakai ke pesta ulang tahun kakek Agung, Diana meletakkak gelas di meja, dan berjalan cepat menuju kamarnya. Dia segera kembali dengan mengenakan pakaian santai dan wajahnya yang segar, dia segera menuju kamar Ivan, dan meminumkan air putih yang dia bawa pada Ivan. Akhirnya laki-laki itu bisa menghabiskan setengah dari isi gelasnya. Diana menghempas kasar napasnya melihat keadaan Ivan seperti ini, dia meletakkan gelas di nakas yang ada di samping tempat tidur Ivan. Perhatiannya kembali pada Ivan, dia membantu Ivan untuk berbaring dengan posisi yang benar.


Merasa pekerjaanya sudah selesai. Diana ingin keluar dari kamar Ivan.


“Diana!”


Tiba-tiba pergerakan Diana tertahan, pergelangan tangannya dipegang Ivan. Diana pun berbalik, pikirnya Ivan butuh sesuatu, namun tiba-tiba Ivan menariknya, Hingga Diana hilang keseimbangan dan tubuhnya mendarat diatas tubuh Ivan. Ivan tersenyum melihat jaraknya sedekat ini dengan Diana, bahkan dia bisa merasakan hembusan napas Diana di permukaan kulitnya. Diana terdiam melihat sorot mata Ivan yang begitu teduh, pandangan keduanya beradu tatap. Perlahan jemari Ivan memindahkan helaian rambut yang menutupi wajah Diana ke sisi telinga gadis itu.


“Diana ….” Panggil Ivan begitu lembut.


Ada yang bergetar dalam diri Diana, hingga dirinya diam saja dalam posisi ini.

__ADS_1


__ADS_2